Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan di Wilayah Surabaya dan Bali

A.     
SURABAYA
Semenjak didengarnya kabar mengenai proklamasi
di wilayah Surabaya, maka masyarakat di wilayah tersebut segera melakukan
gerakan-gerakan dalam upaya mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia. Tiga
hari setelah kabar proklamasi, mereka memperoleh perintah dari presiden untuk
membentuk KNI, PNI , dan BKR. Yang pertama kali dibentuk adalah KNI (Komite
Nasional Indonesia), meskipun masih dalam suasana di bawah kekuasaan Jepang,
para pemimpin bangsa dan KNI berusaha keras untuk melepaskan diri dari
kekuasaan Jepang. Sementara itu Residen Sudirman mendapat panggilan untuk
menghadiri sidang KNIP dan Permusyawaratan Pegawai Negeri di Jakarta. Ia
berangkat tanggal 27 Agustus dan kembali pada tanggal 3 September sore hari.
Pada tanggal 2 September 1945, di Surabaya telah
dibentuk BKR dengan anggota terdiri atas bekas anggota tentara Peta. Kegiatan
pemerintahan selanjutnya ditujukan untuk mengambil alih kekuasaan untuk
memperkuat aparatur pemerintahan. Namun, di dalam situasi transisi eksplosif,
pemerintah belum sepenuhnya menguasai keadaan. Jepang masih berkuasa sekalipun
atas nama Serikat. Gedung-gedung vital dijaga oleh Jepang dengan bertopi MP
(Military Police).
Usaha yang dilakukan oleh pemerintah yang
terutama untuk memojokkan pegawai atau para pejabat Jepang, dilakukan dengan
teknik diplomasi. Di dalam organisasi pemerintahan, pengambilalihan kekuasaan
berjalan dengan baik. Pejabat-pejabat Jepang mulai dirumahkan dan tidak
dipatuhi perintah-perintahnya. Sementara itu, para pemuda yang berjuang untuk
merebut senjata berhasil mencapai kemajuan pesat, sampai dengan jatuhnya gedung
Kempeitai pada tanggal 1 Oktober 1945. Jatuhnya gedung tersebut merupakan
sebuah perlambangan terhapusnya dualisme kekuasaan di wilayah tersebut. Sejak
saat itulah pemerintahan daerah Surabaya dipegang oleh Residen Sudirman dan KNI
mulai berkuasa sepenuhnya. Sebagai tindak lanjut dari penyerahan Kempeitai,
dilakukan perundingan antara pemimpin Indonesia dan KNI dengan Boeitaico
Jenderal Iwabe yang didampingi oleh beberapa perwira Kempeitai. Hasil dari
perundingan tersebut ialah:
“Pada tanggal 1 Oktober 1945, PT. R. Sudirman
atas nama Pemerintah RI daerah Surabaya telah menyampaikan kepada Surabaya
Syucokan pernyataan sebagai berikut:
1.      
Sekarang sudah tiba saatnya bagi
kami untuk mengurus Pemerintahan sendiri dengan selengkap-lengkapnya, maka
karenanya segala urusan Pemerintahan di dalam negeri ini akan kami urus dan
selesaikan dengan tenaga sendiri dan mulai sekarang hanya menjalankan titah
Pemerintah RI.
2.      
Oleh karena itu, maka mulai sekarang
juga segala urusan dengan wakil-wakil negari Serikat yang mengenai soal-soal
negara, penduduk, dan harta benda dan sebagainya, sudah seharusnya dirundingkan
dan diselesaikan oleh dan dengan kami sendiri juga.”
Pengumuman ini lebih ditegaskan lagi dengan
Dekrit Pemerintah RI Daerah Surabaya, tanggal 2 Oktober yang berisi:
1.      
BKR mulai hari ini kami angkat
menjadi Badan Pemerintahan di bawah pimpinan Residen Surabaya R. Sudirman.
2.      
Penjagaan yang memakai tanda MP
mulai hari ini dihapuskan.
3.      
Tanda matahari di peci polisi
diganti dengan lencana Merah-Putih.
4.      
Tempat BKR ada di bekas Gedung
Kempeitai.
5.      
Orang-orang Nippon ditempatkan di
bekas Marine Establishment Gubeng di lapangan Jarmarkt.
6.      
Mesiu dan senjata yang didapat
hendaknya diserahkan kepada Pemerintah RI Daerah Surabaya di Kantor BKR di
bekas gedung Kempeitai atau Polisi Istimewa di Coen Boulevard.
Pada masa setelah adanya pengambilalihan
kekuasaan tersebut, terjadilah perundingan antara BKR-Laut dengan Serikat,
dimana Serikat mengancam akan melakukan penembakan setelah lima menit jika
hasil perundingan tersebut tidak dilaksanakan oleh BKR-Laut.[1]
Hasil dari perundingan tersebut antara lain:
1.      
BKR-Laut diminta untuk menurunkan
bendera merah putih yang dikibarkan di Gedung Modderlust dan menggantinya
dengan bendera Inggris.
2.      
BKR-Laut diminta untuk
mengosongkan Gedung Modderlust dan sekitarnya.
Dengan sangat mengejutkan pihak Serikat, BKR-Laut
menolak mentah-mentah kedua tuntutan tersebut hingga akhirnya Serikat
mengarahkan meriamnya ke Gedung Modderlust. Namun dengan sikap siaga dan penuh
nasionalisme, para anggota BKR yang berada di dalam gedung tersebut mengambil
senjata dan mencoba melindungi Gedung Modderlust. Inggris pada akhirnya
menyerah dan pergi meninggalkan gedung tersebut.
1.       Peristiwa 10 November 1945,
Pembuktian Kekuatan Rakyat Surabaya
Pertempuran Surabaya merupakan peristiwa
sejarah perang antara pihak tentara Indonesia dan pasukan Belanda. Peristiwa
besar ini terjadi pada tanggal 10 November 1945 di kota Surabaya, Jawa Timur.
Pertempuran ini adalah perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing
setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan satu pertempuran terbesar dan
terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang menjadi simbol nasional
atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme.
Kronologi Penyebab Peristiwa Kedatangan Tentara
Jepang ke Indonesia Tanggal 1 Maret 1942, tentara Jepang mendarat di Pulau
Jawa, dan tujuh hari kemudian tanggal 8 Maret 1945, pemerintah kolonial Belanda
menyerah tanpa syarat kepada Jepang berdasarkan perjanjian Kalidjati. Setelah
penyerahan tanpa syarat tesebut, Indonesia secara resmi diduduki oleh Jepang. Proklamasi
Kemerdekaan Indonesia Tiga tahun kemudian, Jepang menyerah tanpa syarat kepada
sekutu setelah dijatuhkannya bom atom (oleh Amerika Serikat) di Hiroshima dan
Nagasaki. Peristiwa itu terjadi pada bulan Agustus 1945. Dalam kekosongan
kekuasaan asing tersebut, Soekarno kemudian memproklamirkan kemerdekaan
Indonesia pada 17 Agustus 1945. Kedatangan Tentara Inggris & Belanda .
Setelah kekalahan pihak Jepang, rakyat dan
pejuang Indonesia berupaya melucuti senjata para tentara Jepang. Maka timbullah
pertempuran-pertempuran yang memakan korban di banyak daerah. Ketika gerakan
untuk melucuti pasukan Jepang sedang berkobar, tanggal 15 September 1945,
tentara Inggris mendarat di Jakarta, kemudian mendarat di Surabaya pada 25
Oktober 1945. Tentara Inggris datang ke Indonesia tergabung dalam AFNEI (Allied
Forces Netherlands East Indies) atas keputusan dan atas nama Blok Sekutu,
dengan tugas untuk melucuti tentara Jepang, membebaskan para tawanan perang yang
ditahan Jepang, serta memulangkan tentara Jepang ke negerinya. Namun selain itu
tentara Inggris yang datang juga membawa misi mengembalikan Indonesia kepada
administrasi pemerintahan Belanda sebagai negeri jajahan Hindia Belanda. NICA
(Netherlands Indies Civil Administration) ikut membonceng bersama rombongan
tentara Inggris untuk tujuan tersebut. Hal ini memicu gejolak rakyat Indonesia
dan memunculkan pergerakan perlawanan rakyat Indonesia di mana-mana melawan
tentara AFNEI dan pemerintahan NICA.
2.       Insiden di Hotel Yamato,
Tunjungan, Surabaya
Setelah munculnya maklumat pemerintah Indonesia
tanggal 31 Agustus 1945 yang menetapkan bahwa mulai 1 September 1945 bendera
nasional Sang Saka Merah Putih dikibarkan terus di seluruh wilayah Indonesia,
gerakan pengibaran bendera tersebut makin meluas ke segenap pelosok kota
Surabaya. Klimaks gerakan pengibaran bendera di Surabaya terjadi pada insiden
perobekan bendera di Yamato Hoteru / Hotel Yamato (bernama Oranje Hotel atau
Hotel Oranye pada zaman kolonial, sekarang bernama Hotel Majapahit) di Jl.
Tunjungan no. 65 Surabaya. Sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan Mr.
W.V.Ch Ploegman pada sore hari tanggal 18 September 1945, tepatnya pukul 21.00,
mengibarkan bendera Belanda (Merah-Putih-Biru), tanpa persetujuan Pemerintah RI
Daerah Surabaya, di tiang pada tingkat teratas Hotel Yamato, sisi sebelah
utara. Keesokan harinya para pemuda Surabaya melihatnya dan menjadi marah
karena mereka menganggap Belanda telah menghina kedaulatan Indonesia, hendak
mengembalikan kekuasan kembali di Indonesia, dan melecehkan gerakan pengibaran
bendera Merah Putih yang sedang berlangsung di Surabaya.
Tak lama setelah mengumpulnya massa di Hotel
Yamato, Residen Sudirman, pejuang dan diplomat yang saat itu menjabat sebagai
Wakil Residen (Fuku Syuco Gunseikan) yang masih diakui pemerintah Dai Nippon
Surabaya Syu, sekaligus sebagai Residen Daerah Surabaya Pemerintah RI, datang
melewati kerumunan massa lalu masuk ke hotel Yamato dikawal Sidik dan Hariyono.
Sebagai perwakilan RI dia berunding dengan Mr. Ploegman dan kawan-kawannya dan
meminta agar bendera Belanda segera diturunkan dari gedung Hotel Yamato. Dalam
perundingan ini Ploegman menolak untuk menurunkan bendera Belanda dan menolak
untuk mengakui kedaulatan Indonesia. Perundingan berlangsung memanas, Ploegman
mengeluarkan pistol, dan terjadilah perkelahian dalam ruang perundingan.
Ploegman tewas dicekik oleh Sidik, yang kemudian juga tewas oleh tentara
Belanda yang berjaga-jaga dan mendengar letusan pistol Ploegman, sementara
Sudirman dan Hariyono melarikan diri ke luar Hotel Yamato. Sebagian pemuda
berebut naik ke atas hotel untuk menurunkan bendera Belanda. Hariyono yang
semula bersama Sudirman kembali ke dalam hotel dan terlibat dalam pemanjatan
tiang bendera dan bersama Kusno Wibowo berhasil menurunkan bendera Belanda,
merobek bagian birunya, dan mengereknya ke puncak tiang bendera kembali sebagai
bendera Merah Putih.
Setelah insiden di Hotel Yamato tersebut, pada
tanggal 27 Oktober 1945 meletuslah pertempuran pertama antara Indonesia melawan
tentara Inggris . Serangan-serangan kecil tersebut di kemudian hari berubah menjadi
serangan umum yang banyak memakan korban jiwa di kedua belah pihak Indonesia
dan Inggris, sebelum akhirnya Jenderal D.C. Hawthorn meminta bantuan Presiden
Sukarno untuk meredakan situasi.
3.       Kematian Brigadir Jenderal
Mallaby
Setelah gencatan senjata antara pihak
Indonesia dan pihak tentara Inggris ditandatangani tanggal 29 Oktober 1945,
keadaan berangsur-angsur mereda. Walaupun begitu tetap saja terjadi
bentrokan-bentrokan bersenjata antara rakyat dan tentara Inggris di Surabaya.
Bentrokan-bentrokan bersenjata di Surabaya tersebut memuncak dengan terbunuhnya
Brigadir Jenderal Mallaby, (pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur), pada 30
Oktober 1945 sekitar pukul 20.30. Mobil Buick yang ditumpangi Brigadir Jenderal
Mallaby berpapasan dengan sekelompok milisi Indonesia ketika akan melewati
Jembatan Merah. Kesalahpahaman menyebabkan terjadinya tembak menembak yang
berakhir dengan tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby oleh tembakan pistol seorang
pemuda Indonesia yang sampai sekarang tak diketahui identitasnya, dan
terbakarnya mobil tersebut terkena ledakan granat yang menyebabkan jenazah
Mallaby sulit dikenali. Kematian Mallaby ini menyebabkan pihak Inggris marah
kepada pihak Indonesia dan berakibat pada keputusan pengganti Mallaby, Mayor
Jenderal E.C. Mansergh untuk mengeluarkan ultimatum 10 November 1945 untuk
meminta pihak Indonesia menyerahkan persenjataan dan menghentikan perlawanan
pada tentara AFNEI dan administrasi NICA.
4.       Perdebatan tentang pihak
penyebab baku tembak Tom Driberg, seorang Anggota Parlemen Inggris dari Partai
Buruh Inggris (Labour Party).
Pada 20 Februari 1946, dalam perdebatan di
Parlemen Inggris (House of Commons) meragukan bahwa baku tembak ini dimulai
oleh pasukan pihak Indonesia. Dia menyampaikan bahwa peristiwa baku tembak ini
disinyalir kuat timbul karena kesalahpahaman 20 anggota pasukan India pimpinan
Mallaby yang memulai baku tembak tersebut tidak mengetahui bahwa gencatan
senjata sedang berlaku karena mereka terputus dari kontak dan telekomunikasi.
Berikut kutipan dari Tom Driberg:
“… Sekitar 20 orang (serdadu) India (milik
Inggris), di sebuah bangunan di sisi lain alun-alun, telah terputus dari
komunikasi lewat telepon dan tidak tahu tentang gencatan senjata. Mereka
menembak secara sporadis pada massa (Indonesia). Brigadir Mallaby keluar dari
diskusi (gencatan senjata), berjalan lurus ke arah kerumunan, dengan keberanian
besar, dan berteriak kepada serdadu India untuk menghentikan tembakan. Mereka
patuh kepadanya. Mungkin setengah jam kemudian, massa di alun-alun menjadi bergolak
lagi. Brigadir Mallaby, pada titik tertentu dalam diskusi, memerintahkan
serdadu India untuk menembak lagi. Mereka melepaskan tembakan dengan dua
senapan Bren dan massa bubar dan lari untuk berlindung; kemudian pecah
pertempuran lagi dengan sungguh gencar. Jelas bahwa ketika Brigadir Mallaby
memberi perintah untuk membuka tembakan lagi, perundingan gencatan senjata
sebenarnya telah pecah, setidaknya secara lokal. Dua puluh menit sampai
setengah jam setelah itu, ia (Mallaby) sayangnya tewas dalam mobilnya-meskipun
(kita) tidak benar-benar yakin apakah ia dibunuh oleh orang Indonesia yang
mendekati mobilnya; yang meledak bersamaan dengan serangan terhadap dirinya
(Mallaby). Saya pikir ini tidak dapat dituduh sebagai pembunuhan licik… karena
informasi saya dapat secepatnya dari saksi mata, yaitu seorang perwira Inggris
yang benar-benar ada di tempat kejadian pada saat itu, yang niat jujurnya saya
tak punya alasan untuk pertanyakan “
5.       Ultimatum 10 November 1945
Setelah terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby,
penggantinya, Mayor Jenderal Mansergh mengeluarkan ultimatum yang menyebutkan
bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan
meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan
mengangkat tangan di atas. Batas ultimatum adalah jam 6.00 pagi tanggal 10
November 1945.
Ultimatum tersebut kemudian dianggap sebagai
penghinaan bagi para pejuang dan rakyat yang telah membentuk banyak badan-badan
perjuangan / milisi. Ultimatum tersebut ditolak oleh pihak Indonesia dengan
alasan bahwa Republik Indonesia waktu itu sudah berdiri, dan Tentara Keamanan
Rakyat (TKR) juga telah dibentuk sebagai pasukan negara. Selain itu, banyak
organisasi perjuangan bersenjata yang telah dibentuk masyarakat, termasuk di
kalangan pemuda, mahasiswa dan pelajar yang menentang masuknya kembali
pemerintahan Belanda yang memboncengi kehadiran tentara   Inggris di
Indonesia.
Pada 10 November pagi, tentara Inggris mulai
melancarkan serangan berskala besar, yang diawali dengan bom udara ke
gedung-gedung pemerintahan Surabaya, dan kemudian mengerahkan sekitar 30.000
infanteri, sejumlah pesawat terbang, tank, dan kapal perang. Berbagai bagian
kota Surabaya dibombardir dan ditembak dengan meriam dari laut dan darat.
Perlawanan pasukan dan milisi Indonesia kemudian berkobar di seluruh kota,
dengan bantuan yang aktif dari penduduk. Terlibatnya penduduk dalam pertempuran
ini mengakibatkan ribuan penduduk sipil jatuh menjadi korban dalam serangan
tersebut, baik meninggal mupun terluka. Di luar dugaan pihak Inggris yang
menduga bahwa perlawanan di Surabaya bisa ditaklukkan dalam tempo tiga hari,
para tokoh masyarakat seperti pelopor muda Bung Tomo yang berpengaruh besar di
masyarakat terus menggerakkan semangat perlawanan pemuda-pemuda Surabaya
sehingga perlawanan terus berlanjut di tengah serangan skala besar Inggris.
Tokoh-tokoh agama yang terdiri dari kalangan ulama serta kyai-kyai pondok Jawa
seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah serta kyai-kyai pesantren
lainnya juga mengerahkan santri-santri mereka dan masyarakat sipil sebagai
milisi perlawanan (pada waktu itu masyarakat tidak begitu patuh kepada
pemerintahan tetapi mereka lebih patuh dan taat kepada para kyai) sehingga
perlawanan pihak Indonesia berlangsung lama, dari hari ke hari, hingga dari
minggu ke minggu lainnya. Perlawanan rakyat yang pada awalnya dilakukan secara
spontan dan tidak terkoordinasi, makin hari makin teratur. Pertempuran skala
besar ini mencapai waktu sampai tiga minggu, sebelum seluruh kota Surabaya
akhirnya jatuh di tangan pihak Inggris.
Setidaknya 6,000 pejuang dari pihak Indonesia
tewas dan 200,000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya. Korban dari pasukan
Inggris dan India kira-kira sejumlah 600. Pertempuran berdarah di Surabaya yang
memakan ribuan korban jiwa tersebut telah menggerakkan perlawanan rakyat di
seluruh Indonesia untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan.
Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat sipil yang menjadi korban pada hari 10
November ini kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan oleh Republik Indonesia
hingga sekarang.
6.       Isi Dari Pidato Bung Tomo
Bismillahirrohmanirrohim..
MERDEKA!!!
Saudara-saudara
rakyat jelata di seluruh Indonesia
terutama
saudara-saudara penduduk kota Surabaya
kita
semuanya telah mengetahui bahwa hari ini
tentara
inggris telah menyebarkan pamflet-pamflet
yang
memberikan suatu ancaman kepada kita semua
kita
diwajibkan untuk dalam waktu yang mereka tentukan
menyerahkan
senjata-senjata yang telah kita rebut dari tangannya tentara jepang
mereka
telah minta supaya kita datang pada mereka itu dengan mengangkat tangan
mereka
telah minta supaya kita semua datang pada mereka itu dengan membawa bendera
puitih tanda bahwa kita menyerah kepada mereka
Saudara-saudara
di dalam pertempuran-pertempuran yang lampau kita sekalian telah menunjukkan
bahwa
rakyat Indonesia di Surabaya
pemuda-pemuda
yang berasal dari Maluku
pemuda-pemuda
yang berawal dari Sulawesi
pemuda-pemuda
yang berasal dari Pulau Bali
pemuda-pemuda
yang berasal dari Kalimantan
pemuda-pemuda
dari seluruh Sumatera
pemuda
Aceh, pemuda Tapanuli, dan seluruh pemuda Indonesia yang ada di surabaya ini
di dalam
pasukan-pasukan mereka masing-masing
dengan
pasukan-pasukan rakyat yang dibentuk di kampung-kampung
telah
menunjukkan satu pertahanan yang tidak bisa dijebol
telah
menunjukkan satu kekuatan sehingga mereka itu terjepit di mana-mana
hanya
karena taktik yang licik daripada mereka itu saudara-saudara
dengan
mendatangkan presiden dan pemimpin2 lainnya ke Surabaya ini
maka
kita ini tunduk utuk memberhentikan pentempuran
tetapi
pada masa itu mereka telah memperkuat diri
dan
setelah kuat sekarang inilah keadaannya
Saudara-saudara
kita semuanya
kita bangsa
indonesia yang ada di Surabaya ini
akan
menerima tantangan tentara inggris itu
dan
kalau pimpinan tentara inggris yang ada di Surabaya
ingin
mendengarkan jawaban rakyat Indoneisa
ingin
mendengarkan jawaban seluruh pemuda Indoneisa yang ada di Surabaya ini
dengarkanlah
ini tentara inggris
ini
jawaban kita
ini
jawaban rakyat Surabaya
ini
jawaban pemuda Indoneisa kepada kau sekalian
hai
tentara inggris
kau
menghendaki bahwa kita ini akan membawa bendera putih untuk takluk kepadamu
kau
menyuruh kita mengangkat tangan datang kepadamu
kau
menyuruh kita membawa senjata2 yang telah kita rampas dari tentara jepang untuk
diserahkan kepadamu
tuntutan
itu walaupun kita tahu bahwa kau sekali lagi akan mengancam kita
untuk
menggempur kita dengan kekuatan yang ada
tetapi
inilah jawaban kita:
selama
banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah
yang
dapat membikin secarik kain putih merah dan putih
maka
selama itu tidak akan kita akan mau menyerah kepada siapapun juga
Saudara-saudara
rakyat Surabaya, siaplah! keadaan genting!
tetapi
saya peringatkan sekali lagi
jangan
mulai menembak
baru
kalau kita ditembak
maka
kita akan ganti menyerang mereka itukita tunjukkan bahwa kita ini adalah
benar-benar orang yang ingin merdeka
Dan
untuk kita saudara-saudara
lebih
baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka
semboyan
kita tetap: merdeka atau mati!
Dan kita
yakin saudara-saudara
pada
akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita
sebab
Allah selalu berada di pihak yang benar
percayalah
saudara-saudara
Tuhan
akan melindungi kita sekalian
Allahu Akbar!
Allahu Akbar! Allahu Akbar!
MERDEKA!!!
Pidato dari Bung Tomo ini merupakan salah satu
penyemangat berkobarnya perang di Surabaya. Rakyat Surabaya yang telah
merelakan nyawanya bagi upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia sangatlah
perlu diapresisasi dan dicontoh oleh generasi sekarang ini. Tentara Inggris,
Belanda (dan negara lain yang tergabung di dalam kelompok sekutu) memang pada awalnya
meragukan kekuatan bangsa Indonesia. Namun pada akhirnya mereka mengerti bahwa
perjuangan yang ditempuh oleh bangsa Indonesia bukanlah hal yang bisa dianggap
enteng. Pada kenyataannya, mereka dipemalukan dengan tewasnya dua jenderal yang
terkenal hebat dalam menaklukkan daerah-daerah jajahan yang mereka singgahi.
B.      BALI
Hal yang terjadi di Surabaya tidak jauh
berbeda dengan apa yang terjadi di Bali. Tanda-tanda respons dengan perang
terhadap kedatangan Belanda berawal ketika pendaratan awak kapal Belanda
“Abraham Grijns” di Pelabuhan Buleleng pada 22 Oktober 1945. Pada waktu itu,
terjadi sebuah peristiwa berdarah, oleh Nyoman S. Pendit disebutnya “Peristiwa
Bendera di Pelabuhan Buleleng dapat dikatakan sebagai awal meletusnya revolusi
perang untuk mempertahankan kemerdekaan.
Setelah itu, dilakukan persiapan-persiapan dan
konsolidasi menyatukan kekuatan organisasi pemuda dan kesatuan militer Republik
untuk melancarkan revolusi bersenjata melawan aparatus sipil dan militer
Belanda NICA. Tak lama kemudian, datang tentara Sekutu Inggris di Pelabuhan
Benoa pada 18 Februari 1946. Pendaratan tentara Sekutu ini bertugas memindahkan
tawanan perang, melucuti tentara Jepang serta memulihkan stabilitas keamanan
setempat. Tentara sekutu Inggris ini kemudian membuka markas besar di Denpasar
pada 24 Februari 1946.
Menurut laporan perwira komandan Amacab Bali,
J. Van Beuge, pasukan Belanda yang terdiri dari bekas tawanan perang Jepang
yang ditahan di Siam, yaitu bekas anggota KNIL (tentara Hindia Belanda),
sebanyak dua batalyon yang menamakan batalyon “Gajah Merah” mendarat di Pantai
Sanur pada 2 Maret 1946. Pada hari itu juga, kota Denpasar dan Lapangan Udara
di sebelah selatan Kuta diduduki tanpa perlawanan. Kota-kota penting lainnya
segera diduduki, yaitu Gianyar pada 3 Maret, Singaraja 5 Maret, Klungkung 6
Maret, Tabanan 7 Maret. Pos-pos jaga Jepang masih dipertahankan oleh Negara,
Gilimanuk pelabuhan penyebrangan ke Jawa dan Padangbai. Selanjutnya, pada 8
Maret 1946, di Denpasar Panglima Divisi India Kelima dari Surabaya, Jenderal
Mansergh, yang mempunyai wewenang atas wilayah Bali menerima penyerahan dari
Panglima Angkatan Perang Jepang di Denpasar. Sejauh mungkin, kontak
persahabatan diciptakan dengan penduduk dan tidak ada penembakan kecuali sangat
diperlukan.[2]
1.       Respons Kaum Republikan
Salah satu ciri revolusi Indonesia adalah
perang untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Perang ini mendapat dukungan
dari kalangan pejuang di Bali. Respons kaum Republikan denagn cara perang, baik
gerilya maupun perang terbuka, oleh pihak resmi Belanda menyebutnya sebagai
gerakan teroris dari kelompok ekstrimis di daerah rekolonialisasi mereka. Di
denpasar selama enam bulan terakhir ini menjadi sarana agitasi politik para
pemuda dan daerah ini berada dalam keadaan kacau. Di Tabanan, para pemuda membunuh
orang-orang yang setia kepada Belanda.
Untuk mengatasi aksi perlawanan, maka pihak
Belanda menambah jumlah personil milternya. Pada 19 maret 1946, dua kompi Eropa
dari Sumbawa diberangkatkan ke Bali. Menyusul pada 25 maret, satu batalyon
pasukan Bali dan Lombok mendarat untukk memperkuat operasi militer mereka.
Sementara itu, di Timor berlangsung serah terima pasukan Australia kepada
komandan pasukan Hindia Belanda, KNIL.
Periode sejak Agustus 1945 sampai Maret 1946,
dapat dikatakan sebagai situasi ketidakpastian. Merajalelanya anarki di pusat
pemerintahan Republik Sunda Kecil, di bali, karena absennya otoritas negara.
Hampir selama tahun 1946, aksi-aksi KNIL cukup menggila dan direspons dengan
perlawanan gerilya pemuda pejuang yang militan dan revolusioner. Dapat
dikatakan, respons revolusi di Sunda Kecil, khususnya Bali berkarakter konflik
militer antara “orang Bali Indonesia kaum Replubikan” dan “negara kolonial”.
Karakter inilah yang membedakan respons revolusi berupa revolusi sosial seperti
peristiwa tiga daerah di Jawa Tengah, revolusi sosial di Aceh dan Sumatera
Timur pada masa awal revolusi Indonesia.
Penahan aparat sipil RI Sunda Kecil yang
dipenjara pihak Belanda NICA yang bekerja sama dengan Aristrokat konservatif
(raja-raja) di Sunda Kecil, tidak dapat menghentikan gerakan pendukung revolusi
yang disertai dinamika intern pergolakannya. Dinamika intern yang ditandai
konflik internal antara kelompok-kelompok kepentingan dalam masyarakat ikut
mewarnai wajah respons lokal revolusi. Kelompok-kelompok kepentingan memiliki
prinsip dan cara-cara merespons gelombang revolusi yang melanda daerahnya di
Bali. Ada golongan aristokrasi konservatif yaitu raja-raja yang pro Belanda dan
golongan pemuda pejuang revolusioner, inilah yang menjadi pendukung cara perang
melawan kekuatan dan kekuasaan yang anti Republik dan tidak mengakui
kemerdekaan Indonesia. Sebaliknya, golongan penguasa status quo dari
aristokrasi konservatif tradisional, raja-raja yang menyatakan diri mendukung
NICA, kini menjadi kekuatan reaksioner dan kontra revolusi. Golongan pemuda
revolusioner kaum Republikan mempertahankan kemerdekaan, berhadapan dengan
kekuatan asing NICA yang mendapat dukungan dan beraliansi dengan raja-raja
kontra revolusi. Intensitas pergolakan sangat ditentukan oleh faktor geografis,
antar daerah pusat dan pinggiran. Semakin dekat dengan pusat, yaitu pusat
kekuasaan provinsi, dalam hali ini Bali denag Jawa Pusat kekuasaan Republik,
maka perlawanan pendukung Republik dan revolusi semakin kuat dan sering.
Kondisi ini dapat dimengerti, karena wilayah administratif provinsi Sunda Kecil
cukup luas, terdiri dari pulau-pulau besar dan kecil membentang dari Bali
sampai pulau Timor dan pulau-pulau lainnya. Akibatnya, konflik bersenjata telah
mewarnai respons lokal bagi kaum republikan pendukung revolusi dengan cara
berperang untuk mempertahankan eksistensi Republik Proklamasi, baik yang
berskala besar maupun yang berskal kecil. Bergerilya mengikuti arus revolusi di
basis perjuangan Republik di Jawa.[3]
2.       Puputan Margarana
Latar belakang munculnya puputan Margarana
sendiri bermula dari Perundingan Linggarjati. Pada tanggal 10 November 1946,
Belanda melakukan perundingan linggarjati dengan pemerintah Indonesia. Salah
satu isi dari perundingan Linggajati adalah Belanda mengakui secara de facto
Republik Indonesia dengan wilayah kekuasaan yang meliputi Sumatera, Jawa, dan
Madura. Selanjutnya Belanda diharuskan sudah meninggalkan daerah de facto
paling lambat tanggal 1 Januari 1949.
Pada tanggal 2 dan 3 Maret 1949 Belanda
mendaratkan pasukannya kurang lebih 2000 tentara di Bali yang diikuti oleh
tokoh-tokoh yang memihak Belanda. Tujuan dari pendaratan Belanda ke Bali
sendiri adalah untuk menegakkan berdirinya Negara Indonesia Timur. Pada waktu
itu Letnan Kolonel I Gusti Ngurah Rai yang menjabat sebagai Komandan Resiman
Nusa Tenggara sedang pergi ke Yogyakarta untuk mengadakan konsultasi dengan
Markas tertinggi TRI, sehingga dia tidak mengetahui tentang pendaratan Belanda
tersebut.Di saat pasukan Belanda sudah berhasil mendarat di Bali, perkembangan
politik di pusat Pemerintahan Republik Indonesia kurang menguntungkan akibat
perundingan Linggajati, di mana pulau Bali tidak diakui sebagai bagian wilayah
Republik Indonesia. Pada umumnya Rakyat Bali sendiri merasa kecewa terhadap isi
perundingan tersebut karena mereka merasa berhak masuk menjadi bagian dari
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Terlebih lagi ketika Belanda berusaha membujuk
Letnan Kolonel I Gusti Ngurah Rai untuk diajak membentuk Negara Indonesia
Timur. Untung saja ajakan tersebut ditolak dengan tegas oleh I Gusti Ngurah
Rai, bahkan dijawab dengan perlawanan bersenjata Pada tanggal 18 November 1946.
Pada saat itu I Gusti Ngurah Rai bersama pasukannya Ciung Wanara Berhasil
memperoleh kemenangan dalam penyerbuan ke tangsi NICA di Tabanan.
Karena geram, kemudian Belanda mengerahkan
seluruh kekuatannya di Bali dan Lombok untuk menghadapi perlawanan I Gusti Ngurah
Rai dan Rakyat Bali. Selain merasa geram terhadap kekalahan pada pertempuran
pertama, ternyata pasukan Belanda juga kesal karena adanya konsolidasi dan
pemusatan pasukan Ngurah Rai yang ditempatkan di Desa Adeng, Kecamatan Marga,
Tabanan, Bali. Setelah berhasil mengumpulkan pasukannya dari Bali dan Lombok,
kemudian Belanda berusaha mencari pusat kedudukan pasukan Ciung Wanara.
Pada tanggal 20 November 1946 I Gusti Ngurah
Rai dan pasukannya (Ciung Wanara), melakukan longmarch ke Gunung Agung, ujung
timur Pulau Bali. Tetapi tiba-tiba di tengah perjalanan, pasukan ini dicegat
oleh serdadu Belanda di Desa Marga, Tabanan, Bali. Tak pelak, pertempuran
sengit pun tidak dapat diindahkan. Sehingga sontak daerah Marga yang saat itu
masih dikelilingi ladang jagung yang tenang, berubah menjadi pertempuran yang
menggemparkan dan mendebarkan bagi warga sekitar. Bunyi letupan senjata
tiba-tiba serentak mengepung ladang jagung di daerah perbukitan yang terletak
sekitar 40 kilometer dari Denpasar itu. Pasukan pemuda Ciung Wanara yang saat
itu masih belum siap dengan persenjataannya, tidak terlalu terburu-buru
menyerang serdadu Belanda. Mereka masih berfokus dengan pertahanannya dan
menunggu komando dari I Gusti Ngoerah Rai untuk membalas serangan. Begitu
tembakan tanda menyerang diletuskan, puluhan pemuda menyeruak dari ladang
jagung dan membalas sergapan tentara Indische Civil Administration (NICA)
bentukan Belanda. Dengan senjata rampasan, akhirnya Ciung Wanara berhasil
memukul mundur serdadu Belanda. Namun ternyata pertempuran belum usai. Kali ini
serdadu Belanda yang sudah terpancing emosi berubah menjadi semakin brutal.
Kali ini, bukan hanya letupan senjata yang terdengar, namun NICA menggempur
pasukan muda I Gusti Ngoerah Rai ini dengan bom dari pesawat udara. Hamparan
sawah dan ladang jagung yang subur itu kini menjadi ladang pembantaian penuh
asap dan darah. Perang sampai habis atau puputan inilah yang kemudian
mengakhiri hidup I Gusti Ngurah Rai. Peristiwa inilah yang kemudian dicatat
sebagai peristiwa Puputan Margarana. Malam itu pada 20 November 1946 di Marga
adalah sejarah penting tonggak perjuangan rakyat di Indonesia melawan kolonial
Belanda demi Nusa dan Bangsa.

[1] Pusat Sejarah dan Tradisi ABRI, “Pertempuran Surabaya” (Jakarta: Balai
Pustaka, 1998), hlm. 40.
[2] Anak Agung Bagus W, Pusaran Revolusi Indonesia di Sunda Kecil
1945-1950 (Denpasar: Udayana University press, 2012), hlm. 119
[3] Anak Agung Bagus W, Pusaran Revolusi Indonesia di Sunda Kecil
1945-1950 (Denpasar: Udayana University press, 2012), hlm. 129-131

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *