Rahmad Ardiansyah Guru Sejarah di SMAN 13 Semarang sekaligus penghobi blog

Kabinet Syahrir II (13 Maret 1946 – 2 Oktober 1946)

Latar Belakang Terbentuknya Kabinet Syahrir II

Setelah kabinet Syahrir I runtuh, maka Soekarno meminta pihak oposisi (PP) untuk membentuk kabinet baru. Namun, karena heterogenitas yang tinggi dalam komposisi PP sendiri, maka komitmen diantara mereka hilang, artinya PP terpecah-pecah dengan kepentingan kelompoknya masing-masing. Terutama pasca rontoknya kabinet Syahrir. Tan Malaka kesulitan mengkonsolidasikan kembali PP-nya yang termashyur ketika mengadakan pertemuan kembali pada 15 Maret 1946 di Madiun. Grup-grup beraliran kiri menyatakan diri keluar dari persekutuan (Pesindo dan PS). Persatuan Perjuangan dinilai tidak dapat membentuk kabinet baru dan karena tekanan-tekanan dari pihak Sekutu semakin menguat, Soekarno menunjuk kembali Sutan Syahrir sebagai formatur kabinet. Alasan yang konkret mengapa Syahrir kembali ditunjuk adalah ketika pihak Sekutu semakin memberikan gesekan, dan Soekarno tidak ingin pertumpahan darah terjadi secara massal. Maka pada 13 Maret, Syahrir kembali membentuk kabinet Syahrir II.

Susunan Kabinet Syahrir II

Adapun susunan kabinet Syahrir II, adalah sebagai berikut:

No.Bidang
Menteri
Nama Menteri
1.Perdana MenteriSutan
Syahrir
2.Menteri Luar NegeriSutan Syahrir
3.Menteri Muda Luar NegeriAgus Salim
4.Menteri Dalam NegeriSudarsono
5.Menteri PertahananAmir Sjarifuddin
6.Menteri Muda Pertahanan Abdurrahman Wahid
7.Menteri KehakimanSuwandi
8.Menteri PeneranganMohammad Natsir
9.Menteri KeuanganSurachman Tjokroadisurjo
10.Menteri Pertanian/PersediaanRasad
11.Menteri Muda Pertanian/PersediaanSaksono
12.Menteri Perdagangan/PerindustrianDarmawan Mangoenkoesoemo
13.Menteri Pekerjaan UmumPutuhena
14.Menteri Muda Pekerjaan UmumH. Laoh
15.Menteri SosialMaria Ulfah Santoso
16.Menteri Muda SosialAbdul Madjid Djojohadiningrat
17.Menteri PerhubunganAbdulkarim
18.Menteri Pengajaran T.S.G. Mulia
19.Menteri AgamaRasjidi
20.Menteri KesehatanDarma Setiawan
21.Menteri Muda KesehatanJ. Leimena
22.Menteri NegaraWikana

Program Kerja Kabinet Syahrir II

  • Berunding atas dasar pengakuan Republik Indonesia merdeka seratus persen. 
  • Mempersiapkan rakyat negara disegala lapangan politik, ketrentaman, ekonomi, dan sosial untuk mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia.
  • Menyusun pemerintahan pusat dan daerah yang demokratis. 
  • Berusaha segiat-giatnya untuk menyempurnakan pembagian makanan dan pakaian.
  • Tentang perusahaan dan perkebunan hendaklah diambil tindakan-tindakan oleh pemerintah seperlunya sehingga memenuhi maksud
    sebagaimana termaktub dalam UUD pasal 33

Penyebab Runtuh 

Sejak 13 Maret, Sjahrir memberikan konsesi kepada Van Mook (pihak Belanda) bahwa Belanda harus mengakui kedaulatan Indonesia seratus persen, seperti yang diinginkan pihak oposisi. Namun, Van Mook tidak mengindahkan tuntutan tersebut dan hanya mengakui wilayah Indonesia atas Sumatra, Jawa dan Madura. Syahrir setuju dan rancangan persetujuan tersebut dibawa ke Belanda bersama tiga utusan Indonesia, dibicarakan dalam benteng Hubertus di Hoge Veluwe. Namun, hasil keputusan tersebut dipersepsikan berbeda oleh kalangan oposisi yang merujuk pada penculikan Syahrir pada 28 Juni di kota Solo. 

Dalam pidatonya tertanggal 30 Juni, Soekarno mengecam aksi yang melemahkan posisi diri sendiri ketika musuh sedang berada sedekat-dekatnya. Maka dua hari kemudian, Syahrir dan kelompoknya yang diculik dilepaskan. Kejadian  ini terkenal dengan sebutan Peristiwa 3 Juli karena pada pagi harinya pada 3 Juli, Muhammad Yamin bersama Mayjen Sudarsono (Panglima Divisi III) menuntut kabinet Syahrir yang ditandatangani pula oleh Iwa Kusumasumantri, Soebardjo dan Chaerul Saleh. Permintaan muluk tersebut ditolak dan mereka pun ditangkap karena dinilai melakukan kudeta.

Nilai artikel ini

Rata - rata 0 / 5. Total voting 0

Jadilah orang pertama yang memvoting

Rahmad Ardiansyah Guru Sejarah di SMAN 13 Semarang sekaligus penghobi blog

Kabinet Djuanda (9 April 1957–10 Juli 1959)

Proses Terbentuknya Kabinet Djuanda            Proses terbentuknya Kabinet Djuanda dilatarbelakangi suasana politik saat itu yang dalam kondisi mendesak dan genting. Kondisi bangsa saat itu menuju...
Rahmad Ardiansyah
5 min read

Kabinet Natsir ( 6 September 1950 – 20 Maret…

A.   Terbentuknya Pemerintah berdasarkan UUDS 1950 Periode 1950 – 1959, banyak perubahan yang terjadi pada tata pemerintahan Republik Indonesia. Sebagai contoh tahun 1950, UUDS...
Rahmad Ardiansyah
6 min read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *