Rahmad Ardiansyah Guru Sejarah di SMAN 13 Semarang sekaligus penghobi blog

Sejarah Perang Tujuh Tahun Amerika (1756-1763)

Revolusi dan Perang Kemerdekaan Amerika

Perang Tujuh Tahun merupakan perang negara – negara kolonialis di Amerika yang terjadi dalam jangka waktu tujuh tahun. Perang ini bertujuan untuk mendominasi wilayah Amerika sebagai wilayah jajahan. Dalam perang tujuh tahun negara – negara yang terlibat diantaranya Austria, Perancis, Swedia, Rusia, dan Spanyol melawan gabungan kekuatan Prusia, Inggris, Portugal dan Hanover.

Latar Belakang

Perang Tujuh Tahun tidak terlepas dari konflik sebelumnya yaitu Perang Suksesi Austria (1740-1748). Perjanjian Aix-la-Chapelle tidak mampu meredakan Austria yang kehilangan wilayah koloninya yang kaya yaitu Silesia yang direbut ole Prusia. Disisi lain, Perancis dan Inggris juga terlibat dalam konflik baru yang nanti akan membesar menjadi Perang Tujuh Tahun.

Meskipun Perang Tujuh Tahun adalah kelanjutan dari perang sebelumnya, namun ada perbedaan yang signifikan diantara keduanya. Perbedaan penting pertama adalah bahwa Perang Tujuh Tahun meluas dan menguras sumber dana negara koloni. Negara – negara yang berperang menempatkan semua kekayaan mereka untuk terus berjuang dan keuntunganpun menjadi hal kedua bagi mereka.

Perbedaan kedua adalah adanya perpecahan hubungan antara Prusia yang memutuskan hubungan dengan Perancis dan Inggris. Sedangkan Austria yang sebelumnya selama separuh abad 18 memihak Inggris kemudian memutuskan hubungan dan menjalin hubungan dengan Perancis yang sebelumnya merupakan lawan dari Austria.

Tokoh dalam Perang Tujuh Tahun diantaranya Ratu Maria Theresa dari Austria; George II dan dilanjutkan George III dari Inggris; Louis XV dari Perancis; Frederick II (kemudian dikenal dengan nama Frederick Agung) dari Prusia; dan Ratu Elizabeth dari Rusia.

Peta Kekuatan Perang Tujuh Tahun

Prusia

Diawal perang Prusia memiliki 145.000 dan dianggap sebagai negara yang paling efektif di Eropa dalam pertempuran formasi linier. Hal tersebut dicapai dari pelatihan menyeluruh dan disiplin tinggi yang diterapkan oleh Prusia.

Pasca Perang Suksesi Austria, Frederick II telah melakukan reformasi pada kavaleri berat menjadi yang terbaik di Eropa. Kekuatan baru ini menjadi kejutan tersendiri bagi musuh – musuh mereka.

Bangsa Prusia memiliki kedisiplinan tinggi serta terorganisir dalam ketentaraan mereka. Sistem kanton yang pada tahun 1720-an hingga 1730-an secara teratur memanggil para pemuda Prusia yang memiliki fisik sehat untuk diseleksi. Orang – orang terbaik akan dilatih secara reguler untuk latihan wajib militer.

Inggris

Sebelum Perang Tujuh Tahun dimulai, Inggris memiliki sekitar 90.000 pasukan. Pada perkembangannya ketika perang berlangsung jumlah pasukan Inggris mencapai 150.000. Untuk mencapai jumlah tersebut Inggris memerlukan usaha tersendiri diantaranya dengan menarik tahanan dari penjara untuk dijadikan pasukan perang dan ditempatkan di luar negeri. Kekuatan terbesar Inggris adalah keahlian beradaptasi dalam berbagai kondisi. Hal tersebut terlihat dari perubahan senjata berat dihutan lebat yang diganti dengan senjata ringan agar lebih efektif.

Rusia

Kekuatan Rusia mungkin bisa dikatakan sebagai kekuatan terbesar dengan 330.000 orang yang terbagi menjadi 174.000 pasukan lapangan dan sisanya adalah milisi dan tentara garnisun. Selama perang berlangsung, Rusia biasanya hanya menggunakan tentara dengan jumlah 60.000 hingga 90.000 untuk satu kampanye.

Austria

Austria memiliki jumlah tentara sebesar 201.000 pasukan pada tahun 1756. Pasca Perang Silesia, Austria telah membentuk komisi reformasi yang melakukan pelatihan intensif pada semua cabang. Meski belum setingkat dengan Prusia, namun Austria dapat mengimbangi kekuatan tempur Prusia dengan strategi bertahan.

Perancis

Perang Tujuh Tahun menjadi titik terendah bagi tentara Perancis. Jumlah pasukan yang mencapai 200.000 memiliki kemampuan buruk dalam berperang. Kurangnya disiplin, kepemimpinan yang rendah, perwira yang tidak bersemangat hingga penundaan reformasi menjadi latar belakang menurunnya kekuatan Perancis.

Namun ada beberapa pengecualian terhadap peraturan Perancis di koloni – koloni tersebut. Kekuatan Perancis yang berada di Amerika Utara merupakan pasukan yang terlatih dengan strategi linier mereka. Inggris belajar dari Perancis pada kekalahan mereka dan menerapkan strategi serupa dalam pelatihan mereka sendiri.

Pasukan Perusahaan India Timur Perancis juga memiliki kualitas tinggi. Pada tahun 1740an, Perancis mengirimkan pasukan pribumi (suku Indian) dalam perang linier. Sekali lagi Inggris juga meniru langkah serupa. Akan tetapi, orang Perancis tidak dapat lagi memperkuat koloni mereka setelah 1758. Hal tersebut dikarenakan adanya blokade laut oleh Inggris. Pada saat yang sama Inggris memperkuat koloninya melebihi jumlah orang Perancis.

Jalannya Perang Tujuh Tahun

Perang Tujuh Tahun diawali 1756 dan berlangsung tujuh tahun kemudian. Semula perang didominasi oleh Austria dan Perancis, sehingga keduanya diramalkan menjadi pemenang dari perang tersebut.

Disisi lain Inggris dibawah kepemimpinan Perdana Menteri Pitt the Elder segera bergabung dengan Prusia. Kemenangan Prusia atas Peranci di Rossbach pada tahun 1757 menjadi titik balik perang.

Setelah kemenangan di Rossbach, Prusia kembali menuai kemenangan di Leuthen melawan Austria dan di Zorndorf melawan Rusia. Kemenangan Prusia diikuti oleh kemenangan Inggris atas Perancis di Plassey di India dan di Quebec, Kanada.

Pada tahun 1759, pertempuran memanas dan menghasilkan kemenangan atas Inggris-Prusia yang telah mengalahkan Perancis di Minden, Jerman. Disisi lain, kemenangan gemilang terjadi di Teluk Quiberon yang memenangkan armada laut Inggris atas Perancis. Aliansi Inggris-Prusia terus menoreh kemenangan setelah merebut Montreal, Kanada pada tahun 1760.

Untuk membalas kemenangan Inggris-Prusia, aliansi Austria dan Rusia melakukan penambahan kekuatan. Penambahan kekuatan ini sukses membuat Prusia mengubah strategi bertahan dari gempuran pasukan Austria-Rusia.

Prusia hampir hancur, namun diselamatkan oleh kematian Tsarina Rusia, Elizabeth yang meninggal pada tahun 1762. Pengganti dari Elizabeth, Tsar baru Peter III mengeluarkan kebijakan penarikan diri dari peperangan dan memilih meninggalkan Austria dan Prusia yang saling berhadapan memperebutkan wilayah Silesia dan Saxony.

Pasukan Prusia mampu meraih keunggulan dari Austria. Namun perang diantara keduanya tidak menemukan pemenang dan banyak menghabiskan sumberdaya perang. Satu – satunya jalan adalah dengan melakukan negosiasi yang kemudian di inisiasi oleh seorang utusan dari Austria pada tanggal 29 November 1762.

Di Inggris, dengan diangkatnya George III menjadi raja Inggris pada 1760 mulai merubah strategi Inggris dalam Perang Tujuh Tahun. George III lebih memperhatikan perang koloni di Amerika dan kurang memperdulikan perang di Jerman.

Pada bulan Oktober 1961, aliansi Inggris, William Pitt dan Duke of New Castle yang telah mempromosikan sebuah perang kolonial / kontinental bersama resmi berakhir. Lord Bute, menteri utama Inggris pun mulai meninggalkan hubungan dengan Prusia baik dari perpolitikan maupun ekonomi.

Awalnya, antara Inggris dan Prusia sepakat untuk tidak melakukan negosiasi dengan pihak manapun kecuali jika disetujui. Namun Inggris melanggar kesepakatan tersebut dengan melakukan negosiasi dengan Perancis. Sikap Inggris tersebut kemudian menyebabkan keretakan hubungan antara Inggris dan Prusia.

Akhir Perang Tujuh Tahun

Perang Tujuh Tahun Amerika diakhiri dengan Perjanjian Paris yang melibatkan Inggris Raya, Perancis dan Spanyol. Perjanjian Perancis ditandatangani tanggal 10 Februari 1763. Pada perjanjian tersebut Inggris mendapatkan Kanada, Pulau Cape Breton, Newfoundland, lembah Sungai Ohio, dan semua tanah di timur Sungai Mississippi.

Perancis harus merelakan wilayahnya dan hanya mendapatkan dua pulau di lepas pantai Newfoundland, St. Pierre dan Miquelon. Perancis juga menerika Martinique, Guadeloupe dan Marie Galante di Karibia, disisi lain Inggris mendapatkan Grenada dan semua Lesser Antilles kecuali St. Lucia.

Inggris juga menjadi kekuatan yang mendominasi di daerah Carnatic dan Bengal India. Di sisi lain Pondicherry dikembalikan ke Perancis. Belle Isle (dilepas pantai Perancis) diberikan ke Perancis dengan imbalan wilayah Minorca dan Inggris mengembalikan wilayah Goree di Afrika Barat dengan imbalan Sinegal.

Perancis juga bersedia untuk melakukan evakuasi wilayah George III di Jerman dan sekutu – sekutunya. Inggris bersedia mengembalikan Filipina dan Kuba keSpanyol sebagai pengganti atas Florida dan penarikan dari Portugal.

Orang-orang Austria dan Prusia menandatangani Perjanjian Perdamaian Hubertusburg pada tanggal 15 Februari 1763. Semua perbatasan tahun 1756 dikembalikan seperti semula. Austria menarik diri dari Silesia dan Prusia mundur dari Saxony. Silesia tetap menjadi bagian Prusia dan pembagian Prusia sebagai negara tidak terjadi. Sebenarnya hasil perang justru telah memperkuat peran Prusia sebagai kekuatan besar Eropa.

Nilai artikel ini

Rata - rata 0 / 5. Total voting 0

Jadilah orang pertama yang memvoting

Rahmad Ardiansyah Guru Sejarah di SMAN 13 Semarang sekaligus penghobi blog

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *