Pergerakan Sejarah Menurut Auguste Comte

A.   
Profile
Auguste Comte
            Auguste
Comte adalah Isidore Auguste Marie Francois Xavier. Comte
lahir 20 Januari 1798.
Comte lahir di kota Montpellier,
Perancis.[1]
Meskipun beliau adalah seorang mahasiswa yang cerdas, namun Comte tidak pernah
mendapatkan ijazah sarjana. Beliau dan seluruh mahasiswa seangkatannya
dikeluarkan dari Ecole Politehnique karena gagasan politik dan pembangkakan
mereka. Pemberhentian ini berdampak buruk pada karir akademis Comte. Beliau
adalah seorang
filsuf
dan ahli teori sosial
Prancis,
selain itu beliau juga dikenal sebagai pencetus ajaran  positivisme’ dan sosiologi. Beliau merupakan seorang
filsuf dan ilmuwan sosial terkemuka
yang sangat berjasa dalam perkembangan ilmu kemasyarakatan atau sosiologi.
Comte mencetuskan suatu  sistem ilmiah yang kemudian melahirkan ilmu
pengetahuan baru, yaitu sosiologi. Sejak saat itu Auguste Comte disebut sebagai Bapak
Sosiologi karena dialah yang pertama kali memakai istilah sosiologi dan
mengkaji sosiologi secara sistematis.
            Comte merupakan pencetus positivism dan dahulunya merupakan
sekertaris dari saint simon. Beliau menulis buku berjudul Course de philosophie
yang ditulis dari tahun 1830-1842 yang terbit sebanyak enam jilid.[2]
Dalam buku itu, Comte mengemukakan teori baru yang diberi nama fisika sosial
atau sosiologi. Comte berpendapat bahwa jika manusia itu merupakan hasil dari
evolusi , maka sejarahnya tentu berhubungan erat dengan hukum-hukum evolusi,
dan kehidupan manusia dapat diselidiki dengan metode yang juga dipakai untuk
menyelidiki ilmu pengetahuan alam. Dalam bukunya tersebut, dapat diterangkan
bahwa  pendekatan-pendekatan umum untuk
mempelajari masyarakat harus melalui urutan-urutan tertentu yang kemudian akan
sampai pada tahap akhir yaitu tahap ilmiah.
            Auguste Comte adalah pendiri sekaligus tokoh terpenting dari
aliran positivism. Filsafat ini adalah filsafat yang anti-metafisis, yaitu
hanya menerima fakta-fakta yang ditemukan secara positif-ilmiah, dan menjauhkan
diri dari semua pertanyaan yang mengatasi bidang ilmu-ilmu positif. Semboyan
Comte yang terkenal adalah savoir pour
privoir
(mengetahui supaya siap untuk bertindak), artinya manusia harus
menyelidiki gejala-gejala dan hubungan-hubungan antara gejala-gejala ini supaya
bisa meramalkan apa yang terjadi.[3]
B.    
Dasar-dasar
pemikiran Auguste Comte
            Buku Cours de
Philosphie Possitive
adalah karya Auguste Comte yang paling pokok dan
sistematis. Buku ini dikatakan sebagai representasi bentangan aktualisasi yang
di dalamnya berisi tentang tiga tahapan perkembangan manusia[4] yakni
:
1.                 
Tahap Teologis
            Pada tahap teologis ini, manusia
percaya bahwa dibelakang gejala-gejala alam        terdapat
kuasa-kuasa adikodrati yang mengatur fungsi dan gerak gejala-gejala          tersebut. Kuasa-kuasa ini dianggap
sebagai makhluk yang memiliki rasio dan   kehendak
seperti manusia. Tetapi orang percaya bahwa mereka berada pada     tingkatan lebih tinggi dari pada
makhluk-makhluk lain. Tahap Teologis ini             dibagi
lagi menjadi tiga tahap:
a.    Tahap yang paling
bersahaja atau primitif, dimana orang menganggap bahwa segala benda berjiwa (animisme).
b.    Tahap
ketika orang menurunkan kelompok hal-hal tertentu, dimana seluruhnya diturunkan
dari suatu kekuatan adikodrati yang melatarbelakanginya sedemikian rupa hingga
tiap tahapan gejala-gejala memiliki dewa sendiri-sendiri (polytheisme).
c.    Tahapan tertinggi dimana
pada tahap ini orang mengganti dewa yang bermacam-macam itu dengan satu tokoh
tertinggi (Esa), yaitu dalam monotheisme.
Singkatnya, pada tahap ini manusia mengarahkan pandangannya kepada hakekat yang
batiniah (sebab pertama). Manusia percaya kepada kemungkinan adanya sesuatu
yang mutlak, artinya di balik setiap kejadian tersirat adanya maksud tertentu.
2.                 
Tahap Metafisik
            Tahap transisi dari pemikiran Comte,
Tahapan ini merupakan varian dari cara          berpikir
Teologis, karena di dalam tahap ini dewa-dewa hanya diganti dengan         kekuatan-kekuatan abstrak dengan
pengertian atau dengan benda-benda            lahiriah
yang kemudian dipersatukan dalam sesuatu yang bersifat umum, yang       disebut dengan alam. Terjemahan metafisis
dari monoteisme itu misalnya             terdapat
dalam pendapat bahwa semua kekuatan kosmis dapat disimpulkan            dalam konsep alam.
3.                 
Tahap Positif
            Tahap positif dimana orang menemukan
hukum-hukum kesamaan dan urutan         yang
terdapat pada fakta-fakta yang disajikan, yaitu dengan pengamatan dan     dengan memakai akalnya. Tujuan tertinggi
dari tahap positif adalah menyusun dan
mengatur segala gejala di bawah satu fakta yang umum.
            Bagi Comte, ketiga tahapan tersebut
tidak hanya berlaku bagi perkembangan rohani seluruh umat manusia, tetapi juga
berlaku bagi di bidang ilmu pengetahuan. Comte menerangkan bahwa segala ilmu
pengetahuan semula dikuasai oleh pengertian-pengertian teologis, sesudah itu
dikacaukan dengan pemikiran metafisis dan akhirnya dipengaruhi hukum positif.
Jelasnya, ketiga tahapan perkembangan umat manusia itu tidak saja berlaku bagi
suatu bangsa atau suku tertentu, akan tetapi juga individu dan ilmu pengetahuan.
Lebih jauh Comte berpendapat bahwa pengetahuan positif merupakan puncak
pengetahuan manusia yang disebutnya sebagai pengetahuan ilmiah. Ilmu
pengetahuan dapat dikatakan bersifat positif apabila ilmu pengetahuan tersebut
memusatkan perhatian pada gejala-gejala yang nyata dan kongrit.
            Terdapat kemungkinan untuk
memberikan penilaian terhadap berbagai cabang ilmu pengetahuan dengan jalan
mengukur isinya yang positif, serta sampai sejauh mana ilmu pengetahuan
tersebut dapat mengungkapkan kebenaran yang positif.
Sesuai dengan pandangan tersebut kebenaran metafisik yang diperoleh dalam
metafisika ditolak, karena kebenarannya sulit dibuktikan dalam kenyataan.
Demikian pandangan Auguste Comte tentang hukum tiga tahapnya, yang pada intinya
menyatakan bahwa pemikiran tiap manusia, tiap ilmu dan suku bangsa melalui 3
tahap yaitu teologis, metafisis dan positif ilmiah.
            Dalam hal ini Auguste Comte
memberikan analog: manusia muda atau suku-suku primitif pada tahap teologis dibutuhkan
figur dewa-dewa untuk menerangkan kenyataan.  Meningkat remaja dan mulai
dewasa dipakai prinsip-prinsip abstrak dan metafisis.  Pada tahap dewasa
dan matang digunakan metode-metode positif dan ilmiah.
Positivisme Auguste
Comte
            Filsafat positivisme merupakan salah
satu aliran filsafat modern yang lahir pada abad ke-19. Dasar-dasar filsafat
ini dibangun oleh Saint Simon dan dikembangkan oleh Auguste Comte. Adapun yang
menjadi  titik tolak dari pemikiran positivis ini adalah apa yang telah
diketahui adalah yang faktual dan positif sehingga metafisika ditolaknya. Yang
dimaksud dengan positif adalah segala gejala yang tampak seperti apa adanya,
sebatas pengalaman-pengalaman obyektif. Jadi setelah fakta diperoleh fakta-fakta
tersebut diatur sedemikian rupa agar dapat memberikan semacam asumsi (proyeksi)
ke masa depan. Namun begitu, Auguste Comte dapat
dikatakan merupakan tokoh terpenting dari aliran filsafat Positivisme. 
Menurut Comte, dan juga para penganut aliran positivisme, ilmu pengetahuan
tidak boleh melebihi fakta-fakta karena positivisme menolak metafisisme.
            Bagi Comte, menanyakan hakekat
benda-benda atau penyebab yang sebenarnya tidak mempunyai arti apapun. Ilmu pengetahuan
dan filsafat hanya menyelidiki fakta-fakta dan hubungan yang terdapat antara
fakta-fakta. Kaum positivis membatasi dunia pada hal-hal yang bisa dilihat,
diukur, dianalisa dan yang dapat dibuktikan kebenarannya.
Dengan model pemikiran seperti ini, kemudian Auguste Comte mencoba
mengembangkan Positivisme ke dalam agama atau sebagai pengganti agama.
            Perkembangan selanjutnya dari aliran
ini melahirkan aliran yang bertumpu kepada isi dan fakta-fakta yang bersifat
materi, yang dikenal dengan Materialisme. Selanjutnya,
karena agama (Tuhan) tidak bisa dilihat, diukur dan dianalisa serta dibuktikan,
maka agama tidak mempunyai arti dan faedah. Comte berpendapat bahwa suatu
pernyataan dianggap benar apabila pernyataan itu sesuai dengan fakta. Sebaliknya,
sebuah pernyataan akan dianggap salah apabila tidak sesuai dengan data empiris.
Model pemikiran ini disebut dengan teori Korespondensi.
            Keberadaan (existence)
sebagai masalah sentral bagi perolehan pengetahuan, mendapat bentuk khusus bagi
Positivisme Comte, yakni sebagai suatu yang jelas dan pasti sesuai dengan makna
yang terkandung di dalam kata “positif”. Kata nyata (riil) dalam
kaitannya dengan positif bagi suatu objek pengetahuan, menunjuk kepada hal yang
dapat dijangkau atau tidak dapat dijangkau oleh akal. Adapun yang dapat
dijangkau oleh akal dapat dijadikan sebagai objek ilmiah, sedangkan sebaliknya
yang tidak dapat dijangkau oleh akal, maka tidak dapat dijadikan sebagai objek
ilmiah. Kebenaran bagi Positivisme Comte selalu bersifat riil dan pragmatik
artinya nyata dan dikaitkan dengan kemanfaatan, dan nantinya berujung kepada
penataan atau penertiban.
            Comte beranggapan bahwa pengetahuan
itu tidak bersumber dari otoritas misalnya bersumber dari kitab suci, atau
penalaran metafisik (sumber tidak langsung), melainkan bersumber dari
pengetahuan langsung terhadap suatu objek secara indrawi. Dari model pemikiran
tersebut, akhirnya Comte menganggap bahwa garis demarkasi antara sesuatu
yang ilmiah dan tidak ilmiah (pseudo science) adalah veriviable,
dimana Comte untuk mengklarifikasi suatu pernyataan itu bermakna atau tidak (meaningful
dan meaningless),
dia melakukan verifikasi terhadap suatu gejala dengan
gejala-gejala yang lain untuk sampai kepada kebenaran yang dimaksud. Comte menggunakan metode ilmiah Induktif-Verivikatif,
yakni sebuah metode menarik kesimpulan dari sesuatu yang bersifat khusus ke
umum, kemudian melakukan verifikasi. Selanjutnya Comte menggunakan pola
operasional metodologis dalam bentuk observasi, eksperimentasi, komparasi, dan
generalisasi-induktif.
            Filsafat Comte  merupakan
filsafat yang anti-metafisis, hanya menerima fakta-fakta yang ditemukan secara
positif-ilmiah, dan menjauhkan diri dari semua pertanyaan yang mengatasi bidang
ilmu-ilmu positif.[5]
Semboyan Comte yang terkenal adalah savoir pour prevoir (mengetahui
supaya siap untuk bertindak), artinya manusia harus menyelidiki gejala-gejala
dan hubungan-hubungan antara gejala-gejala, agar supaya dia dapat meramalkan
apa yang akan terjadi. Filsafat positivisme Comte disebut sebagai faham
empirisme-kritis, bahwa pengamatan dengan teori berjalan bersama. Bagi Comte
pengamatan tidak mungkin dilakukan tanpa melakukan penafsiran atas dasar sebuah
teori dan pengamatan juga tidak mungkin dilakukan secara terisolasi, dalam arti
harus dikaitkan dengan suatu teori. Dengan demikian
positivisme menolak keberadaan segala kekuatan atau subjek diluar fakta,
menolak segala penggunaan metoda di luar yang digunakan untuk menelaah fakta. Positivisme
mengembangkan pemikiran tentang ilmu pengetahuan universal bagi kehidupan
manusia, sehingga berkembang etika, politik, dan lain-lain sebagai disiplin
ilmu, yang tentu saja positivistik. Positivisme mengakui eksistensi dan menolak
esensi.
            Apabila dikaitkan dengan ilmu sosial
budaya, positivisme Auguste Comte  berpendapat bahwa:
a.    Gejala sosial budaya
merupakan bagian dari gejala alami;
b.    Ilmu sosial budaya
harus dapat merumuskan hukum-hukum atau generalisasi-generalisasi yang mirip
dalil hukum alam;
c.    Berbagai prosedur serta
metode penelitian dan analisis yang ada dan telah berkembang dalam ilmu-ilmu
alam dapat dan perlu diterapkan dalam ilmu-ilmu sosial budaya.
C.   
Implementasi
pemikiran Auguste Comte dalam Gerak Sejarah
1.      Penggerak Filsafat Sejarah Auguste
Comte
Penggerak
sejarah Auguste Comte yaitu:
                                    
a.           
Rasionalitas
atau akal budi.
Dalam Filsafat sejarah yang dipaparkan oleh Comte,
Rasionalitas atau akal budi menjadi unsur utama dalam menentukan gerak sejarah.
Sifat sejarah yang tidak akan pernah berhenti selama kehidupan manusia terus
berlangsung menjadikan teory positivisme Comte menjadi sangat penting dalam
menentukan arus gerak sejarah.
                                   
b.           
Dapat
dilihat dari 3 zaman tentang pemikiran manusia berlaku dibidang ilmu
pengetahuan
Segala  ilmu
pengetahuan semula dikuasai oleh pengertian-pengertian teologis yang tidak
dapat diklepaskan dari pemikiran tentang teologis yang tidak dapat dilepaskan
dari pemikiran tentang pengetahuan yang dimiliki manusia dijamin kebenarannya
dengan cara mencarokan argumentasi-argumentasi dari hal-hal-hal yang bersifat
transendental, pengetahuan didasarkan pad keyakinan bahwa segala sesuatu
mempunyai roh/jiwa/kekuatan yang tidak dapat ditangkap secara inderawi namun
diyakini adanya kemudian pemikiran zaman trologis ini diperkeruh oleh pemikiran
metafisis dimana pengetahuan manusia dijamin oleh konsep atau rumusan abstrak
yang diciptakan oleh manusia pada masa ini hasil kerja manusia lewat
abstraksinya yang kadang intuitik atau apriori saja pengetahuan tidak dapt
diterima oleh panca in dera dan pada akhirnya dicerahkan oleh pemikiran positif
atai ilmiah dimna apengetahuan didasarkan pada hukum-hukum ilmiah yang bersifat
relatif dan pengetahuan manusia sepenuhnya berdasarkan rasio atau akal budi
yang dibuktikan dengan fakta-fakta yang kongkrit dan fakta tersebut dapat
diamati dengan panca indera.
Jadi dapat disimpulkan bahwa, penggerak filsafat sejarah
Augsute Comte berdasarkan pada akal budi yang mendorong untuk kemajuan,
rasionalitas atau akal budi ini kemudiam dimanifestasikan dalam ilmu
pengetahuan yang mengalami perkembangan dan mengantar pada industrialisasi.
Adapun perkembangan ilmu pengetahuan ditandai dengan adanya susunan ilmu
pengetahuan.
Berdasarkan sejauh mana keterkaitan ilmu pengetahuan dengan
fakta-fakta pendukungnya maka perkembangan ilmu pengetahuan dapat dibedakan
menjadi 6 macam yaitu:
                                    
a.           
Ilmu
pasti yaitu ilmu yang paling fundamental dan menjadi pembantu bagi semua ilmu
lainnya.
                                   
b.           
Astronomi
yaitu membicarakan gerak.
                                    
c.           
Fisika
yaitu menambahkan relasi matematis, gerak dengan penelitian materi.
                                   
d.           
Kimia
yaitu membahas proses perubahan yang berlangsung dalam materi
                                    
e.           
Biologi
yaitu membicarakan kehidupan
                                    
f.           
Sosiologi.
      Berbagai ilmu pengetahuan ini menurut
Aguste comte mengantarkan pada industrialisasi sebab dengan kemjuan ilmu
pengetahuan melahirkan cerdik pandai untuk menggambarkan masyarakt industri.
      Mengenai ilmu pengetahuan diajarkan
demikian, bahwa pengaturan ilmu pengetahua yang berarti harus disesuaikan
dengan oembagian kawasan gejala-gejala atau penampakan-penampakan yang
dipelajari ilmu itu.
      Segala gejala yang dapat diamati hanya
dapat dikelompokkan dalam beberapa pengertian dasar saja. Pengelompokkan itu
dapat dilakukan beberapa pengertian dasar saja. Pengelompokan itu dapat
dilakukan sedeikian rupa, sehingga penelitian tiap kelompok dapat menjadi dasar
bagi penelitian kelompok berikutnya. Urutan kelompok-kelompok itu ditentukan
oleh tingkatan sifat tunggal atau oleh tingkatan sifat umumnya. Gejala yang
sifatnya umum adalah gejala yang paling sederhana, karena gejala inilah yang
paling tidak memiliki kekhususan hal-hal yang individual.
      Comte membagi-bagikan segala gejala
pertama-tama dalam gejala-gejala yang terdapat dalam segala anorganis yang anorgis,
dan baru kemudian gejala-gejala yang terdapat dalam segala yang organis. Segala
gejala organis baru dapat dipelajari, jikalau segala yang anorganis telah
dikenal. Hal ini disebabkan karena di dalam makhluk yang hidup terdapat segala
proses mekanis dan kimiawi dari alam yang anorganis itu ddan juga terdapat
hal-hal yang lain, yang lebih daripada itu.
      Ajaran tentang segala sesuatu yang
anroganis dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu : astronomi, yang mempelajari
segala gejala umum dari jagat raya; dan fisika serta kimia, yang mempelajari
gejala-gejala anorganis di bumi. Pengetahuan tentang fisika harus didahulukan,
sebab proses-proses kimiawi lebih rumit dibansdung dengan proses alamiah dan
tergantung daripada proses alamiah.
      Ajaran tentang segala yang organis juga
dibagi menjadi dua bagian, yaitu: proses-proses yang berlangsung pada
individu-individu dan proses-proses yang berlangsung dalam jenisnya, yang lebih
rumit. Oleh karena itu ilmu yang harus diusahakan di sini adalah biologi, yang
menyelidiki proses-proses dalam individu; kemudian menyususl ilmu sosiologi,
yang menyelidiki gejala-gejala dalam hidup kemasyarkatan. (ilmu ini untuk
pertama kaliu disusun oleh Comte. Juga sebutan “sosiologi” adalah hasil
ciptaannya). Demikianlah sosiologi mnjadi puncak bangunan ilmu pengetahuan.
Akan tetapi ilmu ini baru dapat berkembang jikalau segala ilmu yang
mendahuluinya telah mencapai kedewasaannya.
2.      Gerak Filsafat Sejarah August Comte
Linier -> ditandai dengan
evolutif yang mengarah pada tujuan
Gerak sejarah dapat dilihat dari 3 tahapan pembagian jaman.
Zaman teologis -> Zaman metafisis
-> Zaman ilmiah atau zaman positif
Gerak sejarah menurut August Comte
ini bergerak kedepan terus menerus untuk menuju kemajuan keterangan positif.
1)      Zaman teologis atau tahap teologis
Orang mengarahkan rohnya keapada
hakekat-hakekat batiniah di mana orang masih percaya kepada kemungkinan adanya
pengetahuan atau pengenalan yang mutlak dan orang yakin bahwa dibelakang setiap
kejadian terseira suatu pernyataan kehendak yang secara khusus.
Di taman ini taraf pemikiran ini
terdapat 3 tahap yaitu:
                                                
a.           
Tahap
yang paling bersahaja atau primitif ketika orang menganggap segala benda
berjiwa (animisme)
                                               
b.           
Tahap
ketika orang menurunkan kelompok-kelompok, masing-masing diturunkannya dari
suatu kekuatan adikodrati yang melatar belakanginya. Dalam tahapan ini tiap
kawasan gejala-gejala memiliki dewa-dewanya sendiri (politetisme).
                                                
c.           
Tahap
yang tertinggi ketika orang mengganti dewa yang bermcam-macam itu dengan satu
                                               
d.           
tokoh
tertinggi yaitu dalam monoteisme.
Pengetahuan pada zaman ini bersumber
pada kebenaran yan diperoleh dari Allah.
2)      Zaman metefisika
Pada zaman ini sebenarnya hanya
mewujudkan suatu perubahan dari zaman teologis dimana kekuatan-kekuatan yang
adikodrati atau dewa-dewa diganti dengan kekuatan abstrak dengan
pengertian-pengertian atau dengan pengadaa-pengadaan yang lahiriah dan kemudian
dipersatukan dalam suatu yang bersifat umum yang disebut dengan alam. Pengetahuan
pada zaman ini desiebut metafisis.
3)      Zaman positif atau ilmiah
Pada zaman ini semua orang tahu
bahwa tiada gunanya untuk berusaha mencapai pengenalan atau pengetahuan yang
mutlak atau absolut baik pengenalan teologis maupun pengenalan metafisis.ret, fakta yang dapat diamati dengan panca indra
dengan menggunakan pendekatan ilmiah. Semua dipertanggung jawablan dengan
ilmiah sebab memang ada bukti faktualnya. Pengetahuan yang faktual yan ilmiah
itulah pengetahuan yang sejati.
3.      Tujuan Filsafat Sejarah Auguste
Comte
Menurut
Auguste Comte tujuan filsafat sejarah berdasarkan masyarakat industri yaitu:
a.       Menurut positivisme atau ilmiah dari
Auguste Comte bertujuan untuk mencapai masyarkat industri sebab menurut Comte
kebahagian manusia terdapat pada kemajuan materialisme.
b.      Ajaran Comte tentang masyarakat
mewujudkan suatu filsafat tentang sejarah melalui 3 zaman Comte memerikasa.
Banyak sekali fakta-fakta sejarah serta menggabungkannya menjadi suatu sistem.
Ke dalam filsafat sejarah Comte memasukkan perkembangan kenegeraan, kehakiman
dan kemasyarkatan serta perkembangan kesenian, agama, ilmu dan filsafat, comte
masyarakat mengalami perkembangan terus menerus dimana Comte memetakan
masyarakat dieropa.
Pekembangan masyarakat menurut Comte
yaitu:Teologis -> Metafisik-> Positif
Organisasi sosial keluarga ->  negara bangsa -> masyarakat industri
Tugas Manusia dalam Sejarah atau Manusia dalam Sejarah
 Manusia tidak dapat dipisahkan dari sejarah. Manusia
dan sejarah merupakan suatu dwi tunggal, manusia adalah subyek dan obyek
sejarah. Sejarah menceritakan riwayat tentang manusia, dimana riwayat manusia
diceritakan oleh manusia dan cerita itu dibaca juga dialami oleh manusia pula.
Apabila manusia dipisahkan dari
sejarah maka ia bukan manusia lagi melainkan sejenis makhluk biasa seperti
hewan. Sejarah adalah pengalaman-pengalaman manusia dan ingatan tentang
pengalaman-pengalaman yang diceritakan. Maka peran manusia dalam sejarah adalah
bahwa ia adalah pencipta sejarah, sebagai penutur sejarah dan pembuat sejarah.
Sehingga manusia adalah sumber sejarah.
Maka dapat disimpulkan bahwa manusia
tidak dapat dilepaskan dari sejarah. Manusia berjuang terus berarti dia terus
berusaha memperbaiki taraf hidupnya. Ia terus diperkaya, diperindah,
disempurnakan. Sejarahpun terus diperluas dengan perjuangan-perjuangan baru.
Justru karena manusia menguasai warisan nenek moyang, ia dapat berjuang dengan
lebih sempurna. Dengan menguasai sejarahnya, ia dapat mencapai hasil yang
sebaik-baiknya.
Apabila hajat berjuang manusia
menjadi lemah dan terus berkurang, maka gerak sejarah mulai membeku. Akhirnya
gerak sejarah tidak tampak bergerak, berhenti dan bersifat statis. Pembekuan
gerak sejarah berarti bahwa manusia tidak mengalami perubahan-perubahan
penting. Masyarakat tetap, tak bergerak menuju perubahan yang mengakibatkan
kemajuan dan keruntuhan. Maka dapat disimpulkan bahwa manusia tidak dapat
melepaskan diri dari sejarah. Manusia berjuang berarti bahwa ia terus berusaha
memperbaiki taraf kehidupan.
Menurut para filosof sejarah pengikut metode kontemplatif
terdapat tiga pola gerak di mana sejarah berjalan sesuai dengannya, yaitu:
a)      Sejarah berjalan menelusuri garis
lurus lewat jalan kemajuan yang mengarah ke depan atau kemunduran yang bergerak
ke belakang.
b)      Sejarah berjalan dalam daur kultural
yang dilalui kemanusiaan, baik daur saling terputus,dan dalam berbagai
kebudayaan yang tidak berkesinambungan atau daur-daur itu salingberjalin dan
berulang kembali.
c)      Gerak sejarah tidak selalu mempunyai
pola-pola tertentu.
Sejarah adalah sejarah manusia
dimana peran, penulis sejarah, dan peminatnya hanya manusia saja. Maka
manusialah yang harus dipandang sebagai inti sejarah. Manusia tidak dapat
dipisahkan dari sejarah. Manusia dan sejarah merupakan suatu dwi tunggal,
manusia adalah subyek dan obyek sejarah. Sejarah menceritakan riwayat tentang
manusia, dimana riwayat manusia diceritakan oleh manusia dan cerita itu dibaca
juga dialami oleh manusia pula. Apabila hajat berjuang manusia menjadi lemah
dan terus berkurang, maka gerak sejarah mulai membeku. Akhirnya gerak sejarah
tidak tampak bergerak, berhenti dan bersifat statis. Pembekuan gerak sejarah
berarti bahwa manusia tidak mengalami perubahan-perubahan penting.[6]
D.    Contoh Atas Dasar Pemikiran Gerak
Sejarah menurut Auguste Comte
perkembangan
manusia dan pemikirannya, berawal pada tahapan teologis dimana studi kasusnya
pada masyarakat primitif yang masih hidupnya menjadi obyek bagi alam, belum
memiliki hasrat atau mental untuk menguasai (pengelola) alam atau dapat
dikatakan belum menjadi subyek. Fetitisme dan animisme merupakan keyakinan awal
yang membentuk pola pikir manusia lalu beranjak kepada politeisme, manusia
menganggap ada roh-roh dalam setiap benda pengatur kehidupan dan dewa-dewa yang
mengatur kehendak manusia dalam tiap aktivitasnya dikeseharian. Contoh yang
lebih konkritnya, yaitu dewa Thor saat membenturkan godamnyalah yang membuat
guntur terlihat atau dewi Sri adalah dewi kesuburan yang menetap ditiap sawah.
Beralih pada pemikiran selanjutnya, yaitu tahap metafisika atau nama lainnya
tahap transisi dari buah pikir Comte karena tahapan ini menurut Comte hanya
modifikasi dari tahapan sebelumnya. Penekanannya pada tahap ini, yaitu
monoteisme yang dapat menerangkan gejala-gejala alam dengan jawaban-jawaban
yang spekulatif, bukan dari analisa empirik. “Ini hari sialku, memang sudah
takdir !”, “penyakit AIDS adalah penyakit kutukan!”, dan lain sebagainya,
merupakan contoh dari metafisika yang masih ditemukan setiap hari. Tahap
positiv, adalah tahapan yang terakhir dari pemikiran manusia dan
perkembangannya, pada tahap ini gejala alam diterangkan oleh akal budi
berdasarkan hukum-hukumnya yang dapat ditinjau, diuji dan dibuktikan atas cara
empiris. Penerangan ini menghasilkan pengetahuan yang instrumental, contohnya,
adalah bilamana kita memperhatikan kuburan manusia yang sudah mati pada malam
hari selalu mengeluarkan asap (kabut), dan ini karena adanya perpaduan antara
hawa dingin malam hari dengan nitrogen dari kandungan tanah dan serangga yang
melakukan aktivitas kimiawi menguraikan sulfur pada tulang belulang manusia,
akhirnya menghasilkan panas lalu mengeluarkan asap.
Sistem
kepercayaan orang-orang Yunani Kuno yang hidup pada abad ke-6 SM, bahwa segala
sesuatunya harus diterima sebagai suatu kebenaran yang bersumber pada mitos
atau dongeng-dongeng. Artinya jika ada kebenaran yang berdasarkan akal pikir (logos)
maka itu tidak akan berlaku.
Namun,
setelah abad ke-6 SM muncul sejumlah ahli pikir yang menentang adanya mitos, karena
mereka menginginkan jawaban-jawaban  pertanyaan tentang misteri alam
semesta ini dapat diterima oleh akal (rasional). Keadaan inilah yang
memunculkan istilah Demitologi, artinya suatu kebangkitan pemikiran untuk
menggunakan akal-pikir dan meninggalkan hal-hal yang sifatnya Mitologi. Maka
sebab itulah banyak orang yang mencoba membuat suatu konsep yang dilandasi
kekuatan akal-pikir secara murni.
Ada Tiga faktor yang menjadikan
Filsafat Yunani lahir:
                     
a.        
Bangsa Yunani yang kaya akan mitos,
dimana mitos dianggap sebagai awal dari upaya orang untuk mengetahui atau
mengerti. Mitos-mitos tersebut kemudian disusun secara sitematis yang untuk
sementara kelihatan rasional sehingga muncul mitos selektif dan rasional,
seperti syair karya Homenus, Orpheus, dan lain-lain.
                    
b.        
Karya satra Yunani yang dapat dianggap
sebagai pendorong kelahiran filsafat Yunani, karya Homerus mempunyai kedudukan
yang sangat penting untuk pedoman hidup orang-orang Yunani yang didalamnya
mengandung nilai-nilai Edukatif.
Pada
periode Yunani Kuno ini lazim disebut dengan Filsafat Alam karena pada periode
ini ditandai dengan munculnya para ahli pikir alam, dimana arah dan perhatian
pemikirannya kepada apa yang diamati disekitarnya mereka membuat pernyataan
tentang gejala alam yang tidak berdasarkan pada mitos. Mereka mencari asas yang
pertama dari alam semesta yang sifatnya mutlak, yang berada dibelakang segala
sesuatu yang serba berubah. Seperti halnya pernyataan bahwa bumi itu bulat. Dengan
adanya ketiga faktor tersebut kedudukan mitos digeser oleh akal budi  yang didasarkan  pada ilmu pengetahuan yang empiris dan
mengedepankan rasionalitas.
E.     Kritik Terhadap Pemikiran Auguste
Comte mengenai Gerak Sejarah
Kelemahan
daripada pemikiran atau konsep gerak sejarah yang digagas oleh Auguste Comte adalah
linearitas yang membuat gerak sejarah tidak mungkin berulang. Sehingga teori
positivism atau tahap positivism dianggap sebagai tahap akhir daripada
kehidupan manusia. Namun apa yang terjadi jikalau kehidupan manusia masih
berlangsung beberapa ribu tahun lagi. Apakah teori ini akan tetap relevan
dengan keadaan yang ada. Pertanyaan ini yang selalu terbersit dalam alam  fikiran penulis ketika membahas tentang Teori
gerak sejarah yang dicanangkan oleh Auguste Comte. Dan mungkin pertanyaan ini
hanya akan terjawab oleh beliau saja selaku penggagas teori positivism dalam
gerak sejarah.
Namun
penulis juga mengakui betapa Auguste Comte adalah seorang manusia biasa yang
jauh dari kesempurnaan. Sehingga tidak salah jika teori yang  beliau gagaas hanya sebuah teori yang
dilahirkan oleh keadaan dan suasana masa itu yang memang relevan dengan
pemikiran ini.
Setidaknya
penulis sudah mencoba dengan segala daya upaya untuk memecahkan pertanyaan
tersebut, namun apadaya ketika keadaan tidak sanggup lagi menjawab dan hanya
waktu yang dapat memberikan jawaban secara real. Asumsi penulis hanyalah sebuah
analisis yang dilakukan secara mendalam atas pemikiran Auguste Comte. Sehingga
asumsi tersebut belum benar-benar ilmiah dan tidak bisa dipertanggung jawabkan
kebenarannya.


[1] Sosiologi suatu pengantar (Soerjono
Siekanto): 43
[2] Filsafat Sejarah (Arif Purnomo): 29
Manusia,
Filsafat, dan Sejarah (Abdul, L.J : 2006)
Refleksi Tentang Sejarah (Ankersmit : 56)

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *