Rahmad Ardiansyah Guru Sejarah di SMAN 13 Semarang sekaligus penghobi blog

Empat Pataka Kerajaan Majapahit

Pataka merupakan sejenis bendera atau panji militer yang biasanya digunakan dalam perang untuk menentukan titik berkumpul pasukan serta menandai lokasi panglima perang. Pataka ini biasa kita lihat di perang – perang film Cina serta Eropa. Berikut ini adalah Pataka yang dimiliki Majapahit namun tidak berada di Indonesia

  • Pataka Sang Dwija Naga Nareswara

Pataka Sang Dwija Naga Nareswara berbentuk Tombak Pataka Nagari yang menggambarkan naga kembar penjaga Tirta Amertha. Pataka ini berbentuk tombak dengan bahan dasar adalah tembaga yang di buat di era Singhasari dan diwariskan ke Majapahit. Pataka ini merupakan satu – satunya yang diselamatkan oleh Raden Wijaya ketika masa keruntuhan Majapahit. Pataka lainnya dirampas oleh Jayakatwang ke kerajaan Kediri.

Pada tombak pataka inilah bendera Kerajaan Majapahit Wilwatikta dipasang, ketika hutan tarik sesaat setelah peyerangan bangsa Mongol ke kerajaan Kediri dan penyerangan Raden Wijaya bersama 9 arya ke bangsa Mongol. Bendera tersebut bernama Gula – Kelapa atau yang berarti Merah Putih yang hingga saat ini diwariskan ke bendera merah putih Indonesia. Tombak ini sekarang terseimpan di Amerika Serikat, tepatnya di The Metropolitan Museum of Art, 1000 5th Avenue, New York, NY-USA. Hal ini sangat mengherankan, karena Amerika tidak mempunyai keterkaitan sejarah dengan bangsa Indonesia. Kemungkinan artefak Pataka ini diambil oleh Belanda dan kemudian dijual ke Amerika.

  • Pataka Sang Hyang Baruna

Pataka Sang Hyang Baruna berbentuk sebuah tombak (Tombak Pataka Nagari) yang dilengkapi dua mata tombak kembar yang berada di kepala serta di ekor sebuah naga. Tombak ini berbahan dasar tembaga yang dibuat pada zaman kerajaan Singhasari dan kemudian diwariskan ke Kerajaan Majapahit. Pataka ini biasanya ditempatkan di bagian depan kapal yang menandakan bahwa di kapal tersebut terdapat Raja atau wakil kerajaan. Bendera yang di pasang di tombak ini bernama Getih – Getah Samudra yang memiliki corak lima garis merah serta empat garis putih, perlambang bendera militer kerajaan Singhasari atau Majapahit. Hingga saat ini bendera Getih Getah Samudra masih dipakai oleh TNI-AL dalam kapal – kapalnya ketika berada di perairan internasional yang bernama paji Ular – Ular Tempur.

Pataka ini pertama kali digunakan yaitu ketika dilakukannya Ekspedisi Pamalayu oleh Kerajaan Singhasari, selanjutnya Ekspedisi Duta Besar Adityawarman yang datang ke Cina selama dua kali, dan terakhir adalah ekspedisi Nusantara oleh Mahapatih Gajah Mada.  Tombak ini sekarang berada di The Metropolitan Museum of Art, 1000 5th Avenue, New York, NY-USA.

  • Pataka Sang Padmanaba Wiranagari

Yang ketiga adalah Sang Padmanaba Wiranagari. Tombak ini juga dibuat pada masa Singhasari dan diwariskan ke Majapahit. Pataka ini semula dirampas oleh Kediri ketika Jayakatwang mengalahkan Singhasari, namun para eks abdi Singhasari pada ekspedisi pamalayu merebut kembali. Ketika itu para abdi Singhasari meminta izin kepada Raden Wijaya untuk merebut kembali Pataka Singhasari yang dirampas Jayakatwang. Namun pasukan abdi Raden Wijaya tersebut sebelumnya tidak diizinkan karena Raden Wijaya trauma dengan perang saudara yang baru saja terjadi (Raja Jayakatwang dan Kertanegara yang memiliki hubungan kekerabatan dari kakeknya Narasingamurti).

Kemudian para abdi Raden Wijaya nekat untuk merebut pataka tersebut yang sebelumnya berpamitan terlebih dahulu dengan Raden Wijaya dan istrinya Tribhuwaneswari. Tribhuwaneswari tidak mengiyakan sekaligus tidak berkata tidak, ia hanya berkata : “penuhi dharmamu sebagai ksatria”. Hal ini yang kemudian dijadikan semangat untuk merebut peninggalan Singhasari di Daha Kediri.
Mereka pada akhirnya berhasil membawa 5 pataka Singhasari serta meneguhkan sikap orang – orang Daha yang masih bingung memihak ke siapa, kemudian diyakinkan oleh para arya untuk mengabdi ke penerus Singhasari yang sah yaitu Raden Wijaya. Pada tombak inilah pertama kali Lambang Majapahit di pasang.

  • Sang Hyang Naga Amawabhumi

Pataka terakhir adalah Sang Hyang Naga Amawabhumi yang berarti naga penjaga keadilan yang berbentuk naga yang juga terdapat sebuah lempengan diatasnya. Pataka ini juga terbuat dari bahan tembaga dan dibuat pada masa kerajaan Singhasari.

Nilai artikel ini

Rata - rata 0 / 5. Total voting 0

Jadilah orang pertama yang memvoting

Rahmad Ardiansyah Guru Sejarah di SMAN 13 Semarang sekaligus penghobi blog

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *