Asal – Usul Dinasti Mataram Islam

A. 
Runtuhnya
Kerajaan Demak
Perebutan
tahta kerjaan Demak dimulai setelah meninggalnya Raja Kedua yaitu Pati Unus.
Peristiwa ini menimbulkan peperangan  berkepanjangan yang berakhir dengan
kehancuran kerajaan. Perebutan kekuasaan terjadi antara keturunan Pangeran seda
lepen  dengan Pangeran Trenggana. 
Kedua pangeran ini memang berhak menduduki tahta Kesultanan Demak. Dari segi
usia, Pangeran Seda lepen  lebih tua sehingga merasa lebih berhak atas
tahta Kesultanan Demak dari pada Pangeran Trenggana. Namun Pangeran Seda lepen
lahir dari istri ke tiga Raden Patah, yaitu putri Adipati Jipang, sedangkan
Pangeran Trenggana lahir dari istri pertama, putri Sunan Ampel.  Oleh
karena itu Pangeran Trenggana merasa lebih berhak menduduki tahta Kesultanan
Demak. Dalam babad tanah jawi, dikatakan bahwa pangeran prawata putra sultan
trenggana berutang mati
kepada arya panangsang jipang, karena ia pernah membunuh pangeran seda lepen,
ayah Arya panangsang jipang.
Pembunuhan 
ini menjadi pangkal persengketaan di Kerajaan Demak. Raden Arya Penangsang,
putra Pangeran Seda lepen berusaha menuntut balas atas kematian ayahnya,
sehingga ia berusaha untuk menumpas keturunan Sultan Trenggana. Apalagi ia
mendapat dukungan secara penuh dari gurunya. Sunan Kudus.
Suksesi
pergantian kepemimpinan pasca wafatnya Sultan Trenggona tidak dapat berjalan
mulus dikarenakan terjadi konflik di Kerajaan Demak Bintoro.Faktor penyebab
adalah konflik dari intern (dalam kerajaan) dan faktor ekstern (perbedaan
pandangan dari para wali sembilan tentang calon pengganti Sultan Trenggono).
Terdapat
perbedaan pendapat di antara para Wali. Pendapat Sunan Kalijaga, adalah
Hadiwijaya alias jaka tingkir Adipati Pajang menantu Sultan Trenggana  yang pantas menggantikan sebagai Raja.
Alasannya meski bukan keturunan langsung Raden Patah, tetapi masih mempunyai
darah Raja Majapahit.Sunan Kalijaga mengingatkan bahwa para Wali pernah
mengangkat Pati Unus sebagai Sultan Demak, padahal Pati Unus tidak memiliki
darah Raja Majapahit. Selain itu sikap pencalonan Sunan Kalijaga terhadap
Pangeran Hadiwijaya disertai dengan alasan bahwa jika yang tampil Pangeran
Hadiwijaya, maka pusat kesultanan Demak Bintoro akan dapat dipindahkan ke
Pajang, sebab apabila masih di Demak, agama Islam kurang berkembang, sebaliknya
akan lebih berkembang pesat apabila pusat kesultanan itu berada di Pedalaman
(di Pajang).
Sikap dan
pendapat dari Sunan Kalijaga ini tampaknya kurang disetujui oleh Sunan Kudus,
karena apabila pusat kerajaan dipindahkan di pedalaman (Pajang) maka sangat
dikhawatirkan ajaran Islam yang mulia, terutama menyangkut bidang Tasawuf,
besar kemungkinannya bercampur dengan ajaran “mistik” atau Klenik sedangkan
Sunan Kudus sedang mengajarkan ajarannya “Wuluang Reh” / penyerahan. Dari
pendapat ini menunjukkan bahwa Sunan Kudus tidak setuju dengan sikap dan
pendapat Sunan Kalijaga yang mencalonkan Hadiwijaya sebagai pengganti dari
Sultan Trenggono.
Sunan Kudus
berpendapat bahwa Arya Penangsang, Adipati Jipang Panolan, putra Pangeran Bagus
Surawiyata/ Raden Kikin yang terbunuh yang berhak sebagai Sultan Demak karena
Arya Penangsang adalah pewaris (keturunan) langsung Sultan Demak dari garis
laki-laki yang tertua, kecuali itu Arya Penangsang adalah orang yang mempunyai
sikap kepribadian yang teguh dan pemberani. Sunan Kudus meyakinkan bahwa Arya
Penangsang memiliki kemampuan dalam tata negara dan merupakan pemimpin yang
kharismatik. Sunan Giri berpendapat bahwa  Sunan Prawata, putra Sultan
Trenggono yang berhak menjadi Sultan. Alasannya adalah sesuai adat dan
hukum.Akhirnya Sunan Prawata diangkat sebagai Sultan.
Konflik
intern Kerajaan Demak terjadi karena adanya rasa dendam berebut kekuasaan dari
keturunan Pangeran Sedo Ing Lepen yang dibunuh oleh Sunan Prawata (Putera
Sulung Sultan Trenggono) ternyata meninggalkan duri dalam hati keturunan
Pangeran Sekar Sedo Ing Lepen, puteranya yang bernama Arya Penangsang merasa
lebih berhak menduduki tahta kerajaan, sebab dia beranggapan bahwa yang
menduduki kursi mahkota tersebut adalah ayahnya, bukan Sultan Trenggono karena
Pangeran Sekar adalah kakak dari Sultan Trenggono dan adik dari Patih Unus atau
Pangeran Sabrang Lor (Sultan Syah Alam Akbar II) yang memerintah tahun 1518 –
1521 M. Atas dasar inilah Arya Penangsang berusaha untuk merebut dan menduduki
tahta kerajaan Demak. Sedangkan faktor ekstern yaitu munculnya aksi saling
mendukung dari para wali yang memiliki calon-calon pengganti dari Sultan
Trenggono turut mewarnai situasi politik di dalam kerajaan.
Situasi
politik semakin meruncing dan tambah memanas, sehingga Arya Penangsang
mengambil sikap, karena merasa dialah yang lebih berhak menduduki tahta
kerajaan Demak Bintoro, maka dengan gerak cepat terlebih dahulu menyingkirkan
Sunan Prawata dengan pertimbangan,
Sunan Prawata lah yang membunuh ayahnya, kedua dialah yang menjadi saingan
berat dalam perebutan kekuasaan itu, akhirnya Sunan Prawata mati terbunuh
beserta isterinya oleh budak suruhan Arya Penangsang / “Soreng Pati” yang
bernama “Rungkut”, pada tahun 1546. Setelah Sunan Prawata wafat, ia kemudian
membunuh Pangeran Hadiri, suami Ratu Kalinyamat. Pangeran Hadiri berhasil
dibunuh oleh pengikut Arya Penangsang dalam perjalanan pulang dari Kudus,
mengantarkan istrinya dalam rangka minta keadilan dari Sunan Kudus atas
dibunuhnya Sultan Prawata oleh Arya Penangsang. Namun Sunan Kudus tidak dapat
menerima tuntutan Ratu Kalinyamat karena ia tidak memihak Arya Penangsang.
Menurut Sunan Kudus, Sultan Prawata memang berhutang nyawa kepada Arya
Penangsang yang harus dibayar dengan nyawanya. Arya Penangsang juga mencoba
membunuh Adipati Pajang Hadiwijaya, menantu Sultan Trenggana.
Kematian
Sunan Prawata dan Pangeran Hadiri tampaknya membuat selangkah lagi bagi Arya Penangsang
untuk menduduki tahta Demak. Meskipun pembunuhan terhadap Sunan Prawata dan
Pangeran Hadiri telah berjalan mulus, namun Sunan Kudus merasa belum puas
apabila Arya Penangsang  belum menjadi raja, karena masih ada
penghalangnya yaitu Hadiwijaya. Atas nasehat Sunan Kudus, Arya Penangsang
berencana membunuh Hadiwijaya namun mengalami kegagalan.Kegagalan itu mendorong
pecahnya perang antara Jipang dengan Pajang.Di luar dugaan pihak Sunan Kudus
dan Arya Penangsang, ternyata Ratu Kalinyamat tampil memainkan peranan penting
dalam menghadapi Arya Penangsang. Ratu Kalinyamat minta kepada  Hadiwijaya
untuk membunuh Arya Penangsang.  Didorong oleh naluri kewanitaannya yang
sakit hati karena kehilangan suami dan saudara, ia telah  menggunakan wewenang
politiknya selaku pewaris dari penguasa Kalinyamat dan penerus keturunan Sultan
Trenggana. Ratu Kalinyamat memiliki sifat yang keras hati dan tidak mudah
menyerah  pada nasib. Menurut kisah yang dituturkan dalam  Babad
Tanah Jawi,
  ia mertapa awewuda wonten ing redi Danaraja, kang
minangka tapih remanipun kaore
(bertapa dengan telanjang di gunung
Danaraja, yang dijadikan kain adalah rambutnya yang diurai). Tindakan
ini dilakukan untuk mohon keadilan kepada Tuhan dengan cara menyepi di Gunung
Danaraja.  Ia memiliki sesanti, baru akan mengakhiri pertapaanya apabila
Arya Penangsang telah terbunuh. Karena ratu kalinyamat adalah ipar Jaka
Tingkir, maka ia sanggup membalaskan kematian pangeran kalinyamat. Demikianlah,
jaka tingkir akhirnya berjasil membunuh arya panangsang jipang.Dengan bantuan
Ki ageng pemanahan dan ki ageng panjawi.Dinasti di demak berakhir pada tahun
1546, hanya bertahan selama 68 tahun.Sejak awal pembangunannya hanya berumur 71
tahu.Pada tahun itu juga, berdirilah kesultanan baru di pajang. (Slamet muljana
: 246 )
B. 
Awal
Terbentuknya Wilayah Mataram
Wilayah
yang masih berbentuk hutan yaitu daerah Mentaok yang diberikan oleh sultan
Hadiwijaya dari kerajaan Pajang, diberikan oleh Ki Ageng Pamanahan dan anaknya
Sutawijaya atas jasanya dalam menaklukan kerajaan Demak. kedau orang ini
membuka hutan yang kan dijadikan sebagai pemukaiman dan daerah wilayah
kekuasaanya pada tahun 1577. Dari daerah pemukiman yang kecil lama-kelamaan
menjadi daerah yang tumbuh makmur dan menjadi kota besar dan dinamakan Mataram.[1]
Kemajuan
yang dialami oleh Mataram ini menjadikakn wilayahnya menjadi daerah perdagangan
juga dari berbagai wilayah. Setelah 7 tahun menjadi meminpin Mataram Ki Ageng
Pamanahan menyebut dirinya sebagai Ki Gede Mataram dan menjadi penguasa
Mataram. Ki Ageng Pamanahan menguasai semua tanah yang ada diwilayahnya dan
rakyat sebagai buruh yang menggarap sawah, sehingga hubungan yang terjalin
yaitu antara gusti dengan kawula. Namun kerajaan ini masih berada dibawah
kekuasaan kerajaan Pajang.
Setelah
Ki Ageng Pamanahan wafat pada tahun 1584, beliau digantikan oleh anaknya yaitu
Sutawijaya. Pada masa pemerintahan Sutawijaya, wilayah Mataram ini mulai
mngembangkan daerahnya, dengan memperkuat bidang militernya dan membangun
benteng mengelilingi daerah Matarm. Hal ini dilakukan untuk melindungi Mataram
dari serbuan daerah lain.
Hal
tersebut membuat sultan Hadiwijaya selaku raja Pajang merasa tidak senang,
apalagi ditambah perkataan Sunan Giri terhadapt Hadiwijaya yang menyebutkan
akan lahir kerjaan baru yang akan menyaingi kerajaan Pajang. Sehingga pada
tahun 1587, pasukan Pajang hendak mnyerang Mataram, akan tetapi disana ternyata
sedang mengalami musibah letusan gunung Merapi. Namun dalam musibah tersebut
Sutawijaya selamat, dan bersiap mengahadapi pasukan dari kerajaan Pajang.
Pertempuranpun tak dapat dihindari, hingga akhirnya pasukan Pajang kalah.
C. 
Kerajaan
Pajang di Bawah Kekuasaan Mataram
Kerajaan Pajang merupakan kerajaan
Islam pertama yang terletak di pedalaman.Tidak seperti kerajaan-kerajaan
lainnya yang biasanya berada di sekitar pesisir.Sebelum menjelma menjadi
kerajaan, Pajang merupakan daerah yang bereda dalam kekuasaan Demak.Lokasinya
terletak di daerah Kartasura, dekat Surakarta (Solo).Pada waktu itu yang
menjadi adipati (semacam bupati) di Pajang adalah Joko Tingkir.Joko Tingkir ia
merupakan keturunan Raja Pengging yang bernama Handoyoningrat. Pengging ini
terletak di lereng tenggara Gunung Merapi, Jawa Tengah.Setelah setelah berhasil
menghabisi Arya Penangsang, Joko Tingkir naik tahta menjadi sultan pertama
Pajang, bergelar Raden Hadiwijaya.
Pada tahun 1554, Sultan Hadiwijaya
merebut daerah Blora, dekat Jipang. Pada tahun 1568, semua perangkat kebesaran
Majapahit yang terdapat Demak ia pindahkan ke Istana Pajang. Selanjutnya, guna
melebarkan sayap kekuasaannya ia menyerang Kediri pada tahun 1577. Tiga tahun
setelah itu, raja-raja di Jawa Timur mengakui kedaulatan Pajang.Hadiwijaya
wafat pada tahun 1587, dimakamkan di Desa Butuh.Ia digantikan oleh menantunya,
Arya Pangiri. Arya Pangiri sendiri adalah putera Sunan Prawoto dari Demak.Arya
Pangiri lalu mengangkat Pangeran Benawa (Benowo), anak Hadiwijaya, menjadi
adipati di Jipang.Karena merasa lebih berhak atas tahta Pajang, Pangeran Benawa
melakukan pemberontakan terhadap Pangiri.Ia dibantu oleh sejumlah pejabat
Demak. Selain Demak, Benawa juga dibantu oleh adipati Mataram, Panembahan
Senopati (Sutawijaya). Karena didukung kekuatan yang lebih besar,Pangeran
Benawa berhasil mengalahkan Pangiri, yang tak lain masih saudara iparnya
sendiri. Benawa menjadi sultan Pajang pada tahun 1588.
Tak lama
kemudian, setelah satu tahun menjabat sebagai raja Pajang, Pangeran Benawa
wafat. Sebelum wafat dia berpesan agar Sutawijaya mau untuk menjalankan
pemerintahan kesultanan Pajang. Sehingga sejak saat itu Sutawijaya menjabat
sebagai raja kerajaan Mataram Islam pertama. Dan untuk menghormati Sultan
Hadiwijaya dan Sultan Benawa, Sutawijaya tidak mau menggunakan gelar sultan.[2]
Pada perkembangan selanjutnya,
Pangeran Benawa lebih memilih menjadi penyiar Islam daripada mengurusi
Pajang.Karena itu, yang berkuasa atas Jawa selanjutnya adalah Mataram.Pada
tahun 1589 Pangeran Benawa digantikan oleh Gagak Bening atas kebijakan
Sutawijaya.Pada tahun 1591, Gagak Bening meninggal dan digantikan oleh anak
Benawa, yang ketika itu telah menjadi bawahan Mataram.Pada tahun 1618, putera
Benawa memberontak terhadap Sultan Agung, Raja Mataram.Karena tak seimbang,
Sultan Agung dengan mudah melumpuhkan perlawanan penguasa Pajang ini.Abdi-abdi
Pajang yang selamat melarikan diri ke Giri dan Surabaya. Setelah pemberontakan
betul-betul redam, Sultan Agung mengirimkan penduduk Pajang ke Mataram untuk
menjadi buruh kerja paksa. Dengan demikian, tamatlah riwayat Pajang yang
berkuasa hanya 45 tahun.Seluruh pusaka kerajaan lalu Pajang dipindahkan ke
Mataram.
D. 
 Dinasti Mataram Islam
1.    Masa
Pemerintahan Raja Sutawijaya
Sutawijaya
yang bergelar Panembahan senopati memerintah kerajaan Mataram dari tahun
1584-1601. Setelah ia menguasai kerajaan Pajang, maka daerah kerajaan Mataram
menjadi sangat luas sampai daerah bagian pantai utara Jawa.  Lalu ia berusaha melakukan
penaklukan-penaklukan daerah yang dulunya adalah daerah dibawah kekuasaan
Pajang seperti Jepara, Madium, Kediri. Sehingga bisa dikatakan bahwa kekuasaan
Mataram menjadi sangat luas dari Jawa bagian selatan sampai Utara.
Pusat
pemerintahan Mataram Islam berada di Mentaok, pada awal pemerintahan letak
keratonnya berada di Banguntapan, namun dipindahkan ke kotagede, dan menjadikan
kotagede tumbuh menjadi kota yang besar makanya kenapa dinakan kotagede atau
sebuah kota yang besar.[3]
Untuk
mengkukuhkan silsilahnya, Panembahan Senopati melakukan pernikahan dengan
beberapa putri raja dikerajaan lain seperti putri Ki Ageng Giring dari Gunung
Kidul, putri dari penguasa Pati Ki Penjawi. Pengukuhan silsilah ini dilakukan
untuk membentu sebuah dinasti yang akan dijadikan landasan kekuasaannya. Bahkan
dalam melakukan pengukuhan, Panembahan Senopati ini, beliau menikah dengan Ratu
penguasa pantai selatan atau Kanjeng Ratu Kidul. Atas hal tersebut, Kanjeng
Ratu Kidul berjanji akan melindungi kerajaan Matram Islam sepanjang masa. Dan
akan menjadi pendamping siapapun yang menjadi raja di Mataram Islam.
Sepanjang
masa pemerintahannya, Panembahan Senopati melakukan penyerangan-penyerangan
militer, seperti ke Madiun, Tuban, Lamongan, Surabaya, Malang, Blitar, Lasem
dan sampai Sumenep. Hal ini dilakukan agar Mataram Islam mampu menguasai
keseluruhan daerah pulau Jawa.
Setelah
berkuasa selama 13 tahun, Panembahan Senopati akhirnya wafat, yang kemudian
dimakakan disamping makam ayahnya yaitu Ki Ageng Pamanahan.
2.    Masa
Pemerintahan Raja Panambahan Anyakrawati
Berbeda
dengan ayahnya yaitu Panembahan Senopati yang pada sepanjang masa
pemerintahannya banyak melakaukan penaklukan-penaklukan didaerah lain sehingga
perkembangan kota kerajaanya tidak terlalu diperhatikan. Panambahan Anyakrawati
atau yang bernama asli Mas Jolang, lebih banyak mengurusi dan membangun kotanya
yaitu Kotagede. Sehingga dalam hal segi fisik Kotagede tumbuh pesat dan
tampilannya menjadi kota yang sangat megah. Sehingga hal ini membuat Panambahan
Anyakrawati dijuluki sebagai tokoh pembangunan Mataram.[4]
Namun
dia tidak lupa untuk meneruskan perjuangan ayahnya untuk menaklukan daerah
lain. Hal ini terbukti Panembahan Anyakrawati tetap berkali-kali melakukan
penaklukan seperti di Demak, Kediri, Giri dan Gresik yang hendak memberontak
dan melepaskan diri dari Mataram. Pemberontakan tak hanya dilakukan oleh
daerah-daerah dibawah kekuasaan Mataram, bahkan Panembahan Anyakrawati harus
menghadapi kakaknya sendiri yang menjadi Adipati Demak, yang merasa kecewa
karena tidak menjadi raja Mataram.
Pada
masa pemerintahan Panembahan Anyakrawati ini lah, VOC kongsi dagang Belanda
datang ke Indonesia. hal ini tak membuat Panembahan Anyakrawati melalukan
perwanan, malah mataram menawarkan bantuan kepada Belanda dalam hal keamanan.
Raja menganggap bahwa bekerjasama dengan VOC akan menguntungkan Mataram dalam
hal perluasan perniagaan kerjaan mereka.
Saat
Panembahan Anyakrawati sedang kritis akibat serangan rusa saat sedang melakukan
perburuan, beliau berpesan kepada Pangeran Purboyo, agar mengangkat anaknya
Pangeran Martopuro sebagai penggantinya raja Mataram Islam. Setelah Panembahan
Wafat pada tahun 1613, Pangeran Martapuro diangkat sebagai raja sementara,
menunggu anak Panembahan Anyakrawati yaitu Mas Rangsang pulang dari tirakatnya
diwilayah selatan Mataram.
3.    Masa
Pemerintahan Sultan Agung
Setelah
satu tahun melakukan tirakatnya, Mas Jolang yang merupakan anak sulung
Panembahan Anyakrawati pulang dan mengantikan Pangeran Martopuro sebagai raja
kerajaan Mataram Islam, dia ber gelar Sultan Agung Senapati Ing Alaga
Ngaburachman Sayidin Panatagama. Mas Rangsang bertekat untuk membawa Mataram
dalam kejayaannya. Sultan Agung lalu memindahkan kerajaan Mataram ke Kerto
disebelah selatan Kotagede. Sultan Agung kemadian membangun kratonya dan memperkuat
bidang kemiliterannya dengan melatih angkatan lautnya.
Beberapa
penyerangan juga dilakukan oleh Sultang Agung yaitu penyerangan ke Madura.
Beliau berhasil mempersatukan wilayah-wilayah di Madura yang sebelumnya
terbagai-bagi dan berhasil dipersatukan dalam satu kekuasaan Sampang. Dengan
meminta bantuan Kerajaan Banten, Sultan Agung menyerang Raja Sumenep. Atas
penyerangan tersebut orang-orang yang memberontak dari Sumenep dibawa ke
Mataram untuk diberi hukuman mati. Kemudian memindahkan hampir 40ribu penduduk
Madura ke Jawa, sehingga menjadikan Madura menjadi seperti pulau yang tak
berpenghuni.[5]
Sedangkan
untuk kerajaan-kerajaan yang berada di Jawa bagian barat mersedia menyerahkan
diri untuk berada dibawah kekuasaan Mataram. Sehingga setiap tahunnya mereka
akan mengirimkan upeti kepada kerajaan Mataram. Kerajaan yang dapat ditaklukkan
yaitu kerajaan Cirebon dan Pakuan. Dan membuat pada tahun 1628, wilayah mataram
hampir mencakup seluruh pulau Jawa.
Untuk
menaklukan kerajaan Banten, Mataram meminta bantuan kepada VOC atau Belanda
untuk membantu menyerang Banten. Akan tetapi permintaan bantuan Mataram
tersebut ditolak oleh pihak Belanda, sehingga membuat Sultan Agung merasa
Belanda membela Banten. Oleh krena itu, Mataram hendak menyerang dan mengambil
alih Batavia dari tangan Belanda. Namun penyerangan yang dipimpin oleh
Tumenggng Bhahurekso yang dilakukan baik dari laut ataupun darat dapat
digagalkan oleh Belanda, dan Bhahurekso meninggal dalam peperangan tersebut.
Setelah
kegagalan tersebut, penyerangan kembali dilakukan yaitu pasukan yang dipimpin
oleh Surongalolo dan pada tahun 1629, namun semua penyerangan tersebut dapat
dikalahkan oleh Belanda. Kemudian pihak Belanda melakukan perlawanan ke Kreto,
namun penyerangan tersebut ternyata mendapat penyerangan dadakan dari pasukan
Mataram. Permintaan bantuan kepada kerajaan Pasundanpun oleh Mataram ditolak
oleh raja Bumi Pasundan. Sehingga membuat Sultan Agung geram dan menghukum raja
serta rakyatnya di Kreto dengan hukuman mati.
Atas
hukuman yang diberikan oleh Sultan Agung tersebut, banyak rakyat sunda pada
akhirnya meminta bantuan kepada pihak Belanda. Sehingga banyak raktyat sunda
yang dijadikan serdadu Belanda dan digunakan untuk membantu melindungi Belanda
dari serangan Mataram.
Adanya
keinginan Sultan Agung untuk mempersatukan kedua kekuasaan yaitu kekuasaan
dunia dan kekuasaan agama. Hal ini dilakukan untuk mendongkrak kewibawaan
seorang raja. Dari hasil penyatuan ini, Sultan Agung mengakui sistem
penanggalan baru yang menggunakan perhitunggan berdasarkan perhitungan
peredaran bulan atau sering kita kenal dengan penanggalan Qomariah.[6]
Kemudian
Sultan Agung berusaha menaklukan Gresik yang ditempati oleh Sunan Giri yang
merupakan keluarga wali terkemuka diJawa. Kemudian setelah Pangeran Pekik
dinikahkan dengan adik raja, Pangeran Pekik yang masih merupakan keturunan
Sunan Ampel, melakukan penyerangan, dan Gresik berhasil diduduki oleh Mataram.
Ambisi
Sultan Agung untuk menjadikan dirinya memiliki kewibawaan seorang wali sebagai
raja, dia memerintahakan bawahannya utuk pergi ke Mekkah. Disana utusan Sultan
Agung meminta kepada raja Arab memohon gelar bagi Sultan Agung. Setelah kembali
gelar tersebut didapatkan yaitu Sultan Abdullah Muhammad Maulana Matarani.
Selanjutnya
Sultan Agung membangun komplek pemakaman di Pegunungan Girilaya yang berada di
timur laut Imogiri. Makam tersebut akan dijadikan sebagai komplek pemakaman
raja-raja Mataram. Dan pada akhirnya Sultan Agung meninggal pada tahun 1645.
E. 
Terpecahnya
Mataram
Kerajaan
Mataram Islam. Kembali bergejolak karena adanya perebutan tahta antar keluarga
istana. Antara Pangeran Pakubuwono III dengan pangeran Mangkunbumi dan Raden
Mas Said. Pakubuwono naik tahta menjadi Raja Kasunanan Surakarta pada tanggal
15 Desember 1749 menggantikan ayahnya. Ia dilantik menjadi Raja Kasunanan
Surakarta oleh Baron Von Hohendorff, Gubernur Pesisir Jawa bagian timur laut.
Ia adalah Raja keturunan Mataram pertama yang dilantikoleh VOC. Ketika
Pakubuwono III memerintah Mataram, terjadi pemberontakan yang dilakukan
Pangeran Mangkunbumi dan Raden Mas Said, dari pihak pemberontak telah
mengangkat Pangeran Mangkubumi sebagai raja Mataram, dan Raden Mas Said sebagai
Patihnya.
Pasukan
pemberontak semakin kuat, karena banyak pejabat Surakarta yang memilih
bergabung dengan Pangeran Mangkubumi. Akan tetapi, pasukan tersebut tidak mampu
mengusir Pakubuwono III dari istana, sebab Pakubuwono III dilindungi oleh VOC.
Walaupun demikian, Mangkubumi sangat percaya diri, berkat kewibawaan yang
diamiliki, hampir seluruh wilayah Mataram mendukung dan berpihak kepadanya. Mas
Said, keponakannya, telah merestui dan mengakui kedudukan dan kedaulatan
Mangkubumi. Bahkan, hubungan Mangkubumi dengan Mas Said semakin erat, karna Mas
Said dinikahkan dengan salah satu putriMangkubumi.
Selama
berjalannya waktu, pemberontakan dibagian Timur wilayah Yogyakarta yang
dipimpin oleh Raden Mas Said, lebih membuahkan hasil. Ia berhasil menguasai
Madiun dan Ponorogo, lalu ia mengangkat Bupati di daerah yang ditaklukkannya
tersebut. Namun, ternyata hal tersebut membuat Pangeran Mangkubumi merasa
dilangkahi oleh Raden Mas Said. Pangeran Mangkubumi merasa, bahwa pengangkatan
para bupati merupakan hak dan wewenangnya.
Oleh
karena itu, Pangeran Mangkubumi segera mencopot para bupati yang diangkat oleh
Raden Mas Said tersebut. Tindakan Pangeran Mangkubumi yang sewenang-wenangnya
ini membuat Raden Mas Said merasa tersinggung, sehingga hubungan mereka menjadi
renggang, bahkan saling bermusuhan.
Tekad
Raden Mas Said untuk menjadi Raja Mataram pun semakin bulat. Ia kemudian
memerangi PangeranMangkubumi, yang notabene adalah ayah mertuannya sendiri. Mas
Said pun memperlihatkan kesungguhannya dalam berperang. Hal ini dilakukan untuk
melampiaskan rasa marah dan sakithatinya.
Akhirnya
pada tanggal 13 Februari 1755, ditandatanginya PerjanjianGiyanti, yang
merupakan kesepakatan antara VOC, (pihak Mataram diwakili oleh Sunan Pakubuwono
III), dan kelompok Pangeran Mangkubumi. Berdasarkan perjanjian ini, wilayah
Mataram dibagi menjadi dua, yaitu wilayah disebelah timur Kali Opak (melintasi
daerah Prambanan sekarang) dikuasai oleh pewaris tahta Mataram, Sunan
Pakubuwono III, dan tetap berkedudukan di Surakarta. Sedangkan, wilayah
disebelah barat (daerah Mataram yang asli) diserahkan kepada Pangeran
Mangkubumi, yang kemudian diangkat menjadi Sultan Hamengkubuwana I yang
berkedudukan di Yogyakarta.
Atas
perjanjian tersebut kerajaan Mataram Islam Runtuh karena adanya konflik didalam
kerajaannya sendiri. Dimana wilayah asli kerajaan Mataram berubah menjadi
Kesultnan Yogjakarta yang dipimpin oleh Sultan Hamengkubuwono I, dan wilayah
Solo menjadi Kasunanan Surakarta yang dipimpin oleh Pakubuwono III.

[1] Kresna, Ardian,2011,Sejarah Panjang Mataram,Yogjakarta,Diva
Press,hal:28.
[2] Kresna, Ardian,2011,Sejarah Panjang Mataram,Yogjakarta,Diva
Press,hal:32-33.
[3] Kresna, Ardian,2011,Sejarah Panjang Mataram,Yogjakarta,Diva
Press,hal:35.
[4] Kresna, Ardian,2011,Sejarah Panjang Mataram,Yogjakarta,Diva
Press,hal:38.
[5] Kresna, Ardian,2011,Sejarah Panjang Mataram,Yogjakarta,Diva
Press,hal:41-42.
[6] Kresna, Ardian,2011,Sejarah Panjang Mataram,Yogjakarta,Diva
Press,hal:48

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *