Strategi Pembelajaran Afektif

A.    Strategi Pembelajaran Afektif
      Strategi
pembelajaran afektif adalah strategi yang bukan hanya bertujuan untuk mencapai
pendidikan kognitif saja, akan tetai juga bertujuan untuk mencapai dimensi
lainya. Yaitu sikap dan keterampilan afektif berhubungan dengan volume yang
sulit di ukur karena menyangkut kesadaran seseorang yang tumbuh dari dalam,
afeksi juga dapat muncul dalam kejadian behavioral yang diakibatkan dari proses
pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Strategi Pembelajaran Afektif memang
berbeda dengan strategi pembelajaran kognitif dan psikomotor. Afektif
berhubungan dengan nilai (value), yang sulit diukur, oleh sebab itu menyangkut
kesadaran seseorang yang tumbuh dari dalam diri siswa. Dalam batasan tertentu
memang afeksi dapat muncul dalam kejadian behavioral, akan tetapi penilaiannya
untuk sampai kepada kesimpulan yang bisa dipertanggung jawabkan membutuhkan
ketelitian dan observasi yang terus menerus, dan hal ini tidaklah mudah untuk
dilakukan. Apabila menilai perubahan sikap sebagai akibat dari proses
pembelajaran yang dilakukan guru disekolah kita tidak bisa menyimpulkan bahwa
sikap anak itu baik, misalnya dilihat dari kebiasaan bahasa atau sopan santun
yang bersangkutan, sebagai akibat dari proses pembelajaran yang dilakukan guru.
Mungkin sikap itu terbentuk oleh kebiasaan guru dalam keluarga dan lingkungan
sekitar.
            Strategi
pembelajaran afektif pada umumnya menghadapkan siswa pada situasi yang
mengandung konflik atau situasi yang problematis, dan pengajar dapat membina
dalam menyelesaikan masalah tersebut sesuai dengan tingkat nilai kemampuan
masing-masing.  Dalam pengaplikasian
terhadap pembelajaran yang diberikan guru, dalam pemberian contoh terhadap yang
diberikan guru hendaknya siswa difasilitasi dengan lingkungan yang baik, saya
lihat sebagian sekolah, bahwasanya lingkungan sekitar sekolah tidak nyaman
untuk melakukan pembelajaran yang afektif, dan juga lingkungan masyarakat, maka
dari itu pembentukan sikap akan sulit dilaksanakan.
            Misalnya
ketika anak diajarkan tentang keharusan bersifat jujur dan disiplin, maka sifat
tersebut akan sulit diinternalisasi manakala lingkungan diluar sekolah anak
banyak melihat prilaku-prilaku ketidakjujuran dan ketidakdisiplinan. Walaupun
guru sekolah begitu keras menekankan pentingnya sikap tertib berlalu lintas.
            Maka
sikap tersebut akan sulit diadopsi oleh anak manakala ia melihat begitu banyak
orang-orang yang melanggar lalu lintas, demikian juga walaupun disekolah
guru-guru menerangkan dan menegaskan perlunya bagi anak untuk bekata sopan dan
halus disertai contoh prilaku guru, akan tetapi sifat itu sulit diterima oleh
anak manakala diluar sekolah begitu banyak manusia yang berkata kasar dan tidak
sopan.
B.     Tingkatan dan Karakteristik Ranah
Afektif
·        
Tingkatan
            Menurut
Krathwohl (1961) bila ditelusuri hampir semua tujuan kognitif mempunyai
komponen afektif. Dalam pembelajaran sains, misalnya, di dalamnya ada komponen
sikap ilmiah. Sikap ilmiah adalah komponen afektif. Tingkatan ranah afektif
menurut taksonomi Krathwohl ada lima, yaitu: receiving (attending),
responding, valuing, organization, dan characterization.
1.      Tingkat receiving
            Pada
tingkat receiving atau attending, peserta didik memiliki keinginan
memperhatikan suatu fenomena khusus atau stimulus, misalnya kelas, kegiatan,
musik, buku, dan sebagainya. Tugas pendidik mengarahkan perhatian peserta didik
pada fenomena yang menjadi objek pembelajaran afektif. Misalnya pendidik
mengarahkan peserta didik agar senang membaca buku, senang bekerjasama, dan
sebagainya. Kesenangan ini akan menjadi kebiasaan, dan hal ini yang diharapkan,
yaitu kebiasaan yang positif.
2.      Tingkat responding
            Responding
merupakan partisipasi aktif peserta didik, yaitu sebagai bagian dari
perilakunya. Pada tingkat ini peserta didik tidak saja memperhatikan fenomena
khusus tetapi ia juga bereaksi. Hasil pembelajaran pada ranah ini menekankan
pada pemerolehan respons, berkeinginan memberi respons, atau kepuasan dalam
memberi respons. Tingkat yang tinggi pada kategori ini adalah minat, yaitu hal-hal
yang menekankan pada pencarian hasil dan kesenangan pada aktivitas khusus.
Misalnya senang membaca buku, senang bertanya, senang membantu teman, senang
dengan kebersihan dan kerapian, dan sebagainya.
3.      Tingkat valuing
            Valuing
melibatkan penentuan nilai, keyakinan atau sikap yang menunjukkan derajat
internalisasi dan komitmen. Derajat rentangannya mulai dari menerima suatu
nilai, misalnya keinginan untuk meningkatkan keterampilan, sampai pada tingkat
komitmen. Valuing atau penilaian berbasis pada internalisasi dari seperangkat
nilai yang spesifik. Hasil belajar pada tingkat ini berhubungan dengan perilaku
yang konsisten dan stabil agar nilai dikenal secara jelas. Dalam tujuan
pembelajaran, penilaian ini diklasifikasikan sebagai sikap dan apresiasi.
4.      Tingkat organization
            Pada
tingkat organization, nilai satu dengan nilai lain dikaitkan, konflik antar
nilai diselesaikan, dan mulai membangun sistem nilai internal yang konsisten.
Hasil pembelajaran pada tingkat ini berupa konseptualisasi nilai atau
organisasi sistem nilai. Misalnya pengembangan filsafat hidup.
5.      Tingkat characterization
            Tingkat
ranah afektif tertinggi adalah characterization nilai. Pada tingkat ini peserta
didik memiliki sistem nilai yang mengendalikan perilaku sampai pada waktu
tertentu hingga terbentuk gaya hidup. Hasil pembelajaran pada tingkat ini
berkaitan dengan pribadi, emosi, dan sosial.
·        
Karakteristik Ranah Afektif
            Pemikiran
atau perilaku harus memiliki dua kriteria untuk diklasifikasikan sebagai ranah
afektif. Pertama, perilaku melibatkan perasaan dan emosi seseorang. Kedua,
perilaku harus tipikal perilaku seseorang. Kriteria lain yang termasuk ranah
afektif adalah intensitas, arah, dan target. Intensitas menyatakan derajat atau
kekuatan dari perasaan. Beberapa perasaan lebih kuat dari yang lain, misalnya
cinta lebih kuat dari senang atau suka. Sebagian orang kemungkinan memiliki
perasaan yang lebih kuat dibanding yang lain. Arah perasaan berkaitan dengan
orientasi positif atau negatif dari perasaan yang menunjukkan apakah perasaan
itu baik atau buruk. Misalnya senang pada pelajaran dimaknai positif, sedang
kecemasan dimaknai negatif. Bila intensitas dan arah perasaan ditinjau
bersama-sama, maka karakteristik afektif berada dalam suatu skala yang
kontinum. Target mengacu pada objek, aktivitas, atau ide sebagai arah dari
perasaan. Bila kecemasan merupakan karakteristik afektif yang ditinjau, ada
beberapa kemungkinan target. Peserta didik mungkin bereaksi terhadap sekolah,
matematika, situasi sosial, atau pembelajaran. Tiap unsur ini bisa merupakan
target dari kecemasan. Kadang-kadang target ini diketahui oleh seseorang namun
kadang-kadang tidak diketahui. Seringkali peserta didik  merasa cemas bila
menghadapi tes di kelas. Peserta didik tersebut cenderung sadar bahwa target
kecemasannya adalah tes.
Ada 5 (lima) tipe karakteristik
afektif yang penting, yaitu sikap, minat, konsep diri, nilai, dan moral.
1.     
Sikap
           Sikap
merupakan suatu kencendrungan untuk bertindak secara suka atau tidak suka
terhadap suatu objek. Sikap dapat dibentuk melalui cara mengamati dan menirukan
sesuatu yang positif, kemudian melalui penguatan serta menerima informasi
verbal. Perubahan sikap dapat diamati dalam proses pembelajaran, tujuan yang
ingin dicapai, keteguhan, dan konsistensi terhadap sesuatu. Penilaian sikap adalah
penilaian yang dilakukan untuk mengetahui sikap peserta didik terhadap mata
pelajaran, kondisi pembelajaran, pendidik, dan  sebagainya.
            Menurut
Fishbein dan Ajzen (1975) sikap adalah suatu predisposisi yang dipelajari untuk
merespon secara positif atau negatif terhadap suatu objek, situasi, konsep,
atau orang. Sikap peserta didik terhadap objek misalnya sikap terhadap sekolah
atau terhadap mata pelajaran. Sikap peserta didik ini penting untuk
ditingkatkan (Popham, 1999). Sikap peserta didik terhadap mata pelajaran,
misalnya bahasa Inggris, harus lebih positif setelah peserta didik mengikuti
pembelajaran bahasa Inggris dibanding sebelum mengikuti pembelajaran. Perubahan
ini merupakan salah satu indikator keberhasilan pendidik dalam melaksanakan
proses pembelajaran. Untuk itu pendidik harus membuat rencana pembelajaran
termasuk pengalaman belajar peserta didik yang membuat sikap peserta didik
terhadap mata pelajaran menjadi lebih positif.
2.     
Minat
            Menurut
Getzel (1966), minat adalah suatu disposisi yang terorganisir melalui
pengalaman yang mendorong seseorang untuk memperoleh objek khusus, aktivitas,
pemahaman, dan keterampilan untuk tujuan perhatian atau pencapaian. Sedangkan
menurut kamus besar bahasa Indonesia (1990: 583), minat atau keinginan adalah
kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu. Hal penting pada minat adalah
intensitasnya. Secara umum minat termasuk karakteristik afektif yang memiliki
intensitas tinggi.
Penilaian minat dapat digunakan
untuk:
  • mengetahui minat peserta didik
    sehingga mudah untuk pengarahan dalam pembelajaran,
  • mengetahui bakat dan minat
    peserta didik yang sebenarnya,
  • pertimbangan penjurusan dan
    pelayanan individual peserta didik,
  • menggambarkan keadaan langsung
    di lapangan/kelas,
  • mengelompokkan peserta didik
    yang memiliki minat sama,
  • acuan dalam menilai kemampuan
    peserta didik secara keseluruhan dan memilih metode yang tepat dalam
    penyampaian materi,
  • mengetahui tingkat minat
    peserta didik terhadap pelajaran yang diberikan pendidik,
  • bahan pertimbangan menentukan
    program sekolah,
  • meningkatkan motivasi belajar
    peserta didik.
3.     
Konsep Diri
            Menurut
Smith, konsep diri adalah evaluasi yang dilakukan individu terhadap kemampuan
dan kelemahan yang dimiliki. Target, arah, dan intensitas konsep diri pada
dasarnya seperti ranah afektif yang lain. Target konsep diri biasanya orang
tetapi bisa juga institusi seperti sekolah. Arah konsep diri bisa positif atau
negatif, dan intensitasnya bisa dinyatakan dalam suatu daerah kontinum, yaitu
mulai dari rendah sampai tinggi. Konsep diri ini penting untuk menentukan
jenjang karir peserta didik, yaitu dengan mengetahui kekuatan dan kelemahan
diri sendiri, dapat dipilih alternatif karir yang tepat bagi peserta didik.
Selain itu informasi konsep diri penting bagi sekolah untuk memberikan motivasi
belajar peserta didik dengan tepat.
            Penilaian
konsep diri dapat dilakukan dengan penilaian diri. Kelebihan dari penilaian
diri adalah sebagai berikut.
  • Pendidik mampu mengenal
    kelebihan dan kekurangan peserta didik.
  • Peserta didik mampu
    merefleksikan kompetensi yang sudah dicapai.
  • Pernyataan yang dibuat sesuai
    dengan keinginan penanya.
  • Memberikan motivasi diri dalam
    hal penilaian kegiatan peserta didik.
  • Peserta didik lebih aktif dan
    berpartisipasi dalam proses pembelajaran.
  • Dapat digunakan untuk acuan
    menyusun bahan ajar dan mengetahui standar input peserta didik.
  • Peserta didik dapat mengukur
    kemampuan untuk mengikuti pembelajaran.
  • Peserta didik dapat mengetahui
    ketuntasan belajarnya.
  • Melatih kejujuran dan
    kemandirian peserta didik.
  • Peserta didik mengetahui bagian
    yang harus diperbaiki.
  • Peserta didik memahami
    kemampuan dirinya.
  • Pendidik memperoleh masukan
    objektif tentang daya serap peserta didik.
  • Mempermudah pendidik untuk
    melaksanakan remedial, hasilnya dapat untuk instropeksi pembelajaran yang
    dilakukan.
  • Peserta didik belajar terbuka
    dengan orang lain.
  • Peserta didik mampu menilai
    dirinya.
  • Peserta didik dapat mencari
    materi sendiri.
  • Peserta didik dapat
    berkomunikasi dengan temannya.
4.     
Nilai
            Nilai
menurut Rokeach (1968) merupakan suatu keyakinan tentang perbuatan, tindakan,
atau perilaku yang dianggap baik dan yang dianggap buruk. Selanjutnya
dijelaskan bahwa sikap mengacu pada suatu organisasi sejumlah keyakinan sekitar
objek spesifik atau situasi, sedangkan nilai mengacu pada keyakinan. Target
nilai cenderung menjadi ide, target nilai dapat juga berupa sesuatu seperti
sikap dan perilaku. Arah nilai dapat positif dan dapat negatif. Selanjutnya
intensitas nilai dapat dikatakan tinggi atau rendah tergantung pada situasi dan
nilai yang diacu.
            Definisi
lain tentang nilai, yaitu nilai adalah suatu objek, aktivitas, atau ide yang
dinyatakan oleh individu dalam mengarahkan minat, sikap, dan kepuasan.
Selanjutnya dijelaskan bahwa manusia belajar menilai suatu objek, aktivitas,
dan ide sehingga objek ini menjadi pengatur penting minat, sikap, dan kepuasan.
Oleh karenanya satuan pendidikan harus membantu peserta didik menemukan dan
menguatkan nilai yang bermakna dan signifikan bagi peserta didik untuk
memperoleh kebahagiaan personal dan memberi konstribusi positif terhadap
masyarakat.
5.     
Moral
            Piaget
dan Kohlberg banyak membahas tentang perkembangan moral anak. Namun Kohlberg
mengabaikan masalah hubungan antara judgement moral dan tindakan moral. Ia
hanya mempelajari prinsip moral seseorang melalui penafsiran respon verbal
terhadap dilema hipotetikal atau dugaan, bukan pada bagaimana sesungguhnya
seseorang bertindak. Moral berkaitan dengan perasaan salah atau benar terhadap
kebahagiaan orang lain atau perasaan terhadap tindakan yang dilakukan diri
sendiri. Misalnya menipu orang lain, membohongi orang lain, atau melukai orang
lain baik fisik maupun psikis. Moral juga sering dikaitkan dengan keyakinan
agama seseorang, yaitu keyakinan akan perbuatan yang berdosa dan berpahala.
Jadi moral berkaitan dengan prinsip, nilai, dan keyakinan seseorang. 
Ranah afektif lain yang penting adalah:
  • Kejujuran: peserta didik harus
    belajar menghargai kejujuran dalam berinteraksi dengan orang lain.
  • Integritas: peserta didik harus
    mengikatkan diri pada kode nilai, misalnya moral dan artistik.
  • Adil: peserta didik harus
    berpendapat bahwa semua orang mendapat perlakuan yang sama dalam
    memperoleh pendidikan.
  • Kebebasan: peserta didik harus
    yakin bahwa negara yang demokratis memberi kebebasan yang bertanggung
    jawab secara maksimal kepada semua orang.
C.   
Model Strategi Pembelajaran Afektif.
Menurut Wina Sanjaya (2006), ada 3
model strategi pembelajaran yaitu :
  1. Model Konsiderasi, dikembangkan oleh Mc, Paul
    yang menekankan bahwa model ini merupakan strategi pembelajaran yg dapat
    membentuk kpribadian. Salah satu implementasinya yakni mengajak siswa
    untuk memandang permasalahan dari berbagai sudut pandang untuk menambah
    wawasan agar mereka dapat menimbang sikap tertentu sesuai dengan nilai
    yang dimilikinya.
Implementasi model konsideransi guru
dapat mengikuti tahapan pembelajaran  seperti dibawah ini :
a)      Menghadapkan siswa pada suatu
masalah yang mengandung konflik, yang sering terjadi dalam kehidupan sehari –
hari.
b)      Menyuruh siswa untuk menganalisis
situasi masalah dengan melihat bukan hanya dengan tampak, tapi juga yang
tersirat dalam permasalahan tersebut.
c)      Menyuruh siswa untuk menuliskan
tanggapannya terhadap permasalahan yang dihadapi.
d)     Mengajak siswa untuk menganalisis
respon orang lain serta membuat kategori dari setiap respon yang diberikan
siswa.
e)      Mendorong siswa untuk merumuskan
akibat atau konsekuensi dari setiap tindakan yang diusulkan siswa.
f)       Mengajak siswa untuk memandang
permasalahan dari sudut pandang (interdisipliner) untuk menambah wawasan agar
mereka dapat menimbang sikap tertentu sesuai dengan nilai yang dimilikinya.
g)      Mendorong siswa agar merumuskan
sendiri tindakan yang harus dilakukan sesuai dengan pilihannya berdasarkan
pertimbangannya sendiri.
2.      Model Pengembangan Kognitif oleh Lawrence KohlBerg, berpendapat
bahwa perkembangan manusia terjadi sebagai proses dari restrukturisasi kognitif
yang berlangsung secara berangsur-angsur . Menurut Kohlberg, moral manusia itu
berkembang melalui 3 tingkat, dan setiap tingkat terdiri dari 2 tahap, yaitu :
a)      Tingkat Prakonvensional.
Pada tingkat ini setiap individu
memandang moral berdasarkan kepentingannya sendiri. Artinya, pertimbangan moral
didasarkan pada pandangannya secara individual tanpa menghiraukan rumusan dan
aturan yang dibuat oleh masyarakat. Pada tingkat prakonvesional ini terdiri
atas dua tahap, yaitu : tahap
pertama  adalah Orientasi Hukum dan Kepatuhan
dan tahap kedua Orientasi Instrumental Relatif.
b)      Tingkat Konvensional
Pada tahap ini anak mendekati
masalah didasarkan pada hubungan individu masyarkat. Kesadaran dalam diri anak
mulai tumbuh bahwa perilaku itu harus sesuai dengan norma – norma dan aturan
yang berlaku dimasyarakat. Pada tingkatan ini mempunyai 2 tahap, yaitu :
keselarasan interpersonal serta tahap sistem sosial dan kata hati.
c)      Tingkat Postkonvensional
Pada tingkat ini perilaku bukan
hanya didasarkan pada kepatuhan terhadap norma – norma masyarakat yang berlaku,
akan tetapi didasarkan oleh adanya kesadaran sesuai dengan nilai – nilai yang
dimilikinya secara individu. Pada tingkatan ini juga terdiri dari dua tahap,
yaitu : tahap kontrak sosial dan tahap
prinsip etis yang universal.
  1. Teknik Mengklarifikasi Nilai dapat diartikan sebagai teknik
    pengajaran untuk membantu siswa dalam mencari dan menentukan suatu nilai
    yang dianggap baik dalam menghadapi suatu persoalan yang dianggap proses
    menganalisis nilai yang sudah ada dan tertanam dalam diri siswa.
Manfaat pembelajaran Afektif
Bahwa pembelajaran ini sangat perlu karena  :
1)      Mengajak siswa untuk mengklarifikasi dan mengungkap dirinya
2)      Membina, meningkatkan serta mengembangkan masalah afeksi melalui cara
yang wajar dan sesuai dengan potensi diri yang bersangkutan.
3)      Membawakan dunia emosional/afeksi dalam pembelajaran serta melatih
siswa untuk melakoninya sehingga dapat mengalami sendiri.
4)      Melatih dan membina perbaikan kehidupan/sosial (social and life
ajustment).
5)      Membentuk dan mengembangkan sikap – sikap konstruktif positif.
6)      Menanamkan nilai/sistem nilai yang utama/esensial serta melestarikanya.
7)      Membina tata cara pemahaman (understanding) moral dan perilaku
seseorang dengan kajian sistem nilai.
8)      Membina kesadaran akan : perlunya nilai/moral, kebaikan tentang sesuatu
(a set of..) nilai dan mendorong keinginan untuk menganut serta
melaksanakannya.
9)       Pembinaan dan pengembangan kepribadian
anak (Personaliti/Ego development).
            Dari ungkapan kegunaan
dan tujuan di atas jelas kiranya bagi kita terutama para guru bahwa penanaman
sikap, moral dan nilai tidak boleh dilaksanakan secara verbalisme melainkan
harus meresap pada diri yang bersangkutan.
D.    Kesulitan Dalam Pembelajaran Afektif dan Cara mengatasi Kesulitan dalam Pembelajaran
Afektif
a.     
Kesulitan
Disamping aspek pembentukan
kemampuan intelektual untuk membentuk kecerdasan peserta didik dan pembentukan
keterampilan untuk mengembangkan kompetensi agar peserta didik memiliki
kemampuan motorik, maka pembentukan sikap peserta didik merupakan aspek yang
tidak kalah pentingnya. Proses pendidikan bukan hanya membentuk kecerdasan dan
memberikan keterampilan akan tetapi juga membentuk dan mengembangkan sikap agar
anak berperilaku sesuai dengan norma – norma yang berlaku dimasyarakat.Hal ini
disebabkan proses pembelajaran dan pembentukan akhlak memiliki beberapa
kesulitan.
Pertama, selama ini proses pendidikan sesuai dengan kurikulum yang berlaku
cenderung diarahkan untuk pembentukan intelektual (kemampuan kognitif).
Kedua, sulitnya melakukan kontrol karena banyaknya faktor yang
dapat mempengaruhi perkembangan sikap seseorang. Pengembangan kemampuan sikap
baik melalui proses pembisaan maupun modeling bukan hanya ditentukan oleh guru,
akan tetapi juga faktor – faktor lain.
Ketiga, keberhasilan pembentukan sikap tidak bisa dievaluasi dengan
segera. Berbeda dengan pembentukan aspek kognitif dan aspek keterampilan yang
hasilnya dapat diketahui setelah proses pembelajaran berakhir, maka
keberhasilan dari pembentukan sikap baru dapat dilihat pada rentang waktu yang
panjang.
Keempat, pengaruh kemajuan teknologi, khususnya teknologi informasi
yang menyuguhkan aneka  pilihan program acara, berdampak pada pembentukan
karakter anak. Tidak bisa kita pungkiri, program – program televisi.
b.     
Cara mengatasi
            Dalam
mengatasi kesulitan-kesulitan pembelajaran afektif diatas terdapat beberapa
cara yang dapat diterapkan agar kesulitan-kesulitan tyersebut dapat diminimalisir
dan bahkan diatasi dengan baik. Cara-cara mengatasinya adalah :
            Pertama, Pendidikan yang ada selama ini
sesuai dengan kurikulum yang digunakan untuk mengukur kemampuan intelektual
anak dari pada kemampuan afektif, akan tetapi kemampuan dalam bersikap pun
tidak kalah penting harus dimiliki anak, untuk apa memiliki generasi muda yang
pintar akan tetapi perilakunya tidak mencerminkan orang yang memiliki
intektual. Pendidikan agama dan kewarganegaraan sampai saat ini merupakan
pendidikan yang wajib diberikan pada anak didik, karena dengan pendidikan agama
dan moral dapat mengontrol perilaku anak agar tidak cepat terjerumus pada
perilaku yang buruk tetapi sangat popular, akibat kemajuan zaman dan teknologi.
Kesadaran yang harus dimiliki diri anak yang sangat baik ditanamkan sejak dini
adalah sesuatu sikap yang sangat tepat dalam memfilter perilaku anak, anak akan
memahami cara berperilaku saat anak mampu membedakan mana sikap yang baik dan
mana sikap yang buruk bagi dirinya.
            Kedua, Peran dari guru dan orang tua
serta lingkungan sangat menentukan perilaku yang akan dikeluarkan atau dicontoh
oleh siswa. Guru mampu memberikan pembelajaran yang intelektual dan juga
memiliki nilai sikap yang baik, contohya saat guru mengajarkan bagaimananya
caranya bersikap pada pengemis, pemulung, orang tua, dan lain sebagainya. Guru
pun dapat memberikan praktek melalui contoh dalam kehidupan sehari-hari. Dalam
lingkungan masyarakat orang tua yang harus menjadi contoh bagi anaknya,
tanamkan ilmu agama dan moral dari anak berusia dini, serta berikan perhatian
dan penjelasan yang ringan mengenai akhlaq manusia yang baik, dan kemukakan
beberapa contoh suri tauladan seperti akhlaq Nabi Muhammad SAW. Orang tua juga
memberikan contoh praktek bersikap yang baik didepan anak-anaknya, agar anak
bangga dan mencontohnya.
            Ketiga, Pembentukan sikap bukan untuk
dinilai akan tetapi diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, apabila pembentukan
sikap yang dilakukan guru dan orang tua serta lingkungan berpengaruh baik pada
anak maka kehidupan anak akan terjamin aman dan jauh dari kekacauan. Sebaliknya
bila pembentukan sikap kurang optimal pada anak maka perilaku anak akan mudah
tergantikan dengan perilaku yang datang silih berganti, membuat perilaku anak
sulit terkontrol dan berakibat buruk bagi anak tersebut.
            Keempat, Pengaruh kemajuan teknologi dapat
diatasi dengan pengawasan yang baik dari orang tua dan guru, berikan pengertian
bahayanya kemajuan teknologi dengan menggunakan bahasa yang komunikatif tanpa
gaya yang memaksa ataupun nada kasar. Kedekatan orang tua dan anak sangat
banyak membantu dalam mengotrol sikap anak dalam menerima kemajuan teknologi
yang ada, berikan anak kebebasan yang bertanggung jawab, berikan kepercayaan
terhadap anak bahwa anak mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk
bagi dirinya sendiri.
E.     Pengembangan Instrumen Penilaian
Afektif
            Instrumen
penilaian afektif meliputi lembar pengamatan sikap, minat, konsep diri, nilai,
dan moral.yaitu: Ditinjau dari tujuannya ada lima macam instrumen pengukuran
ranah afektif, yaitu instrumen: (a) sikap, (b) minat, (c) konsep diri, (d)
nilai, dan (e) moral. Ada 11 (sebelas) langkah dalam mengembangkan instrumen
penilaian afektif, yaitu:
  1. menentukan spesifikasi
    instrumen
  2. menulis instrumen
  3. menentukan skala instrumen
  4. menentukan pedoman penskoran
  5. menelaah instrumen
  6. merakit instrumen
  7. melakukan ujicoba
  8. menganalisis hasil ujicoba
  9. memperbaiki instrumen
  10. melaksanakan pengukuran
  11. menafsirkan hasil pengukuran
1. Spesifikasi instrumen
            Ditinjau
dari tujuannya ada lima macam instrumen pengukuran ranah afektif, yaitu
instrumen: (a) sikap, (b) minat, (c) konsep diri, (d) nilai, dan (e) moral.
a.
Instrumen sikap
            Instrumen
sikap bertujuan untuk mengetahui sikap peserta didik terhadap suatu objek,
misalnya terhadap kegiatan sekolah, mata pelajaran, pendidik, dan sebagainya.
Sikap terhadap mata pelajaran bisa positif bisa negatif. Hasil pengukuran sikap
berguna untuk menentukan strategi pembelajaran yang tepat.
b. Instrumen minat
Instrumen minat bertujuan untuk
memperoleh informasi tentang minat peserta didik terhadap mata pelajaran, yang
selanjutnya digunakan untuk meningkatkan minat peserta didik terhadap mata
pelajaran.
c. Instrumen konsep diri
            Instrumen
konsep diri bertujuan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri.
Peserta didik melakukan evaluasi secara objektif terhadap potensi yang ada
dalam dirinya. Karakteristik potensi peserta didik sangat penting untuk
menentukan jenjang karirnya. Informasi kekuatan dan kelemahan peserta didik
digunakan untuk menentukan program yang sebaiknya ditempuh.
d. Instrumen nilai
            Instrumen
nilai bertujuan untuk mengungkap nilai dan keyakinan peserta didik. Informasi
yang diperoleh berupa nilai dan keyakinan yang positif dan yang negatif.
Hal-hal yang bersifat positif diperkuat sedangkan yang bersifat negatif
dikurangi dan akhirnya dihilangkan.
e. Instrumen moral
            Instrumen
moral bertujuan untuk mengungkap moral. Informasi moral seseorang diperoleh
melalui pengamatan terhadap perbuatan yang ditampilkan dan laporan diri melalui
pengisian kuesioner. Hasil pengamatan dan hasil kuesioner menjadi informasi
tentang moral seseorang. Dalam menyusun spesifikasi instrumen perlu
memperhatikan empat hal yaitu: (1) tujuan pengukuran, (2) kisi-kisi instrumen,
(3) bentuk dan format instrumen, dan (4) panjang instrumen.
           Setelah
menetapkan tujuan pengukuran afektif, kegiatan berikutnya adalah menyusun
kisi-kisi instrumen. Kisi-kisi (blue-print), merupakan matrik yang berisi
spesifikasi instrumen yang akan ditulis. Langkah pertama dalam menentukan
kisi-kisi adalah menentukan definisi konseptual yang berasal dari teori-teori
yang diambil dari buku teks. Selanjutnya mengembangkan definisi operasional
berdasarkan kompetensi dasar, yaitu kompetensi yang dapat diukur. Definisi
operasional ini kemudian dijabarkan menjadi sejumlah indikator. Indikator
merupakan pedoman dalam menulis instrumen. Tiap indikator bisa dikembangkan dua
atau lebih instrumen.
2. Penulisan instrumen
            Penilaian
ranah afektif peserta didik dilakukan dengan menggunakan instrumen penilaian
afektif sebagai berikut.
a. Instrumen sikap
            Definisi
konseptual: Sikap merupakan kecenderungan merespon secara konsisten baik
menyukai atau tidak menyukai suatu objek. Instrumen sikap bertujuan untuk
mengetahui sikap peserta didik terhadap suatu objek, misalnya kegiatan sekolah.
Sikap bisa positif bisa negatif. Definisi operasional: sikap adalah perasaan
positif atau negatif terhadap suatu objek. Objek bisa berupa kegiatan atau mata
pelajaran. Cara yang mudah untuk mengetahui sikap peserta didik adalah melalui
kuesioner. Pertanyaan tentang sikap meminta responden menunjukkan perasaan yang
positif atau negatif terhadap suatu objek, atau suatu kebijakan. Kata-kata yang
sering digunakan pada pertanyaan sikap menyatakan arah perasaan seseorang;
menerima-menolak, menyenangi-tidak menyenangi, baik-buruk, diingini-tidak
diingini.
Contoh indikator sikap terhadap mata
pelajaran matematika misalnya.
  • Membaca buku matematika
  • Mempelajari matematika
  • Melakukan interaksi dengan guru
    matematika
  • Mengerjakan tugas matematika
  • Melakukan diskusi tentang
    matematika
  • Memiliki buku matematika
Contoh
pernyataan untuk kuesioner:
  • Saya senang membaca buku
    matematika
  • Tidak semua orang harus belajar
    matematika
  • Saya jarang bertanya pada guru
    tentang pelajaran matematika
  • Saya tidak senang pada tugas
    pelajaran matematika
  • Saya berusaha mengerjakan
    soal-soal matematika sebaik-baiknya
  • Memiliki buku matematika
    penting untuk semua peserta didik
b. Instrumen minat
            Instrumen
minat bertujuan untuk memperoleh informasi tentang minat peserta didik terhadap
suatu mata pelajaran yang selanjutnya digunakan untuk meningkatkan minat
peserta didik terhadap mata pelajaran tersebut. Definisi konseptual: Minat
adalah keinginan yang tersusun melalui pengalaman yang mendorong individu
mencari objek, aktivitas, konsep, dan keterampilan untuk tujuan mendapatkan
perhatian atau penguasaan. Definisi operasional: Minat adalah keingintahuan
seseorang tentang keadaan suatu objek.
Contoh indikator minat terhadap
pelajaran matematika:
  • Memiliki catatan pelajaran
    matematika.
  • Berusaha memahami matematika
  • Memiliki buku matematika
  • Mengikuti pelajaran matematika
Contoh
pernyataan untuk kuesioner:
  • Catatan pelajaran matematika
    saya lengkap
  • Catatan pelajaran matematika
    saya terdapat coretan-coretan tentang hal-hal yang penting
  • Saya selalu menyiapkan pertanyaan
    sebelum mengikuti pelajaran matematika
  • Saya berusaha memahami mata
    pelajaran matematika
  • Saya senang mengerjakan soal
    matematika.
  • Saya berusaha selalu hadir pada
    pelajaran matematika
c. Instrumen konsep diri
            Instrumen
konsep diri bertujuan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri.
Informasi kekuatan dan kelemahan peserta didik digunakan untuk menentukan
program yang sebaiknya ditempuh oleh peserta didik. Definisi konsep: konsep
diri merupakan persepsi seseorang terhadap dirinya sendiri yang menyangkut
keunggulan dan kelemahannya. Definisi operasional konsep diri adalah pernyataan
tentang kemampuan diri sendiri yang menyangkut mata pelajaran.
Contoh indikator konsep diri:
  • Memilih mata pelajaran yang
    mudah dipahami
  • Memiliki kecepatan memahami
    mata pelajaran
  • Menunjukkan mata pelajaran yang
    dirasa sulit
  • Mengukur kekuatan dan kelemahan
    fisik
Contoh
pernyataan untuk instrumen:
  • Saya sulit mengikuti pelajaran
    matematika
  • Saya mudah memahami bahasa
    Inggris
  • Saya mudah menghapal suatu
    konsep.
  • Saya mampu membuat karangan
    yang baik
  • Saya merasa sulit mengikuti
    pelajaran fisika
  • Saya bisa bermain sepak bola
    dengan baik
  • Saya mampu membuat karya seni
    yang baik
  • Saya perlu waktu yang lama
    untuk memahami pelajaran fisika.
d. Instrumen nilai
            Nilai
merupakan konsep penting dalam pembentukan kompetensi peserta didik. Kegiatan
yang disenangi peserta didik di sekolah dipengaruhi oleh nilai (value) peserta
didik terhadap kegiatan tersebut. Misalnya, ada peserta didik yang menyukai
pelajaran keterampilan dan ada yang tidak, ada yang menyukai pelajaran seni
tari dan ada yang tidak. Semua ini dipengaruhi oleh nilai peserta didik, yaitu
yang berkaitan dengan penilaian baik dan buruk.
            Nilai
seseorang pada dasarnya terungkap melalui bagaimana ia berbuat atau keinginan
berbuat. Nilai berkaitan dengan keyakinan, sikap dan aktivitas atau tindakan
seseorang. Tindakan seseorang terhadap sesuatu merupakan refleksi dari nilai
yang dianutnya. Definisi konseptual: Nilai adalah keyakinan terhadap suatu
pendapat, kegiatan, atau objek. Definisi operasional nilai adalah keyakinan
seseorang tentang keadaan suatu objek atau kegiatan. Misalnya keyakinan akan
kemampuan peserta didik dan kinerja guru. Kemungkinan ada yang berkeyakinan
bahwa prestasi peserta didik sulit ditingkatkan atau ada yang berkeyakinan
bahwa guru sulit melakukan perubahan.
            Instrumen
nilai bertujuan untuk mengungkap nilai dan keyakinan individu. Informasi yang
diperoleh berupa nilai dan keyakinan yang positif dan yang negatif. Hal-hal
yang positif ditingkatkan sedang yang negatif dikurangi dan akhirnya
dihilangkan.
Contoh indikator nilai adalah:
  • Memiliki keyakinan akan peran
    sekolah
  • Menyakini keberhasilan peserta
    didik
  • Menunjukkan keyakinan atas
    kemampuan guru.
  • Mempertahankan keyakinan akan
    harapan masyarakat
Contoh pernyataan untuk kuesioner
tentang nilai peserta didik:
  • Saya berkeyakinan bahwa
    prestasi belajar peserta didik sulit untuk
  • ditingkatkan.
  • Saya berkeyakinan bahwa kinerja
    pendidik sudah maksimal.
  • Saya berkeyakinan bahwa peserta
    didik yang ikut bimbingan tes cenderung akan diterima di perguruan tinggi.
  • Saya berkeyakinan sekolah tidak
    akan mampu mengubah tingkat kesejahteraan masyarakat.
  • Saya berkeyakinan bahwa
    perubahan selalu membawa masalah.
  • Saya berkeyakinan bahwa hasil
    yang dicapai peserta didik adalah atas usahanya.
            Selain
melalui kuesioner ranah afektif peserta didik, sikap, minat, konsep diri, dan
nilai dapat digali melalui pengamatan. Pengamatan karakteristik afektif peserta
didik dilakukan di tempat dilaksanakannya kegiatan pembelajaran. Untuk mengetahui
keadaan ranah afektif peserta didik, perlu ditentukan dulu indikator substansi
yang akan diukur, dan pendidik harus mencatat setiap perilaku yang muncul dari
peserta didik yang berkaitan dengan indikator tersebut.
e. Instrumen Moral
Instrumen ini bertujuan untuk
mengetahui moral peserta didik.
Contoh  indikator moral sesuai
dengan definisi tersebut adalah:
  • Memegang janji
  • Memiliki kepedulian terhadap
    orang lain
  • Menunjukkan komitmen terhadap
    tugas-tugas
  • Memiliki Kejujuran
Contoh pernyataan untuk instrumen
moral
  • Bila saya berjanji pada teman,
    tidak harus menepati.
  • Bila berjanji kepada orang yang
    lebih tua, saya berusaha menepatinya.
  • Bila berjanji pada anak kecil,
    saya tidak harus menepatinya.
  • Bila menghadapi kesulitan, saya
    selalu meminta bantuan orang lain.
  • Bila ada orang lain yang
    menghadapi kesulitan, saya berusaha membantu.
  • Kesulitan orang lain merupakan
    tanggung jawabnya sendiri.
  • Bila bertemu teman, saya selalu
    menyapanya walau ia tidak melihat saya.
  • Bila bertemu guru, saya selalu
    memberikan salam, walau ia tidak melihat saya.
  • Saya selalu bercerita hal yang
    menyenangkan teman, walau tidak seluruhnya benar.
  • Bila ada orang yang bercerita,
    saya tidak selalu mempercayainya.
3. Skala Instrumen Penilaian Afektif
Skala yang sering digunakan dalam
instrumen penelilaian afektif adalah Skala Thurstone, Skala Likert, dan Skala
Beda Semantik.
Contoh Skala Thurstone: Minat
terhadap pelajaran sejarah
No
Pernyataan
7
6
5
4
3
2
1
1.
Saya
senang belajar Sejarah
2.
Pelajaran
sejarah bermanfaat
3.
Saya
berusaha hadir tiap ada jam pelajaran sejarah
4.
Saya
berusaha memiliki buku pelajaran Sejarah
5.
Pelajaran
sejarah membosankan
6.
Dst.
Contoh skala Likert: Sikap terhadap
pelajaran matematika
No
Pernyataan
SS
S
TS
STS
1.
Pelajaran
matematika bermanfaat
2.
Pelajaran
matematika sulit
3.
Tidak
semua harus belajar matematika
4.
Pelajaran
matematika harus dibuat mudah
5.
Sekolah
saya menyenangkan
6.
Dst.
Keterangan:
SS : Sangat setuju
S : Setuju
TS : Tidak setuju
STS: Sangat tidak setuju
Contoh skala beda Semantik:
Pelajaran ekonomi
a
b
c
d
e
f
g
h
Menyenangkan
Membosankan
Sulit
Mudah
Bermanfaat
Sia-sia
Menantang
Menjemukan
Banyak
Sedikit
Dst.
Dst
4. Sistem penskoran
            Sistem
penskoran yang digunakan tergantung pada skala pengukuran. Apabila digunakan
skala Thurstone, maka skor tertinggi untuk tiap butir 7 dan skor terendah 1.
Demikian pula untuk instrumen dengan skala beda semantik, tertinggi 7 terendah
1. Untuk skala Likert, pada awalnya skor tertinggi tiap butir 5 dan terendah 1.
Dalam pengukuran sering terjadi kecenderungan responden memilih jawaban pada
katergori tiga 3 (tiga) untuk skala Likert. Untuk menghindari hal tersebut
skala Likert dimodifikasi dengan hanya menggunakan 4 (empat) pilihan, agar
jelas sikap atau minat responden. Skor perolehan perlu dianalisis untuk tingkat
peserta didik dan tingkat kelas, yaitu dengan mencari rerata (mean) dan
simpangan baku skor. Selanjutnya ditafsirkan hasilnya untuk mengetahui minat
masing-masing peserta didik dan minat kelas terhadap suatu mata pelajaran.
5. Telaah instrumen
            Kegiatan
pada telaah instrumen adalah menelaah apakah: a) butir pertanyaan/pernyataan
sesuai dengan indikator, b) bahasa yang digunakan komunikatif dan menggunakan
tata bahasa yang benar, c) butir peranyaaan/pernyataan tidak bias, d) format
instrumen menarik untuk dibaca, e) pedoman menjawab atau mengisi instrumen
jelas, dan f) jumlah butir dan/atau panjang kalimat pertanyaan/pernyataan sudah
tepat sehingga tidak menjemukan untuk dibaca/dijawab.
            Telaah
dilakukan oleh pakar dalam bidang yang diukur dan akan lebih baik bila ada
pakar penilaian. Telaah bisa juga dilakukan oleh teman sejawat bila yang
diinginkan adalah masukan tentang bahasa dan format instrumen. Bahasa yang
digunakan adalah yang sesuai dengan tingkat pendidikan responden. Hasil telaah
selanjutnya digunakan untuk memperbaiki instrumen. Panjang instrumen
berhubungan dengan masalah kebosanan, yaitu tingkat kejemuan dalam mengisi
instrumen. Lama pengisian instrumen sebaiknya tidak lebih dari 30 menit.
Langkah pertama dalam menulis suatu pertanyaan/pernyataan adalah informasi apa
yang ingin diperoleh, struktur pertanyaan, dan pemilihan kata-kata. Pertanyaan
yang diajukan jangan sampai bias, yaitu mengarahkan jawaban responden pada arah
tertentu, positif atau negatif.
Contoh pertanyaan yang bias:
            Sebagian
besar pendidik setuju semua peserta didik yang menempuh ujian akhir lulus.
Apakah saudara setuju bila semua peserta didik yang mengikuti ujian lulus
semua?
Contoh pertanyaan yang tidak bias:
            Sebagian
pendidik setuju bahwa tidak semua peserta didik harus lulus, namun sebagian
lain tidak setuju. Apakah saudara setuju bila semua peserta didik yang menempuh
ujian akhir lulus semua?
Beberapa hal yang harus diperhatikan
dalam menggunakan kata-kata untuk suatu kuesioner, yaitu:
  • Gunakan kata-kata yang
    sederhana sesuai dengan tingkat pendidikan responden
  • Pertanyaannya jangan
    samar-samar
  • Hindari pertanyaan yang bias.
  • Hindari pertanyaan hipotetikal
    atau pengandaian.
            Hasil
telaah instrumen digunakan untuk memperbaiki instrumen. Perbaikan dilakukan
terhadap konstruksi instrumen, yaitu kalimat yang digunakan, waktu yang
diperlukan untuk mengisi instrumen, cara pengisian atau cara menjawab
instrumen, dan pengetikan.
6. Merakit instrumen
            Setelah
instrumen diperbaiki selanjutnya instrumen dirakit, yaitu menentukan format
tata letak instrumen dan urutan pertanyaan/ pernyataan. Format instrumen harus
dibuat menarik dan tidak terlalu panjang, sehingga responden tertarik untuk
membaca dan mengisinya. Setiap sepuluh pertanyaan sebaiknya dipisahkan dengan
cara memberi spasi yang lebih, atau diberi batasan garis empat persegi panjang.
Urutkan pertanyaan/pernyataan sesuai dengan tingkat kemudahan dalam menjawab
atau mengisinya.
7. Ujicoba instrumen
            Setelah
dirakit instrumen diujicobakan kepada responden, sesuai dengan tujuan penilaian
apakah kepada peserta didik, kepada guru atau orang tua peserta didik. Untuk
itu dipilih sampel yang karakteristiknya mewakili populasi yang ingin dinilai.
Bila yang ingin dinilai adalah peserta didik SMA, maka sampelnya juga peserta
didik SMA. Sampel yang diperlukan minimal 30 peserta didik, bisa berasal dari
satu sekolah atau lebih. Pada saat ujicoba yang perlu dicatat adalah
saran-saran dari responden atas kejelasan pedoman pengisian instrumen,
kejelasan kalimat yang digunakan, dan waktu yang diperlukan untuk mengisi
instrumen. Waktu yang digunakan disarankan bukan waktu saat responden sudah lelah.
Selain itu sebaiknya responden juga diberi minuman agar tidak lelah. Perlu
diingat bahwa pengisian instrumen penilaian afektif bukan merupakan tes,
sehingga walau ada batasan waktu namun tidak terlalu ketat. Agar responden
mengisi instrumen dengan akurat sesuai harapan, maka sebaiknya instrumen
dirancang sedemikian rupa sehingga waktu yang diperlukan mengisi instrumen
tidak terlalu lama. Berdasarkan pengalaman, waktu yang diperlukan agar tidak
jenuh adalah 30 menit atau kurang.
8. Analisis hasil ujicoba
            Analisis
hasil ujicoba meliputi variasi jawaban tiap butir pertanyaan/pernyataan. Jika
menggunakan skala instrumen 1 sampai 7, dan jawaban responden bervariasi dari 1
sampai 7, maka butir pertanyaan/pernyataan pada instrumen ini dapat dikatakan
baik. Namun apabila jawabannya hanya pada satu pilihan jawaban saja, misalnya
pada pilihan nomor 3, maka butir instrumen ini tergolong tidak baik. Indikator
yang digunakan adalah besarnya daya beda.  Bila daya beda butir instrumen
lebih dari 0,30, butir instrumen tergolong baik.
            Indikator
lain yang diperhatikan adalah indeks keandalan yang dikenal dengan indeks
reliabilitas. Batas indeks reliabilitas minimal 0,70. Bila indeks ini lebih
kecil dari 0,70, kesalahan pengukuran akan melebihi batas. Oleh karena itu
diusahakan agar indeks keandalan instrumen minimal 0,70.
9. Perbaikan instrumen
            Perbaikan
dilakukan terhadap butir-butir pertanyaan/pernyataan yang tidak baik,
berdasarkan analisis hasil ujicoba. Bisa saja hasil telaah instrumen baik,
namun hasil ujicoba empirik tidak baik. Untuk itu butir pertanyaan/pernyataan
instrumen harus diperbaiki. Perbaikan termasuk mengakomodasi saran-saran dari
responden ujicoba. Instrumen sebaiknya dilengkapi dengan pertanyaan terbuka.
10. Pelaksanaan pengukuran
            Pelaksanaan
pengukuran perlu memperhatikan waktu dan ruangan yang digunakan. Waktu
pelaksanaan bukan pada waktu responden sudah lelah. Ruang untuk mengisi
instrumen harus memiliki cahaya (penerangan) yang cukup dan sirkulasi udara
yang baik. Tempat duduk juga diatur agar responden tidak terganggu satu sama
lain. Diusahakan agar responden tidak saling bertanya pada responden yang lain
agar jawaban kuesioner tidak sama atau homogen. Pengisian instrumen dimulai
dengan penjelasan tentang tujuan pengisian, manfaat bagi responden, dan pedoman
pengisian instrumen.
11. Penafsiran hasil pengukuran
            Hasil
pengukuran berupa skor atau angka. Untuk menafsirkan hasil pengukuran
diperlukan suatu kriteria. Kriteria yang digunakan tergantung pada skala dan
jumlah butir pertanyaan/pernyataan yang digunakan. Misalkan digunakan skala
Likert yang berisi 10 butir pertanyaan/ pernyataan dengan 4 (empat) pilihan
untuk mengukur sikap peserta didik. Skor untuk butir pertanyaan/pernyataan yang
sifatnya positif:  Sangat setuju = 4;  Setuju = 3;  Tidak setuju
= 2;  Sangat tidak setuju = 1. Sebaliknya untuk pertanyaan/pernyataan yang
bersifat negatif: Sangat setuju = 1;  Setuju = 2;  Tidak setuju =
3;  Sangat tidak setuju = 4
            Skor
tertinggi untuk instrumen tersebut adalah 10 butir x 4 = 40, dan skor terendah
10 butir x 1 = 10. Skor ini dikualifikasikan misalnya menjadi empat kategori
sikap atau minat, yaitu sangat tinggi (sangat baik), tinggi (baik), rendah
(kurang), dan sangat rendah (sangat kurang). Berdasarkan kategori ini dapat
ditentukan minat atau sikap peserta didik. Selanjutnya dapat dicari sikap dan
minat kelas terhadap mata pelajaran tertentu. Penentuan kategori hasil
pengukuran sikap atau minat dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 1. Kategorisasi sikap atau minat peserta didik untuk
10 butir
pernyataan, dengan rentang skor 10 –40.
No.
Skor Peseta Didik
Kategori Sikap/ Minat
1.
Lebih
besar dari 35
Sangat
tinggi/Sangat baik
2.
28
sampai 35
Tinggi/Baik
3.
28
sampai 35
Rendah/Kurang
4.
Kurang
dari 20
Sangat
rendah/Sangat kurang
Keterangan Tabel 1:
  1. Skor batas bawah kategori
    sangat tinggi atau sangat baik adalah: 0,80 x 40 = 36, dan batas atasnya
    40.
  2. Skor batas bawah pada kategori
    tinggi atau baik adalah: 0,70 x 40 = 28, dan skor batas atasnya adalah 35.
  3. Skor batas bawah pada kategori
    rendah atau kurang adalah: 0,50 x 40 = 20, dan skor batas atasnya adalah
    27.
  4. Skor yang tergolong pada
    kategori sangat rendah atau sangat kurang  adalah kurang dari 20.
Tabel 2 Kategorisasi sikap atau minat kelas
No.
Skor
Rata – Rata Kelas
Kategori
Sikap/ Minat
1.
Lebih
besar dari 35
Sangat
tinggi/Sangat baik
2.
28
sampai 35
Tinggi/Baik
3.
28
sampai 35
Rendah/Kurang
4
Kurang
dari 20
Sangat
rendah/Sangat kurang
Keterangan:
  1. Rata-rata skor kelas: jumlah
    skor semua peserta didik dibagi jumlah peserta didik di kelas ybs.
  2. Skor batas bawah kategori
    sangat tinggi atau sangat baik adalah: 0,80 x 40 = 36, dan batas atasnya
    40.
  3. Skor batas bawah pada kategori
    tinggi atau baik adalah: 0,70 x 40 = 28, dan skor batas atasnya adalah 35.
  4. Skor batas bawah pada kategori
    rendah atau kurang adalah: 0,50 x 40 = 20, dan skor batas atasnya adalah
    27.
  5. Skor yang tergolong pada
    kategori sangat rendah atau sangat kurang  adalah kurang dari 20.
Pada Tabel 1 dapat diketahui minat
atau sikap tiap peserta didik terhadap tiap mata pelajaran. Bila sikap peserta
didik tergolong rendah, maka peserta didik harus berusaha meningkatkan sikap
dan minatnya dengan bimbingan pendidik. Sedang bila sikap atau minat peserta
didik tergolong tinggi, peserta didik harus berusaha mempertahankannya.
Tabel 2 menujukkan minat atau sikap
kelas terhadap suatu mata pelajaran.  Dalam pengukuran sikap atau minat
kelas diperlukan informasi tentang minat atau sikap setiap peserta didik
terhadap suatu objek, seperti mata pelajaran. Hasil pengukuran minat kelas
untuk semua mata pelajaran berguna untuk membuat profil minat kelas. Jadi
satuan pendidikan akan memiliki peta minat kelas dan selanjutnya dikaitkan
dengan profil prestasi belajar. Umumnya peserta didik yang berminat pada mata
pelajaran tertentu prestasi belajarnya untuk mata pelajaran tersebut baik.
C. Observasi
            Penilaian
ranah afektif peserta didik selain menggunakan kuesioner juga bisa dilakukan
melalui observasi atau pengamatan. Prosedurnya sama, yaitu dimulai dengan
penentuan definisi konseptual dan definisi operasional. Definisi konseptual
kemudian diturunkan menjadi sejumlah indikator. Indikator ini menjadi isi
pedoman observasi. Misalnya indikator peserta didik berminat pada mata
pelajaran matematika adalah kehadiran di kelas, kerajinan dalam mengerjakan
tugas-tugas, banyaknya bertanya, kerapihan dan kelengkapan catatan. Hasil
observasi akan melengkapi informasi dari hasil kuesioner. Dengan demikian
informasi yang diperoleh akan lebih akurat, sehingga kebijakan yang ditempuh
akan lebih tepat.
One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *