Siapa yang Berhak Mengingat? Kekuasaan, Memori Kolektif, dan Kesenyapan Korban dalam The Act of Killing dan The Look of Silence

Penulis : Rahmad Ardiansyah

NIM : 2603090003

Mata Kuliah : Sejarah dan Memori Kolektif

Ketika Masa Lalu Tidak Selalu Menjadi Milik Korban

Siapa yang berhak menceritakan sejarah? Pertanyaan ini menjadi menarik ketika kita membicarakan peristiwa kekerasan politik 1965–1966 di Indonesia. Selama puluhan tahun, masyarakat Indonesia mengenal peristiwa tersebut melalui berbagai narasi yang berkembang pada masa Orde Baru dan Reformasi. Dalam narasi yang dominan, Partai Komunis Indonesia (PKI) digambarkan sebagai ancaman terhadap negara, sementara tindakan penumpasan terhadap orang-orang yang dituduh sebagai anggota atau pendukungnya ditempatkan sebagai bagian dari upaya menyelamatkan bangsa. Namun, bagaimana dengan orang-orang yang menjadi korban? Bagaimana mereka mengingat peristiwa tersebut ketika pengalaman mereka tidak memperoleh ruang yang cukup untuk disampaikan kepada masyarakat? Pertanyaan tersebut membawa kita pada persoalan memori kolektif. Ingatan masyarakat mengenai masa lalu tidak selalu terbentuk secara alami. Ada kelompok yang memiliki kesempatan lebih besar untuk menceritakan pengalamannya, sementara kelompok lain justru harus menyimpan ingatan karena takut terhadap akibat yang mungkin muncul jika mereka berbicara.

Persoalan ini tergambar dalam dua film dokumenter karya Joshua Oppenheimer, yaitu The Act of Killing (2012) dan The Look of Silence (2014). Film pertama memberikan ruang kepada para pelaku pembunuhan untuk menceritakan sekaligus merekonstruksi tindakan mereka. Sementara itu, film kedua mengikuti Adi Rukun, seorang anggota keluarga korban, yang berusaha memahami pembunuhan kakaknya dan menghadapi orang-orang yang terlibat dalam peristiwa tersebut. Melalui kedua film ini, tulisan ini berargumen bahwa memori kolektif mengenai peristiwa 1965–1966 dibentuk oleh relasi kekuasaan yang tidak seimbang. Pelaku memiliki ruang lebih besar untuk membangun cerita tentang masa lalu, sedangkan korban dan keluarganya menghadapi tekanan sosial yang membatasi kesempatan mereka untuk berbicara. Dengan demikian, persoalan sejarah bukan hanya mengenai apa yang terjadi, tetapi juga mengenai siapa yang memiliki kesempatan untuk menceritakannya dan ingatan siapa yang akhirnya dipercaya masyarakat.

Ketika Pelaku Memiliki Ruang untuk Bercerita

Salah satu adegan menarik dalam The Act of Killing muncul ketika Ibrahim Sinik, seorang penerbit surat kabar, menjelaskan bagaimana pemberitaan mengenai orang-orang komunis dibentuk. Pada menit 20:31–21:50, ia menceritakan bahwa pemberitaan yang dibuat tidak selalu berhenti pada kesaksian narasumber. Ada tambahan dari pihak redaksi yang bertujuan membangun kebencian masyarakat terhadap PKI.Adegan ini menarik karena memperlihatkan bahwa media massa tidak selalu menjadi penyampai informasi yang netral. Media juga dapat digunakan untuk mengarahkan pemahaman masyarakat terhadap suatu peristiwa. Apabila pemberitaan dengan sudut pandang yang sama terus diulang, masyarakat berpotensi menerima sudut pandang tersebut sebagai kebenaran yang tidak perlu dipertanyakan lagi.

Persoalan ini semakin terlihat dalam adegan pidato Yapto Soerjosoemarno, Ketua Umum Pemuda Pancasila, pada menit 22:45–24:43. Dalam acara organisasi tersebut, ia menyebut kader Pemuda Pancasila sebagai pihak yang berjasa memberantas komunisme dan menjaga Pancasila. Pernyataan ini menunjukkan bagaimana pengalaman masa lalu dapat digunakan untuk membentuk identitas sebuah kelompok. Tindakan yang berkaitan dengan kekerasan pada masa lalu justru ditempatkan sebagai bagian dari kebanggaan organisasi.Kehadiran Jusuf Kalla dalam acara Pemuda Pancasila (35:30–36:58) menambah persoalan menarik mengenai hubungan organisasi masyarakat dengan kekuasaan politik. Pidatonya mengenai keberadaan preman dalam kehidupan demokrasi memperlihatkan bagaimana kelompok yang memiliki citra kontroversial tetap dapat memperoleh ruang dalam kegiatan politik.Ketiga adegan tersebut menunjukkan bahwa pelaku bukan hanya memiliki pengalaman mengenai masa lalu, tetapi juga mempunyai kesempatan untuk menentukan bagaimana pengalaman itu diceritakan kepada masyarakat.

Pemikiran Maurice Halbwachs dapat membantu menjelaskan persoalan tersebut. Dalam bukunya On Collective Memory, Halbwachs (1992) menjelaskan bahwa ingatan manusia selalu dipengaruhi oleh lingkungan sosial tempat seseorang hidup. Seseorang mengingat masa lalu melalui kelompok, keluarga, dan masyarakat yang membentuk cara pandangnya.Jika pemikiran tersebut diterapkan pada film, pemberitaan media dan pidato organisasi dapat dipahami sebagai bagian dari proses pembentukan ingatan masyarakat. Ingatan tentang 1965–1966 tidak hanya berasal dari pengalaman pribadi, tetapi juga dipengaruhi oleh cerita yang terus disampaikan melalui lingkungan sosial.

Ketika Korban Harus Menyimpan Ingatan

Berbeda dengan film pertama, The Look of Silence memperlihatkan bagaimana keluarga korban menghadapi kesulitan ketika ingin membicarakan masa lalu.Pada menit 19:21–20:19, seorang perempuan lanjut usia menceritakan anaknya yang dibunuh. Ia harus menjalani kehidupan bersama seseorang yang terlibat dalam pembunuhan anaknya. Kesaksian tersebut memperlihatkan bahwa kekerasan tidak berhenti ketika pembunuhan selesai. Dampaknya tetap dirasakan oleh keluarga korban dalam kehidupan sehari-hari.Adegan berikutnya memperlihatkan Kemat, seorang penyintas pembantaian Sungai Ular, yang menjelaskan bahwa peristiwa tersebut sudah lama berlalu dan tidak perlu diungkit kembali (25:34–27:33). Pernyataan ini dapat dipahami sebagai keinginan untuk meninggalkan masa lalu.

Namun, kita juga perlu mempertimbangkan kemungkinan bahwa sikap tersebut berkaitan dengan ketakutan dan tekanan sosial yang masih dirasakan.Hal yang lebih menarik muncul ketika Adi Rukun mewawancarai Amir Siahaan, yang dikaitkan dengan komando pasukan pembunuh di Sungai Ular (47:19–54:25). Dalam percakapan tersebut, Amir menolak tanggung jawab langsung dan menyebut bahwa masih terdapat pimpinan lain di atasnya.Setelah pertemuan itu, Adi menceritakan tindakannya kepada ibunya. Respons sang ibu justru menunjukkan kekhawatiran. Ia meminta agar identitas Adi dirahasiakan. Kekhawatiran serupa juga muncul dalam percakapan dengan kakak Adi pada menit 1:05:43–1:06:35.Adegan tersebut memperlihatkan bahwa kesenyapan korban tidak selalu berarti mereka telah melupakan masa lalu. Dalam keadaan tertentu, diam justru menjadi cara untuk melindungi diri dan keluarga.

Menurut saya, bagian ini merupakan salah satu pesan terpenting dari kedua film. Terdapat perbedaan posisi yang cukup jelas antara mereka yang dapat berbicara tanpa rasa takut dan mereka yang harus mempertimbangkan keselamatan ketika hendak mengungkapkan pengalaman masa lalu.Simon Philpott (2017) menjelaskan bahwa film The Act of Killing memperlihatkan bagaimana para pelaku dapat merepresentasikan diri mereka di tengah situasi ketika kekerasan masa lalu belum sepenuhnya memperoleh pertanggungjawaban. Sementara itu, The Look of Silence memperlihatkan bahwa ketakutan masih menjadi bagian dari kehidupan keluarga korban. Dengan demikian, kesenyapan tidak dapat langsung dianggap sebagai bentuk penerimaan atau pelupaan. Kesenyapan juga dapat menjadi akibat dari hubungan sosial yang tidak seimbang.

Sekolah sebagai Pewaris Ingatan

Memori kolektif tidak hanya dibentuk melalui pemberitaan dan pidato politik. Pendidikan juga memiliki peran penting dalam mewariskan pemahaman mengenai masa lalu kepada generasi berikutnya. Dalam The Look of Silence, terdapat adegan ketika seorang guru menjelaskan peristiwa G30S/PKI kepada para siswa (13:52–17:33). Penjelasan tersebut menempatkan PKI sebagai pihak yang melakukan kekejaman terhadap para jenderal, sementara pihak yang melakukan penumpasan digambarkan sebagai penyelamat bangsa.Adegan ini menarik karena memperlihatkan bagaimana pemahaman mengenai sejarah dapat diwariskan melalui pendidikan. Anak-anak yang tidak mengalami peristiwa 1965–1966 secara langsung tetap memperoleh gambaran mengenai peristiwa tersebut melalui pelajaran di sekolah. 

Jan Assmann (1995) membedakan ingatan menjadi dua bentuk, yaitu memori komunikatif dan memori kultural. Memori komunikatif berkembang melalui percakapan dan pengalaman yang disampaikan antarmanusia, misalnya cerita keluarga atau kesaksian orang yang mengalami suatu peristiwa. Sementara itu, memori kultural dipertahankan melalui berbagai sarana yang lebih terlembaga, seperti pendidikan, media, peringatan, dan simbol-simbol masyarakat.Jika dikaitkan dengan kedua film, pemberitaan media, pidato organisasi, dan pembelajaran di sekolah dapat dilihat sebagai sarana pewarisan memori kultural. Sebaliknya, percakapan keluarga korban dan kesaksian para penyintas memperlihatkan keberadaan memori komunikatif.

Persoalannya adalah kedua bentuk ingatan tersebut tidak selalu memiliki kedudukan yang sama. Ingatan yang didukung oleh institusi dan kekuasaan memiliki peluang lebih besar untuk dikenal masyarakat. Sementara itu, pengalaman keluarga korban dapat bertahan dalam ruang privat tanpa memperoleh pengakuan yang setara. Hal ini memperlihatkan bahwa persoalan memori kolektif bukan sekadar tentang ingatan yang diwariskan, tetapi juga mengenai ingatan siapa yang memperoleh tempat dalam kehidupan masyarakat.

4. Membaca Film secara Kritis: Ingatan Bukan Selalu Fakta Sejarah

Meskipun kedua film memberikan gambaran penting mengenai persoalan 1965–1966, kita tidak dapat memperlakukan seluruh adegan di dalamnya sebagai rekaman sejarah yang sepenuhnya objektif. Dalam The Act of Killing, para pelaku diberi kesempatan untuk membuat rekonstruksi mengenai tindakan mereka. Rekonstruksi tersebut didasarkan pada ingatan, penafsiran, dan cara mereka memahami peristiwa yang pernah dilakukan. Oleh karena itu, adegan pembunuhan yang diperagakan tidak dapat langsung dianggap sebagai gambaran persis mengenai bagaimana pembunuhan berlangsung.Bahkan, ketika Anwar Congo melihat hasil rekonstruksi eksekusi pada menit 1:58:26–2:02:22, muncul tanggapan bahwa adegan tersebut terasa berlebihan. Hal ini menunjukkan bahwa proses mengingat dan merepresentasikan masa lalu dapat menghasilkan gambaran yang berbeda dari peristiwa sebenarnya. 

Untuk memeriksa konteks sejarah, salah satu penelitian yang dapat digunakan adalah buku Geoffrey B. Robinson, The Killing Season: A History of the Indonesian Massacres, 1965–66 (2018). Robinson menjelaskan bahwa kekerasan 1965–1966 tidak dapat dipahami hanya sebagai konflik spontan antarkelompok masyarakat. Kepemimpinan militer memiliki peran penting dalam mendorong, memfasilitasi, dan mengorganisasi kekerasan tersebut.

Selain penelitian akademik, dokumen diplomatik Amerika Serikat yang tersimpan di National Security Archive juga dapat digunakan sebagai sumber pembanding. Salah satunya adalah Telegram A-298 tanggal 23 Oktober 1965. Dokumen tersebut mencatat percakapan antara pejabat Kedutaan Besar Amerika Serikat dan Adnan Buyung Nasution mengenai eksekusi terhadap orang-orang komunis oleh Angkatan Darat serta upaya merahasiakan informasi tersebut. Dokumen lainnya, Airgram A-398 tanggal 17 Desember 1965, mencatat informasi mengenai operasi terhadap pimpinan PKI dan pemalsuan sejumlah dokumen pengakuan (National Security Archive, 2017). Kedua dokumen tersebut menunjukkan bahwa persoalan kekerasan dan penyembunyian informasi sudah menjadi perhatian pada masa terjadinya peristiwa. Namun, sebagai dokumen diplomatik asing, keduanya tetap perlu dibaca secara kritis dan dibandingkan dengan sumber lain.Dengan demikian, film dokumenter, kesaksian, penelitian akademik, dan dokumen arsip perlu digunakan secara bersama-sama. Film membantu kita memahami bagaimana masa lalu direpresentasikan, sedangkan sumber sejarah lainnya membantu memeriksa dan menempatkan representasi tersebut dalam konteks yang lebih luas.

Sejarah Milik Siapa?

The Act of Killing dan The Look of Silence memperlihatkan dua keadaan yang berbeda dalam mengingat masa lalu. Film pertama menunjukkan bagaimana pelaku dapat menceritakan dan merekonstruksi tindakan mereka. Film kedua memperlihatkan bagaimana korban dan keluarganya masih menghadapi ketakutan ketika berusaha mengungkap pengalaman yang pernah dialami. Kedua film tersebut mengingatkan kita bahwa tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk menceritakan sejarah. Ada ingatan yang memperoleh ruang melalui media, pendidikan, dan organisasi. Namun, ada pula ingatan yang hanya bertahan dalam percakapan keluarga atau bahkan sengaja disimpan karena alasan keselamatan.

Menurut saya, persoalan terbesar bukanlah apakah masyarakat harus terus mengingat atau melupakan peristiwa 1965–1966. Persoalan yang lebih penting adalah apakah setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menyampaikan pengalaman masa lalunya.Sejarah tidak seharusnya hanya menjadi milik mereka yang memiliki kekuasaan untuk bercerita. Pengalaman korban dan keluarga yang selama ini hidup dalam kesenyapan juga merupakan bagian penting dari sejarah bangsa. Mengingat masa lalu bukan berarti terus hidup dalam kebencian. Sebaliknya, mengingat merupakan langkah untuk memahami apa yang pernah terjadi, memeriksa kembali cerita yang selama ini dianggap benar, dan memberikan ruang kepada mereka yang belum memperoleh kesempatan untuk berbicara.

Daftar Pustaka

Assmann, J. (1995). Collective memory and cultural identity. New German Critique, 65, 125–133.

Halbwachs, M. (1992). On collective memory (L. A. Coser, Ed. & Trans.). University of Chicago Press.

Hill, A. (2021). Documentary imaginary: Production and audience research of The Act of Killing and The Look of Silence. European Journal of Cultural Studies, 24(4), 801–815. https://doi.org/10.1177/13675494211033291

National Security Archive. (2017, October 17). U.S. Embassy tracked Indonesia mass murder 1965. George Washington University. https://nsarchive.gwu.edu/briefing-book/indonesia/2017-10-17/indonesia-mass-murder-1965-us-embassy-files

Oppenheimer, J. (Director). (2012). The Act of Killing [Film dokumenter].

Oppenheimer, J. (Director). (2014). The Look of Silence [Film dokumenter].

Philpott, S. (2017). Performing mass murder: Constructing the perpetrator in documentary film. International Political Sociology, 11(3), 257–272. https://doi.org/10.1093/ips/olx011

Robinson, G. B. (2018). The killing season: A history of the Indonesian massacres, 1965–66. Princeton University Press.Sutopo, O. R. (2017). The Act of Killing and The Look of Silence: A critical reflection. Crime, Media, Culture, 13(2), 235–243. https://doi.org/10.1177/1741659017690564

Lampiran Ringkasan Scene

Tags:

Share:

Related Post

Leave a Comment

Suka konten sejarah?
Ikuti @kajiansejarah.id untuk mendapatkan konten sejarah lainnya.