Revolusi Sosiolisme Indonesia Kepemimpinan Nasional (Analisis Pidato Soekarno)

Pada bagian ini pidato
Presiden Soekarno menjelaskan mengenai Revolusi-Sosiolisme-Kepemimpinan
Nasional. Pidato ini diungkapkan pada saat peringatan hari ulang tahun
Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-XVI. Pada peringatan ini
lebih istimewa karena telah dua minggu Republik Indonesia berdiri dan memasuki
tahun terakhir dari pada program Triprogram Kabinet Kerja. Berikut akan
dijelaskan mengenai makna pokok Proklamasi dan falsafah-falsafah Undang-Undang
Dasar 1945:
Proklamsai merupakan
cetusan-cetusan nasional. Cetusan dari pada segala kekuatan nasional secara
total, dan karena ketotalannya itulah maka kita bisa bertahan sampai sekarang.
Selain itu proklamasi telah menunjukkan arah jalan dan memberikan alat kepada
kita untuk memperingatkan penyelewengan-penyelewengan  dan telah mengajak untuk tetap berjalan terus
menggapai tujuan yang belum tercapai.
Sebagai bangsa yang
merdeka, bangsa Indonesia mempunyai pandangan hidup yaitu dengan adanya 17
Agustus 1945 yang telah mencetuskan Proklamasi kemerdekaan beserta satu dasar
kemerdekaan. Proklamasi 17 Agustus 1945 adalah satu Proclamation of Independence dan satu Declaration of Independence.
Naskah Proklamasi dan
Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 adalah satu kesatuan yang tidak dapat
dipisahkan. Maka, Proclamation of
Independence
berisikan Declaration of
Independence. Declaration of Independence
Indonesia terlukis dalam
Undang-Undang Dasar 1945 yang telah memberikan pedoman-pedoman tertentu untuk
mengisi kemerdekaan, melaksanakan kenegaraan, memperkembangkan kebangsaan dan
untuk tetapa setia kepada suara batin yang hidup dalam kalbu rakyat Indonesia.
Semangat Proklamasi 17
Agustus 1945 dapat kita jadikan sebagai sumber utama dari pada pelaksanaan
amanat penderitaan rakyat. Kesadaran ini merupakan sumber yang maha-Agung yang
mendebur sosialisme Indonesia, sumber untuk menghindari dan menghantam
penyelewengan-penyelewengan secara besar-besaran, atau untuk mengkoreksi
penyelewengan secara kecil-kecilan. Selain itu, semangat ini dapat digunkana
sebagai sumber ilham, sumber pikiran, sumber tekad, sumber tenaga untuk
memberikan sumbangan positif dalam memberkembangkan konsepsi-konsepsi baru
dalam pegangan hidup nasional.
Revolusi Indonesia
adalah Revolusi yang unik dan sumber inpiratif. Revolusi yang meledak pada
tanggal 17 Agustus 1945 secara serentak mengidupkan kembali kepribadiannya
dalam arti yang seluas-luasnya. Undang-Undang Dasar 1945 merupakan suatu piagam
yang secara yuridis-teknis hendak mengatur ketatanegaraan Indonesia.
Sumber kekuatan dan
semangat bangsa Indonesia tertimbun dalam sejarah perjuangan bangsa, dalam
semangat proklamasi, bahkan juga terdapat dalam sejarah nasional yang kita
warisi dari nenek moyang bangsa Indonesia. Segala kebijakan yang ditinggalkan
oleh sejarah harus dijadikan tulang punggung dari pada Kepribadian Nasional Indonesia.
Meresapkan sejarah perjuangan yang penuh pengorbanan-pengorbanan yang
pahit-pedih itu berarti juga meresapkan keadilan, dan dengan meresapkan
keadilan, meresapkan adilnya amanat penderitaan rakyat, dan dengan meresapnya
adilnya amanat penderitaan rakyat, meresapkan tanggungjawab penderitaan rakyat.
  Sistem
politik pada tahun 1957 sangat tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia
karena tidak memberikan manfaat bagi rakyat banyak. Sistem politik kita adalah
memberikan pemimpin yang arah tujuan yang satu yaitu masyarakat keadilan
sosial. Kita harus memiliki pemimpim yang memberikan demokrasi yang tidak liar,
demokrasi gotong royong dan demokrasi yang terpimpin.
Pada
saat itu kita harus menyelamatkan Revolusi dan harus menghadapi berbagai penentuan.
Musuh menganggap kita pasti tertekan karena harus memberikan penentuan yang
matang. Namun saat itu kita memberikan penentuan yang matang.  Kita menyatakan bahwa kita mutlak hendak
kembali pada kepribadian bangsa sendiri, mutlak berdiri dipihak merealisasikan
masyarakat yang adil dan makmur tanpa penindasan dan penghisapan. Nasional kita
setia pada pancasila, internasional kita setia kepada pancasila. Nasional kita
setia pada proklamasi dan internasional kita setia kepada pancasila.
Apalagi
tahun 1959, operasi-operasi fisik angkatan perang kita untuk menentang
pemberontakan-pemberontakan itu diberi landasan politik-psikologis yang sangat
kuat.  Landasan itu adalah Dekrit
Presiden 5 Juli 1959, yang menentukan kembali kepada Undang-undang Dasar ’45,
dan Pembubaran konstituante. Saat itu rakyat diiberi nama Manifesto Politik
(Manipol) dengan inti sarinya yang rakyat pula dinamakan “USDEK”. Dan manifesto
ini yang oleh MPRS disyahkan sebagai Garis Garis Besar Haluan Negara.
Saat
ini kita dalam menghadapi segala rintangan, kita membutuhkan alat perjuangan
yang lengkap, yaitu :
a.       Pertama:
revolusi
b.      Kedua:
konsepsi nasional progresif yang terintikan dalam Undang-undang Dasar 45 dan
juga pembukaannya
c.       Ketiga:
pimpinan revolusi
Kita
saat ini memiliki Tritunggal RIL (Revolusi, Ideologi, dan Leadership) atau
Tritunggal Resopim (Revolusi, Sosialisme, Pimpinan Nasional). Dengan adanya itu
maka syarat perjalanna kita sudah lengkap, dan kita dapat terus berjalan. Malah
alat-alat perjuangan pun sudah kita miliki. Semuanya ala kadarnya:
Kesatu:
R.I.L : Revolusi, Ideology, Leadership atau Resopim : Revolusi, Sosialisme,
Pimpinan Nasional
Kedua:
Alat-alat teknis, yang berupa skill dan alat-alat industri
Ketiga
: Modal, yang berupa kekayaan materiil, man
power
dan sebagainya
Keempat
: angkatan bersenjata yang lumayan
Kelima
: kerjasama dengan dunia luar.
Dalam menjalankan pemerintahan utuk
mencapai Sosialisme kita harus bersikap dinamis dan juga dialektis. Kita harus
melahirkan ide-ide baru yang lebih baik dibandingkan ide-ide yang kemarin.
Perlu kita ketahui bahwa revolusi kita adalah revolusi yang unik yang berbeda
dari pada yang lain, yang multicompleks.
   Setiap
kali presiden soekarno mengadakan perjalanan keluar negeri maka beliau selalu
membawa bekal atau “sangu” yang berupa modal nasional. Modal itu digunakan
untuk bermacam-macam hal, misalkan untuk diperlihatkan, diperkenalkan dan
diperdagangkan seperti kekayaan alam Indonesia misalkan. Dan dipergunakan untuk
perjuangan seperti pembebasan irian barat.
Semakin berhasil perjuangan kita di
dalam negeri, semakin besar juga modal nasional yang bisa kita bawa ke luar
negeri. Modal itu yaitu: keindahan alam Indonesia, kekayaan alam Indonesia,
aspirasi dan tekad dari perjuangan Indonesia.
Banyak sekali pemimpin- pemimpin di luar
negeri mengucapkan terimakasih atas pengertian- pengertian baru yang kita
kemukakan yang mereka anggap sebagai pengetahuan baru. Ada negara-negara yang
kini sedang mencari ideologi nasionalnya yang progresif berdasarkan kepribadian
nasional, seperti misalnya republik persatuan arab yang kini menyusun konsepsi
sosialime arab.
Menyelesaikan segala persoalan atas
dasar konsep sosial ke arah sosialisme, konsep sosial yang sadar menuju kepada
masyarakat sosialisme. Pertama, ikut serta seluruh pekerja dalam memikul
tanggung jawab dalam produksi dan alat-alat produksi. Kedua, adakanlah
terus-menerus frappez, frappez toujours retooling mental dan organisasi sesuai
dengan Manipol/USDEK. Ketiga, resapkanlah dasar R.I.L atau resopim sampai ke
pelosok-pelosok sampai ke desa-desa sampai ke gunung-gunung. Sosialisme harus
menjadi darah daging seluruh rakyat Indonesia, Manipol/USDEK harus menjadi
saraf dan sumsum semua warga Indonesia.
Segala pertumbuhan kearah perbaikan
selalu melalui kesulitan- kesulitan, misalnya dibidang penyelenggaraan program
sandang pangan dalam Triprogram Pemerintah. Kesulitan-kesulitan bertimbun-
timbun, saya tahu disana-sini rakyat harus antri beras, gula, minyak kelapa dan
minyak tanah. Dengan meresapnya konsepsi disemua kalangan, maka kesulitan-kesulitan
di lapangan pelaksanaan program sandang pangan dapat dimengerti oleh rakyat dan
dapat diatasi dan program ini bisa berjalan dengan lancar.
Demokrasi kita tidak lain ialah mencari sintese, mencari
akumulasi
pikiran
dan tenaga untuk melaksanakan Amanat Penderitaan Rakyat, semuanya atas pedoman Ordening Baru yaitu: Revolusi Manipol /
USDEK Pimpinan Nasional. Dus Demokrasi Terpimpin tidak mencari kemenangan
ataupun kekalahan dari suatu golongan,ia hanya menghasilkan akumulasi maksimal
dari
pikran-pikiran yang baik, cara-cara yang baik,
kemajuan-kemajuan positif untuk
rakyat secara keseluruhan, tidak untuk suatu golongan atau partai.
Inilah yang dinamakan sebagai “Kegiatan Politik”,
“KeamananPolitik”, yaitu: secara aktif simultan (aktif bersama-sama)
melaksanakan Amanat Penderitaan  Rakyat
atas dasar-dasar Ordening Baru. Kegiatan politik dan keamanan politik di
Indonesia bukanlah kegiatan jegal-jegalan, melainkan kegiatan aktif simultan,
aktif bersama-sama menumbuhkan dan melaksanakan Ordening Baru.
Dengan demikian jikalau kegiatan politik dan keamanan politik, maka Demokrasi Terpimpin kita itu
tegas-nyata mempunyai dua unsur, unsur “Demokrasi” dan unsur “Terpimpin” yang
mana antara kedua unsur tersebut tidak dapat dipisahkan adanya. Dua unsur itu loro-loroning atunggal. Demokrasi tidak
dapat nyleweng ke Liberalisme dan Terpimpin tidak bisa nyleweng ke Diktator
Fasis.
Demokrasi terpimpin “loro-loroning atunggal” berarti
ada demokrasinya ada terpimpinnya, oleh karena itu ia adalah demokrasi
pelaksana dari A.P.R yaitu Amanat Penderitaan Rakyat. Ia harus di harmonisir
dengan A.P.R, ia adalah bagian yang mutlak, satu Integrerend deel daripada pelaksa
naan Amanat Penderitaan Rakyat. Jika tidak ia akan
kehilangan dasar, kehilangan tujuan.
Atas dasar kegiatan politik aktif simultan melaksanakan
bersama-sama Amanat Penderitaan Rakyat atas dasar-dasar RIL atau Ordening Baru
itulah maka kita memasukkan Angkatan Bersenjata dalam penghidupan politik. Atas
dasar itulah kita melepaskan Trias Politica, itu pepunden keramatnya ilmu
ketatanegaraan cekokan barat. Mereka adalah alat Revolusi, mereka adalah
Angkatan Bersenjata Revolusi. Me
reka harus setia kepada sumbernya, yaitu Revolusi,
yaitu Rakyat. Mereka harus mengabdi kepada Rakyat, mendahulukan kepentingan
rakyat daripada kepentingan lain, mereka tak boleh melukai perasaan dan hati
rakyat, mereka harus menjadi angkatan bersenjata yang disukai dan dicintai
Rakyat.
Di dalam Revolusi kita jangan main monopoli-monopolian. Revolusi kita ini
Revolusi seluruh Rakyat yang tua
dan yang muda, yang laki yang perempuan, yang di
pusat yang di daerah, yang militer yang preman. Semua golongan
rakyat semua harus mendukung Revolusi kita ini bersama, semua golongan rakyat
arus bersatu dan dipersatukan untuk mendukung Revolusi ini bersama.
Tanpa persatuan Revolusi kita akan gagal, dengan
persatuan pasti akan menang. Dalam Undang-undang Dasar ’45 di

dalam pembukaannya disebutkan “Negara Indonesia yang merdeka,
bersatu, berdaulat, adil dan makmur” dan kemudian diperjelas dibagian akhir
penutup pembukaan tersebut tertulis “persatuan
Indonesia”
Kalau benar-benar merasa pendukung Revolusi Indonesia,
kalau benar pendukung Manipol/
USDEK, pendukung Jarek, pendukung UUD ’45, pendukung Panca Sila,
janganlah bekerja anti Revolusioner, jangan bekerja buat perpecahan. Sebab
bekerja buat perpecahan berarti bekerja buat musuh-musuh Revolusi. Bekerjalah
buat persatuan, sebab hanya lewat persatuan, lewat gotong royong, lewat
keholopis kuntulbarisan, maka Tanah Air, Rakyat, Revolusi dapat diselamatkan.
Panca Sila adalah alat pemersatu. Panca Sila bukan
alat pemecah belah. Dengan Panca Sila kita juga mempersatukan tiga aliran besar
yang bernama Nasakom itu. Jadi jangan mempergunakan Panca Sila untuk mengadu
domba antara kita dengan kita. Jangan gunakan Pancasila unuk memecahbelah
Nasakom, mempertentangkan kaum Nasionalis dengan agamis, kaum agamis dengan
komunis, kaum nasionalis dengan komunis.
Yang
seharusnya memerdekakan Irian Barat adalah kita sendiri, pemerintahan kita
sendiri, pemerintahan Indonesia, bukanlah dari bangsa asing. Sebagaimana
Limburg adalah bagian daripada Nederland dan Friesland adalah bagian daripada
Nederland. Adakah satu orang Belanda yang rela membiarkan Limburg diduduki
bangsa asing, ataupun Friesland dijajah orang lain. Seperti halnya Irian Barat,
kita bangsa Indonesia juga tidak rela jika diduduki oleh bangsa asing. Buat apa
bebas bicara, bebas kepercayaan, bebas dari kemiskinnan, bebas dari ketakutan,
jika kebebasan untuk merdeka tidak ada.
Karena
itu Soekarno mengajak kepada seluruh bangsa Indonesia untuk terus berjalan,
terus mendesak, kita tidak berjalan sendirian, kita tidak berjuang sendirian!
Kawan- kawan kita itu mengerti pula, bahwa perjuangan pembebasan Irian Barat
bukan hanya perjuangan adil daripada Bangsa Indonesia saja, tetapi adalah satu
bagian daripada perjuangan umum mengubur kolonialisme dan imperialisme di
seluruh muka bumi.
Pada
tanggal 1 September Soekarno akan mewakili Bangsa Indonesia dalam Konferensi
Tingkat Tinggi Negara- negara yang berpolitik bebas dan aktif di Beograd,
Yugoslavia. Soekarno mengemban segenap amanat Bangsa Indonesia, amanat yang
dipikul dengan penuh kecintaan dan penuh tanggungjawab, yaitu amanat
kemerdekaan, amanat perdamaian, amanat kesejahteraan dan kebahagiaan bagi
seluruh ummat manusia di seluruh muka bumi.
Dengan
mensponsori K.T.T. dan ikut dalam K.T.T. maka Indonesia merasa setia kepada
kepribadiannya, setia kepada sumbernya yang tertulis dalam pembukaan UUD, setia
kepada garis- azasi daripada politik luar negerinya. Garis- azasi politik luar
negeri Indonesia diantaranya:
Pertama:
Bebas dan Aktif, untuk perjuangan menentang kolonialisme- imperialisme.
Kedua:
Solidaritet Asia- Afrika, untuk menumbuhkan kepribadian nasional.
Ketiga:
“Tetangga baik”, good neighbour policy, untuk persahabatan dan perdamaian
antarbangsa.
Di
awal Soekarno telah menggambarkan jalannya perjuangan pada masa yang lampau,
dengan kemajuan- kemajuan dan kemunduran- kemundurannya, dengan kegembiraan-
kegembiraannya dan kesedihannya, dengan harapan- harapannya dan kadang- kadang
keputusannya, dengan senyum simpul prajurit dan tetesan air matanya, sampai
datang hari ini 17 Agustus 1961, dimana kita merasa, bahwa kita sungguh sudah
meletakkan dasar- dasar yang sehat bagi perjuangan kita itu, dan sudah
melaksanakan dasar- dasar sehat itu, dan telah memetik hasil disana- sini yang
menggembirakan. Dasar sehat itu adalah R.I.L. atau Resopim.
Sekarang
berkat adanya dasar- dasar baru, maka begeestering dan action itu telah ada,
dan hasilnya kadang- kadang telah memberikan kebanggaan nasional dan
kepercayaan nasional, dan kebanggaan nasional dan kepercayaan nasional itu
memberikan semangat pembakaran secara baru.
Sebenarnya
sejak tahun 1950 Soekarno sudah memperjuangkan konsepsi- konsepsi seperti itu,
kadang mendapatkan cercaan dan maki- makian secara terang- terangan, akan
tetapi Alhamdulillah rakyat selalu mendukung Soekarno. Persetujuan dan dukungan
rakyat itulah yang selalu memberikan kekuatan batin untuk terus berjuang.
Maka
sesudah Manipol/ USDEK itu diterima resmi oleh M.P.R.S. sebagai garis- garis
besar haluan negara, barulah Soekarno mau menerima tugas dan kepercayaan
sebagai Pemimpin Besar Revolusi. Sejak penerimaan itulah Konsepsi Nasional
menjadi bulat, yaitu Konsepsi Tritunggal R.I.L. (“Revolution, Ideology,
Leadership”), atau Konsepsi Resopim: “ Revolusi, Sosialisme, Pimpinan
Nasional”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *