Tokoh Penggerak Sejarah, Khaldun

A. Riwayat Singkat Hidup Ibn Khaldun
Nama lengkap Ibnu Khaldun adalah Abdurrahman Abu Zaid Waliuddin bin Khaldun. Nama kecilnya Abdurrahman. Nama
panggilnya Abu Zaid; gelarnya Waliuddin, dan nama populernya Ibnu Khaldun. (Ali
Abdul Wahid Wafi’, 1985:5) Ibnu Khaldun dikenal dengan Ibnu Khaldun karena
dihubungkan dengan garis keturunan kepada kakeknya yang kesembilan, yaitu
Khalid bin Utsman, dan dia adalah orang pertama dari marga ini yang memasuki
negeri Andalusia bersama para penakluk berkebangsaan Arab. Dia dikenal dengan
nama Khaldun sesuai dengan kebiasaan orang-orang Andalusia dan orang-orang
Maghribi, yang terbiasa menambahkan huruf wawu dan nun di belakang nama-nama
orang terkemuka sebagai penghormatan dan takzim, seperti Khalid menjadi
Khaldun.
Ibnu Khaldun di lahirkan di Tunisia
pada awal Ramadhan tahun 732 H, atau tepatnya pada 27 Mei 1333. Rumah tempat
kelahirannya masih utuh hingga sekarang yang terletak di jalan Turbah Bay.
Dalam beberapa tahun terakhir ini rumah tersebut menjadi pusat sekolah Idarah
‘Ulya, yang pada pintu masuknya terpampang sebuah batu manner berukirkan nama
dan tanggal kelahiran Ibnu Khaldun.
 Bani Khalduniyah di Andalusia
memainkan peran yang cukup menonjol, baik dalam bidang ilmu pengetahuan maupun
politik. Setelah menetap di Carmona, kemudian mereka pindah ke Sevilla,
dikarenakan situasi politik di Andalusia yang mengalami kekacauan, baik karena
perpecahan di kalangan Muslim maupun karena serangan pihak Kristen di Utara,
maka Banu Khaldun pindah lagi ke Afiika Utara. Al- Hasan Ibn Jabir adalah nenek
moyang Ibnu Khaldun yang mula-mula datang ke Afiika Utara, di mana Ceuta
merupakan kota pertama kali yang mereka pijak, sebelum pindah ke Tunis pada
tahun 1223.

Di Tunis, di tempat barunya, Banu
Khaldun tetap memainkan peran penting. Muhammad Ibn Muhammad, kakek Ibnu
Khaldun, adalah seorang ‘hajib’, kepala rumah tangga istana dinasti Hafsh. la
sangat dikagumi dan disegani di kalangan istana, berkali-kali Amir Abu Yahya al-Lihyani
(711 H), pemimpin dinasti al-Muwahhidun yang telah menguasai bani Hafz di
Tunis, menawarkan kedudukan yang lebih tinggi kepada Muhammad Ibn Muhammad,
tetapi tawaran itu ditolaknya, pada akhir hayatnya, kakek Ibnu suka menekuni
ilmu-ilmu keagamaan hingga wafatnya pada 1337 M.
Dari latar belakang keluarganya yang
banyak bergerak dalam bidang politik dan pengetahuan seperti inilah Ibnu
Khaldun dilahirkan di Tunisia pada awal Ramadhan 732 H. Menurut perhitungan
para sejarawan, hal ini bertepatan dengan 27 Mei 1333 M. Kondisi keluarga
seperti itu kiranya telah berperan dominan dalam membentuk kehidupan Ibnu
Khaldun. Dunia politik dan ilmu pengetahuan telah begitu menyatu dalam diri
Ibnu Khaldun.
Ditambah lagi kecerdasan otaknya juga berperan bagi
pengembangan karirnya.
Secara detail perjalanan hidup Ibnu Khaldun akan
dipaparkan dalam tiga fase, yaitu:
1.     
Fase pertama;
Masa Pendidikan Fase pertama ini dilalui Ibnu Khaldun di Tunis dalam jangka
waktu 18 tahun, yaitu antara tahun 1332-1350 M. Seperti halnya tradisi kaum
Muslim pada waktu itu, ayahnya adalah guru pertamanya yang telah mendidiknya
secara tradisional, mengajarkan dasar-dasar agama Islam. Di samping ayahnya,
Ibnu Khaldun juga mempelajari berbagai disiplin ilmu pengetahuan dari para
gurunya di Tunis. Tunis pada waktu itu merupakan pusat para ulama dan
sastrawan, tempat berkumpulnya para ulama Andalusia yang lari menuju Tunis
akibat berbagai peristiwa politik.
Seperti halnya Toto Suharto, menukilkan
dari Fathiyah Hasan Slaiman bahwa disebutkan beberapa gurunya yang berjasa
dalam perkembangan intelektualnya. Di antaranya adalah Abu Abdillah Muhrnas Ibn
Sa’ad al-Anshari dan Abu al-Abbas Ahmad ibn Muhammad al-Bathani dalam qira’at;
Abu Abdillah Ibn al-Qashar dalam ilmu gramatika Arab; Abu ‘Abdillah Muhammad
Ibn Bahr dan Abu Abdillah Ibn Jabir al-Wadiyasyi dalam sastra; Abu Abdillah
al-Jayyani dan Abu Abdillah ibn Abd al-Salam dalam ilmu fiqh; dan masih banyak
lagi gurunya. Walaupun dia mempunyai banyak guru dan mempelajari berbagai
disiplin ilmu, pendidikan yang diperoleh Ibnu Khaldun sangatlah mendalam dan
terkesan dalam dirinya.
Dilihat dengan banyaknya disiplin ilmu
yang dipelajari oleh Ibnu Khaldun pada masa mudanya, dapat diketahui bahwa
beliau memiliki kecerdasan otak yang luar biasa. Hal ini menunjukkan bahwa Ibnu
Khaldun adalah orang yang memiliki ambisi tinggi, yang tidak puas dengan satu
disiplin ilmu saja. Pengetahuan begitu luas dan bervariasi. Hal ini merupakan
kelebihan yang sekaligus juga merupakan kekurangannya.
2.     
Fase kedua; Aktifitas
Politik Praktis Fase kedua dilalui Ibnu Khaldun dalam berbagai tempat seperti
di Fez, Granada, Baugie, Biskara dan lain-lain, dalam jangka waktu 32 tahun
antara 1350-1382 M. Karir pertama Ibnu Khaldun dalam bidang pemerintahan adalah
sebagai Sahib al-Alamah (penyimpan tanda tangan), pada pemerintahan Abu
Muhammad Ibn Tafrakhtn di Tunis dalam usia 20 tahun. (Mukti Ali, 1970:17)
Awal karir ini hanya dijalani Ibnu
Khaldun selama kurang lebih 2 tahun, kemudian ia berkelana menuju Biskara
karena pada tahun 1352 M Tunis diserang dan dikuasai oleh Amir Abu Za’id,
penguasa Konstantin sekaligus cucu Sultan Abu Yahya al-Hafsh. Pada waktu Abu
Inan menjadi raja Maroko, Ibnu Khaldun mencoba mendekatinya demi mempromosikan
dirinya ke posisi yang lebih tinggi. Sultan Abu Inan bahkan beliau
mengangkatnya sebagai sekretaris kesultanan di Fez, Maroko. Di kota inilah Ibnu
Khaldun memulai karirnya dalam dunia politik praktis, yaitu pada tahun 1354 M.
Selama 8 tahun tinggal di Fez, banyak
perilaku-perilaku politik yang dia lakukan. Sehingga belum lama menjabat
sebagai sekretaris kesultanan, ia dicurigai oleh Abu ‘Inan sebagai pengkhianat
bersama pangeran Abu ‘Abdillah Muhammad dari bani Hafsh yang berusaha melakukan
satu komplotan politik. Iklim politik yang penuh intrik menyebabkan Ibnu
Khaldun meninggalkan Afrika Utara dan demi karirnya sebagai politikus dan
pengamat, akhirnya ia memantapkan pergi ke Spanyol dan sampai di Granada pada
tanggal 26 Desember 1362 M.
Ibnu Khaldun diterima baik oleh raja
Granada, Abu Abdillah Muhammad ibn Yusuf. Setahun setelah itu Ibnu Khaldun
diangkat menjadi duta ke istana raja Pedro El Cruel, raja Kristen Castilla di
Sevilla, sebagai seorang diplomat yang ditugaskan untuk mengadakan perjanjian
perdamaian antara Granada dan Sevilla. Karena keberhasilannya, raja V memberi
Ibnu Khaldun tempat dan kedudukan yang semakin penting di Granada. Hal ini
menimbulkan kecemburuan di lingkungan kerajaan, akhirnya beliau memutuskan
untuk kembali ke Afrika Utara.
Setelah malang-melintang dalam
kehidupan politik praktis, naluri kesarjanaannya memaksanya memasuki tahapan
baru dari kehidupannya yaitu ber-khalwat. Dalam masa khalwat dari tahun
1374-1378 itu, beliau menyelesaikan karya al-Muqaddimah yang populer dengan
sebutan Muqadimah Ibnu Khaldun, sebuah karya yang seluruhnya berdasarkan
penelitian yang baik. Pada tahun 178 M, selanjutnya beliau meninggalkan Qal’at
menuju Tunis. Di Tunis beliau mendapatkan tugas menuju Makkah 24 Oktober 1382
untuk ibadah haji dan singgah di Kairo. Sampai di sini, berakhirlah petualangan
Ibnu Khaldun dalam intrik-intrik politik yang kadang membuatnya menjadi seorang
oportunis.
3.     
Fase ketiga:
Aktivitas Akademis dan Kehakiman Masa ini merupakan fase terakhir dari tahapan
perjalanan Ibnu Khaldun, fase ini dihabiskan di Mesir kurang lebih 20 tahun
antara 1382-1406 M. Tiba di Kairo, Mesir pada 06 Januari 1983. Pada masa ini
dinasti Mamluk sedang berkuasa. Kemajuan peradaban dan stabilitas politik saat
itu menjadikan Ibnu Khaldun lebih tertarik dan karyanya al-Muqaddimah merupakan
magnum opus atau kedatangan karyanya lebih dahulu daripada pengarangnya
sehingga kedatangannya disambut gembira dikalangan akademisi, disinilah tugas
barunya sebagai seorang pengajar dilakukan Ibnu Khaldun. Ibnu Khaldun memberi
kuliah di lembaga-lembaga pendidikan Mesir, seperti Universitas al-Azhar,
Sekolah Tinggi Hukum Qamhiyah, Sekolah Tinggi Zhahiriyyah dan sekolah tinggi
Sharghat Musyiyyah. Mata kuliah yang disampaikan adalah fiqih, hadis dan
beberapa teori tentang sejarah sosiologi yang telah ditulisnya dalam Muqadimah.
Selain berjuang dalam dunia akademik, Ibnu Khaldun juga melakukan kegiatan yang
berkaitan dengan dunia hukum.
Pada tanggal 8 Agustus 1384 M, Ibnu
Khaldun diangkat oleh Sultan Mesir, al-Zhahir Barqa, sebagai hakim Agung Madzab
Maliki pada mahkamah Mesir, jabatan yang diemban dengan penuh antusias ini
dimanfaatkan oleh Ibnu Khaldun untuk melakukan reformasi hukum. la berupaya
membasmi tindak korupsi dan hal-hal yang tidak beres lainnya di Mahkamah
tersebut. Akan tetapi, reformasi ini ternyata membuat orang-orang yang merasa
dirugikan menjadi marah dan dengki. Mereka kemudian berusaha memfitnah Ibnu
Khaldun dengan berbagai tuduhan, sehingga ia dicopot dari jabatan ini setelah
satu tahun memangkunya. Fitnah yang dialamatkan kepada Ibnu Khaldun sebenarnya
tidak dapat dibuktikan, tetapi ia tetap bersikeras untuk mengundurkan diri dari
jabatan tersebut Pada tahun 1387 M Ibnu Khaldun melaksanakan ibadah haji
kemudian dia diangkat lagi sebagai hakim agung Mahkamah Mesir oleh Sultan Mesir
Nashir Faraj, putera Sultan Burquq.
Pada masa ini, Ibnu Khaldun sempat
berkunjung ke Damaskus dan Palestina dalam rangka mempertahankan Mesir dari
serangan Mongol. Dan pertemuan selama 35 hari di Damaskus, Syria merupakan
peristiwa penting terakhir bagi Ibnu Khaldun dalam perjalanan hidupnya yang
penuh ketegangan, penderitaan di balik kesuksesanya. Setelah itu ia melanjutkan
profesinyasebagai hakim Agung Madzab Maliki hingga wafatnya pad tanggal 16
Maret 1406 M (26 Ramadhan 808 H) dalam usia 74 tahun di Mesir, jenazahnya
dimakamkan di pemakaman para sufi di luar Bab al-Nashir, Kairo.

B. Ibnu Khaldun dan Filsafat Sejarah

Ibn kaldun, salah seorang sejarawan muslim yang terkenal,
membawa bentuk yang berbeda dalam penulisan sejarah. Bagi ibn kaldun, sejarah
tidak hanya di ungkapkan secara faktual, namun  juga dapat di lihat
hubungan kausal antara setiap peristiwa sejarah. Dan menurutnya juga, sebuah
peristiwa sejarah harus di lihat dari berbagai aspek, seperti aspek ekonomi,
politik, sosial, agama, dan lain sebagainya.
Ibnu Khaldun telah menulis karya bersejarah seperti al-Muqaddimah.
Beliau menguraikan bahwa
sejarah menjadikan kita mengenal kondisi masa lalu suatu bangsa yang
direfleksikan dalam karakter kebangsaan. Hal ini yang menjadikan kita mengenal
biografi Nabi-nabi dan dinasti-dinasti dengan segala aturan kebijakannya.
Penulisan sejarah juga menghendaki adanya sumber-sumber yang banyak dan varian
pengetahuan yang tinggi. Ia juga mengharuskan ahli sejarah mempunyai pemikiran
yang spekulatif dan ketelitian. Dua prinsip ini yang akan mengawalnya untuk
mencapai kebenaran dan menjaganya dari kesalahan. Dalam karyanya yang
membahaskan mengenai disiplin sejarah dan filsafat sejarah yang juga dibahas
mengenai kesalahan-kesalahan para sejarawan terdahulu.
Dari karya al-Muqaddimah inilah Ibnu Khaldun
merumuskan hukum sejarah. Dalam pandangannya sejarah tidak lebih dari sekedar
menguraikan tentang peristiwa-peristiwa, nama-nama penguasa atau silsilah
keturunan dan angka-angka tahun. Menurut Ibn Khaldun pengetahuan itu tidak
mewakili wawasan disiplin ilmu sejarah. Pemikiran Filsafat sejarah Ibnu Khaldun
dalam al-Muqaddimah secara luas dibahas dalam bab dua kitab al –I’bar.
Filsafat sejarah sendiri menurut Ibnu Khaldun yaitu mengkaji
fenomena-fenomena sosial secara lebih umum, tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu
dan mengkajinya dari segi tujuan yang ingin dicapai, serta hukum mutlak yang
mengendalikannya sepanjang sejarah. Khaldun dianggap sebagai tokoh pelopor
materialisme sejarah, jauh sebelum Karl Marx. Dengan karyanya terkenal sebagai
perintis dan pelopor The Culture Cycle Theory of History, yaitu satu
teori Filsafat sejarah yang telah mendapat pengakuan di dunia Timur dan Barat
tentang kematangannya. Khaldun dengan teorinya berpendapat bahwa sejarah dunia
itu adalah satu siklus dari setiap kebudayaan dan peradaban. Ia mengalami masa
lahirnya, masa berkembang, masa puncaknya kemudian masa menurun dan akhirnya
masa kehancuran. Khaldun mengistilahkan siklus ini dengan tiga tangga
peradaban.

Pemikiran-Pemikiran Ibn Khaldun
Terhadap Filsafat Sejarah

Filsafat sejarah menurut Ibnu Khaldun yaitu mengkaji
fenomena-fenomena sosial secara lebih umum, tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu
dan mengkajinya dari segi tujuan yang ingin dicapai, serta hukum mutlak yang mengendalikannya
sepanjang sejarah. Dalam pandangannya masyarakat merupakan mahluk histories
yang hidup dan berkembang sesuai dengan hukum khusus, yang berkenaan dengannya.
Hukum itu dapat diamati dan dibatasi lewat pengkajian terhadap sejumlah
fenomena sosial.
Khaldun dengan teorinya berpendapat bahwa sejarah dunia itu
adalah satu siklus dari setiap kebudayaan dan peradaban. Ia mengalami masa
lahirnya, masa berkembang, masa puncaknya kemudian masa menurun dan akhirnya
masa kehancuran. Khaldun mengistilahkan siklus ini dengan tiga tangga
peradaban.
dalam pandangan Ibn Khaldun ada tiga faktor dominan yang
mempengaruhi dan mengendalikan perkembangan perjalanan sejarah dari waktu ke
waktu. Pertama, faktor ekonomi. Menurut Ibn Khaldun kegiatan ekonomi
menentukan bentuk kehidupan. Perbedaan agama seseorang bisa lahir karena
penghidupan, keadaan dan waktu. Kegiatan ekonomi menjadi salah satu yang
terpenting dalam mengendalikan kehidupan sosial, politik, moral masyarakat dan
pikiran mereka. Kedua, faktor geografis, lingkungan dan iklim. Pengaruh
geografi misalnya orang yang menempati kawasan yang kaya hasil bumi, biasanya
cenderung malas-malasan dan pengaruhnya mereka akan malas serta lamban dalam
berpikir. Sedangkan orang yang menempati kawasan yang miskin hasil bumi,
cenderung rajin dalam bekerja karena makanannya terbatas tetapi minda mereka
lebih tajam. Ketiga, faktor agama. Ibn Khaldun meyakini adanya pengaruh
dan pengarahan Tuhan terhadap segala yang terjadi. Ia berkesimpulan bahwa
hubungan antara Tuhan dan manusia wujud pada setiap ruang dan masa. Alam dan
seisinya dibagikan kepada manusia sebagai khalifah-Nya. Sisi inilah yang
membuktikan bahwa Ibnu Khaldun merupakan seorang pemikir dan ahli Filsafat
sejarah Islam. Ia mampu menghubungkan antara ekonomi, alam dan hukum
determinisme dalam sejarah.
Berkaitan dengan hukum determinisme sejarah, Ibn Khaldun
menguraikannya dalam tiga hukum. Pertama, Hukum Sebab-Akibat (Legal
Causality) yaitu hukum determinisme yang
berkaitan dengan ilmu-ilmu kealaman pada asal mulanya. Khaldun menerapkan dan
menjadikan hukum ini sebagai salah satu diantara dua prinsip Filsafatnya.
Kedua,
Hukum Peniruan (Legal Copying). Menurut Khaldun peniruan itu sendiri
merupakan satu hukum yang umum. Peniruan bisa menyebabkan kesamaan sosial. Ia
menguraikan bahwa kelompok yang kalah selalu meniru kelompok yang menang dalam
pakaian, tanda-tanda kebesaran, aqidah dan adat. Ketiga, Hukum Perbedaan
(Legal Differences). Hukum ini juga diasumsikan sebagai salah satu hukum
determinisme sejarah. Masyarakat menurut Ibn Khaldun tidaklah sama secara
mutlak, tetapi terdapat perbedaan-perbedaan yang harus diketahui oleh
sejarawan. Lebih jauh Ibn Khaldun menghubungkan bahwa perbedaan-perbedaan
semakin membesar karena faktor geografis, fisik, ekonomi, politik, adat
istiadat, tradisi dan agama.
Sebagai seorang muslim penulis sejarah, bahkan peletak dasar
filsafat sejarah, Ibnu Khaldun berpendapat bahwa ada tujuh penyebab kesalahan
dalam penulisan sejarah. Salah satunya yang paling penting ialah; sejarahwan
tidak memahami hukum-hukum perubahan masyarakat, padahal setiap peristiwa
bahkan segala sesuatu tunduk pada perubahan. Dalam bukunya penyebab yang ini
merupakan yang paling memberikan pelajaran dan penyebab ini pula yang merupakan
esensi filsafat sejarah.
Pada dasarnya, filsafat sejarah secara pengertian
sederhananya adalah tinjauan terhadap peristiwa-peristiwa historis secara
filosofis untuk mengetahui faktor-faktor esensial yang mengendalikan perjalanan
peristiwa untuk menetapkan hukum-hukum umum.
Secara
singkat, inti dari pemikiran filsafat sejarah Ibn Khaldun adalah sebagai
berikut:
1.      Manusia hidup di dunia ini mempunyai
tugas ganda yaitu sebagai hamba Allah dan sebagai makhluk sosial yang diserahi
tugas sebagai khalifah untuk mengolah dan mengatur ala mini demi kesejahteraan
manusia itu sendiri yang sekaligus merupakan unsur budaya dari manusia itu
sendiri. Semakin cepat perubahan yang dilakukan oleh manusia, maka semakin
cepat pula cara berfikir manusia tersebut.
2.      Setiap tindakan manusia (sebagai
khalifah) adalah untuk tujuan mengabdi kepada Allah, dan hal itu adalah tujuan
dari sejarah. Dalam peruses pencapaian tujuan tersebut, manusia mengalami
berbagai problem dan liku-liku hidup. Ada manusia yang ditimpa bencana,
kesusahan dan ada pula yang di beri nikmat dan selalu berkecukupan. Semua itu
adalah peristiwa yang menandai perjalanan sejarah untuk mencapai tujuanya.
3.   Tercapainya tujuan sejarah,
menurut Ibn Khaldun, adalah di sebabkan oleh adanya penggerak sejarah.
Menurutnya penggerak sejarah itu adalah faktor Ilahi dan faktor alami. Faktor
Ilahi adalah Tuhan. Dalam agama samawi (Yahudi, Kristen dan Islam) faktor Ilahi
ini adalah Allah. Sedangkan dalam agama ardhi dan agama primitif, faktor Ilahi
itu adalah dewa-dewa. Adapun penggerak sejarah dari faktor alami adalah, antara
lain, politik, ekonomi, sosial, budaya, solidaritas sosial dan lain sebagainya
4.   Sedangkan perjalanan gerak
sejarah, dalam pandangan Ibn Khaldun, lebih mengambil pola siklis. Hal ini
berdasarkan pengamatan Ibn Khaldun setelah melihat jatuh bangunnya sebuah
dinasti (pemerintahan). Dan memang, setiap dinasti (baik di dunia Islam maupun
di dunia Barat) sebuah dinasti berproses dari tumbuh, berkembang, masa
kejayaan, masa kemunduran, dan masa kehancuran. Namun, di balik kehancuran
sebuah dinasti telah terdapat sebuah dinasti baru yang akan menggantikannya.
Sebagai seorang muslim, Ibn Khaldun tetap mengakui “campur tangan” Tuhan
(Allah) dalam gerak sejarah. Dan bagaimanapun, perjalanan sejarah di gerakkan
oleh faktor Ilahi dan faktor alami.

Konsep Gerak Sejarah Menurut Ibn
Khaldun

a. Konsep Gerak Sejarah
Konsep gerak sejarah Ibn Khaldun mengikut pada tiga aliran
Filsafat sejarah. Pertama, aliran
sejarah sosial. Aliran ini berpendapat bahwa fenomena-fenomena sosial dapat
ditafsirkan, dan teori-teorinya dapat dihuraikan dari fakta-fakta sejarah. Kedua, aliran ekonomi. Aliran ini
menafsirkan sejarah secara materialis dan menguraikan fenomena-fenomena sosial
secara ekonomis. Setiap perubahan dalam masyarakat dan fenomena-fenomenanya
merujuk pada faktor ekonomi. Ketiga, aliran
geografis. Aliran ini memandang manusia sebagai putra alam lingkungan, dan
kondisi-kondisi alam di sekitarnya. Oleh karena itu dalam penyejarahannya,
seseorang, masyarakat dan tradisi-tradisinya dibentuk oleh lingkungan dan alam
dimana ia berada. Alam dan lingkungan memiliki dampak terhadap kehidupan
masyarakat, walaupun manusia sendiri juga bisa mempengaruhi dan berinteraksi
dengan lingkungannya. Menurut Ibn Khaldun fenomena-fenomena sosial tunduk pada
hukum perkembangan. Demikian juga dengan gerak sejarah, ia mengalami
perkembangan.
Selanjutnya
dalam pandangan Ibn Khaldun ada tiga faktor dominan yang mempengaruhi dan
mengendalikan perkembangan perjalanan sejarah dari waktu ke waktu. Pertama, faktor ekonomi. Menurut Ibn
Khaldun kegiatan ekonomi menentukan bentuk kehidupan. Perbedaan agama seseorang
bisa lahir karena penghidupan, keadaan dan waktu. Kegiatan ekonomi menjadi
salah satu yang terpenting dalam mengendalikan kehidupan sosial, politik, moral
masyarakat dan pikiran mereka. Kedua,
faktor geografis, lingkungan dan iklim. Pengaruh geografi misalnya orang yang
menempati kawasan yang kaya hasil bumi, biasanya cenderung malas-malasan dan
pengaruhnya mereka akan malas serta lamban dalam berpikir. Sedangkan orang yang
menempati kawasan yang miskin hasil bumi, cenderung rajin dalam bekerja karena
makanannya terbatas tetapi minda mereka lebih tajam. Ketiga, faktor agama. Ibn Khaldun meyakini adanya pengaruh dan
pengarahan Tuhan terhadap segala yang terjadi. Ia berkesimpulan bahwa hubungan
antara Tuhan dan manusia wujud pada setiap ruang dan masa. Alam dan seisinya
dibagikan kepada manusia sebagai khalifah-Nya.
Sisi inilah yang membuktikan bahwa Ibn Khaldun merupakan seorang pemikir dan
ahli Filsafat sejarah Islam. Ia mampu menghubungkan antara ekonomi, alam dan
hukum determinisme dalam sejarah.

Berkaitan dengan hukum determinisme sejarah, Ibn
Khaldun menguraikannya dalam tiga hukum. Pertama,
Hukum Sebab-Akibat (Legal
Causality) yaitu hukum
determinisme yang berkaitan dengan ilmu-ilmu kealaman pada asal mulanya.
Khaldun menerapkan dan menjadikan hukum ini sebagai salah satu diantara dua
prinsip Filsafatnya. Ia meyakini adanya hubungan sebab-akibat antara realitas
dengan fenomena. Ia berasumsi bahwa semua realitas di alam ini dapat dicari
hukum kausalitasnya. Kecuali mukjizat para nabi dan karomah para Wali. Kedua,
Hukum Peniruan. Menurut Khaldun peniruan itu sendiri merupakan satu hukum yang
umum. Peniruan bisa menyebabkan kesamaan sosial. Ia menguraikan bahwa kelompok
yang kalah selalu meniru kelompok yang menang dalam pakaian, tanda-tanda
kebesaran, aqidah dan adat. Ketiga, Hukum
Perbedaan. Hukum ini juga diasumsikan sebagai salah satu hukum determinisme
sejarah. Masyarakat menurut Ibn Khaldun tidaklah sama secara mutlak, tetapi
terdapat perbedaan-perbedaan yang harus diketahui oleh sejarawan. Lebih jauh
Ibn Khaldun menghubungkan bahwa perbedaan-perbedaan semakin membesar karena
faktor geografis, fisik, ekonomi, politik, adat istiadat, tradisi dan agama.

Sumber

Abdul
Hakim,
Atang, dan Ahmad, Beni, “Filsafat Umum”, 2008, Bandung,
Pustaka Setia.
Supriyadi, Dedi, “Pengantar Filasafat Islam”, 2009,
Bandung, Pustaka Setia.
Arif
purnomo, Filsafat Sejarah, 2009, Semarang, UNNES.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *