Resensi Buku Kota Gresik 1896 – 1916 : Sejarah Sosial Budaya & Ekonomi

Judul                
  : Kota Gresik  1896 – 1916 : Sejarah Sosial Budaya &
Ekonomi
Pengarang           : Oemar Zainuddin
Penerbit            
  : Komunitas Bambu
Jumlah Halaman :
168 Halaman
Buku
ini berisi tentang sejarah kota Gresik yang merupakan kota perdagangan dan
internasional. Selain itu buku ini juga mengungkapkan bagaimana ppara pribumi
mengembangkan usaha mereka pada masa kolonial Belanda. Sesuai  judulnya buku ini juga memaparkan bagaimana
budaya di Kota gresik pada abad peralihan yaitu dari abad ke-19M menuju abad
ke-20M,seperti pakaian .
Peranan
Kota Gresik sebagai kota perdagangan mulai berkembang pada abad ke-14M ,seiring
dengan perkembangan kota di Indonesia yang juga terkait dalam perdagangan
dunia. Hal ini terjadi karena Indonesia merupakan kawasan paling timur yg
menjadi titik perdagangan internasional. Jalur perdagangan tersebut di mulai
dari Maluku,kemudian melintasi Laut Flores, Laut Jawa, Selat Malaka, Teluk
Benggala, pantai Coromandel dan Malabar di India,Gujarat,Persia, kemudian
diteruskan  di Eropa dan seterusnya. Juga
di dukung letak Geografis Kota Gresik yang diapit 2 muara sungai besar yaitu
Sungai Bengawan Solo dan Sungai Brantas. Kedua sungai tersebut merupakan jalur
Transportasi barang maupun manusia.
Sebelum
populernya aksara latin di Gresik sudah ada aksara yang populer yang dinamakan
“Aksara Pegon”. Aksara Pegon adalah aksara yang berbentuk huruf arab gundul.
Aksara ini diperkenalkan di pesantren – pesantren yang ada di Gresik. Aksara
ini digunakan untuk menulis dalam bahasa Jawa maupun Bahasa Indonesia. Penduduk
kota Gresik baru menggunakan aksara latin setelah mereka berhubungan dengan
mitra bisnis atau perdagangan mereka. Untuk bahasa mereka menggunakan bahasa
Jawa dalam berinteraksi dengan masyarakat Jawa lain. Tetapi khusus untuk
wilayah Kota Gresik dan sekitarnya mereka menggunakan bahasa yang dinamakan
bahasa Gresikan yang merupakan bahasa khas daerah Gresik.
            Dalam aspek busana kaum laki – laki
di Gresik memakai baju dari kaij putih tanpa kerah,bawahan sarung, tutp kepala
berupa kopiah atau peci,dan sebagai alas kaki mereka menggunakan terumpah
Gresikan yang merupakan alas kaki khas Gresik. Hal inilah yang membuat
masyaraka Gresik terkenal dengan istiliah “kaum sarungan”. Untuk busana
perempuan sendiri itu terdiri dari 3 unsur, yaitu Kain(sewek atau kain batik),
kebaya ,dan kerudung dari paris yang distrimin. Gresik mempunyai acra yang
dinamakan Sinoman yang merupakan acara kumpulan. Tujuan dari acara ini adalah
mengurud kematian dan pernikhan anggota keluaraga. Dan masih banyak lagi yang
diungkapkan buku ini.
           
Kelebihan Buku    :
Buku
ini menurut saya bisa dibilanhg menarik dan cukup lengkap karena buku ini
mempunyai banyak data yang terdiri dari foto,surat,iklan,nota dagang,dan lain –
lain. Selain itu,buku ini juga menarik karena buku ini membahas sejarah kota
yang dulunya merupakan pusat perdagangan regional dan internasional.
Kekurangan Buku :
Tetapi
setiap ada kelebihan pasti ada kekurangan. Kekurangan buku ini menurut saya
adalah buku ini terlalu mengekspos keluarga tokoh H.Oemar yang merupakan
perintis usaha penyamakan kulit.Sehingga menurut saya buku ini bisa menjadi
buku yang hanya H.Oemar sebagai perintis usaha penyamakan kulit. Setelah saya
telusuri lebih lanjut ternyata sang penulis masih mempunyai hubungan darah
dengan tokoh H. Oemar.
Kesimpulan          :
Saya
menyimpulkan bahwa buku ini bagus walau masih ada kekurangan. Saya tidak tahu
apakah buku ini memang dibuat untuk mengembalikan eksistensi H.Oemar dan
keturunanya sebagai perintis usaha penyamakan kulit di Gresik. Tetapi buku ini
sudah membantu masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Gresik dalam
mempelajari Sejarah daerah mereka sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *