Manajemen Bimbingan dan Konseling

A.  Pengertian Manajemen Bimbingan dan Konseling
Manajemen berasal dari bahasa Inggris, management
dengan kata kerja to manage yang 
artinya  mengurusi  atau 
kemampuan  menjalankan  dan mengontrol. Manajemen  adalah 
ilmu  dan  seni 
mengatur  proses  pemanfaatan 
sumber daya manusia secara efektif, yang didukung oleh sumber-sumber
lainnya dalam suatu organisasi  yang  mencapai 
tujuan  tertentu  (Hikmat 
2011:  11).  Sedangkan 
menurut Terry dalam Hikmat (2011: 12) menyatakan manajemen adalah suatu
proses yang khas yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan,
pengorganisasian, penggerakan, dan 
pengendalian  yang  dilakukan 
untuk  menentukan  serta 
mencapai  yang ditentukan melalui
pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya.
Darft (2002: 8) menyatakan bahwa manajemen
adalah pencapaian sasaran-sasaran organisasi 
dengan  cara  efektif 
dan  efesien  melalui 
perencanaan, pengorganisasian, 
kepemimpinan,  dan  pengendalian 
sumber  daya  organisasi. Sedangkan Satori sebagaimana
dikutip oleh Rusman (2009: 121) mengemukakan bahwa “Manajemen pendidikan
merupakan keseluruhan proses kerja sama dengan memanfaatkan  semua 
sumber  personel  dan 
material  yang  tersedia 
dan  sesuai untuk  mencapai 
tujuan  pendidikan  yang 
telah  ditetapkan  secara 
efektif  dan efesien”.
Dari pendapat berbagai ahli diatas yang beragam
dapat ditarik kesimpulan bahwa 
manajemen  mempunyai  beberapa 
esensi  yaitu  (1) 
manajemen  sebagai suatu proses
kegiatan, (2) manajemen untuk mencapai tujuan, dan (3) manajemen memanfaatkan
sumber daya (manusia, lingkungan, fasilitas, sarana, prasarana, dll).
Bimbingan 
dan  konseling merupakan  salah 
satu  organisasi  yang 
ada  di  dalam sekolah 
yang  juga memerlukan adanya
manajemen agar dapat mencapai tujuannya.
Sugiyo (2012: 
28) menyatakan manajemen 
bimbingan  dan  konseling adalah kegiatan yang diawali dari
perencanaan kegiatan bimbingan dan konseling, pengorganisasian  aktivitas dan semua unsur pendukung bimbingan
dan konseling, menggerakkan  sumber  daya 
manusia  untuk  melaksanakan 
kegiatan  bimbingan dan  konseling, 
memotivasi sumber  daya  manusia  agar 
kegiatan  bimbingan  dan konseling mencapai tujuan serta
mengevaluasi kegiatan bimbingan dan konseling untuk mengetahui apakah
semua  kegiatan  layanan 
sudah  dilaksanakan dan mengetahui
bagaimana hasilnya.
Gibson 
(2011:  566) menyatakan  bahwa 
manajemen  bimbingan  dan 
konseling  adalah  aktivitas-aktivitas  yang 
memfasilitasi  dan melengkapi  fungsi-fungsi 
keseharian  staf  konseling 
meliputi  aktivitas 13 administratif
seperti pelaporan dan perekaman, perencanaan dan kontrol anggaran, manajemen
fasilitas dan pengaturan sumber daya.
Dari pendapat di atas maka dapat disimpulkan
manajemen bimbingan dan konseling 
adalah  kegiatan  manajemen 
yang  dilakukan  oleh 
konselor  untuk memfasilitasi  fungsi 
bimbingan  dan  konseling 
mulai  dari  perencanaan, pengorganisasian,  pelaksanaan 
dan  evaluasi  untuk 
mencapai  tujuan  bimbingan dan  konseling 
yang  efektif  dan 
efesien  dengan  memanfaatkan 
berbagai  sumber daya yang ada.
B.  Tujuan Manajemen Bimbingan dan Konseling
Sugiyo (2012: 27) menyatakan tujuan manajemen
dilakukan secara  sistematis agar
mencapai produktif, berkualitas, efektif 
dan  efesien. Manajemen  bimbingan dan konseling bertujuan untuk mengembangkan
diri konseli (peserta didik) secara efektif dan efesien. Kegiatan manajemen
bimbingan dan konseling dikatakan produktif apabila dapat menghasilkan keluaran
baik secara kualitas dan kuantitas. Kualitas dari layanan  bimbingan 
dan konseling dilihat dari tingkat kepuasan dari konseli yang mendapatkan
layanan bimbingan dan konseling. Sedangkan kuantitas dari layanan bimbingan  dan 
konseling  dilihat  dari 
jumlah  konseli  yang 
mendapat  layanan bimbingan dan
konseling. Efektif  berarti  kesesuaian 
antara  hasil  yang 
dicapai  dengan  tujuan, keefektifan dari layanan  bimbingan 
dan konseling adalah melihat dari ketercapaian  layanan 
bimbingan  dan konseling yaitu
konseli mampu mengembangkan  dirinya  secara 
optimal.  Sedangkan  efesien 
apabila  kesesuaian antara sumber
daya dengan keluaran atau penggunaan sumber dana yang minimal dapat  dicapai 
tujuan  yang  diharapkan. 
Layanan bimbingan dan konseling dapat dinyatakan efesien apabila tujuan
bimbingan dan konseling yaitu pengembangan  diri 
konseli  dapat  segera 
dicapai  dengan penggunaan  sumber 
daya  yang  sedikit. Tujuan-tujuan manajemen  bimbingan dan konseling  ini 
dapat  dicapai secara dan efesien
apabila memenuhi prinsip-prinsip manajemen.
C.  Prinsip-prinsip Manajemen Bimbingan dan Konseling
Manajemen bimbingan dan konseling  perlu memperhatikan prinsip-prinsip manajemen
agar tujuan  dari  manajemen 
dapat  tercapai.  Menurut 
Hikmat  (2009: 41) menyatakan  ada 
5  prinsip  dalam 
pengelolaan  manajemen  yaitu:
1.      Prinsip efisiensi  dan 
efektivitas,  dimana  fungsi 
manajemen  dilakukan  dengan mempertimbangkan  sarana 
prasarana,  keadaan  dan 
kemampuan  organisasi  agar relevan 
dengan  tujuan  yang 
dicapai;
2.      Prinsip 
pengelolaan,  dimana  suatu manajemen  dilakukan 
secara  sistematik  dari  perencanaan,  pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan;
3.      Prinsip pengutamaan tugas pengelolaan, dimana
seorang manajer  bertanggung  jawab 
dalam  melaksanakan  kegiatan 
manajemen, baik pelayanan internal maupun eksternal;
4.      Prinsip kepemimpinan yang efektif, dimana  seorang 
manajer  harus  memiliki 
sifat  yang  bijaksana 
dalam  mengambil suatu keputusan
dan mampu berhubungan baik dengan semua personel di dalam organisasi  tersebut;
5.      Prinsip 
kerjasama,  kerjasama  didasarkan 
pada 15 pengorganisasian 
manajemen  terkait  dengan 
melaksanaan  tugas  sesuai 
dengan keahlian dan tugas masing-masing personil.
Sugiyo 
(2011:  29)  mengemukakan 
bahwa  prinsip-prinsip  manajemen meliputi: 
a.    Efesiensi 
adalah  kegiatan  yang  dilakukan 
dengan  modal  yang minimal 
dapat  memberikan  hasil 
yang  optimal; 
b.    Efektifitas 
adalah  apabila terdapat  kesesuaian 
antara  hasil  yang 
dicapai  dengan  tujuan;
c.    Pengelolaan adalah dalam aktivitas manajemen
seorang manajer harus mengelola sumber daya yang  ada 
baik  sumber  daya 
manusia  maupun  non 
manusia; 
d.   Mengutamakan tugas  pengelolaan 
artinya  seorang  manajer 
harus  mengutamakan  tugas manajerialnya  dibandingkan 
tugas  yang  lain;
e.    Kerjasama 
adalah  seorang manajer  harus 
mampu  menciptakan  suasana 
kerjasama  dengan  berbagai 
pihak; dan
f.     kepemimpinan yang efektif.
Dari 
kedua  pendapat  di 
atas  dapat  diambil 
kesimpulan  bahwa  prinsip-prinsip manajemen bimbingan dan
konseling yaitu :
1.      Efesien 
dan  efektif,  artinya 
kesesuaian  hasil  layanan 
dengan  tujuan  yang ingin dicapai dari layanan bimbingan dan
konseling dengan memanfaatkan fasilitas yang ada secara optimal.
2.      Kepemimpinan 
yang  efektif,  artinya 
kepala  sekolah  perlu 
bersikap bijaksana dalam mengambil keputusan dan mampu berkoordinasi
dengan personel sekolah secara baik.
3.      Kerjasama, artinya adanya hubungan kerjasama
yang baik antar personel sekolah.
4.      Pengelolaan manajemen, sistematika manajemen
dari mulai perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan evaluasi.
D.  Fungsi Manajemen Bimbingan dan Konseling
Manajemen 
bisa  berhasil  bila 
dalam  pengelolaan  fungsi-fungsi 
dari manajemen  dapat  dioperasionalisasikan  atau 
dapat  dilakukan  dengan 
baik  dan sistematik.  Menurut Fayol 
dalam  Hikmat  (2009: 30) 
fungsi  manajemen  adalah Planning, Organizing, Commanding,
Coordinating, dan Controlling. Allen dalam Hikmat  (2009: 
30)  menyatakan  fungsi 
manajemen  adalah  Leading, 
Planning, Organizing,  dan  Controlling. Terry dalam Hikmat (2009: 30)
mengatakan fungsi manajemen adalah Planning, Organizing, Actuating,  dan 
Controlling.  Sedangkan menurut  Sugiyo 
(2011:  30-35)  menyatakan 
bahwa  fungsi  manajemen 
adalah perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan.
Fungsi 
manajemen  dari  berbagai 
ahli  di  atas 
disimpulkan  bahwa  fungsi manajemen bimbingan  dan 
konseling  terdiri  dari :
a.   
Planning (Perencanaan)
Menurut Hikmat (2009: 101) menyatakan bahwa
planning atau  perencanaan  pendidikan adalah “keseluruhan  proses 
perkiraan  dan  penentuan secara matang hal-hal yang akan
dikerjakan dalam pendidikan untuk masa 
yang akan datang dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan yang telah
ditentukan.”
Santoadi 
(2010:  5)  menyatakan 
bahwa  perencanaan  (planning) 
adalah langkah  awal  sebelum 
dinamika  institusi  berjalan, 
berupa  aktivitas  menggali kebutuhan  (need 
assessment/  appraisal),  menetapkan 
tujuan,  hingga  membuat rancangan aktivitas dalam kerangka
waktu tertentu. Sedangkan Sugiyo (2011: 30) menyatakan  perencanaan 
merupakan  aktivitas  atau 
keputusan  apapun  yang diputuskan  dalam 
suatu  dalam  suatu 
organisasi  dalam  jangka 
waktu  tertentu.
Dari pendapat 
berbagai  ahli diatas dapat
disimpulkan bahwa perencanaan adalah 
kegiatan  konselor  dalam 
menyiapkan  dan  menetapkan 
sasaran,  tujuan, materi, metode,
waktu, tempat dan rencana  penilaian dari
kegiatan bimbingan dan konseling yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta
didik.
b.  
Organizing (Pengorganisasian)
Setelah perencanaan dibuat maka selanjutnya konselor melakukan organizing  atau pengorganisasian. Fungsi pengorganisasian
menurut Terry (1986: 4) 
mengemukakan  bahwa  “Pengorganisasian  adalah 
tindakan  mengusahakan hubungan-hubungan
kelakuan  yang efektif  antara orang-orang, sehingga mereka dapat
bekerjasama secara efesien, dan memperoleh 
kepuasan  pribadi  dalam melaksanakan  tugas-tugas 
tertentu,  dalam  kondisi 
lingkungan  tertentu  guna mencapai 
tujuan  atau  sasaran 
tertentu”. Sedangkan Santoadi 
(2010:  5) menyatakan
pengorganisaian (organizing) atau pembidangan yaitu penentuan atau pengelompokan
aktivitas lembaga (institusi/ organisasi), berdasarkan tujuan yang diciptakan.
Sugiyo (2011: 32) mengatakan pengorganisasian adalah upaya mengatur  tugas perseorangan atau kelompok dalam
organisasi dan merancang bagaimana 
hubungan kerja antar unit organisasi.
Dari  beberapa  pendapat 
tersebut  maka  dapat 
diambil  kesimpulan  bahwa pengorganisasian  adalah 
upaya  mengatur  tugas 
orang-orang  dalam  suatu organisasi secara tepat dan menjaga
hubungan antar orang tersebut sehingga dapat mencapai tujuan yang telah
ditentukan.
Pengorganisasian kegiatan bimbingan dan konseling memiliki peran kunci
dalam menunjang keberhasilan 
pelaksanaan  program  bimbingan 
dan  konseling. Hal ini  dikarenakan, dengan pengorganisasian yang
tepat dapat memberikan arah dan pedoman posisi masing-masing pelaksana bimbingan
dan konseling. Adanya pembagian tugas yang jelas, profesional, dan proposional
membuat setiap petugas dapat 
memahami  tugasnya  dan 
menumbuhkan  hubungan  kerjasama 
yang  baik. Selain itu, pengaturan
tugas yang tepat dengan kemampuan dan karakteristiknya membuat tidak terjadi
kesalahpahaman.
c.   
Actuating (Pelaksanaan)
Pelaksanaan 
merupakan  kegiatan  yang  paling 
utama  dalam  kegiatan manajemen, pelaksanaan menekankan
pada kegiatan yang berhubungan langsung dengan orang lain dalam suatu
organisasi. Artinya pelaksanaan merupakan upaya dalam mewujudkan perencanaan
menjadi kenyataan dengan berbagai 
pengarahan.
Menurut Siagian dalam Sugiyo (2011: 33)
pergerakan sebagai keseluruhan usaha, cara, teknik, dan metode untuk mendorong
para anggota organisasi agar mau dan ikhlas bekerja dengan sebaik mungkin demi
tercapainya tujuan organisasi dengan efektif, efesien dan ekonomis. Santoadi
(2010: 18) menyatakan pengarahan adalah fase manajemen yang terdiri dari
kegiatan mengkoordinasi, mengontrol, dan menstimulasi semua unsur agar  berfungsi 
secara  optimal.  Sugiyo 
(2011:  33)  menyatakan 
pengarahan  atau penggerakan  adalah 
upaya  untuk  memotivasi 
para  personel  organisasi 
agar berusaha mencapai tujuan dari organisasi tersebut.
Maka dapat disimpulkan pelaksanaan adalah
seluruh kegiatan atau upaya dalam memotivasi konselor dalam menggunakan cara,
pendekatan, teknik, metode dalam 
mencapai  tujuan  bimbingan 
dan  konseling  secara 
efektif  dan  efesien. Pelaksanaan  bimbingan 
dan  konseling  mengarah 
pada  pelaksanaan  program bimbingan dan konseling yang telah
direncanakan,  dalam  hal 
ini  terkait  dengan layanan-layanan  bimbingan 
dan  konseling  dan  kegiatan 
pendukung  bimbingan dan
konseling.
d.  
Controlling (Evaluasi)
Pengendalian  di  dalam 
manajemen  bimbingan  dan 
konseling  disebut dengan evaluasi
yaitu kegiatan yang dikendalikan mulai dari perencanaan,  pengorganisasian, dan pelaksanaan. Evaluasi
terkait dengan  bagaimana  mengawasi kegiatan bimbingan  dan 
konseling.
Sugiyo  (2011:  34) 
pengendalian  adalah  kegiatan 
yang  dilakukan  oleh manajer untuk mengetahui dan mengontrol
pelaksanaan atau aktivitas organisasi, menentukan  keberhasilan 
organisasi  dan  menganalisis 
kemungkinan  hambatan dalam pelaksanaan
kegiatan organisasi. Sedangkan Santoadi (2010: 
7) menyatakan pengendalian adalah usaha untuk menjamin agar unjuk
kerja  organisasi (dan personal) yang
sebenarnya sesuai dengan proses yang direncanakan.
Dari  pendapat  di 
atas  maka  evaluasi 
adalah  kegiatan  pemantauan, pengontrolan, penilaian,
pelaporan dan penindaklanjutan setiap rencana kegiatan bimbingan  dan 
konseling  terhadap  tujuan 
yang  ditetapkan.  Pengendalian 
atau evaluasi  program  bimbingan 
dan  konseling  digunakan 
untuk:  (a)  menciptakan koordinasi dan komunikasi dengan
seluruh petugas bimbingan dan  konseling,
(b) mendorong petugas bimbingan dan konseling untuk melaksanakan tugasnya, dan
(c) memperlancar  dan  mengefektivitaskan  pelaksanaan 
program  yang  telah direncanakan.
Maka dapat diambil kesimpulan bahwa kegiatan dalam evaluasi meliputi
pencatatan hasil kerja dan kinerja organisasi, menetapkan standar kinerja,
mengukur dan menilai hasil keja dan kinerja organisasi, dan mengambil tindakan
perbaikan dan pengembangan.
E.  Aspek-aspek
dalam manajemen
Bimbingan dan Konseling
1.   
Perencanaan Program
Bimbingan dan Konseling
Bimbingan dan konseling
dapat dikatakan sebagai “soko guru” yang ketiga dalam sistem pendidikan
di sekolah selain pembelajaran (instruksional) dan administrasi sekolah. Sebagi
sub-sistem pendidikan di sekolah, bimbingan dan konseling dalam gerak dan
pelaksanaannya tidak pernah lepas dari perencanaan yang seksama dan bersistem.
Hal ini bertujuan agar pencapai hasil dalam konteks kontribusinya bagi
pencapaian tujuan pendidikan di sekolah dapat terlihat
.
Untuk tercapainya
program perencanaan BK yang efektif dan efisien, maka ada beberapa hal yang
harus dilakukan yaitu: analisis kebutuhan siswa, penentuan tujuan BK, analisis
situasi sekolah, penentuan jenis kegiatan yang akan dilaksanakan, penetapan
metode pelaksanaan kegiatan, penetapan personel kegiatan, persiapan fasilitas
dan biaya kegiatan, dan perkiraan tentang hambatan kegiatan dan antisipasinya.
Pengertian program
menurut T. Raka Joni (1981): “program adalah seperangkat kegiatan yang
dirancang dan dilakukan secara kait mengkait untuk mencapai tujuan tertentu”.
Dari definisi tersebutdapat diuraikan bahwa suatu program mengandung
unsur-unsur:
a.    Adanya seperangkat
kegiatan, artinya kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan merupakan suatu
kegiatan yang utuh.
b.    Dirancang, artinya
hal-hal yang akan dilakukan dirancang sedemikian rupa agar tidak terjadi
pelapisan atau akumulasi kegiatan, apalagi berbagai benturan akibat kegiatan
yang dilakukan berulang-ulang yang pada gilirannya berdampak pada penurunan
efektivitas dan efesiansi.
c.    Dilakukan secara
kait-mengkait, yaitu bahwa dalam melakukan kegiatan yang sudah dirancang
kegiatan itu tidak berdiri sendirimelinkan ada keterkaitan antar satu dengan
yang lain. Kegiatan itu tidak hanya terjadi antar kegiatan saja tetapi juga
pada tahap kesinambungan kegiatan satu dengan tahap kegiatan selanjutnya.
d.   Adanya tujuan tertentu,
yaitu sebagai arah dan kendali agar semua aktivitas yang terangkum dalamprogram
selalu terfokus pada satu titik tujuan.
Dalam pelaksanaannya,
pelayanan bimbingan dan konseling melibatkan seluruh personil sekolah, maka
dari itu diperlukan program yang sistematis agar pelaksanaannya tidak tumpang
tindih dan benturan dengan kegiatan pada bidang-bidang lain. Adapun program
yang yang sistematis selalu mengacu pada prinsip-prinsip sebagi berikut :
1.    Program bimbingan dan
konseling dirancang untuk melayani kebutuhan siswa.
2.    Program bimbingan dan
konseling merupakan bagian terpadu dari keseluruhan program pendidikan di
sekolah.
3.    Tujuan program harus
dirumuskan secara jelas dan eksplisit (operasional) dan menunanng pencapaian
keseluruhan tujuan program bimbingan dan konseling.
4.    Pelaksanaan program
perlu melibatkan seluruh staf sekolah.
5.    Personil bimbingan dan
konseling perlu dididentifikasi dan tugas-tugas serta tanggung jawabnya harus
dirumuskan.
6.    Segala sumber daya perlu
ditemukan untuk mencapai tujuan program.
7.    Dua hal yang esensial
dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling adalah data pribadi
siswa untuk pemahaman diri dan bahan informasi untuk perencanaan pendidikan dan
pengambilan keputusan.
8.    Perlu penerapan
rancangan sistem dalam pengembangan program dan pemecahan masalah pengelolaan.
9.    Dukungan dan pelibatan
masyarakat sekitar harus diusahakan sejauh mungkin demi kelancaran
penyelenggaraan program dan tercapainya tujuan.
2.   
Pelaksanaan dan
Pengarahan Program Bimbingan dan Konseling
Setiap sekolah sebagai
satuan pendidikan perlu merancang program bimbingan dan konseling sebagai
bagian integral dari program sekolah secara keseluruhan. Program inilah yang
akan dijadikan acuan pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling di sekolah
tersebut. Terdapat dua jenis program yang perlu dirancang dan diprogramkan,
yakni:
1)   Program tahunan sebagai
program sekolah
Program tahunan ini dijabarkan menurut alokasi
waktu pada setiap semester, program bulanan, bahkan program mingguan. Oleh
karena itu, perlu dibuat dalam satu matriks atau schedule. Dalam program itu
dicantumkan substansi kegiatan, jenis layanan menurut alokasi waktu. Kegiatan
layanan bimbingan dan konseling sebagai program sekolah, antara lain:
a)    Pemberian layanan
informasi melalui ceramah yang mengundang nara sumber dari luar sekolah.
b)   Program pemberian
layanan orientasi bagi siswa baru pada awal tahun.
c)    Mengadakan tes bakat dan
minat untuk bahan pertimbangan penjurusan.
d)   Mengadakan kunjungan
ketempat industri yang bermanfat bagi bimbingan karir.
e)    Membentuk
kelompok-kelompok group counseling.
f)    Memberikan pelatihan
keterampilan belajar akademik
2)   Program kegiatan layanan
bagi setiap Guru Pembimbing sesuai dengan pembagian tugas layanan di sekolah
.
Setiap guru pembimbing perlu membuat program
berupa satuan layanan (satlan) badan satuan kegiatan pendukung (satkung) setiap
kali akan melakukan pelayanan kepada siswa berdasarkan jadwal yang telah
ditetapkan. Penyusunan program pada masing-masing bidang pelayanan bimbingan
dan konseling hendaknya disesuaikan dengan karakteristik satuan pendidikan atau
jenis dan jenjang sekolah.
Agar pelaksanaan program
kegiatan layanan bimbingan dan konseling sesuia dengan tujuan yang ingin
dicapai maka diperlukan pengarahan agar terjadi suatu tata kerja yang diwarnai
oleh koordinasi dan komonikasi yang efektif diantara staf
bimbingan dan konseling.
Pengarahan ini juga dilakukan untuk
memotivasi staf dalam melakukan tugas-tugasnya
sehingga memungkinkan kelancaran dan efektivitas pelaksanaan program yang telah
direncanakan.
3.   
Evaluasi pelaksanaan
program Bimbingan dan Konseling
Evaluasi pelaksanaan
program bimbingan dan konseling merupakan upaya menilai efisiensi dan
efektivitas pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah pada khususnya dan
program bimbingan dan konseling yang dikelola oleh staf bimbingan dan konseling
pada umunya. Dengan demikian evaluasi bimbingan dan konseling merupakan salah
satu komponen sistem bimbingan dan konseling yang sangat penting karena mengacu
pada hasil evaluasi itulah dapat diambil simpulan apakah kegiatan yang telah
direncanakan telah dapat mencapai sasaran yang diharapkan secara efektif dan
efisien atau tidak, kegiatan itu dilanjutkan atau sebaliknya direvisi dan
sebagainya.
a.   
Tujuan evaluasi pelaksanaan
program Bimbingan dan Konseling
Tujuan bimbingan dan konseling secara umum,
yaitu :
a)    Mengetahui kemajuan
program bimbingan dan konseling atau subyek yang telah memanfaatkan layanan
bimbingan dan konseling.
b)   Mengetahui tingkat
efisiensi dan efektivitas strategi pelaksanaan program dalam kurun waktu
tertentu.
Tujuan bimbingan dan konseling secara khusus,
antara lain :
a)    Meneliti secara berkala
hasil pelaksanaan program yang telah dicapai.
b)   Memperoleh informasi
tentang tingkat efektivitas dan efisiensi layanan bimbingan dan konseling yang
ada.
c)    Mengetahui jenis layanan
yang sudah ataupun belum dilaksanakaan dan jenis layanan yang memerlukan
perbaikan atau pengembangan.
d)   Mengetahui tingkat
partisipasi staf atau personil sekolah dalam menunjang keberhasilan pelakanaan
program.
e)    Mengetahui seberapa
besar kontribusi program bimbingan dan konseling terhadap ketercapaian tujuan
pembelajaran di sekolah.
f)     Memperoleh informasi yang cermat dan memadai
untuk kepentingan perencanaan langkah-langkah pengembangan program.
g)   Membantu mengembangkan
kurikulum sekolah yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik.
b.  
Prinsip-prinsip evaluasi
pelaksanaan program Bimbingan dan Konseling
Agar diperoleh hasil evaluasi pelaksanaan
program yang diharapkan, disamping menuntut pengelolaan yang baik, juga harus
mengacu kepada prinsip-prinsip evaluasi program. Prinsip-prinsip tersebut,
antara lain:
a)    Evaluasi program yang
efektif menuntut pengenalan yang cermat terhadap tujuan yang akan dicapai
b)   Evaluai program yang
efektif membutuhkan kriteria pengukuran yang jelas
c)    Evaluasi program
membutuhkan keterlibatan dari berbagai pihak yang memiliki kompetensi
professional
d)   Evaluasi program
menuntut umpan balik dan tindak lanjut sehingga hasilnya dapat dicapai untuk
dasar pengambilan keputusan dan pembuatan kebijakan
e)    Evaluasi program
hendaknya terencana dan berkesinambuangan
c.    Pendekatan dan metode evaluasi pelaksanaan program bimbingan dan
konselin
g
Shetzer dab Stone (1983) membagi pendekatan evaluasi pelaksanaan
program bimbingan dan konseling ke dalam tiga pendekatan pokok, yaitu:
1)  
Pendekatan dan Metode Survei
Prosedur yag dipakai dalam pendekatan dan metode
survei biasanya dengan mengumpulkan sebanyak mungkin data tentang masukan
(siswa), proses, dan hasil yang merupakan keluaran program. Temuan yang
diperoleh dirumuskan dalam profil yang bersifat deskriptif kuantitatif maupun
kualitatif.
2)  
Pendekatan dan Metode Eksperimen
Pendekatan ini merupakan perpaduan antara riset
dan evaluasi. Artinya kegiatannya melakukan evaluasi tetapi prosedurnya memakai
model riset eksperimental. Lazimya dipakai untuk mengetahui pengaruh layanan bimbingan
dan konseling terhadap perilaku siswa. Kebutuhan pendekatan dan metode ini
muncul ketika layanan bimbingan dan konseling di sekolah bertujuan untuk
terjadinya perubahan perilaku
.
3)  
Studi Kasus
Studi kasus digunakan untuk mengumpulkan data
mengenai keadaan seorang siswa yang dijadikan sebagai onyek telaah kasus. Salah
satu alasan pemakaian pendekatan ini adalah dalam layanan konseling diperlukan
telaah cermat atas proses dan hasil perubahan akibat perlakuan (treatment)
terhadap diri siswa yang bermasalah (klien).
Metode ini membutuhkan waktu dan tenaga yang
banyak karena bersifat longitudinal. Metode ini bermanfaat untuk mengetahui
perkembangan kepribadian klien sejak dari awal ketika ia bermasalah, selama
dibantu sampai akhirnya setelah dibantu dengan layanan konseling.
4.    Supervisi Kegiatan Bimbingan dan Konseling

Manfaat pokok dari
supervisi ini adlah untuk mengendalikan personil pelaksana bimbingan dan
konseling, memantau kemungkinan-kemungkinan kendala yang muncul dan dihadapi
personil dalam pelaksanaan tugasnya, mencari jalan keluar terhadap hambatan dan
permasalahan dalam pelaksanaan program agar tercapainya pelaksanaan yang lancar
kearah pencapaian tujuan bimbingan dan konseling di sekolah.

Sumber

Gibson,  Robert 
L  dan  Marianne 
H.  Mitchell.  2011.  Bimbingan 
dan  Konseling
.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Hikmat.
2011. Manajemen Pendidikan. Bandung:
Pustaka Setia
Mugiarso,  Heru 
dkk.  2010.  Bimbingan  dan 
Konseling
.  Semarang:  Universitas
Negeri
Semarang Press
Santoadi,  Fajar. 
2010.  Manajemen  Bimbingan  dan 
Konseling  Komprehensif
.
Yogyakarta: USD
Sugiyo,  2011.  Manajemen 
Bimbingan  dan  Konseling 
di  Sekolah
.  Semarang:
Widya Karya

http://amiee43.blogspot.com/2013/05/manajemen-bk.html diunduh tanggal 30 November 2014

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *