Manajemen Pembelajaran

Pengertian
Manajemen Pembelajaran

Manajemen pembelajaran terdiri dari
dua kata, yaitu
manajemen
dan pembelajaran. Secara bahasa (etimologi)
manajemen berasal dari
kata kerja “to manage” yang

berarti
mengatur.[1]
Adapun menurut istilah
(terminologi) terdapat
banyak
pendapat mengenai pengertian manajemen salah
satunya menurut George
R. Terry Manajemen adalah suatu

proses
khas yang terdiri atas tindakan-tindakan perncanaan,
pengorganisasian,
penggerakan, dan pengendalian untuk

menentukan
serta mencapai tujuan melalui pemanfaatan
SDM dan sumber daya lainnya.[2]
Sedangkan menurut Hanry L. Sisk
mendefinisikan
Management
is the coordination of all resources through
the processes of planning,
organizing, directing and

controlling in order to attain stted objectivies.
Artinya
manajemen
adalah Pengkoordinasian untuk semua sumber-
sumber melalui
proses-proses perencanaan,

pengorganisasian,
kepemimpinan dan pengawasan di dalam

ketertiban
untuk tujuan.
Selanjutnya, mengenai pembelajaran
berasal dari
kata
instruction” yang berarti “pengajaran”. Pembelajaran
pada hakikatnya adalah
suatu proses interaksi antara anak

dengan
anak, anak dengan sumber belajar, dan anak dengan
pendidik.
Menurut Undang-undang RI No. 20
Tahun 2003
Tentang
Sistem pendidikan. Pembelajaran adalah proses interaktif peserta didik dengan
pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.
Dari beberapa pengertian diatas
dapat dikatakan bahwa manajemen pembelajaran merupakan usaha untuk mengelola
pembelajaran yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran serta
pengawasan guna mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efesien. 

Tahap
– Tahap Manajemen Pembelajaran

1.    Perencanaan
Pembelajaran

Perencanaan adalah proses penetapan
dan pemanfaatan sumber daya secara terpadu yang diharapkan dapat menunjang
kegiatan-kegiatan dan upaya-upaya yang akan dilaksanakan secara efisien dan
efektif dalam mencapai tujuan.
Dalam konteks pembelajaran
perencanaan dapat diartikan sebagai proses penyusunan materi pelajaran,
penggunaan media pembelajaran, penggunaan pendekatan atau metode pembelajaran,
dan penilaian dalam suatu alokasi waktu yang akan dilaksanakan pada masa
tertentu untuk mencapai tujuan yang ditentukan.6 PP RI no. 19 th. 2005 tentang
standar nasional pendidikan pasal 20 menjelaskan bahwa; ”Perencanaan proses
pembelajaran memiliki silabus, perencanaan pelaksanaan pembelajaran yang memuat
sekurang
kurangnya tujuan pembelajaran,
materi ajar, metode
pengajaran,
sumber belajar, dan penilaian hasil belajar”.[1]
Sebagai perencana, guru hendaknya
dapat mendiaknosa kebutuhan para siswa sebagai subyek belajar, merumuskan
tujuan kegiatan proses pembelajaran dan menetapkan strategi pengajaran yang
ditempuh untuk merealisasikan tujuan yang telah dirumuskan.
Perencanaan itu dapat bermanfaat
bagi guru sebagai kontrol terhadap diri sendiri agar dapat memperbaiki cara
pengajarannya. Agar dalam pelaksanaan pembelajaran berjalan dengan baik untuk
itu guru perlu menyusun komponen perangkat perencanaan pembelajaran antara
lain:

a)    Menetukan
Alokasi Waktu dan Minggu efektif

Menentukan alokasi waktu pada
dasarnya adalah menetukan minggu efektif dalam setiap semester pada satu tahun
ajaran. Rencana alokasi
waktu
berfungsi untuk mengetahui berapa jam waktu
efektif yang tersedia
untuk dimanfaatkan dalam

proses
pembelajaran dalam satu tahun ajaran. Hal ini
diperlukan untuk
menyesuaikan dengan standar

kompetensi
dan kompetensi dasar minimal yang harus
dicapai sesuai dengan rumusan standard
isi yang
ditetapkan.

b)  
Menyusun Program
Tahunan (Prota)

Program
tahunan (Prota) merupakan rencana program umum setiap mata pelajaran untuk
setiap kelas, yang dikembangkan oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan,
yakni dengan menetapkan alokasi dalam waktu satu tahun ajaran untuk mencapai
tujuan (standar kompetensi dan kompetensi dasar) yang telah ditetapkan. Program
ini perlu dipersiapkan dan

dikembangkan
oleh guru sebelum tahun ajaran,

karena
merupakan pedoman bagi pengembangan

program-program
berikutnya.

c)   
Menyusun Program
Semesteran (Promes)

Program
semester (Promes) merupakan

penjabaran
dari program tahunan.
Kalau
Program tahunan disusun untuk menentukan jumlah jam yang diperlukan
untuk mencapai
kompetensi dasar, maka dalam program semester diarahkan untuk
menjawab minggu
keberapa atau kapan pembelajaran untuk mencapai kompetensi
dasar itu dilakukan.

d)  
Menyusun Silabus
Pembelajaran

Silabus
adalah bentuk pengembangan dan

penjabaran
kurikulum menjadi rencana pembelajaran
atau susunan materi pembelajaran yang
teratur pada
mata
pelajaran tertentu pada kelas tertentu.
Komponen
dalam menyusun silabus memuat

antara
lain identitas mata pelajaran atau tema
pelajaran, standard kompetensi (SK),
kompetensi
dasar
(KD), materi pelajaran, kegiatan pembelajaran,
indikator, pencapaian
kompetensi, penilaian, alokasi

waktu,
dan sumber belajar.14

e)   
Menyusun Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Rencana
pelaksanaan pembelajaran (RPP) disusun untuk setiap Kompetensi dasar (KD) yang dapat
dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau lebih.
Komponen-komponen
dalam menyusun RPP meliputi: a) Identitas Mata Pelajaran; b) Standar Kompetensi;
c) Kompetensi Dasar; d) Indikator Tujuan Pembelajaran; e) Materi Ajar; f)
Metode Pembelajaran; g) Langkah-langkah Pembelajaran; h) Sarana dan Sumber
Belajar; i) Penilaian dan Tindak Lanjut. Selain itu dalam fungsi perencanaan
tugas kepala sekolah sebagai manajer yakni mengawasi dan mengecek perangkat
yang guru buat, apakah sesuai dengan pedoman kurikulum ataukah belum. Melalui
perencanaan
pembelajaran
yang baik, guru dapat mempersiapkan segala
sesuatu yang dibutuhkan
siswa dalam belajar.

2.   
Pelaksanaan
Pembelajaran

Pelaksanaan
pembelajaran merupakan proses

berlangsungnya
belajar mengajar di kelas yang merupakan
inti dari kegiatan di sekolah. Jadi
pelaksanaan pengajaran
adalah
interaksi guru dengan murid dalam rangka
menyampaikan bahan pelajaran kepada
siswa dan untuk
mencapai
tujuan pengajaran.
Dalam
fungsi pelaksanaan ini memuat kegiatan
pengelolaan dan kepemimpinan
pembelajaran yang
dilakukan
guru di kelas dan pengelolaan peserta didik.
Selain
itu juga memuat kegiatan pengorganisasian yang dilakukan oleh kepala sekolah
seperti pembagian pekerjaan ke dalam berbagai tugas khusus yang harus dilakukan
guru, juga menyangkut fungsi-fungsi manajemen lainnya.
Oleh
karena itu dalam hal pelaksanaan pembelajaran
mencakup dua hal yaitu,
pengelolaan kelas dan peserta

didik
serta pengelolaan guru. Dua jenis pengelolaan tersebut
secara rinci akan
diuraikan sebagai berikut:

a)   
Pengelolaan kelas dan
peserta didik

Pengelolaan
kelas adalah satu upaya
memperdayakan
potensi kelas yang ada seoptimal

mungkin
untuk mendukung proses interaksi edukatif
mencapai tujuan pembelajaran. Berkenaan dengan
pengelolaan kelas sedikitnya

terdapat
tujuh hal yang harus diperhatikan, yaitu ruang
belajar, pengaturan
sarana belajar, susunan tempat

duduk,
yaitu ruang belajar, pengaturan sarana belajar,
susunan tempat duduk,
penerangan, suhu, pemanasan

sebelum
masuk ke materi yang akan dipelajari

(pembentukan
dan pengembangan kompetensi) dan bina
suasana dalam pembelajaran.[2]

Guru
dapat mengatur dan merekayasa segala

sesuatunya,
situasi yang ada ketika proses belajar
mengajar berlangsung. Menurut Nana
Sudjana yang dikutip oleh Suryobroto pelaksanaan proses belajar mengajar
meliputi pentahapan sebagai berikut: Menurut Nana Sudjana yang dikutip oleh Suryobroto
pelaksanaan proses belajar mengajar meliputi pentahapan sebagai berikut:

1)  
Tahap pra instruksional 

Yaitu tahap yang ditempuh pada saat memulai sesuatu proses belajar mengajar:
Guru menanyakan kehadiran siswa dan mencatat siswa yang tidak hadir; Bertanya
kepada siswa sampai dimana pembahasan sebelumnya; Memberikan kesempatan kepada
siswa untuk bertanya mengenai bahan pelajaran yang belum dikuasainya dari pelajaran
yang sudah disampaikan; Mengulang bahan pelajaran yang lain secara singkat.

2)  
Tahap instruksional.

Yakni
tahap pemberian bahan pelajaran yang dapat diidentifikasikan beberapa kegiatan
sebagai berikut: Menjelaskan kepada siswa tujuan pengajaran yang harus dicapai
siswa; Menjelaskan pokok materi yang akan dibahas; Membahas pokok materi yang
sudah dituliskan; Pada setiap pokok materi yang dibahas sebaiknya diberikan
contohcontoh yang kongkret, pertanyaan, tugas; Penggunaan alat bantu pengajaran
untuk memperjelas pembahasan pada setiap materi pelajaran; Menyimpulkan hasil
pembahasan dari semua pokok materi.

3)  
Tahap evaluasi dan
tindak lanjut

Tahap
ini bertujuan untuk mengetahui keberhasilan tahap instruksional, kegiatan yang dilakukan
pada tahap ini yaitu: Mengajukan pertanyaan kepada kelas atau kepada beberapa murid
mengenai semua aspek pokok materi yang telah dibahas pada tahap instruksional;
Apabila pertanyaan yang diajukan belum dapat dijawab oleh siswa (kurang dari
70%), maka guru harus mengulang pengajaran; Untuk memperkaya pengetahuan siswa
mengenai materi yang dibahas, guru dapat memberikan tugas atau PR; Akhiri pelajaran
dengan menjelaskan atau memberitahukan pokok materi yang akan dibahas pada
pelajaran berikutnya.

b)  
Pengelolaan guru

Pelaksanaan
sebagai fungsi manajemen diterapkan oleh kepala sekolah bersama guru dalam
pembelajaran agar siswa melakukan aktivitas belajar untuk mencapai tujuan
pembelajaran yang telah direncanakan. Sehubungan
dengan itu, peran
kepala sekolah memegang peranan penting untuk menggerakkan para guru dalam
mengoptimalkan fungsinya
sebagai manajer di dalam

kelas
Guru
adalah orang yang bertugas membantu murid untuk mendapatkan pengetahuan
sehingga ia dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya.22 Guru sebagai salah
satu komponen dalam kegiatan belajar mengajar (KBM), memiliki posisi sangat
menentukan keberhasilan pembelajaran, karena fungsi utama guru ialah merancang,
mengelola, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran. Guru harus dapat
menempatkan diri dan
menciptakan
suasana kondusif, yang bertanggung jawab
atas pertumbuhan dan perkembangan jiwa
anak.
Dalam
rangka mendorong peningkatan

profesionalitas
guru, secara tersirat Undang-Undang

Sistem
Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 pasal 35
ayat 1 mencantumkan
standar nasional pendidikan

meliputi:
isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga
kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan dan
penilaian.
Standar
yang dimaksud dalam hal ini adalah suatu kriteria yang telah dikembangkan dan
ditetapkan oleh program berdasarkan atas sumber, prosedur dan manajemen yang
efektif sedangkan kriteria adalah sesuatu yang menggambarkan keadaan yang
dikehendaki.
Kompetensi
yang dimiliki oleh setiap guru akan menunjukkan kualitas guru yang sebenarnya,
kompetensi tersebut akan terwujud dalam bentuk penguasaan pengetahuan dari perbuatan
secara profesional dalam menjalankan tugasnya sebagai guru.
Secara
operasional, ketika proses pelaksanaan juga
menyangkut beberapa
fungsi manajemen lainnya diantaranya

yaitu:

a.   
Fungsi Pengorganisasian
(organizing) pembelajaran
 
 Selain
fungsi perencanaan, terdapat pula fungsi
pengorganisasian dalam kegiatan pembelajaran
yang
dimaksudkan
untuk menentukan pelaksana tugas dengan
jelas kepada setiap personil sekolah
sesuai bidang,
wewenang,
mata pelajaran, dan tanggung jawabnya.

Dengan
kejelasan tugas dan tanggung jawab masing
masing unsur dan komponen
pembelajaran sehingga
kegiatan
pembelajaran baik proses maupun kualitas yang
dipersyaratkan dapat
berlangsung sesuai dengan yang

direncanakan.

Pengorganisasian
pembelajaran menurut Syaiful

Sagala
meliputi beberapa aspek:

1)     
Menyediakan fasilitas,
perlengkapan dan personel yang diperlukan untuk penyusunan kerangka yang efisien
dalam melaksanakan rencana-rencana melalui suatu proses penetapan pelaksanaan
pembelajaran yang diperlukan untuk menyelesaikannya.

2)     
Mengelompokkan komponen
pembelajaran dalam
struktur
sekolah secara teratur.

3)     
Membentuk struktur
wewenang dan mekanisme
koordinasi
pembelajaran.

4)     
Merumuskan dan menetapkan
metode dan prosedur
pembelajaran.

5)     
Pengorganisasian
pembelajaran ini memberikan

gambaran
bahwa kegiatan belajar dan mengajar

mempunyai
arah dan penanggungjawab yang jelas.

Artinya
dilihat dari komponen yang terkait dengan
pembelajaran pada institusi sekolah
memberi gambaran
bahwa
jelas kedudukan kepala sekolah dalam

memberikan
fasilitas dan kelengkapan pembelajaran, dan
kedudukan guru untuk
menentukan dan mendesain

pembelajaran
dengan mengorganisasikan alokasi waktu,
desain kurikulum, media dan kelengkapan
pembelajaran,
dan
lainnya yang berkaitan dengan suksesnya
penyelenggaraan kegiatan belajar.
Kemudian jelas kedudukan siswa dalam mengikuti kegiatan belajar baik di kelas
maupun belajar di rumah, dibawah koordinasi guru dan juga orang tua siswa yang
berkaitan dengan belajar. Pengorganisasian pembelajaran ini dimaksudkan
agar materi dan bahan
ajaran yang sudah direncanakan dapat disampaikan secara maksimal.

b.   
Fungsi Pemotivasian (motivating)
Pembelajaran

Motivating
atau pemotivasian adalah proses menumbuhkan semangat (motivation) pada karyawan
agar dapat bekerja keras dan giat serta membimbing mereka dalam melaksanakan
rencana untuk mencapai tujuan yang efektif dan efisien.
Dalam
konteks pembelajaran di sekolah tugas pemotivasian dilakukan kepala sekolah
bersama pendidik dalam pembelajaran agar siswa melakukan aktivitas belajar
untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah direncanakan. Sehubungan dengan
itu, peran kepala sekolah memegang peranan penting untuk menggerakkan para guru
dalam mengoptimalkan fungsinya sebagai manajer di dalam kelas.
Selain
itu, pemotivasian dalam proses pembelajaran dilakukan oleh pendidik dengan
suasana edukatif agar siswa dapat melaksanakan tugas belajar dengan penuh
antusias dan mengoptimalkan kemampuan belajarnya dengan baik. Peran guru sangat
penting dalam menggerakkan dan memotivasi para siswanya melakukan aktivitas
belajar baik yang dilakukan di kelas, laboratorium, perpustakaan dan tempat
lain yang memungkinkan siswa melakukan kegiatan belajar. Guru tidak hanya
berusaha menarik perhatian siswa, tetapi juga harus meningkatkan aktivitas
siswanya melalui pendekatan dan metode yang sesuai dengan materi pelajaran yang
disajikan guru.

c.   
Fungsi Facilitating Pembelajaran

Fungsi
Facilitating meliputi pemberian fasilitas dalam arti luas yakni
memberikan kesempatan kepada anak buah agar dapat berkembang ide-ide dari
bawahan diakomodir dan kalau memungkinkan dikembangkan dan diberi ruang untuk
dapat dilaksanakan.
Dalam
pembelajaran pemberian fasilitas meliputi perlengkapan, sarana prasarana dan
alat peraga yang menunjang dan membantu dalam proses pembelajaran.
Fasilitas
yang memadai akan membantu proses hafalan para siswa, terutama media yang cocok
bagi anak-anak.

d.  
Fungsi Pengawasan (controling)
Pembelajaran.

Pengawasan
adalah suatu konsep yang luas yang dapat diterapkan pada manusia, benda dan
organisasi. Pengawasan dimaksudkan untuk memastikan anggota organisasi melaksanakan
apa yang dikehendaki dengan mengumpulkan, menganalisis dan mengevaluasi informasi
serta memanfaatkannya untuk mengendalikan organisasi.
Pengawasan
dalam konteks pembelajaran dilakukan oleh kepala sekolah terhadap kegiatan pembelajaran
pada seluruh kelas, termasuk mengawasi pihak-pihak terkait sehubungan dengan
pemberian pelayanan kebutuhan pembelajaran secara sungguh- sungguh. Untuk
keperluan pengawasan ini, guru mengumpulkan, menganalisis, dan mengevaluasi informasi
kegiatan belajar, serta memanfaatkannya untuk mengendalikan pembelajaran
sehingga tercapai tujuan belajar yang telah direncanakan.30

3.   
Evaluasi Pembelajaran
atau Penilaian

Istilah
evaluasi berasal dari bahasa inggris yaitu
“evaluation”. Menurut
Wand dan Gerald W. Brown evaluasi

adalah
suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan
nilaidari sesuatu.[3]
Evaluasi
merupakan suatu upaya untuk mengetahui berapa banyak hal-hal yang telah
dimiliki oleh siswa dari hal-hal yang telah diajarkan oleh guru. Evaluasi
pembelajaran mencakup evaluasi hasil belajar dan evaluasi proses pembelajaran.
Evaluasi hasil belajar menekankan pada
diperolehnya informasi tentang
seberapakah perolehan siswa

dalam
mencapai tujuan pengajaran yang ditetapkan.
Sedangkan
evaluasi pembelajaran merupakan proses
sistematis untuk memperoleh informasi tentang
keefektifan
proses
pembelajaran dalam membantu siswa mencapai tujuan
pengajaran secara
optimal.
Dengan
demikian evaluasi hasil belajar menetapkan
baik buruknya hasil
dari kegiatan pembelajaran. Sedangkan
evaluasi pembelajaran menetapkan baik
buruknya proses dari
kegiatan
pembelajaran.

a)   
Evaluasi Hasil Pembelajaran

Evaluasi
hasil belajar merupakan proses untuk menentukan nilai belajar siswa melalui
kegiatan peniliaian dan atau pengukuran hasil belajar hasil belajar, tujuan utama
evaluasi untuk mengetahui tingkat keberhasilan yang dicapai oleh siswa setelah
mengikuti suatu kegiatan pembel  ajaran,
dimana tingkat keberhasilan yang tersebut kemudian ditandai dengan skala nilai
berupa huruf atau kata atau simbol. Apabila tujuan utama kegiatan evaluasi
hasil belajar ini sudah
terealisasi maka hasilnya dapat

difungsikan
untuk berbagai keperluan tertentu.
Adapun
langkah-langkah evaluasi hasil

pembelajaran
meliputi:

1)  
Evaluasi Formatif

Evaluasi
formatif seringkali diartikan sebagai kegiatan evaluasi yang dilakukan pada
akhir pembahasan setiap akhir pembahasan suatu pokok bahasan. Evaluasi ini yakni
diselenggarakan pada saat berlangsungnya proses belajar mengajar, yang diselenggarakan
secara periodik, isinya mencakup semua unit pengajaran yang telah diajarkan.

2)  
Evaluasi Sumatif

Evaluasi
sumatif adalah evaluasi yang diselenggarakan oleh guru setelah jangka waktu
tertentu pada akhir
semesteran. Penilaian sumatif

berguna
untuk memperoleh informasi tentang

keberhasilan
belajar pada siswa, yang dipakai sebagai
masukan utama untuk menentukan nilai
rapor akhir
semester.

b)  
Evaluasi Proses
Pembelajaran

Evaluasi
proses pembelajaran yakni untuk

menentukan
kualitas dari suatu program pembelajaran
secara keseluruhan yakni dari mulai tahap
proses
perencanaan,
pelaksanaan dan penilaian hasil

pembelajaran.
Evaluasi ini memusatkan pada keseluruhan
kinerja guru dalam proses pembelajaran.

Evaluasi
proses pembelajaran diselenggarakan

dengan
cara:

1)  
Membandingkan proses
pembelajaran yang
dilaksanakan
guru dengan standard proses.

2)  
Mengidentifikasi
kinerja guru dalam proses

pembelajaran
sesuai dengan kompetensi guru.

Sebagai
implikasi dari evaluasi proses

pembelajaran
yang dilakukan guru maupun kepala sekolah
dapat dijadikan umpan balik untuk program
pembelajaran
selanjutnya.
Jadi evaluasi pada program pembelajaran
meliputi:

a.   
Mengevaluasi pelaksanaan
kegiatan, dibanding
dengan
rencana.

b.   
Melaporkan penyimpangan
untuk tindakan koreksi
dan
merumuskan tindakan koreksi,

menyusun
standarstandar
pembelajaran
dan sasaran-sasaran.

c.   
Menilai pekerjaan dan
melakukan tindakan terhadap

penyimpangan-penyimpangan
baik institusional
satuan
pendidikan maupun proses pembelajaran.

4.   
Pengawasan
a.   
Pemantauan

Pemantauan proses pembelajaran dilakukan pada tahap perencanaan,
pelaksanaan, dan penilaian hasil pembelajaran. Pemantauan dilakukan dengan cara
diskusi kelompok terfokus, pengamatan, pencatatan, perekaman, wawacara, dan
dokumentasi. Kegiatan pemantauan dilaksanakan oleh kepala dan pengawas satuan
pendidikan.

b.   
Supervisi

Supervisi proses pembelajaran dilakukan pada tahap perencanaan,
pelaksanaan, dan penilaian hasil pembelajaran. Supervisi pembelajaran
diselenggarakan dengan cara pemberian contoh, diskusi, pelatihan, dan
konsultasi. Kegiatan supervisi dilakukan oleh kepala dan pengawas satuan
pendidikan.

c.   
Evaluasi

Evaluasi proses pembelajaran dilakukan untuk menentukan kualitas
pembelajaran secara keseluruhan, mencakup tahap perencanaan proses
pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, dan penilaian hasil
pembelajaran. Evaluasi proses pembelajaran diselenggarakan dengan cara: [a]
membandingkan proses pembelajaran yang dilaksanakan guru dengan standar proses,
dan [b] mengidentifikasi kinerja guru dalam proses pembelajaran sesuai
dengan  kompetensi guru. Evaluasi proses pembelajaran memusatkan pada
keseluruhan kinerja guru dalam proses pembelajaran.

d.  
Pelaporan

Hasil kegiatan pemantauan, supervisi, dan evaluasi proses
pembelajaran dilaporkan kepada pemangku kepentingan.

e.   
Tindak lanjut

Penguatan dan penghargaan diberikan kepada guru yang telah
memenuhi standar. Teguran yang bersifat mendidik diberikan kepada guru yang
belum memenuhi standar. Guru diberi kesempatan untuk mengikuti pelatihan/
penataran lebih lanjut.

A.  Pelaksanaan
Manajemen Pembelajaran

Praktek manajemen menunjukkan bahwa
fungsi atau kegiatan manajemen seperti planing, organizing, actuating, dan
controling secara langsung atau tidak langsung selalu bersangkutan dengan unsur
manusia, planning dalam manajemen adalah ciptaan manusia, organizing selain
mengatur unsur manusia, actuating adalah proses menggerakkan manusia-manusia
anggota organisasi, sedang controlling diadakan agar pelaksanaan
manajemen (manusia-manusia) selalu dapat meningkatkan hasilnya.
Pembelajaran bukan hanya terbatas
pada kegiatan yang dilakukan guru, seperti halnya dengan konsep mengajar.
Pembelajaran mencakup semua kegiatan yang mungkin mempunyai pengaruh langsung
pada proses belejar manusia. Pembelajaran mencakup pula kejadian-kejadian yang
diturunkan oleh bahan-bahan cetak, gambar, program radio, televisi, film, slide
maupun kombinasi dari bahan bahan itu. Bahkan saat ini berkembang pembelajaran
dengan pemanfaatan berbagai program komputer untuk pembelajaran atau dikenal
dengan e-learning.
Berpijak dari konsep manajemen dan
pembelajaran, maka konsep manajemen pembelajaran dapat diartikan proses
mengelola yang meliputi kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pengendalian
(pengarahan) dan pengevaluasian kegiatan yang berkaitan dengan proses
membelajarkan si pebelajar dengan mengikutsertakan berbagai faktor di dalamnya
guna mencapai tujuan. Dalam “memanaje” atau mengelola pembelajaran, manajer
dalam hal ini guru melaksanakan berbagai langkah kegiatan mulai dari
merencanakan pembelajaran, mengorganisasikan pembelajaran, mengarahkan dan
mengevaluasi pembelajaran yang dilakukan. Pengertian manajemen pembelajaran
demikian dapat diartikan secara luas dalam arti mencakup keseluruhan kegiatan
bagaimana membelajarkan siswa mulai dari perencanaan pembelajaran sampai pada
penilaian pembelajaran.
Dari fakta di atas dapatlah
dibenarkan bahwa pendapat yang menyatakan sukses tidaknya suatu organisasi
untuk bagian yang besar tergantung kepada orang-orang yang menjadi anggotanya.
Betapa pun sempurnanya rencana-rencana, organisasi dan pengawasan
penelitiannya, bila orang-orang tidak mau melekukan pekerjaan yang diwajibkan
atau bila mereka tidak dapat menjalankan tugas yang diwajibkan kepadanya tidak
akan diperoleh hasil yang sesuai atau optimal.

B.  Pelaksanaan Kegiatan
Pembelajaran

Pelaksanaan
kegiatan pembelajaran ini tidak terlepas dari proses perencanaan yang telah
diuraikan di muka, tentunya sudah dalam bentuk ujud rencana atau program
kegiatan. Dengan kata lain, pelaksanaan kegiatan ini merupakan implementasi
rencana atau program yang telah dibuat dalam proses perencanaan. Pelaksanaan
kegiatan pembelajaran ini secara sederhana paling tidak mencakup:

1.    Pengembangan
Strategi Pembelajaran

Pengembangan strategi pembelajaran
menunjuk upaya men-gimplementasikan suatu rencana yang telah disusun.
Pengembangan strategi dimaksudkan untuk memberi “nyawa” terhadap
interaksi seluruh komponen proses kegiatan dalam iklim pendidikan orang dewasa
(andragogis). Ini berarti bahwa pengembangan strategi pembelajaran merupakan
taktik yang digunakan tutor agar dapat memfasilitasi warga belajar dalam
mencapai tujuan belajar dengan efektif dan efisien.
Dalam prakteknya, pengembangan
strategi ini harus mempertimbangkan prosedur, langkah-langkah, dan cara-cara
mengorganisir kegiatan warga belajar. Tahapan pembelajaran berkenaan dengan
langkah-langkah kegiatan tutor, mulai tahap awal sampai tahap penilaian serta
tindak lanjut. Sedangkan model-model pembelajaran berkenaan dengan cara-cara
tutor mengembangkan kegiatan warga belajar sehubungan dengan bahan yang harus
dipelajarinya.

2.    Pemberian
Motivasi Belajar

Suatu kebutuhan atau tujuan. Dan
kepuasan akan mengacu kepada pengalaman yang menyenangkan pada saat
terpenuhinya suatu kebutuhan. Dengan kata lain bahwa kaitan antara motivasi dengan
kepuasan belajar adalah suatu dorongan yang timbul dari individu warga belajar
untuk mencapai hasil yaitu belajar, sehingga hasil tersebut memberikan
kepuasan.
Seorang tutor harus memahami bahwa
sebelum individu warga belajar menyadari akan adanya kebutuhan, didahului oleh
dorongan-dorongan yang seringkali menimbulkan ketidakseimbangan dalam dirinya.
Namun perlu dibedakan antara dorongan dengan kebutuhan. Kebutuhan atau tujuan
belajar yang diharapkan merupakan konsep yang memberikan dasar dan sekaligus
arah pada terbentuknya motivasi belajar yang kuat. Motivasi sebagai suatu
proses menyangkut kondisi psikologis warga belajar, dipengaruhi oleh berbagai
faktor, diantaranya ciri-ciri pribadi individu warga belajar, tingkat dan jenis
tugas yang harus dikerjakan, dan lingkungan belajar. Dengan demikian, bagi
tutor dalam memberikan motivasi belajar pada warga belajar, paling tidak ada
tiga tindakan yang harus dilakukannya:

a.    Memahami
ciri-ciri pribadi individu warga belajar.

b.    Membuat
tingkat dan jenis tugas yang menarik minat warga belajar,dan

c.    Menciptakan
lingkungan belajar sesuai harapan dan kebutuhan warga belajar.

3.    Pemantauan
Disiplin Belajar

Konsepsi pemantauan secara umum
menunjuk pada upaya mengamati dan pengendalian kegiatan agar sesuai dengan
rencana. Pemantauan dalam konteks kegiatan pembelajaran orang dewasa pada
hakekatnya sama saja. Namun tekanannya pada situasi dan kondisi warga belajar
dalam melakukan tugas belajar.
Konsepsi disiplin mengacu pada
ketertiban pelaksanaan kegiatan yang berpedoman pada peraturan yang telah
disepakati bersama dan telah ditentukan dalam perencanaan. Dalam konteks
pembelajaran orang dewasa, disiplin menyangkut ketertiban tutor yang
menciptakan suasana belajar dan ketertiban warga belajar dalam melakukan
tugas-tugas belajar.
Pemantauan yang dilakukan terhadap
ketertiban situasi dan kondisi ini turut menentukan sejauhmana situasi dan
kondisi itu menjadi lingkungan belajar. Lingkungan yang baik adalah lingkungan
yang menantang dan merangsang warga belajar untuk melakukan tugas-tugas
belajar, memberikan rasa aman, yang pada ahirnya mencapai kepuasan dalam
memperoleh tujuan belajar.[4]


[1] Malayu
S.P. Hasibuan, Manajemen; Dasar, Pengertian, dan Masalah, (Jakarta
: PT Bumi Aksara, 2007), hlm.
1
[2] Malayu
S.P. Hasibuan,
Manajemen; Dasar…”, hlm. 2-3
[3] Abdul
Majid, Perencanaan Pembelajaran : Mengembangkan Standar Kompetensi Guru, (Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2005 ) hlm. 17
[4] Abdul
Majid, Perencanaan pembelajaran, hlm. 165
[5] Oemar
Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2008)
hlm.156
[6] Widiyanti, Ninik,. Manajemen Koperasi, (Jakarta : Rineka Cipta1998),
hal. 42

 


 



 

Leave a Reply to Anonymous Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *