Perwujudan Budaya Indis dalam Arsitektur Kota Semarang

Perkembangan
Arsitektur Indis di Semarang
Percampuran
budaya Eropa (Belanda) dengan budaya lokal yang meliputi seluruh aspek tujuh
unsur universal budaya, menimbulkan budaya baru yang didukung oleh sekelompok
masyarakat penghuni kepulauan Indonesia yang disebut dengan budaya Indis.
Budaya Indis kemudian ikut mempengaruhi gaya 
hidup masyarakat di Hindia-Belanda. Gaya hidup Indis ikut mempengaruhi kehidupan
keluarga pribumi melalui jalur-jalur formal misalnya melalui media pendidikan,
hubungan pekerjaan, perdagangan dan lain sebagainya. Selain gaya hidup dengan
berbagai aspeknya, bangunan rumah tinggal mendapat perhatian dalam perkembangan
budaya Indis karena rumah tempat tinggal merupakan tempat untuk ajang kegiatan
sehari-hari.
Arsitektur
Indis merupakan hasil dari proses akulturasi yang panjang. Akulturasi
dirumuskan sebagai perubahan kultural yang terjadi melalui pertemuan yang terus
menerus dan intensif atau saling mempengaruhi antara dua kelompok  kebudayaan yang berbeda. Di dalam pertemuan
budaya terjadi tukar-menukar ciri kebudayaan yang merupakan pembauran dari
kedua kebudayaan tersebut atau dapat juga ciri kebudayaan dari kelompok yang
lain, dan dalam penggunaannya cenderung diartikan hanya terbatas pada pengaruh
satu kebudayaan atas kebudayaan yang lain (unilateral), misalnya dalam hal ini
pengaruh kebudayaan modern terhadap kebudayaan primitif.
Proses
akulturasi tersebut bisa muncul bila ada: (i) golongan-golongan manusia dengan
latar belakang kebudayaan yang berbeda-beda, (ii) saling bergaul langsung
secara intensif untuk jangka waktu yang relatif lama, sehingga (iii) kebudayaan-kebudayaan
dari golongan tersebut masing-masing berubah dan saling menyesuaikan diri
menjadi kebudayaan campuran. Proses yang timbul tersebut bisa terjadi jika
terpenuhinya suatu prasyarat yaitu bila terjadi saling penyesuaian diri
sehingga memungkinkan terjadi kontak dan komunikasi sebagai landasan untuk
dapat berinteraksi dan memahami diantara kedua etnis. Keadaan alam tropis pulau
Jawa menentukan dalam mewujudkan hasil karya budaya seperti bentuk arsitektur
rumah tinggal, cara berpakaian, gaya hidup dan sebagainya. Wujud dari isi
kebudayaan yang terjadi dalam proses akulturasi itu ada tiga macam, yaitu:
a.      
berupa sistem budaya (cultural
system) yang terjadi dari gagasan pikiran, konsep, nilai-nilai, norma,
pandangan, undang-undang, dan sebagainya, yang berbentuk abstrak yang dimiliki
oleh pemangku kebudayaan yang bersangkutan merupakan ide-ide (ideas). Cultural
System ini kiranya tepat disalin dalam bahasa Indonesia dengan “tata budaya
kelakuan”.
b.     
berbagai aktivitas (activities) para
pelaku seperti tingkah berpola
upacara-upacara yang wujudnya
kongkret dan dapat diamati yang disebut sosial sistem atau sistem
kemasyarakatan yang berwujud kelakuan.
c.      
berwujud benda (artifacts), yaitu
benda-benda, baik dari hasil karya
manusia
maupun hasil tingkah lakunya yang berupa benda yang disebut material culture
atau hasil karya kelakuan.
Dari
beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa jauh sebelum kedatangan
bangsa Belanda, di pulau Jawa telah ada pendatang yang berasal dari India,
Cina, Arab dan Portugis. Mula-mula orang-orang Belanda itu hanya datang untuk
berdagang tapi belakangan menjadi penguasa. Pada awalnya mereka membangun
gudang-gudang untuk menimbun rempah-rempah. Adanya modal yang sangat besar dan
kuat Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) mendirikan gudang penyimpanan dan
kantor dagang. Sekelilingnya diperkuat dengan benteng pertahanan sekaligus
digunakan sebagai tempat tinggal. Benteng semacam ini menjadi hunian pada
masa-masa awal orang Belanda di pulau Jawa. Segala kesibukan perdagangan dan kehidupan
sehari-hari berpusat di benteng. Gubernur Jenderal Valckenier (1737-1741)
adalah pejabat tertinggi terakhir yang tinggal dalam benteng. Setelah itu, para
gubernur jenderal penggantinya tinggal di luar benteng setelah keadaan di luar
kota aman, secara bertahap mereka berani bertempat tinggal dan membangun rumah
di luar tembok kota.
Para pejabat
tinggi VOC membangun rumah-rumah peristirahatan dan taman luas, yang lazim
disebut landhuis dengan patron Belanda dari abad XVIII.  Ciri-ciri awalnya masih dekat sekali dengan
bangunan yang ada di Belanda. Secara perlahan mereka membangun rumah bercorak
peralihan pada abad XVIII. Contoh peralihan menuju ke bentuk rumah gaya Indis
yang dibangun pada abad ke-18 antara lain rumah Japan, Citrap dan Pondok Gede.
Cirinya bilik-bilik berukuran luas dan banyak. Ini menunjukkan bangunan
landhuis dihuni oleh keluarga beranggota banyak yang terdiri atas keluarga inti
dengan puluhan bahkan ratusan budaknya. Gaya hidup semacam di landhuizen
seperti itu tidak dikenal di negeri Belanda.
Di Semarang
ciri-ciri bangunan  rumah bergaya Indis
salah satu contohnya adalah bekas bangunan rumah tempat tinggal Residen
Semarang yang sekarang dijadikan sebagai Rumah Dinas Gubernur Jawa Tengah.
Rumah ini memiliki bentuk bangunan yang besar dan luas. Kemewahannya terlihat
dari berbagai ragam hias yang terdapat di rumah ini. Hal ini bisa dipergunakan
sebagai tolak ukur derajat dan kekayaan pemiliknya. Gaya hidup yang cenderung
dijadikan sebuah lambang status sosial yang tinggi. Rumah ini dikenal
masyarakat Semarang dengan sebutan De Vredestein atau Istana Perdamaian. Pada
akhirnya lama-kelamaan kota-kota pionir dalam hal ini kota Semarang yang
terletak di hilir sungai dianggap kurang sehat karena dibangun di atas bekas
rawa-rawa. Mereka kemudian memindahkan tempat tinggalnya ke pemukiman baru di
daerah pedalaman Jawa yang dianggap lebih baik dan sehat. Di daerah ini mereka
mendirikan rumah tempat tinggal dan kelengkapannya yang disesuaikan dengan
kondisi alam dan kehidupan sekeliling dengan mengambil
unsur
budaya setempat.
Ciri-ciri
Belanda pada bangunan rumah Indis pada tingkat awal bisa dimengerti karena pada
awal kedatangan mereka membawa kebudayaan murni dari negeri Belanda. Akibatnya
lama-kelamaan budaya mereka bercampur dengan kebudayaan Jawa sehingga hal
tersebut ikut mempengaruhi gaya arsitektur rumah mereka. Selain itu, perubahan
pada bangunan mereka dikarenakan iklim dan cuaca yang berbeda antara di negeri
Belanda dengan di tanah Jawa sehingga bangunan mereka disesuaikan dengan iklim
dan lingkungan setempat. Rumah sebagai tempat tinggal merupakan salah satu
kebutuhan hidup yang utama bagi manusia di samping kebutuhan sandang dan
pangan. Oleh sebab itu, rumah dibutuhkan manusia bukan hanya sebagai tempat
tinggal namun juga sebagai tempat berlindung dari ancaman alam. Di dalam
menempati suatu bangunan rumah, pemiliknya berusaha untuk mendapatkan rasa
senang, aman dan nyaman. Untuk mendapatkan ketenteraman hati dalam menempati
bangunan rumah ini, orang berusaha untuk memberi keindahan pada bangunan tempat
tinggalnya maka dipakailah berbagai macam hiasan, baik hiasan yang konstruksional
atau yang tidak konstruksional.
Arsitektur
bukan hanya sebuah bangunan atau monumen yang tanpa jiwa. Arsitektur rumah
tinggal sebagai hasil budaya merupakan perpaduan karya seni dan pengetahuan
tentang bangunan sehingga arsitektur juga menjelaskan berbagai aspek keindahan
dan konstruksi bangunan. Seorang arsitektur dituntut bukan hanya membangun
sebuah bangunan semata tetapi juga harus memperhatikan aspek-aspek lainnya
sehingga memiliki jiwa dan karakter yang menjadi ciri khas dari sebuah
bangunan.
Gaya atau
style dapat dijadikan identifikasi dari gaya hidup, gaya seni budaya atau
perubahan suatu masyarakat. Suatu karya yang berupa sebuah bangunan atau barang
dapat dikatakan mempunyai gaya bila memiliki bentuk (vorm), hiasan (versening)
dan benda itu selaras (harmonis) sesuai dengan kegunaan dan bahan materiil yang
digunakan.
Sebuah karya
arsitektur merupakan sebuah karya seni yang rumit karena memadukan imajinasi
khusus yang digabungkan dengan teori-teori bangun ruang,  sehingga harus dipelajari dan disertai dengan
latihan-latihan, serta  percobaan – percobaan
berulang kali. Di dalam arsitektur bangunan ada tiga unsur yang harus diperhatikan
yaitu masalah kenyamanan (convinience), kekuatan atau kekukuhan  (strength), dan keindahan (beauty). Ketiga
faktor tersebut selalu hadir dan saling berkaitan erat dalam struktur bangunan
yang serasi. Seorang arsitek yang arif  tidak
akan mengabaikan ketiga faktor tersebut karena faktor ini merupakan dasar penciptaan
yang memberikan efek estetis.
Orang-orang
Belanda yang datang dan menetap di Indonesia telah mampu menjawab tantangan
dari alam lingkungan Jawa yang tropis. Di dalam proses membangun tempat
tinggalnya mereka mampu menyesuaikan diri dengan baik terhadap lingkungan alam
setempat. Selain struktur bangunan yang disesuaikan dengan fungsi dari
tiap-tiap bagian rumah mereka perhatikan dengan ketat. Gaya hidup sehari-hari
dari golongan Indis ini menjadikan perlu adanya penyesuaian pada bagian-bagian
rumah yang mereka tempati. kebiasaan sehari-hari dari masyarakat Indis ini
selalu menunjukkan kemewahan yang menjadi simbol prestise mereka. Aktifitas
yang tidak bisa dilewati dalam keseharian mereka seperti acara minum teh, tidak
bisa dilakukan di bagian dalam rumah, karena acara minum teh merupakan sebuah  cara untuk menjalin hubungan kekeluargaan,
maka diperlukan suatu tempat dengan suasana santai. Oleh sebab itu, dipilihlah
bagian beranda rumah. Selain tempat ini luas, penghuninya bisa menikmati hijau
tanaman yang dirawat dengan baik di halaman sekitar mereka sehingga menambah
kesejukkan alam sekitar tempat tinggal mereka.
Masyarakat
Indis sangat memuja gaya hidup mereka sehingga bangunannya sangat mewah dan
megah yang dihiasi dengan ornamen-ornamen yang sangat menawan. Ini dikarenakan
dalam membangun tempat tinggalnya  faktor
kenyamanan, kekuatan dan keindahan bangunan sangat mereka perhatikan.  Tidak mengherankan apabila sampai sekarang
karya-karya arsitektur Indis tetap kokoh berdiri walaupun telah melewati usia
lebih dari satu abad lamanya, dan yang lebih mengesankan adalah bangunan
tersebut tetap serasi bersanding dengan bangunan-bangunan modern yang berdiri
disekitarnya. Bangsa Belanda sebagai penguasa di tanah Jawa tetap terpengaruh
oleh seni dan budaya lokal khususnya dalam membangun rumah tinggal mereka.
Bangunan
bergaya Indis bukan hanya terdapat di pusat kota saja namun di kota-kota kecil
juga banyak berdiri rumah-rumah bergaya Indis. Misalnya rumah – rumah dinas
pejabat-pejabat tinggi Belanda. Di Semarang terlihat rumah pejabat yang
memiliki corak Indis dan sampai sekarang struktur bangunannya masih terawat
keasliannya. Tidak banyak dokumen-dokumen tertulis yang menuliskan tentang
sejarah bangunan tersebut, namun gambaran kemewahan gaya hidup mereka dapat
dilihat melalui bangunan-bangunan Indis yang masih berdiri sampai sekarang,
baik yang masih terawat maupun yang hanya tinggal puing-puing reruntuhannya
saja.
Bangunan
Indis walaupun tidak semuanya dibangun dengan mewah layaknya istana, namun
dapat diketahui dengan adanya campuran gaya Eropa klasik yang nampak melalui
tiang-tiang dan dinding-dinding berplester tebal yang  dipadukan dengan unsur tradisional yang dapat
ditelusuri lewat adanya beranda depan, samping, dan belakang, serta taman luas
yang melatarinya. Nuansa alam Jawa yang sejuk tergambar dengan berbagi tumbuhan
yang menambah kesejukan rumah mereka.
Pada awalnya
model rumah seperti ini dibangun oleh orang-orang Belanda di luar kota sebagai
tempat peristirahatan. Bangunan besar dan mewah tersebut menyerupai istana
dengan ruangan yang dingin karena atap dibangun sangat tinggi yang dilengkapi
dengan galeri dan teras marmer, namun secara bertahap bangunan-bangunan ini
terserap menjadi wilayah pinggiran kota akibat dari perluasan dan perkembangan
kota.
Gaya
arsitektur yang mengambil dan dipengaruhi corak landhuis tersebut oleh Akihary
disebut sebagai gaya arsitektur Indische Empire Style. Gaya Indische Empire
tidak saja diterapkan dalam rumah tempat tinggal saja, tetapi juga pada
bangunan umum yang lain seperti gedung-gedung pemerintahan, gedung societeit,
dan sebagainya. Pada akhirnya gaya arsitektur ini meluas bukan di kalangan
orang-orang Belanda, namun juga pada bangunan-bangunan rumah tinggal pribumi terutama
mereka yang secara ekonomi merupakan orang-orang borjuis khususnya para
saudagar.
Ciri khas
dari bangunan-bangunan Indis ini adalah adanya halaman yang luas dengan
bangunan besar yang memiliki tiang-tiang dan kolom-kolom besar di depannya. Hal
ini untuk memberikan kesan mewah, megah, dan wibawa dari golongan orang-orang
Eropa sebagai penguasa di tanah jajahannya, sehingga gaya bangunan seperti ini
jelas membutuhkan tanah yang cukup luas. Gaya bangunan seperti ini sebenarnya
mengambil gaya arsitektur Perancis yang dikenal dengan nama Empire Style. Di
Hindia-Belanda gaya tersebut diterjemahkan secara bebas sesuai keadaan
setempat. Dari hasil penyesuaian ini terbentuklah gaya yang bercitra kolonial
yang disesuaikan dengan lingkungan serta iklim dan tersedianya material. Akibat
dari perkembangan kota dan ledakan penduduk yang cukup pesat di Semarang pada
awal abad 20, arsitektur gaya Indische Empire ini terpaksa menyesuaikan diri.
Adanya halaman yang luas dan model bangunan yang besar dan megah tidak bisa
lagi dibangun karena tanahtanah perkotaan semakin sempit. Akibat dari semakin
sempitnya tanah-tanah perkotaan membuat arsitektur Indis harus menyesuaikan
diri termasuk juga detail – detail bangunannya.
Bangunan-bangunan
megah dan mewah yang mungkin dibangun pada masa tersebut hanyalah
bangunan-bangunan kantor dan fasilitas umum seperti stasiun kereta api.
Sementara untuk bangunan rumah tinggal dengan model landhuis tidak memungkinkan
lagi dibangun di Semarang, kalaupun ada rumah tersebut milik orang yang sangat
kaya.
Pendirian
sebuah bangunan dengan menggunakan model bangunan Belanda semula sangat terkait
oleh jiwa nasionalisme Belanda. Hal demikian dapat dimengerti karena mereka
membawa seni bangunan Belanda kemudian secara perlahan-lahan terpengaruh oleh
alam dan masyarakat lokal yang asing bagi mereka, sehingga dalam membangun
rumah tempat tinggal mereka, unsur – unsur budaya dan iklim alam setempat
selalu menjadi pengaruh yang kuat dalam corak bangunannya. Orang-orang Belanda
sangat menguasai dan mencintai karya – karya pertukangan hingga pada
detail-detailnya. Misalnya dalam hal ini dinding dan lantai terlihat pekerjaan
mereka sangat halus dan terlihat sangat teliti dalampengerjaannya. Tingginya
kemampuan dan pengetahuan mereka ini diakui oleh ahli bangunan modern sekarang
ini. Apabila ada kekurangannya atau kelemahannya hal ini adalah akibat
kecerobohan masyarakat atau orang yang memberi tugas padanya.Penguasaan
karya-karya seni seperti arsitektur oleh orang-orang Belanda sangat dipengaruhi
oleh jiwa dan semangat Renaissance yang melanda negara – negara Eropa sekitar
abad-15. Pada zaman ini orang-orang Eropa merasakan kegairahan menggabungkan
penemuan-penemuan zaman klasik dengan penemuan mereka sendiri. Penggabungan ini
menghasilkan penemuan yang mendorong kemajuan di bidang pengetahuan,
kesusastraan, dan khususnya arsitektur, seni pahat dan seni lukis yang sejak
saat itu hingga sekarang ini masih menjadi karya – karya monumental bahkan
sebuah keajaiban dunia.
Pada
rumah-rumah mewah hiasan-hiasan lukisan ikut menyemarakkan ruang sisi dalam
yang anggun dan kaya akan hiasan interiornya. Ruang-ruang dan kamar-kamar yang
berlangit-langit tinggi membuat rumah terasa sejuk. Hal ini menunjukkan
bagaimana orang-orang Belanda beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan cuaca
tropis yang panas dan lembab. Sebagai contoh adalah bangunan Zuztermaatschappijen
sekarang digunakan sebagai Kantor Perusahaan Umum Kereta Api.
Tembok-tembok
tebal yang terlihat kokoh ternyata memiliki fungsi sebagai isolator panas.
Tembok-tembok tersebut terbuat dari batu alam atau batu bata. Untuk menangkal
udara basah dan lembab dibuat lantai semacam ubin dan berbatur. Lantai ubin
biasanya digunakan pada bangunan gudang, sementara lantai-lantai rumah terbuat
dari marmer atau bahan lain yang mahal dengan corak yang indah. Hal ini menjadi
sebuah petunjuk betapa masyarakat Indis sangat memuja gaya hidup mewah. Gaya
hidup Indis merupakan suatu proses perkembangan sosial yang muncul dan tumbuh
dari segolongan lapisan masyarakat di Hindia-Belanda. Golongan bangsawan dan
para terpelajar (kaum intelektual) yang mendapat pendidikan gaya Barat dan para
pegawai Binenland Bestur (BB) dari berbagai tingkatan yang disebut priyayi
adalah sebagian kelompok pendukung kebudayaan Indis yang masih ditambah dengan
golongan pengusaha pribumi.
Sebagai
suatu hasil perkembangan budaya campuran, budaya Indis menunjukkan suatu proses
fenomena historis yang timbul dan berkembang sebagai jawaban terhadap
kondisi-kondisi historis, politik, ekonomi, sosial dan seni budaya. Pada masa
awal, penekanan terjadi unsur-unsur yang bersifat subyektif, baru kemudian
gerakan tersebut berkembang sebagai gerakan sosial segolongan masyarakat
kolonial untuk menciptakan kelas sosial tersendiri yang didukung oleh pejabat
pemerintah kolonial khususnya oleh para priyayi baru dan golongan Indo-Eropa.
Rumah Indis
bila ditelusuri lebih dalam bukan hanya kemewahan saja yang terlihat, namun
banyak sekali unsur budaya yang meliputinya. Percampuran gaya Eropa dengan gaya
rumah tradisional membuat bangunan Indis memiliki gaya tersendiri yang berbeda
dengan gaya arsitektur lain.
Gaya dan Struktur Bangunan Indis di Semarang
Adanya bangunan gaya Indis yang menjadi saksi
bisu
dari berbagai kejadian  pada
masa itu, baik peristiwa yang terjadi di dalamnya maupun peristiwa yang terjadi
di sekitar bangunan itu sendiri. Oleh karena itu, bangunan selain mempunyai
nilai arsitektural (ruang, konstruksi, teknologi dan lain sebagainya) juga
mempunyai nilai sejarah. Berdirinya suatu bangunan yang sudah sangat lama berdiri
semakin membuktikan tingginya nilai sejarah dan budaya.
Arsitektur kolonial di Indonesia adalah fenomena budaya yang unik, tidak ada
di tempat lain dan juga pada negara-negara bekas koloni. Di katakan demikian karena
terjadi percampuran budaya antara penjajah dengan budaya Indonesia yang beranekaragam.
Oleh karena itu, arsitektur kolonial di berbagai tempat di Indonesia, di satu
tempat yang lainnya apabila diteliti lebih jauh mempunyai perbedaan-perbedaan
dan ciri tersendiri. Pada masa penjajahan Belanda, Indonesia mengalami banyak
sekali pengaruh Occidental (Barat) dalam segi kehidupan termasuk kebudayaan.
Hal tersebut antara lain dapat dilihat dalam bentuk tata ruang kota dan
bangunan, namun tidak dapat dipungkiri bahwa para pengelola kota dan para
arsitek Belanda tidak sedikit menerapkan konsep lokal atau tradisional di dalam
merencanakan dan mengatur perkembangan kota, pemukiman, dan bangunan.
Perpaduan antara bentuk bangunan Belanda dan rumah tradisional oleh Barlage
disebut dengan istilah Indo-Eropeesche Bowkuntst, Van de Wall menyebutnya
dengan istilah Indische Huizen, dan Parmono Atmadi menyebutnya dengan istilah
Arsitektur Indis. Sejarah seni yang mengkhususkan perhatian pada perkembangan
gaya bangunan dengan mendasarkan ciri-ciri khusus suatu waktu menyebut gaya
bangunan tersebut dengan istilah bergaya Indis atau Indische Stijl. Pengaruh
asing pada berbagai rumah tinggal di daerah yang berlainan tidak akan sama karena
adanya perbedaan kebutuhan dan status sosial penghuni, daerah dan lingkungan
khususnya pada masa pengaruh kolonial Barat.
Gaya atau style adalah bentuk yang tetap atau konstan yang dimiliki oleh   seseorang atau kelompok baik dalam
unsur-unsur kualitas maupun ekspresinya. 
Gaya dapat diterapkan sebagai ciri pada semua kegiatan seseorang atau masyarakat
misalnya gaya hidup, seni, budaya atau peradabannya (life style: style of
civilazation) pada waktu atau kurun waktu tertentu. Kata bergaya memiliki arti
sebagai sesuatu yang mempunyai bentuk khusus. Bangunan-bangunan bergaya Indis
memiliki corak dan bentuk khusus yang tidak akan ditemui di negeri asal dari
orang-orang Belanda. Melalui proses memadukan gaya bangunan tradisional dengan
gaya bangunan Eropa membuat bangunan-bangunan Indis memiliki gaya tersendiri,
yaitu gaya Indis. Keindahan, kegunaan dan kesesuaian akan warna dan bahan yang
selaras dengan bentuk dan hiasan dari bangunan tersebut serta dengan
digabungkan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan alam lingkungan setempat
menunjukkan bahwa orang – orang Belanda memahami betul bahwa arsitektur
merupakan sebuah karya yang monumental.
Keberadaan arsitektur bangunan pada dasarnya mempunyai dasar atau ciri bangunan
arsitektur yang begitu unik, karena dalam hal ini dilihat dari periode pembangunannya,
bangunan-bangunan di kota-kota Semarang pada dasarnya berada dalam tiga fase
periodisasi perkembangan arsitektur Kolonial Belanda, yaitu; Pertama, periode
perkembangan arsitektur kolonial abad 19, waktu pemerintah Belanda mengambil
alih Hindia Belanda dari perusahaan dagang VOC. Setelah pemerintahan Inggris
yang singkat pada tahun 1811-1815, Hindia Belanda kemudian sepenuhnya dikuasai
oleh Belanda, kerajaan Hindia Belanda yang pada waktu itu diperintah dengan
tujuan untuk memperkuat kedudukan ekonomi negeri Belanda. Oleh sebab itu,
Belanda pada abad ke-19 harus memperkuat statusnya sebagai kaum kolonialis
dengan membangun sarana dan prasarana berupa gedung-gedung yang berkesan
grandeur (megah). Bangunan gedung dengan gaya megah ini dipinjamnya dari gaya
arsitektur Neo-Klasik yang sebenarnya berlainan dengan gaya arsitektur nasional
Belanda pada waktu itu.  Antara tahun
1870 sampai dengan tahun 1900-an, pengaruh arsitektur di Hindia Belnda boleh
dikatakan tidak bergema sama sekali di Hindia Belanda. Hal tersebut disebabkan
karena terisolasinya Hindia Belanda pada saat itu. Gaya The Empire Style ini tidak dikenal di Belanda sendiri dan asing
bagi penduduk setempat. Hal ini bisa dimaklumi karena sebelum tahun 1900, di
Nusantara memang belum ada arsitek yang berpendidikan akademis yang membuka
praktek.
Akibat kehidupan di Semarang yang berbeda dengan cara hidup masyarakat Belanda
di negeri Belanda, maka di Hindia Belanda kemudian terbentuk gaya arsitektur
tersendiri. Bentuk-bentuk arsitektur di Semarang sebelum tahun 1870 terkenal dengan
sebutan gaya The Empire Style. Gaya ini dipopulerkan oleh Deandeles yang
disebut dengan arsitektur The Empire Style adalah gaya Neo-Klasik yang sedang
melanda Perancis pada waktu itu, untuk memberi kesan megah pada bangunan
pemerintah di Hindia Belanda. Arsitektur bangunan “Indische Empire Style”,
dengan ciri-ciri antara lain denah simetris dengan satu lantai atas dan ditutup
dengan atap perisai. Sedang karakteristiknya adalah sebagai berikut yaitu terbuka,
pilar di serambi depan dan belakang, di dalam rumahnya terdapat serambi tengah
yang menuju ke ruang tidur dam kamar-kamar lainnya. Pilarnya menjulang ke atas
(bergaya Yunani) dan terdapat gevel dan mahkota di atas serambi depan dan
belakang
Gaya ini akhirnya banyak dipakai tidak saja pada gedung-gedung resmi pemerintah,
tapi juga dipakai pada rumah-rumah tinggal biasa. Bangunanbangunan  arsitektur Indis yang telah berdiri di
Semarang pada periode perkembangan arsitektur gaya The Empire Style antara lain
adalah Rumah Dinas Guberbur Jawa Tengah, Kantor Pos Besar, Gereja Blenduk,
Gedung Marba, Gedung Bank Indonesia, Masjid Besar Kauman, Mercusuar, SMA Negeri
1 dan 3 Semarang serta STM Negeri 1 Semarang.
Kedua, periode perkembangan arsitektur kolonial awal abad 20, yaitu tahun
1900-1920-an. Antara tahun 1900 kaum liberal di negeri Belanda  mendesakkan apa yang dinamakan Politik Etis
untuk diterapkan di tanah jajahan. Sejak saat itu arsitektur bangunan yang ada
dan berkembang tumbuh dengan pesat, dan dengan adanya suasana tersebut maka,
Indische Architectuur menjaditerdesak dan hilang, sebagai gantinya muncul
standart arsitektur yang berorientasi ke Belanda. Setelah tahun 1900-an mulai
banyak arsitek yang berpendidikan  akademis
yang berpraktek di Semarang. Mereka ini mengecam habis-habisan gaya arsitektur
yang dinamakan The Empire Style tersebut. Mereka datang dengan gaya arsitektur
akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 yang sedang berkembang di Eropa. Gaya
tersebut dicoba untuk disesuaikan dengan iklim di Semarang. Hasilnya merupakan
gaya arsitektur yang khas. Bentuknya didominir oleh gavel – gevel pada tampak
depannya, tower pada pintu masuknya serta detail-detail interior yang teliti
warisan gaya Art and Craft yang dianut oleh banyak pengikut PJH. Cuypers di
Belanda. Di samping itu, untuk penyesuaian ilkim mereka juga membuat galeri
keliling bangunan untuk menghindari sinar matahari langsung serta tampias air
hujan. Orientasi bangunan sedapat mungkin menghindari arah Timur-Barat, bentuk-bentuk
yang ramping dan ventilasi (pembukaan) yang lebar supaya terjadi cross
ventilasi sebanyak mungkin dalam bangunan.
Pada 20 tahun pertama inilah terlihat gaya arsitektur modern yang berorientasi
ke negeri Belanda tidak terkecuali dengan arsitektur bangunan di kota Semarang.
Perubahan gaya arsitektur “Indische Empire Style”, pada akhir abad ke-19 dan
awal abad ke-20 didorong oleh semakin sempitnya lahan yang tersedia untuk
pembangunan di pusat kota Semarang sehingga gaya arsitektur bangunan landhuis tidak
mungkin dipertahankan lagi. Selain itu disebabkan oleh adanya bahan bangunan
yang baru yaitu bahan besi cor sebagai ganti kolom batu yang bentuknya lebih
bongsor dan atap seng, yang lebih ringan juga sudut kemiringan pemasangannya
bisa lebih landai. Akibatnya muncullah bentuk-bentuk bangunan gedung baru yang
bermotif keriting serta pergantian kolom-kolom dan konsel besi yang lebih
lansing. Gaya seperti ini mengalami masa kejayaan sampai sesudah Perang Dunia
I, yaitu tahun 1915-an. Bangunan-bangunan arsitektur Indis yang telah berdiri
di Semarang pada tahun ini antara lain adalah Kompleks Susteran, Gedung
Marabunta, Reservoir Siranda dan Stasiun Tawang.
Ketiga, periode
perkembangan arsitektur kolonial tahun 1920-1940. Pada sekitar tahun ini mulai
muncul gerakan pembaharuan dalam segi arsitektur baik nasional maupun
internasional di Belanda yang kemudian mempengaruhi arsitektur bangunan
kolonial Belanda di Indonesia, hanya saja arsitektur baru itu kadang diikuti
secara langsung, tetapi kadang juga memunculkan gaya yang disebut sebagai eklektisisme
(gaya campuran)
26. Pada masa tersebut
muncullah beberapa arsitek Belanda yang memandang perlu untuk memberi ciri khas
pada arsitektur Hindia Belanda. Mereka ini menggunakan kebudayaan arsitektur
bangunan tradisional sebagai suatu sumber pengembangannya. Sesudah tahun
1920-an, terdapat dua aliran baru di dalam perkembangan arsitektur di Hindia
Belanda. Pertama, mencoba untuk mencari identitas arsitektur Indisch
27
dengan
mengambil dasar arsitektur tradisional setempat sebagai sumbernya, dipelopori
oleh H. Maclaine Pont, Thomas Karsten dan sebagainya. Kedua, adalah
arsitek yang mengambil bentuk-bentuk modern yang disesuaikan dengan teknologi,
bahan dan iklim setempat. Aliran ini mengacu pada perkembangan arsitektur modern
dengan berbagai gaya yang sedang berkembang subur di Eropa dan Amerika.
Semarang sebagai satu kota dagang terbesar di Hindia
Belanda pada waktu itu rupanya lebih condong kepada aliran yang pertama. Hal
ini tidak lepas dari arsitek-arsitek utama Semarang seperti H. Maclaine Pont
dan Thomas Karsten yang lebih memilih gaya arsitektur Indisch dengan
mengambil dasar arsitektur tradisional setempat sebagai sumbernya yang
disesuaikan dengan bahan, teknologi dan iklim setempat. Kejayaan arsitektur
kolonial di Semarang ini mulai menurun 
sesuai dengan krisis ekonomi yang melanda dunia, yang mulai dirasakan
setelah tahun 1930-an. Sebagai akibatnya intensitas pembangunan gedung sesudah
tahun 1930-an tidak sebanyak pada tahun 1920-1930. Gaya arsitektur modern yang
ditandai dengan volume bangunan yang berbentuk kubus, gavel horizontal, atap
datar serta didominasi oleh warna putih sebagai cirinya mendominasi kota
Semarang sampai tahun 1940. Bangunan-bangunan arsitektur Indis yang telah
berdiri di Semarang pada tahun ini antara lain adalah Bangunan Jiwa Sraya,
Djakarta Lioyd, Kantor GKBI, Gedung Papak, Mandala Bhakti, Pasar
Jatingaleh,  Pasar Johar, Rumah Dinas
Walikota, dan Rumah Sakit Elizabeth. Perkembangan arsitektur bangunan atau
gedung-gedung yang ada di Semarang pada kenyataanya merupakan suatu bangunan
yang mempunyai persamaan arsitektur dan bangunan ini dibangun dengan literatur
dan gaya bangunan yang bercorak Indische Empire Style.
Menentukan sebuah gaya sebuah bangunan tidaklah
mudah, dalam menentukan hal tersebut tidak bisa hanya berpatokan pada tahun
berdirinya bangunan lalu dimasukkan ke dalam kategori suatu gaya tertentu.
Bangunan bergaya Indis selain dilihat dari struktur bangunannya ada hal lain
yang perlu diperhatikan yaitu fungsi dari bangunan tersebut dan aktifitas serta
gaya hidup dari penghuninya. Hal ini perlu dilakukan agar tidak ada kebingungan
terutama bila melihat pada perkembangan bangunan karena pada paruh abad 20 banyak
bangunan yang didirikan. Secara umum gaya bangunan Indis bisa dilihat dari percampuran
dua unsur atau lebih pada suatu bangunan, namun yang paling pokok adalah unsur
Eropa yang terlihat dari struktur bangunannya yang simetris penuh dan tampak kekokohan
bangunan tersebut melalui pilar-pilarnya. Pilar-pilar rumah Indis pada umumnya
bergaya Doria, Ionia, ataupun Korinthia yang merupakan gaya pada arsitektur
klasik Eropa.28 Unsur Jawa banyak terlihat dari atap rumah dan juga dari
halaman luas yang menunjukkan kerindangan alam pedesaan Jawa.
Pada arsitektur tradisional Jawa, atap rumah
biasanya dijadikan sebuah identitas dari pemilik rumah tersebut. Secara
keseluruhan bentuk rumah  tradisional
Jawa terbagi dalam empat macam yaitu panggangpe, kampung,  limasan, dan joglo. Dari tiap-tiap macam
bentuk rumah tersebut masih terbagi dalam beberapa bentuk. Struktur bangunan
Indis yang simetris pada bagian dalam rumah tersebut terbagi ke dalam beberapa
ruang yang memiliki fungsi sendiri-sendiri. Pada rumah Indis pembagian ruang
didasarkan pada pembedaan umur, jenis kelamin, generasi, famili dan lain-lain. Hal
seperti ini tidak ditemukan pada struktur bangunan rumah tradisional Jawa. Di
rumah Indis fungsi dari tiap-tiap ruang diatur seketat mungkin agar privasi
dari tiap-tiap individu dalam rumah tersebut terjamin.
Ruang tengah yang berada di belakang ruang depan
disebut voorhuis. Pada dinding ruangan ini digantungkan lukisan-lukisan sebagai
hiasan, di samping piring-piring hias dan jambangan porselin. Pada dinding ini
juga tergantung perabotan lain berupa senjata atau alat-alat perang seperti
senapan, pedang, perisai, tombak dan sebagainya. Ada ruangan lain yang cukup
penting artinya dalam struktur bangunan Indis yaitu ruang zaal. Di ruangan ini
diletakkan kelengkapan rumah seperti meja makan dan kelengkapannya yaitu almari
tempat rempah-rempah (de spijkast) dan meja teh (thee tafel). Almari hias yang
penuh berisi piring dan cangkir yang terbuat dari porselin juga diletakkan di
dalam atau di atas almari. Pada masa kejayaan kompeni dan pemerintah
Hindia-Belanda, ruang zaal ini mendapatkan perhatian yang istimewa. Banyak
hiasan dan barang-barang mewah yang menunjukkan kedudukan dan kekayaan penghuni
rumah.
Ruang zaal menjadi istimewa karena diruangan inilah
perjamuan makan atau rapat-rapat penting dilaksanakan. Zaal berarti balai atau
kamar besar atau ruang besar untuk rapat. Oleh sebab itu, barang-barang yang
menunjukkan atau menjadi simbol dari kekayaan penghuninya ditempatkan diruangan
ini karena diruangan inilah para kolega atau relasi bisnis atau bahkan para
pejabat pemerintah berkumpul. Ciri yang menonjol dari rumah-ruamah Indis ialah
adanya telundak (semacam teras) yang lebar. Telundak yang luas itu bukan
sekedar sebagai bagian dari sebuah bangunan rumah saja tetapi mempunyi arti dan
Di tempat inilah jalinan kekeluargaan dibina. Tempat ini merupakan tempat yang
ideal antar keluarga dan tetangga.
Di dalam bangunan terdapat banyak ruang-ruang dan struktur bangunan dari
rumah Indis yang tersusun dari ruang-ruang yang sama, namun pembagian dari
fungsi tiap ruang tetap diperhatikan dan diatur dengan ketat. Bangunan Indis dapat
juga merupakan perkembangan dari rumah tradisional Hindu-Jawa yang diubah
dengan penggunaan tehnik yang lebih modern. Penggunaan material baru dari batu,
besi dan genteng atau seng. Tolak ukur dari ini tetap mengacu pada arsitektur
Eropa yang disesuaikan dengan kondisi tropis dan lingkungan budaya Jawa. Bentuk
rumah bergaya Indis ini sepintas seperti bangunan tradisional dengan atap joglo
atau limasan.
Pada rumah Indis yang mewah selain terdapat halaman yang luas juga terdapat
bangunan-bangunan samping yang dipergunakan sebagai gudang, tempat menyimpan
beras, kayu bakar, tandon air, minyak dan barang-barang kebutuhan hidup
lainnya. Bangunan-bangunan samping tersebut selain sebagai gudang biasanya juga
digunakan sebagai tempat tinggal para budak, oleh sebab itu bangunannya dibuat
bertingkat.
Sesungguhnya sampai akhir abad ke-19 boleh dikatakan bahwa tidak ada satupun
yang pantas disebut sebagai seorang arsitek. Dikatakan sebagai seorang arsitek
pada masa itu tidak lebih dari opster plus (pengawasan bangunan plus).Bisa
dipastikan bahwa bangunan dan corak yang dimiliki dari sebuah bangunan  pada masa tersebut berasal dari imajinasi
para pemilik rumah, sehingga tidak mengherankan bila ciri bangunan rumah
tinggal mereka sangat kental dengan ciri – 
ciri bangunan di Belanda. Meskipun di Hindia-Belanda belum ada arsitek
yang profesional namun mereka dapat menghasilkan sebuah karya arsitektur
monumental yang mampu menghiasi hampir semua kota-kota besar di daerah
jajahannya dan menjadikannya sebuah simbol kekuasaan pada era kolonialisme di
Indonesia. Sayangnnya arsitekarsitek Belanda yang datang kemudian di awal tahun
1900-an, memandang gaya arsitektur Indis sebagai karya ”de pracht producten van Indische hondehokken renaissance
(produk-produk indah dari bangunan Renaissance kandang anjing)
Tidak dapat dipungkiri bahwa arsitektur Indis adalah sebuah fenomena  historis yaitu sebagai hasil kreatifitas sekelompok
golongan masyarakat pada masa kolonial dalam menghadapi tantangan hidup dan
berbagai faktor yang menyertainya. Lambat laun gaya hidup Indis menampakkan
corak dan bentuknya yang sama sekali berbeda baik dari kebudayaan dan gaya
hidup tradisional Jawa  maupun dari gaya
hidup Belanda. Tepat kiranya bahwa hadirnya golongan masyarakat tertentu pasti
akan melahirkan pula seni dan budaya tertentu. Berdasarkan konsep tersebut maka
golongan Indis telah melahirkan pula kebudayaan Indis. Bangunan dan hiasan yang
sangat berharga dipergunakan sebagai petunjuk kebudayaan sang pemilik rumah
dalam susunan masyarakat kolonial. Selain itu, penting bagi mereka menunjukkan
karya-karya seni yang bercita rasa tinggi karena hal tersebut dijadikan sebagai
petunjuk betapa tingginya perhatian akan seni dari pemilik rumah.
Hiasan Pada Bangunan Indis di Semarang
Keindahan ornamen pada bangunan selain mempercantik bangunan juga diharapkan
akan dapat memberi kedamaian, ketenteraman dan kesejukan bagi mereka yang
menempatinya. Bagi kalangan orang kaya pada lingkungan Indis ornamen-ornamen
yang terdapat di rumah tersebut juga sebagai sebuah simbol. Adanya simbolik
pada bangunan rumah tinggal mereka, gambaran-gambaran simbolik tersebut
dilakukan hanyalah sebagai usaha untuk meneruskan tradisi – tradisi dari
pendahulu mereka tanpa memahami arti dari simbol-simbol tersebut. Hiasan atau
ornament – ornament tersebut adalah Tiang Penyangga ,Hiasan Atap atau Kemuncak,
Penunjuk Arah Angin (Windwijzer), 
Makelaar,dan Hiasan dari Kaca.



PERKEMBANGAN
ARSITEKTUR KOTA SEMARANG


1900 – 1950
Perkembangan Bangunan Indis Di Semarang
Bangunan Soos (Societeit/Sosial)
            Perkembangan politik di
Hindia-Belanda telah mendorong perubahan – perubahan dalam berbagai segi
kehidupan masyarakat. Adanya Politik Etis telah membuat golongan sosial baru
pada masyarakat lebih dihargai. Pada bab-bab sebelumnya telah dibahas bagaimana
pendidikan telah memberikan pengaruh yang cukup luas terutama pada gaya hidup
masyarakat pribumi. Pendidikan tersebut menunjukkan sebuah kemajuan dalam
hal-hal baru yang barcirikas Barat yang pada akhirnya dijadikan sebuah tolak
ukur kemodernan seseorang. Kebiasaan-kebiasaan dan cara hidup orang-orang
Belanda banyak yang ditiru. Percakapan-percakapan dengan memasukan kata-kata
Belanda dalam bahasa daerah banyak dijumpai dalam kehidupan masyarakat.
Percampuran ini merupakan sebuah indikasi bahwa pada kurun waktu 1900-an budaya
Indis menyebar hampir pada semua sendi kehidupan masyarakat Semarang. Munculnya
organisasi modern, para priyayi yang tergabung dalam organisasi-organisasi tersebut
sering berkumpul di satu tempat pertemuan. Tempat pertemuan tersebut terkenal
dengan nama soos. Kata soos ini diambil dari kata Belanda Sosieteit, yaitu
tempat pertemuan bangsa Belanda yang eksekutif. Di samping untuk keperluan
rapat, soos juga menjadi tempat pertemuan publik yang dapat digunakan untuk
berbagai keperluan seperti kegiatan rekreasi, pementasan sandiwara, pesta
sekolah, pertandingan permainan dan lain sebagainya.
Pada awalnya kegiatan berkumpul di soos merupakan kebiasaan bagi orang-orang
Belanda. Mereka berkumpul di gedung yang cukup luas untuk melakukan berbagai
kegiatan yang kebanyakan merupakan pesta-pesta di akhir pekan. Societeit besar
artinya bagi orang-orang Belanda karena dari perkumpulan inilah jalinan atau
interaksi antar sesama orang Belanda terjalin. Selain itu perkumpulan seperti
ini dijadikan sebuah simbol yang membedakan antara bangsa Belanda dengan
bangsa-bangsa lainnya ditanah jajahannya. Kebiasaan dan gaya hidup Eropa
dicerminkan dengan adanya pesta-pesta dansa dan perjamuan makan yang mewah.
Di Semarang ada sebuah societeit yang bernama Societeit De Harmonie, merupakan
sebuah perkumpulan kesenian. Meluasnya pendidikan Barat yang mempunyai daya
tarik yang kuat bagi golongan priyayi telah membuat sebuah kecenderungan untuk
menyesuaikan diri dengan kebiasaan-kebiasaan Barat. Akibatnya secara luas akan
dapat terasa dalam formasi gaya hidup mereka. Para priyayi ini cenderung
mengikuti cara gaya hidup Belanda untuk menunjukkan bahwa mereka dapat
mengikuti perkembangan zaman dan menunjukkan bahwa mereka ini lebih maju dan
lebih modern bila dibandingkan dengan para orang tua mereka. Ini dijadikan
sebuah pembeda antara golongan tua dengan golongan muda.
Pada masyrakat tradisional yang statis, usia yang sudah tua berarti akumulasi
dari pengalaman dan kebijakan. Sehingga generasi muda yang kurang pengalaman
perlu untuk mengikuti jejak langkah mereka. Pada lingkungan ini kedudukan
generasi tua senantiasa terhormat, dipatuhi dan dianut. Di mulainya abad 20,
sebuah semangat modernitas seperti yang ditujukan oleh orang-orang Belanda
dipahami sebagai peradaban Barat yang telah mengikis sikap penghormatan
terhadap orang tua. Mereka menyebut dirinya kaum muda, yang lebih modern dan
lebih maju daripada orang tua mereka dan orang-orang yang tidak berpendidikan
Barat, namun semua itu tidak berarti mereka kehilangan identitasnya sebagai
orang Jawa. Hal terpenting pada masa ini adalah hal-hal tradisional telah
kehilangan maknanya yang utuh dan mereka dipaparkan berdampingan dengan hal-hal
yang modern.
Pada awal abad ke-20, ternyata hal-hal yang berciri khas Barat sudah semakin
dalam memasuki kehidupan masyarakat Semarang. Pada masa ini mereka lebih sering
mengunjungi bioskop, makan di restauran dan mengadakan pesta layaknya
orang-orang Belanda. Hal ini berakibat, bangunan soos menjadi penting bagi
proses perkembangan budaya Indis pada awal abad 20, karena di tempat inilah
semua aktivitas budaya Belanda bersumber dan kemudian terjadi kontak antara
orang pribumi dengan orang Belanda yang membawa kebudayaan masing-masing.
Keadaan yang seperti ini tidak hanya terjadi di kota-kota besar saja, namun di
kota-kota kecil keadaan ini lebih terasa lagi. Ini dikarenakan di kota-kota
kecil bangunan-bangunan soos tidak terlalu banyak, sehingga orang Belanda harus
berbagi tempat dengan orang-orang elit pribumi, maka interaksi antara keduanya
tidak bisa dicegah lagi. Adanya bangunan soos merupakan pencerminan akan
kebutuhan ruang bagi kegiatan yang dilakukan oleh para pendukung kebudayaan
Indis.
Kebiasaan melakukan pesta bagi golongan pendukung kebudayaan Indis tidak
mungkin dilakukan di rumah dengan struktur bangunan tradisional atau di rumah
Indis yang sudah kian menyempit ruangnya. Bagi orang-orang Jawa mengadakan
pesta seperti layaknya orang-orang Belanda tidak dikenal dalam kebudayaan
mereka, sehingga struktur bangunan rumah tinggal mereka tidak mengadaptasikan kegiatan
tersebut, sehingga bangunan soos merupakan cara pemecahan yang rasional dan
terbaik yang dipilih agar aktivitas yang melibatkan banyak orang dan membutuhkan
tempat yang luas tersebut dapat dilaksanakan. Secara fisik pengaruh budaya
Eropa pada bangunan soos dapat ditelusuri dari adanya jendela – jendela yang
berukuran besar. Kesan Indis tidak saja terlihat dari fisik  bangunannya saja, namun lebih dari itu
tersirat dari berbagi macam kegiatan dan 
aktivitas dari pengguna bangunan tersebut.
Bangunan soos selain menjadi tempat interaksi sosial juga merupakan perwujudan
akan kebutuhan tempat untuk mendukung gaya hidup mereka. Pesta – pesta dansa
serta perjamuan makan yang dulu sering dilakukan di rumah tinggal Indis yang
luas dan megah sudah jarang dilakukan, karena terbatasnya ruang yang ada, namun
karena para pendukung kebudayaan Indis ini menganggap perlunya menggunakan
budaya Barat demi karier, jabatan, dan prestise dalam kehidupan masyarakat
kolonial, maka mereka menganggap perlunya budaya masa lampau yang
dibanggakan.58 Oleh karena keinginan mereka untuk tetap menjaga budaya masa
lalu tersebut, maka diwujudkan dalam bentuk sebuah bangunan yang mampu
menampung berbagai adat kebiasaan masyarakat Indis masa lalu. Bangunan soos
merupakan representasi dari tujuh unsur universal kebudayaan.
Arsitektur Bangunan Indis Di Semarang
a. Pasar
Johar
Pasar Johar merupakan bangunan dua lantai hanya pada bagian tepi sedangkan
bagian tengah berupa void. Ciri khusus yang nampak pada bangunan Pasar Johar
ini adalah pada struktur atap berbentuk cendawan dan seluruh bangunan pasar
tertutup dengan atap datar dari pelat beton dengan sistem cendawan pada
kolom-kolom. Kolom memiliki modul dengan penampang berupa persegi delapan.
Kolom seperti ini dinamakan kontruksi jamur (mushroom), dan pada bagian
tertentu dari atap diadakan peninggian dan pelubangan untuk masuknya sinar
matahari secara tidak langsung dan sirkulasi udara. Bangunan ini memenuhi tapak
yang tersedia sehingga tidak terdapat halaman ataupun ruang terbuka. Hal ini
sesuai dengan prinsip Thomas Karsten yaitu efisiensi ruang.
Pada tahun 1933 dibuatlah usulan rancangan pertama oleh Ir. Thomas Karsten,
yang bentuk dasarnya menyerupai Pasar Jatingaleh dengan ukuran lebih besar.
Pada tahap ini terdapat susunan atap datar beton dengan bagian tertinggi berada
di pusat. Rancangan tersebut diubah pada tiga tahun berikutnya dengan tujuan
untuk mengadakan efisiensi, karena belum memenuhi keinginan, maka rencangan ini
diubah kembali dengan gagasan konstruksi cendawan kembali dimunculkan. Rencana
yang terakhir inilah yang jadi dibangun.
PASAR JOHAR 

 


Sumber  :  Arsip Pusat Jawa Tengah

b. Gereja Blenduk “GPIB Immanuel”
            Gereja
Blenduk merupakan simbol dari Kota Lama Semarang dan merupakan gereja tertua di
Jawa Tengah dan salah satu yang tertua di Pulau Jawa. Berbeda dari bangunan
lain di Kota Lama yang pada umumnya memagari jalan dan tidak menonjolkan
bentuk, gedung bergaya Neo-Klasik ini justru tampil kontras. Gereja Blenduk
merupakan bangunan yang memiliki gaya arsitektur Phantheon. Didirikan pada
tahun 1753 sebagai gereja pertama di Semarang dan telah mengalami beberapa kali
pemugaran. Perancang awalnya tidak diketahui,namun Gereja Blenduk ini
diperbarui oleh arsitek W. Westmaas dan H.P.A. de Wilde pada 1894-1895.
Keterangan mengenai Wilde dan Wetmaas tertulis pada kolom di belakang mimbar.
Gereja ini dinamakan Gereja Blenduk karena bentuk kubahnya yang seperti irisan
bola, sehingga orang mengatakan “blenduk”.
            Dari
segi arsitektur, Gereja Blenduk dibangun dua setengah abad yang lalu, desainnya
bergaya Pseudo Barouque, gaya arsitektur Eropa dari abad 17-19 Masehi. Bangunan
Gereja Blenduk memiliki denah octagonal (segi delapanm baraturan dengan ruang
induk terletak di pusat, sehingga dapat dikatakan bangunan memusat dengan model
atap berbentuk kubah atau blenduk. Bangunan Gereja terdiri dari bangunan induk
dari empat sayap bangunan. Ruang gereja terdiri dari ruang jemaat sebagai
ruangan utama dan ruang konsistori. Atap bangunan yang berbentuk kubah ini
serupa dengan kubah bangunan di Eropa pada abad ke 17-18 Masehi, mempunyai
desain unik seperti kubah St. Peter’s di Roma oleh seniman Michelangelo
(1585-1590 AD) dan kubah St. Paul’s karya Sir Christopher Wren (1675-1710 AD).
Bentuk kubah seperti bentuk cembung ke bawah sehingga menjadi populer dengan
sebutan ”Blenduk”.
Beberapa bangunan yang mempunyai
arsitektur khas dan hanya terdapat satu karena dibuat secara spesifik khusus
pada masanya, sehingga dapat dikatakan sebagai ”prasasti” antara lain:
1.     
Tangga melingkar, sebuah tangga yang
digunakan untuk menuju bagian tempat alat-alat musik. Tangga terbuat dari besi
tempa berukir, pada anak tangga terdapat tulisan dalam bahasa Belanda yang
berbunyi ”Plettriji Den Haag”. Kemungkinan besar adalah label merk dari
perusahaan pembuatnya, namun dalam label tersebut tidak tercantum tahun
pembuatannya.
2.     
Mimbar Gereja Blenduk memiliki
keistimewaan konstruksi yang langka,
mimbar ini
berposisi mengambang dari lantai, sebuah tiang penyangga
berbentuk segi delapan beraturan (octagonal) berfungsi sebagai penyangga tunggal mimbar tersebut.
3.     
Sebuah orgel Jerman terpajang
disalah satu dinding, alat musik dengan bentuk
yang sangat indah, asal suara berasal dari resonansi pipa-pipa oleh pompa udara yang dibuat oleh P. Farwangler dan Hummer, namun sudah tidak bisa difungsikan dan berbunyi terakhir kali pada 1970-an. Merupakan orgel yang sangat unik dan antik keberadaannya hanya dua di Indonesia, salah satunya
di
gereja GPIB ”Immanuel” Gambir
Jakarta.
4.     
Lonceng gereja sebanyak tiga buah
yang memiliki tiga ukiran berbeda (dua
diantaranya
hilang), pada tubuh lonceng terdapat logo perusahaan bertuliskan
J.W. Stiegler-Semarang Anno 1703.
5.     
Interior, berupa mebel asli yang
hingga kini masih dipertahankan bentuk da
n kondisi
fisiknya. Sentuhan elemen Jawa dan asing yang mengisi interior
gereja. Pintu-pintu masuknya bergaya klasik dan kubahnya yang besar terbuat dari tembaga. Seperangkat karya peninggalan masa lampau yang sangat indah, anatara lain lampu gantung kristal pada langit-langit kubah, bangku jemaat dan mejelis berbahan kayu jati, kaca jendela Mosaik dengan desain ornamen kuno. Serta interior seluruhnya yang dihiasi sulur tumbuhan yang tertata
dari
bahan kayu sedangkan pada balkonnya
mempunyai bentuk keindahan interior
yang unik.
Kursi-kursi kayu beralas rotan berjejer di atas keramik kuno semua
masih asli.
Ciri khusus
yang nampak pada bangunan ini adalah bangunan bagian dalamnya yang sangat unik,
bangunan yang sangat megah ini ruangan dalamnya tidak begitu luas. Hal ini
dikarenakan dinding Gereja Blenduk yang tebalnya tiga kali dinding bangunan yang
lainnya. Bangunan ini berbentuk segi delapan beraturan (hexagonal) dengan
bilik-bilik berbentuk empat persegi panjang dan sisi sebelahnya berbentuk salib
Yunani.72 Bangunan gereja yang sekarang merupakan bangunan dengan facade73
tunggal yang secara vertikal yang terbagi atas tiga bagian. Atap bangunan
berbentuk kubah dengan penutupnya lapisan logam yang dibentuk oleh usuk kayu
jati, dan di bawah pengakiran kubah terdapat lubang cahaya yang menyinari ruang
dalam yang luas. Gereja peninggalan Belanda ini juga menarik dari sisi
desainnya, pada sisi bangunan timur, selatan dan barat terdapat portico bergaya
Dorik Romawi yang beratap pelana.
Gereja ini
memiliki dua buah menara di kiri dan kanan, yang denah dasarnya berbentuk bujur
sangkar tetapi pada lapisan paling atas berbentuk bundar. Menara ini beratap
kubah kecil. Cornice yang ada di sekililing bangunan berbentuk garis-garis
mendatar. Pintu masuk merupakan pintu ganda dari panel kayu. Tipe jendela ada
dua kelompok, yang pertama ialah jendela ganda berdaun krepyak sedangkan yang
kedua merupakan jendela kaca warna-warni berbingkai. Layaknya gereja klasik,
Gereja Blenduk juga memiliki sebuah taman yaitu Taman Srigunting.

c. Lawang Sewu

Gedung megah
bergaya Art Deco, yang digunakan Belanda sebagai kantor pusat kereta api (trem)
atau lebih dikenal dengan Nederlandsch Indische Spoorweg  aschaappij (NIS). Perusahaan kereta api swasta
Belanda pertama yang membangun jalur kereta api di Indonesia. Gubernur Jenderal
Hindia Belanda, Sloet van Den Beele mengayunkan cangklul pertama, 17 juni 1864,
tanda disresmikannya jalur Kemijen-Tanggung sejauh 26 km. Setelah Sloet Van Den
Beele meninggal, dua arsitektur, Prof Jacob K Klinkhamer dan BJ Oudang ditunjuk
sebagai arsitek yang menggarap kantor NISM ini. Lokasi yang dipilih adalah
lahan seluas 18.232 m di ujung jalan Bojong (kini jalan Pemuda). Tampaknya
posisi ini kemudian mengilhami dua arsitektur Belanda tersebut untuk membuat
gedung bersayap, terdiri atas gedung induk, sayap kiri dan sayap kanan. Setelah
mempelajari secara cermat iklim di Nusantara, para arsitek mulai mengadakan
pendekatan yang sesuai dengan kondisi iklim setempat, sehingga arsitektur pada
pergantian abad ini menjadi arsitektur yang kontekstual yang
disebut
Indische.
            Sebelum pembangunan, lokasi yang
akan dikeruk sedalam 4 meter, selanjutnya galian itu diurug dengan pasir
vulkanik yang diambil dari gunung Merapi. Pondasi pertama dibuat 27 Februari
1904 dengan konstruksi beton bera dan di atasnya kemudian didirikan sebuah
dinding dari batu bata belah. Semua material penting didatangkan dari Eropa
kecuali batu bata, batu gunung, dan kayu jati. Setipa hari ratusan orang
pribumi dipaksa menggarap gedung ini. Gedung Lawang Sewu ini dibangun pada
tahun 1903 dan diresmikan penggunaannya pada tanggal 1 Juli 1907 oleh arsitek
C. Citroen dari Firma J.F. Klinkhamer dan B.J. Quendag.
            Bangunan monumental ini mengikuti
kaidah arsitektur mordologi bangunan sudut yaitu dengan menara kembar model
Ghotic di sisi kanan dan kiri pintu gerbang utama dan bangunan gedung memanjang
ke belakang. Bangunan ini terletak di bundaran Tugu Muda Semarang yang dahulu
disebut Wilhelmina Plein. Komplek Lawang Sewu terdiri atas dua masa bangunan
utama, yang di sebelah barat berbentuk “L” dengan pertemuan kakinya
menghadap Tugu Muda dan yang sebelah timur merupakan masa linier membujur dari
barat ke timur. Sudut pertemuan kaki “L” merupakan daerah pintu masuk
yang diapit oleh dua menara pada bagian atasnya berbentuk bersegi delapan
bertudung kubah.
            Bangunan ini pernah dikuasai tentara
Jepang sekitar 3,5 tahun sejak 1942, setelah kemerdekaan, Lawang Sewu dipakai
sebagai kantor Djawatan Kereta Api (DKA). Komando Daerah Militer (Kodam) IV
Diponegoro juga bermarkas di gedung ini dari tahun 1950 hingga 1996. selain
itu, Kantor Wilayah (Kanwil) Departemen Perhubungan Jawa Tengah juga pernah
berkantor di salah satu gedung ini.
            Di dalam perkembangannya, Lawang
Sewu juga terkait dengan sejarah pertempuran lima hari di Semarang yang
terpusat di kawasan Simpang Lima yang saat ini dikenal sebagai Tugu Muda. Saat
meletus Pertempuran Lima Hari di Semarang, 14-18 Agustus 1945, Lawang Sewu dan
sekitarnya menjadi pusat pertempuran antara laskar Indonesia dan tentara
Jepang. Pada peristiwa bersejarah tersebut, gugur puluhan Angkatan Muda Kereta
Api (AMKA). Lima di antaranya dimakamkan di halaman depan Lawang Sewu. Mereka
adalah Noersam, Salamoen, Roesman, RM Soetardjo, dan RM Moenardi. Untuk
memperingati mereka, di sebelah kiri pintu masuk (gerbang) didirikan sebuah
tugu peringatan bertuliskan nama para pejuang Indonesia yang gugur. Perusahaan
kereta api kemudian menyerahkan halaman depan pada Pemda Kodya Semarang.
Sedangkan makam lima jenasah di halaman itu, 2 Juli 1975 dipindah ke Taman
Makam Pahlawan Giri Tunggal dengan Inspektur Upacara Gubernur Jateng Soepardjo Roestam.
            Gedung ini oleh warga Semarang lebih
dikenal dengan sebutan gedung Lawang Sewu, karena ciri khas bangunan ini
memiliki pintu atau lawang dalam bahasa Jawa, sedang sewu artinya seribu
sebagai arti kiasan dari banyak.81 Alasan lain dijuluki lawang sewu karena
bangunan ini memiliki banyak pintu di samping busur-busur rongga dinding yang
memenuhi facade bangunan ini.

 
c. Rumah Dinas Gubernur Jawa Tengah

Bangunan ini
dirancang oleh Nicolaas Harting yang menjadi Gubernur Pantai Utara Jawa pada
tahun 1754. Hingga tahun 1761 difungsikan sebagai Gauvernenur van Java’s
Noord-Oostkust. Dan disebut sebagai “De Vredestein” atau istana Perdamaian. Juga
pernah sebagai tempat tinggal residen Semarang. Saat itu lapangan di depan De
Vredestein ini masih dinamakan Wilhelmina Plein. Di Gedung ini, Raffles pernah
singgah dan berdansa dengan istri pertamanya Olivia Marianna. Pada tahun 1978,
bangunan ini digunakan oleh APDN. Pada tahun 1980 digunakan untuk Kantor Sosial
dan terakhir untuk Kantor Kanwil Pariwisata Jawa Tengah tahun 1994. Sekarang
bangunan ini digunakan sebagai rumah dinas Gubernur Jawa Tengah menggantikan
Puri Gedeh.
 Sumber 

Wijanarka,
2007. Semarang Tempo Dulu. Ombak. Yogyakarta.
Amin Budiman. 1978. Semarang
Riwayatmu Dulu
, Jilid I. Tanjung Sari, Semarang.
Dudung Abdurrahman. 1999. Metode
Penelitian Sejarah
. Jakarta: Logos Wacana
Ilmu.
Handinoto dan Paulus H. Soehargo.
1996. Perkembangan kota dan Arsitektur
Kolonial Belanda
di Malang.
Penerbit
Andi Offset, Yogyakarta.
Handinoto. Perkembangan Kota
dan Arsitektur Kolonial Belanda di Surabaya
1870-1940. Penerbit: Andi
Offset, Yogyakarta.
Yulianto Sumalyo. 1993. Arsitektur
Kolonial Belanda Di Indonesia
. Gadjah Mada
University
Press, Yogyakarta

Wijanarka,
2007. Semarang Tempo Dulu. Ombak. Yogyakarta.
Amin Budiman. 1978. Semarang
Riwayatmu Dulu
, Jilid I. Tanjung Sari, Semarang.
Dudung Abdurrahman. 1999. Metode
Penelitian Sejarah
. Jakarta: Logos Wacana
Ilmu.
Handinoto dan Paulus H. Soehargo.
1996. Perkembangan kota dan Arsitektur
Kolonial Belanda
di Malang.
Penerbit
Andi Offset, Yogyakarta.
Handinoto. Perkembangan Kota
dan Arsitektur Kolonial Belanda di Surabaya
1870-1940. Penerbit: Andi
Offset, Yogyakarta.
Yulianto Sumalyo. 1993. Arsitektur
Kolonial Belanda Di Indonesia
. Gadjah Mada
University
Press, Yogyakarta

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *