Keadaan Jepang Sesudah Perang Dunia

Sesudah
perang tepatnya abad ke-20 sesudah perang, seolah – olah pengalaman –
pengalaman kediktatoran militer, perang, kekalahan, dan pendudukan tidak pernah
terjadi. Tak ada bidang yang lebih jelas menampakkan ini ketimbang bidang
politik. Semua partai yang lama cepat-cepat disusun kembali dalam musim gugur
tahun 1945 dan kecenderungan – kecenderungan pemberian suara tahun 1920-an dan
1930-an muncul hampir – hampir pada peranan yang seharusnya seandainya tidak
terjadi perubahan arah sejarah. Kedua partai tradisional sebelum perang
dihidupkan kembali, dalam menghadapi suara kiri yang naik, melebur dalam tahun
1955 membentuk Partai Demokrat Liberal, nama yang mengungkapkan dwiasalnya.
Tahun – tahun awal sesudah perang merupakan masa ketidakpastian dan kekacauan
politis yang besar maupun social dan ekonomis. Retorika politik cenderung untuk
menganjurkan konfrontasi habis – habisan, bukan debat berdasarkan pikiran, dan
semangat konfrontasi ini tidak terbatas pada pemilihan – pemilihan dan politik Diet, tetapi turun sampai ke
jalan-jalan. Demo sesudah perang yang paling banyak banyak terdapat dimana –
mana, menjadi  kependekan bukan dari
demokrasi tetapi dari demontrasi.
Bulan
madu awal antara pendudukan dengan rakyat Jepang berangsur – angsur menjadi
masam. Kaum konservatif makin lama makin jengkel dengan campur tangan Amerika,
yang dalam soal kecil – kecil sering tidak mengetahui dan secara tidak perlu
merusak ekonomi, sedangkan kaum kiri menjadi sungguh – sungguh kecewa ketika
tekanan dalam kebijakan pendudukan beralih antara tahun 1947 dan 1949 dari
pembaruan selanjutnya menjadi pemulihan ekonomi. Suatu pergeseran dalam
persepsi – persepsi  Amerika mengenai
dunia di luar Jepang juga diperlukan. Perang dingin terjadi, Cina “hilang” ke
komunisme, dan Jepang tampaknya tidak lagi merupakan ancaman yang khusus bagi
perdamaian di Asia Timur, tetapi lebih merupakan pangkalan harapan bagi
demokrasi dan kekuatan militer Amerika di bagian dunia itu.
Ada
beberapa titik balik dalam sikap kaum kiri terhadap pendudukan. Salah satu
adalah ketika serikat – serikat buruh, dalam usahanya untuk mencapai kekuasaan
politik, merencanakan pemogokan umum di seluruh negri pada tanggal 1 februari
1947, dan MacArthur, takut akan bencana yang diakibatkannya bagi ekonomi dan
program pembaruannya sendiri, melarang pemogokan tersebut. Pada 25 Juni 1950 terjadi
penyerbuan Korea Selatan oleh Korea Utara Komunis, serta reaksi militer Amerika
dari pangkalan – pangkalannya di Jepang.
Sejak
itu pertarungan politik antara kiri dan kanan di Jepang secara luas memfokuskan
hubungan – hubungan dengan Amerika Serikat. Peranan Amerika Serikat yang utama
dalam hubungan – hubungan ini banyak diperbesar di mata orang Jepang oleh
seluruh pengalaman penduduk maupun oleh ketergantungan yang berlanjut pada
Amerika Serikat atas keamanan militer Jepang dan kira – kira 30 persen dari
perdagangan luar negrinya. Kaum kiri mengemukakan bahwa ketergantungan yang
berat pada Amerika Serikat mengikat Jepang pada kapitalisme dan karena itu
menghalangi tercapainya sosialisme. Kehadiran pangkalan – pangkalan dan pasukan
Amerika juga menimbulkan perselisihan yang tiada akhirnya yang dapat digunakan
oleh partai – partai oposisi guna keuntungan politiknya.
Berakhirnya
pendudukan melalui suatu perjanjian perdamaian diundurkan lebih lama dari pada
yang direncanakan oleh Amerika Serikat, karena keengganan Uni Soviet yang
terang – terangan untuk menerima jenis perdamaian yang dianggap perlu oleh
orang Amerika. Tetapi, akhirnya Amerika Serikat jalan terus dengan suatu
“perjanjian perdamaian terpisah”, tanpa persetujuan Soviet atau ikut sertanya Cina,
dan pada waktu yang sama mengadakan perjanjian 
keamanan liberal, yang memberikan kepada Amerika pangkalan – pangkalan
di Jepang dan suatu keterikatan pangkalan – pangkalan di Jepang  dan suatu keterikatan untuk mempertahankan
kepulauan itu.  Pada 1954 dibentuk suatu
badan militer yang sederhana diberi nama Angkatan  Bela Diri. Juga diadakan beberapa perubahan
dalam pembaruan – pembaruan pendudukan selama tahun – tahun pertama sesudah
pendudukan diakhiri. Dan sistem kepolisian serta pendidikan dikonsolidasi
kembali di bawah pimpinan pemerintah pusat.
Selama
tahun – tahun  ini pemerintah Jepang juga
kembali mengadakan hubungan dengan dunia luar dan berhasil mendapatkan tempat
bagi dirinya kembali dalam massyarakat bangsa – bangsa. Sejak tahun 1954 mulai dilakukan
perundingan perundinagn perbaikan ddengan sebagian besar Negara yang telah
diserbunya dahulu. Pada tahun 1956 suatu penghentian permusuhan, walaupun
bukan  suatu perjanjian perdamaian yang
sepenuhnya, dirundingkan dengan Uni Soviet yang lalu membatalkan vetonya
terhadap Jepang dalam Perserikatan Bangsa – Bangsa, sehingga memungkinkan
Jepang memperoleh keanggotaan. Kontak dengan tetangga tetangga jepang yang
terdeka, Korea dan Cina, tetap kurang memuaskan. Barulah pada tahun 1956
hubungan – hubungan dengan korea selatan dinormalisasikan atas dasar pembayaran
  pembayaran keuangan yang besar oleh
Jepang, dan baru dalam tahun 1972, menyusul pendekatan Cina-Amerika, Jepang
mengadakan hubungan diplomatic yang penuh dengan Beijing.
Krisis
politik terbesar dalam periode sesudah perang terjadi dalam tahun 1960 mengenai
perubahan perjanjian keamanan dengan Amerika Serikat, yang diperlukan guna
kepercayaan diri jepang yang sedang berkembang dan statusnya di dunia. Ini
mengakibatkan letusan politik yang hebat, dan demonstrasi bear – besaran di
jalan, tetapi begitu perubahan itu telah disahkan, kehebohanpun berkurang, dan
beberapa tahun berikutnya ternyata merupakan tahun – tahun  yang secara politis paling tenang dalam seluruh
masa sesudah perang.  Sesudah tahun 1965
kebanyakan orang jepang menentang posisi Amerika di Vietnam dan menganggapnya
sebagai ancaman untuk melibatkan Jepang dalam petualangan – petualangan militer
Amerika. Krisis politik luar negri, yang terus meningkat seperti dalam tahun
1960, sekali lagi teratasi, dan Jepang melanjutkan langkahnya yang sungguh
mantap.
Dalam
tahun – tahun pertama sesudah pendudukan berakhir, terdapat apa yang disebut
“keajaiban ekonomi” yang telah menjadikan Jepang pada akhir tahun 1960-an unit
ekonomi terbesar yang ketiga didunia dan memberikan kepada rakyat Jepang
kemakmuran perorangan yang bahkan tidak pernah mereka impikan sebelumnya.  Pada 1950-an ekonomi Jepang maju berpacu dan
lebih dari sepuluh tahun sesudah itu rata – rata tingkat pertumbuhan setahun
kira – kira 10 persen dalam arti sesungguhnya. 
Bangsa jepang sendiri pada 1930-an menghadapi krisis kependudukan kini
tidak menghadapi masalah itu sama sekali, karena tambahan penduduk yang kecil
bilangannya tiap tahun hanyalah merupakan jumlah yang tidak berarti dari
pertumbuhan ekonomi yang jauh lebih cepat.
Pada
akhir 1960-an Jepang telah menjadi partner perdagangan yang pertama atau paling
tidak yang kedua terbesar dari hampir setiap Negara komunis atau kapitalis, di
Asia Timur dan Tenggara serta Pasifik Barat. Tanpa kemajuan ekonomi yang
gemilang ini, jepang sesudah perang secara politis barangkali tidak akan terbukti
begitus stabil maupun lembaga – lembaga demokratisnya begitu berhasil.  Kekuatan ekonomis berkembang sejajar dengan
prestasi – prestasi, yang bisa dibandingkan tetapi kurang dapat diukur, dalam
bidang social dan kebudayaan.  Secara
budaya jepang juga dalam kondisi ledakan. Bergairah menyala – nyala. Ada
kreativitas yang tinggi dan vitalitas yang luar biasa dalam sastra, seni, dan
music.
Lingkungan
internasional yang dihadapi Jepang juga mulai melembut suasananya, dengan
hilangnya perang dingin secara berangsur – angsur dan tumbuhnya semangat
détente dalam awal tahun 1970-an antara Amerika Serikat dan Negara – Negara
komunis. Namun sukses jepang sesungguhnya menyebabkan timbulnya seperangkat
soal yang seluruhnya baru.  Sejak  menjadi superpower
industry, Jepang juga mengetahui behwa Negara – Negara lain mengharapkan yang
lebih banyak lagi. Negara – Negara yang sedang berkembang, terutama Negara –
Negara di Asia Timur dan Tenggara meminta perlakuan yang lebih ramah dalam
perdagangan dan bantuan ketimbang yang telah diberikan oleh Jepang yang
dimakudkan guna pertumbuhan ekonominya sendiri di masa lalu kepada mereka.
Seluruh
hubungan dengan Amerika Serikat tampaknya sedang berubah. Amerika Serikat
tampaknya sedang berubah. Amerika Serikat yang kuat dan yakin pada diri sendiri
di masa lampau telah menganggap pasti Jepang yang lemah  dan tergantung sebagai sekutu yang aman
walaupun agak enggan, dan sebaliknya Jepang dengan sendirinya pula merasa
pantas mendapat perlindungan dan sokongan yang berguna dari Amerika Serikat,
tetapi kini sejauh mana Amerika Serikat dapat dipercaya sebagai rekanan bagi
jepang mulai dipertanyakan.
Keseimbangan
politik Jepang yang lama juga nampaknya berada pada titik nyaris lenyap. Suara
Demokrat Liberal telah susut secara perlahan – lahan, tetapi tetap tahun demi
tahun , dan ada tanda – tanda bahwa dalam waktu singkat tak akan ada lagi suatu
partaipun yang mempunyai mayoritas parlementer. Inilah kondisi yang tidak
pernah dihadapi Jepang sejak kemerdekaannya sesudah perang, dan tak ada
seorangpun yang tau pasti, ada yang menjadi akibatnya. Tetapi pada tahap ini
dalam catatan sejarah Amerika telah sampai pada saat adanya tuntutan akan
perspektif yang jelas. Telah tiba waktunya untuk beralih ke peninjauan yang
lebih luas, pertimbangan yang analitis, seperti apakah manusia Jepang dewasa
ini dank e mana arah yang mereka tuju, dengan membiarkan dahulu tinjauan yang
lebih terperinci tentang masalah – masalah yang telah disinggung disini sampai
ditetapkan dasar yang lebih luas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *