Rahmad Ardiansyah Guru Sejarah di SMAN 13 Semarang sekaligus penghobi blog

Peristiwa Pemberontakan di Kerajaan Majapahit

1. Peristiwa Ranggalawe (1295)
Pemberontakan Ranggalawe merupakan pemberontakan pertama yang tercatat pada tahun saka candrasengkala kuda-bhumi-paksaning-wong, atau 1217 (1295 Masehi). Latar belakang terjadinya pemberontakan adalah kekecewaan Ranggalawe terhadap diankatnya Nambi sebagai mahapatih di Kerajaan Majapahit. Dia menganggap bahwa pengangkatan Nambi tidak tepat dan Lembu Sora atau dirinya lah yang lebih tepat menjadi seorang maha patih di Kerajaan Majapahit.

Lembu Sora mampu meredakan kemarahan Ranggalawe dengan menasehati agar kembali ke Tuban dan berunding dengan ayahnya. Ranggalawe akhirnya menurut untuk pulang ke Tuban. Sesampainya di Tuban, ayahanda dari Ranggalawe menyarankan agar tetap setia kepada Sri Baginda. Namun, Ranggalawe sudah terlanjur memberontak dan memiliki sikap ksatria terhadap apa yang telah dilakukannya, maka Ranggalawe memutuskan untuk melawan pasukan kerajaan Majapahit.

Baca : Ranggalawe, Ajudan Setia Yang di Hianati

Ranggalawe kalah dalam pertempurannya melawan Kerajaan Majapahit dan meninggal di tangan Mahisa Anabrang saat bertarung di Sungai Tambak Beras. Lembu Sora yang tidak terima Ranggalawe sahabatnya dibunuh oleh Mahisa Anabrang kemudian menusuk tombak dari belakang kepada Anabrang.

2. Peristiwa Lembu Sora 
Pemberontakan Lembu Sora terjadi pada 1301 saat masa pemerintahan Sri Kertarajasa. Latar belakang terjadinya pemberontakan adalah permasalahan penusukan Mahisa Anabrang oleh Lembu Sora yang tak kunjung usai. Dibalik pemberontakan Lembu Sora, dalam serat Pararaton dikisahkan muncul seseorang yang bernama Mahapati (sebagian orang menyebutnya sama dengan Sengkuni di kisah Mahabarata), ia ingin menempatkan dirinya menjadi patih di Majapahit. Mahapati lah orang dibalik menyebarnya masalah penusukan Mahisa Anabrang oleh Lembu Sora. Berita ini menyebar hingga ke kalangan pejabat istana.

Mahapati menceritakan kepada Sang Prabu tentang kejadian terbunuhnya Mahisa Anabrang serta kepada Mahisa Taruna,anak dari Mahisa Ananbrang. Tak sampai disitu, Mahapati juga mengatakan kepada Sang Prabhu bahwa Lembu Sora akan mengadakan pemberontakan bersama pengikutnya. Tentara Majapahitpun dipersiapkan untuk melakukan perlawanan kepada Lembu Sora. Saat Lembu Sora datang bersama pengikutnya, Sang Prabhu tidak mau menemuinya dan kemudian terjadilah peperangan antara tentara Majapahit dan pengikut Lembu Sora. Lembu Sora dan pengikutnya Juru Demung dan Gajah Biru gugur dalam pertempuran ini.

3. Peristiwa Nambi (1316)
Pemberontakan Nambi terjadi pada masa pemerintahan Raja Jayanegara, dalam Negarakertagama menyebutkan pada masa pemerintahan Sri Jayanegara terjadi pemberontakan Nambi. Kemudian pemberontakan Nambi dapat di padamkan pada tahun saka candrasengkala mukti-guna-paksa-rupa atau 1238 saka (1316 masehi).

Pada 1316 Mahapati yang sebelumnya menjadi otak dari pemberontakan Lembu Sora mengincar kedudukan patih Majapahit, ia mendekati Nambi dan memberitahukan bahwa Raja Sri Jayanegara tidak menyukai keberadaan Nambi. Demi menghindari sengketa, Nambi meminta izin untuk kembali ke Lumajang, Jawa Timur dengan alasan bahwa ayahandanya Sang Pranaraja sedang sakit.

Baca : Nambi, Kisah Arya yang di Fitnah Mahapati

Atas izin dari raja, Nambi akhirnya berangkat ke Lumajang, sampai di Ganding, Nambi di jemput oleh utusan dari Pranaraja yang memberitahukan bahwa ayahnya sedang sakit keras. Ketika sampai di Lumajang, ayahnya telah meninggal. Berita ini menyebar sampai ke Majapahit. Pihak Majapahit berduka dan mengutus beberapa orang untuk ke Lumajang yang dipimpin oleh Mahapati. Sesampainya di Lumajang, Mahapati menasehati Nambi untuk memperpanjang izinnya dan Nambi pun menyetujuinya.

Sesampainya utusan Majapahit yang dipimpin Mahapti sampai di Majapahit, Mahapati memberitahukan kepada Sang Prabhu bahwa Nambi segan kembali ke Majapahit dan sedang mempersiapkan perlawanan kepada Majapahit. Ketika mendengar hal tersebut, kemudian Majapahit mengirim pasukan ke Lumajang dipimpin oleh Mahapati. Pasukan Majapahit kemudian memporak porandakan benteng pertahanan di Pajarakan dan Gading dan dilanjutkan penyerbuan ke Lumajang.

Dalam Kidung Sorandaka mengatakan bahwa setelah penyerangan ke Lumajang, Mahapati diangkat menjadi patih bergelar Patih Mangkubhumi menggantikan Nambi. Nama Mahapati dalam Kidung Sorandaka dapat dikenali dengan nama Dyah Halayudha di dalam prasasti Tuhantaru yang berangka tahun 1323 yang mengatakan bahwa Dyah Halayudha menjadi patih dari Kerajaan Majapahit.

4.  Pemberontakan Kuti (Peristiwa Bedander) (1319)
Peristiwa Bedander merupakan peristiwa pengungsian Raja Jayanegara ke Desa Bedander setelah ibukota Majapahit diduduki Kuti. Dalam serat Pararaton menyebutkan pemberontakan Kuti berjarak tiga tahun dari perang Lumajang atau berlangsung sekitar tahun 1319. Kuti merupakan seorang dharmaputra, dharmaputra merupakan pembesar Majapahit. Pada dasarnya latar belakang pemberontakan ini adalah ketidak senangan dharmaputra terhadap Sri Jayanegara.

Dalam situasi ini muncullah tokoh Gajah Mada sebagai prajurit yang mampu memadamkan pemberontakan Kuti dengan pasukannya yaitu bekel bhayangkara (pengawal raja). Pada periode mendatang Gajah Mada menjadi tokoh dibalik kebesaran Majapahit dan mampu menumpas pemberontakan –  pemberontakan.

5. Peristiwa Tanca (1328)
Dalam Pararaton menyebutkan bahwa peristiwa Kuti memiliki selisih sembilan tahun dari peristiwa Tanca. Peristiwa tanca mempunyai candrasengkala bhasmi-bhuta-nampani-ratu, atau 1250 saka 1328 masehi. Tahun yang disebutkan dalam kitab Pararaton sama dengan yang ada dalam kitab Negarakertagama serta tidak ada prasasti Jayanegara sesudah 1328 masehi.

Peristiwa ini didasari pada ketidaksukaan Gajah Mada terhadap para dharmaputra, sekaligus pada tingkah laku Sang Prabhu. Peristiwa Tanca termasuk dalam peristiwa pemberontakan Majapahit. Peristiwa ini bermula ketika Tanca melakukan pengobatan kepada Sang Prabhu, namun kemudian Tanca menikam Sang Prabhu dan dengan seketika Gajah Mada melakukan tindakan dengan membunuh Tanca seketika dan mendadak.

6. Peristiwa Sadeng – Keta (1331)
Dalam kitab Negarakertagama yang ditulis Mpu Prapanca menceritakan pada pemerintahan Tribhuwanatunggadewi, pada 1331 terjadi peristiwa pemberontakan di daerah Sadeng dan Keta. Peristiwa ini mengangkat kembali peran dari Gajahmada di Majapahit. Pada pemerintahan Tribhuwanatunggadewi selanjutnya terkenal sebagai masa perluasan dari wilayah Majapahit. Di dalam serat Pararaton menyebutkan bahwa Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa saat ia dilantik sebagai patih di Majapahit sebagai rakaryan Patih Amangkubhumi pada 1334 Masehi.

7. Peristiwa Paregreg (1404)
Peristiwa Paregreg adalah perang saudara antara Wikramawardhana (Istana barat), melawan Bhre Wirabhumi (Istana timur), pada tahun 1404 sampai 1406. Perang ini didasari adanya pemberontakan oleh Bhre Wirabhumi, Adipati Blambangan, yang konon merupakan keturunan dari Prabu Brawijaya dari seorang selir. Dalam legenda Jawa, perang Paregreg diceritakan dalam kisah Damarwulan. Sejak perang Paregreg ini, kekuasaan Bhre Wirabhumi hancur oleh Wikramawardhana, daerah Wirabhumi terlepas dari Majapahit dan semakin jau dari kontrol Majapahit.

Nilai artikel ini

Rata - rata 4 / 5. Total voting 1

Jadilah orang pertama yang memvoting

Rahmad Ardiansyah Guru Sejarah di SMAN 13 Semarang sekaligus penghobi blog

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *