Pemikiran Karl Marx Mengenai Filsafat Sejarah

Karl
Marx
Karl Marx adalah seorang ahli filsafat, sosiolog,
ekonom, wartawan, dan sejarawan kelahiran jerman. Karl Marx adalah pelopor
utama gagasan “sosialisme ilmiah” dilahirkan tahun 1818 di kota
Trier, Jerman, Ayahnya ahli hukum dan di umur tujuh belas tahun Karl masuk
Universitas Bonn,juga belajar hukum. Belakangan dia pindah ke Universitas
Berlin dan kemudian dapat gelar Doktor dalam ilmu filsafat dari Universitas
Jena.
Entah karena lebih tertarik, Marx menceburkan diri
ke dunia jurnalistik dan sebentar menjadi redaktur Rheinische Zeitung di
Cologne. Tapi, pandangan politiknya yang radikal menyeretnya ke dalam rupa-rupa
kesulitan dan memaksanya pindah ke Paris. Di situlah dia mula pertama bertemu
dengan Friederich Engels. Tali persahabatan dan persamaan pandangan politik
mengikat kedua orang ini selaku dwi tunggal hingga akhir hayatnya.
Marx tak bisa lama tinggal di Paris dan segera
ditendang dari sana dan mesti menjinjing koper pindah ke Brussel. Di kota
inilah, tahun 1847 dia pertama kali menerbitkan buah pikirannya yang penting
dan besar The poverty of philosophy (Kemiskinan filsafat). Tahun berikutnya
bersama bergandeng tangan dengan Friederich Engels mereka menerbitkan Communist
Manifesto, buku yang akhirnya menjadi bacaan dunia. Pada tahun itu juga Marx kembali
ke Cologne untuk kemudian diusir lagi dari sana hanya selang beberapa bulan.
Sehabis terusir sana terusir sini, akhirnya Marx menyeberang Selat Canal dan
menetap di London hingga akhir hayatnya.
Meskipun ada hanya sedikit uang di koceknya berkat
pekerjaan jurnalistik, Marx menghabiskan sejumlah besar waktunya di London
melakukan penyelidikan dan menulis buku-buku tentang politik dan ekonomi. (Di
tahun-tahun itu Marx dan familinya dapat bantuan ongkos hidup dari Friederich
Engels kawan karibnya). Jilid pertama Das Kapital, karya ilmiah Marx terpenting
terbit di tahun 1867. Tatkala Marx meninggal di tahun 1883, kedua jilid
sambungannya belum sepenuhnya rampung. Kedua jilid sambungannya itu disusun dan
diterbitkan oIeh Engels berpegang pada catatan-catatan dan naskah yang
ditinggalkan Marx.
Karya tulisan Marx merumuskan dasar teoritis
Komunisme. Ditilik dari perkembangan luarbiasa gerakan ini di abad ke-20,
sangat layaklah kalau dia mendapat tempat dalam urutan tinggi buku ini.
Masalahnya, seberapa tinggi?
Faktor utama bagi keputusan ini adalah perhitungan
arti penting Komunis jangka panjang dalam sejarah. Sejak tumbuhnya Komunisme
sebagai bagian tak terpisahkan dari sejarah masa kini, terasa sedikit sulit
menentukan dengan cermat perspektif masa depannya. Kendati tak seorang pun
sanggup memastikan seberapa jauh Komunisme bisa berkembang dan berapa lama
ideologi ini bisa bertahan, yang sudah pasti dia merupakan ideologi kuat dan
tangguh serta berakar kuat menghunjam ke bumi, dan sudah bisa dipastikan punya
pengaruh besar di dunia untuk paling sedikit beberapa abad mendatang.
Pada saat kini, sekitar seabad sesudah kematian
Marx, jumlah manusia yang sedikitnya terpengaruh oleh Marxisme sudah mendekati
angka 1,3 milyar banyaknya. Jumlah penganut ini lebih besar dari jumlah
penganut ideologi mana pun sepanjang sejarah manusia. Bukan sekedar jumlahnya
yang mutlak, melainkan juga sebagai kelompok dari keseluruhan penduduk dunia.
Ini mengakibatkan kaum Komunis, dan juga sebagian yang bukan Komunis, percaya bahwa
di masa depan tidak bisa tidak Marxisme akan merebut kemenangan di seluruh
dunia. Namun, adalah sukar untuk memantapkan kebenarannya dengan keyakinan yang
tak bergoyah. Telah banyak contoh-contoh ideologi yang tampaknya sangat punya
pengaruh penting pada jamannya tapi pada akhirnya melayu dan sirna. (Agama yang
didirikan oleh Mani bisa dijadikan misal yang menarik). Jika kita surut ke
tahun 1900, akan tampak jelas bahwa demokrasi konstitusional merupakan arus
yang akan jadi anutan masa depan. Berpegang pada harapan, tampaknya memang
begitu, tapi sekarang tak ada lagi orang yang yakin segalanya sudah terjadi
sebagaimana bayangan semula.
Sekarang menyangkut Komunisme. Taruhlah seseorang
percaya sangat dan tahu persis betapa hebatnya pengaruh Komunis di dunia saat
ini dan di dunia masa depan, orang toh masih mempertanyakan arti penting Karl
Marx di dalam gerakan Komunis. Politik pemerintah Uni Soviet sekarang
kelihatannya tidak terawasi oleh karya-karya Marx yang menulis dasar-dasar
pikiran seperti dialektika gaya Hegel dan tentang teori “nilai
lebih.” Teori-teori itu kelihatan kecil pengaruhnya dalam praktek
perputaran roda politik pemerintah Uni Soviet, baik politik dalam maupun luar
negerinya.
Komunisme masa kini menitikberatkan empat ide: (1)
Sekelumit kecil orang kaya hidup dalam kemewahan yang berlimpah, sedangkan kaum
pekerja yang teramat banyak jumlahnya hidup bergelimang papa sengsara. (2) Cara
untuk merombak ketidakadilan ini adalah dengan jalan melaksanakan sistem
sosialis, yaitu sistem di mana alat produksi dikuasai negara dan bukannya oleh
pribadi swasta. (3) Pada umumnya, satu-satunya jalan paling praktis untuk
melaksanakan sistem sosialis ini adalah lewat revolusi kekerasan. (4) Untuk
menjaga kelanggengan sistem sosialis harus diatur oleh kediktatoran partai
Komunis dalam jangka waktu yang memadai.
Tiga dari ide pertama sudah dicetuskan dengan jelas
sebelum Marx. Sedangkan ide keempat berasal dari gagasan Marx mengenai
“diktatur proletariat.” Sementara itu, lamanya masa berlaku
kediktatoran Soviet sekarang lebih merupakan hasil dari langkah-langkah Lenin
dan Stalin daripada gagasan tulisan Marx. Hal ini tampaknya menimbulkan
anggapan bahwa pengaruh Marx dalam Komunisme lebih kecil dari kenyataan yang
sebenarnya, dan penghargaan orang terhadap tulisan-tulisannya lebih menyerupai
sekedar etalasi untuk membenarkan sifat “keilmiahan” daripada ide dan
politik yang sudah terlaksana dan diterima.
Sementara boleh jadi ada benarnya juga anggapan itu,
namun tampaknya kelewat berlebihan. Lenin misalnya, tidak sekedar menganggap
dirinya mengikuti ajaran-ajaran Marx, tapi dia betul-betul membacanya,
menghayatinya, dan menerimanya. Dia yakin betul jalan yang dilimpahkannya
persis di atas rel yang dibentangkan Marx. Begitu juga terjadi pada diri Mao
Tse Tung dan pemuka-pemuka Komunis lain. Memang benar, ide-ide Marx mungkin
sudah disalah-artikan dan ditafsirkan lain, tapi hal semacam ini juga berlaku
pada ajaran Yesus atau Buddha atau Islam. Andaikata semua politik dasar
pemerintah Tiongkok maupun Uni Soviet bertolak langsung dari hasil karya
tulisan Marx, dia akan peroleh tingkat urutan lebih tinggi dalam daftar buku
ini.
Mungkin bisa diperdebatkan bahwa Lenin, politikus
praktis yang sesungguhnya mendirikan negara Komunis, memegang saham besar dalam
hal membangun Komunisme sebagai suatu ideologi yang begitu besar pengaruhnya di
dunia. Pendapat ini masuk akal. Lenin benar-benar seorang tokoh penting. Tapi,
menurut hemat saya, tulisan-tulisan Marx yang begitu hebat pengaruhnya terhadap
jalan pikiran bukan saja Lenin tapi juga pemuka-pemuka Komunis lain, jelas
punya kedudukan lebih penting.
Juga ada peluang untuk diperdebatkan apakah
penghargaan atas terumusnya Marxisme tidak harus dibagi antara Karl Marx dan
Friederich Engels. Mereka berdua menulis “Manifesto Komunis” dan
Engels jelas punya pengaruh mendalam terhadap penyelesaian final Das Kapital.
Meskipun masing-masing menulis buku atas namanya sendiri-sendiri tapi kerjasama
intelektual mereka begitu intimnya sehingga hasil keseluruhan dapat dianggap
sebagai suatu karya bersama. Memang, Marx dan Engels diperlakukan sebagai satu
kesatuan dalam buku ini walaupun yang dicantumkan cuma nama Marx karena (saya
pikir saya benar) dia dianggap partner yang dominan dalam arti luas.
Akhirnya, sering dituding orang bahwa teori Marxis
di bidang ekonomi sangatlah buruk dan banyak keliru. Tentu saja, banyak
dugaan-dugaan tertentu Marx terbukti meleset. Misalnya, Marx meramalkan bahwa
dalam negeri-negeri kapitalis kaum buruh akan semakin melarat dalam perjalanan
sang waktu. Jelas, ramalan ini tidak terbukti. Marx juga memperhitungkan bahwa
kaum menengah akan disapu dan sebagian besar orang-orangnya akan masuk ke dalam
golongan proletar dan hanya sedikit yang bisa bangkit dan masuk dalam kelas
kapitalis. Ini pun jelas tak pernah terbukti. Marx juga tampaknya percaya,
meningkatnya mekanisasi akan mengurangi keuntungan kaum kapitalis, kepercayaan
yang bukan saja salah tapi sekaligus juga tampak tolol. Tapi, terlepas apakah
teori ekonominya benar atau salah, semua itu tidak ada sangkut-pautnya dengan
pengaruh Marx. Arti penting seorang filosof terletak bukan pada kebenaran
pendapatnya tapi terletak pada masalah apakah buah pikirannya telah
menggerakkan orang untuk bertindak atau tidak. Diukur dari sudut ini, tak perlu
diragukan lagi Karl Marx punya arti penting yang luarbiasa hebatnya.
Pemikiran
Karl Marx
Dalam filsafatnya, Karl Marx mengajarkan teori perubahan
yang disebut dialektik historis materialisme. Dalam hal ini Marx mengembil dari
teori Hegel. Teori dialektik historis materialism menjelaskan bahwa filsafat,
sejarah, dan masyarakat itu mempunyai hubungan. Marx memandang dunia ini
sebagai dunia yang masih dalam proses dan belum jadi. Dunia ini selalu dalam
proses maju tetapi selalu ada pengulangan-pengulangan, serta melalui
tahap-tahap yang pernah dilalui. (purnomo,2009: 28).
Inti dari ajaran Marx adalah “materialism historis”.
Pemikiran Marx sangat dipengaruhi oleh filsafat “Hegelian sayap kiri” yang
menitik beratkan pada materi.
Pemikiran Karl Marx tidak hanya sekedar teori melainkan
ideologi Marxisme dan Komunisme. Ideologi dalam sejarah telah menjadi kekuatan
sosial dan bahkan kekuatan politik. Dalam sejarah filasafat barat hanya Marx
yang mengembangkan sebuah pemikiran yang pada dasar filosofis namun kemudian
menjadi perjuanagan gerakan pembebasan. Motor perubahan dan perkembangan antara
kelas-kelas sosial bukan oleh individu-individu. Menurutnya sejarah tidak tepat
jika di pandang sebagai hasil tindakan orang-orang besar dan raja-raja.
Yang menjadi pokok pikiran dalam matrerialisme historis
yaitu:
Faktor yang paling penting yang menyebabkan perkembanagan
sejarah adalah faktor ekonomis. Dari hal tersebut timbul yang namanya perbuatan
rohani seperti, kebudayaan, kesenian, agama dll. Sebagaimana pidatonya di makam
Marx, Engels menyatakan bahwa “ manusia pertama kali harus makan, minum,
mempunyai tempat tinggal dan pakaian, sebelum berpolitik, ilmu pengetahuan,
seni, agama, dan sebagainya.
Menurut Marx, perkembangan masyarakat ditentukan
oleh bidang ekonomi. Ciri khas bidang ekonomi konflik antara para pemilik
alat-alat produksi dan para pekerja. Yang pertama adalah kelas atas karena
mereka menguasai bidang produksi dan hidup dari penghisapan kaum buruh. Kaum
buruh adalah kelas bawah yang terpaksa menjual tenaga kerja mereka kepada para
pemilik. Negara (bangunan atas politik) dikuasai oleh ekonomi dan oleh karena
itu melayani kepentingan mereka. Agama, pandangan-pandangan moral, dan
nilai-nilai budaya (bangunan atas ideologis) memberikan legitimasi pada
struktur kekuasaan kelas tersebut. Konflik antara kelas atas dan kelas bawah
selalu memuncak dalam sebuah revolusi yang menjungkirbalikkan seluruh tatanan
lama dan meletakkan dasar tatanan baru yang akan berkembang menurut hukum yang
sama. Oleh karena itu, manifesto komunis (1848) menyatakan bahwa sejarah semua
masyarakat sampai sekarang adalah sejarah perjuangan kelas. (Suseno,1992: 63).
Makna Gerak Sejarah serta Penggerak dalam gerak sejarah
menurut Karl Marx
Masalah tentang gerak sejarah muncul karena manusia
berusaha untuk merefleksikan dirinya. Namun bagi Karl Marx yang paling penting
adalah Sejarah pasti bergerak. Mengenai Gerak Sejarah, Marx berpendapat bahwa
yang pasti adalah gerak sejarah digerakkan oleh manusia itu sendiri. (Hadiwijono,2011:
123).
Mengenai sumber (motor) yang menggerakkan proses sejarah
berbeda-beda menurut para ahli, begitu juga dengan Karl Marx. Menurut Karl Marx
motor penggerak sejarah merupakan adanya pertentangan kelas, dimana
pertentangan kelas tersebut akan berhenti dan bermuara pada suatu masyarakat
tanpa kelas. (Daliman,2012: 28-29)
Karl Marx juga berpendapat bahwa geraak sejarah
berpangkal pada kemajuan manusia dimana manusia sebagai penggerak utamnya.
Karena sejarah merupakan medan perjuangan manusia, perjuangan menuju kemajuan.
Keadaan yang memaksa manusia untuk selalu maju ini berpangkal pada kemajuan
dalam bidang ekonpmi dan menjauhkan manusia dari Tuhan. Hal inilah yang
menjadikan manusia berjuang lebih keras tanpa mengenal menyerah sehingga
sejarah yang terjadi digerakkan oleh manusia. (Tamburaka,2002: 55) 
Karl Marx memang memandang bahwa realitas sejarah
bersumber dari materi, yaitu ekonomi yang menggerakkan hidup manusia.
Menurut karl marx gerak sejarah tidak menuju ahirat
tetapi menuju arah duniawi. Dalam hal ini faham yang sangat terkenal  dari karl marx (1818-1875) adalah faham
histories matrerialisme. Pandangannya di dasarkan pada faham determinisme
ekonomi atau lebih terkenal dengan “histories matrerialisme”. Gerak sejarah
ditentukan oleh cara menghasilkan barang untuk keperluan  masyarakat. Cara produksi ini menentukan
perubahan dalam masyarakat yang selalu bertentangan satu sama lain. (subagyo,
2011: 189).
Hal  ini senada
dengan penjelasan dari Harun Hadiwijono dalam bukunya Sari Sejarah Filsafat
Barat 2 yang menjelaskan bahwa yang menjadi pendorong semangat Karl Marx yang
luar bisa dan menjiwai sampai masa kini adalah caranya menggabungkan cara
berpikir hegel dan cara berfikir Feuerbach, yang disertai dengan keharusan
mendalam terhadap keadaan sosial. Matearialisme yang dijelaskan Karl Marx jauh
lebih mendalam dari yang dijelaskan oleh para matearilisme pada masa itu. (Hadiwijono,2011:
123).
Selain Hegel dan Feuerbach, Karl Marx juga sependapat dengan
F.Engles (1820-1895). Pandangan mereka bersifat dialektis menunjukkan persamaan
dengan Hegel. Meskipun ada perbedaan yang cukup mendasar, jika Hegel memandang
roh (ide/akal) sebagai hal dasar dalam proses sejarah, berbeda dengan Karl Marx
dan F.Engles yang lebih menitik beratkan pada historisme-materialisme sebagai
inti karena proses sejarah bersumber dari materi, yaitu ekonomi. Proses sejarah
dikuasai oleh hubungan ekonomi, ialah hubungan produksi. Produksi merupakan
dasar struktur politik, sosial, bahkan keagamaan, serta seluruh hubungan
manusia. (Daliman,2012: 38)
Keadaan masyarakat yang dimaksud
adalah produksi dan pekerjaan manusia. Manusia ditentukan oleh produksi, baik
hasil produksinya maupun cara berproduksi. Pandangan inilah yang disebut materialisme,
yang berarti kegiatan dasar manusia adalah kerja manusia. Dalam hal ini
pandangan Marx menerima Feurbach Menurut Feurbach, kenyataan indrawi yang
konkret adalah Alam Material. Alam adalah dasar dasar terakhir dari kenyataan.
Artinya serluru kenytaan dapat dikembalikan pada Alam Material sebagai sebagai
kenyataan terakhir. (Hardiman, 2004: 228).
Bahwa kenyataan terakhir adalah objek indrawi dalam pengertian objek
indrawi ini dipahami sebagai kerja atau produksi. Namun perbedaan dari Feurbach
adalah dunia indrawi yang mengelilinginya itu bukan sesuatu yangada begitu
saja, melainkan alam merupakan produk dari industri dan masyarakat dalam arti
alam adalah produk dari sejarah
Pola Sejarah
Fanz Magnis dalam bukunya Berfilsafat dari Konteks
menuliskan bahwa teori gerak sejarah yang dianut Karl Marx adalah teori siklus.
Hal ini dikarenakan adanya revolusi yang mampu merubah tatanan sosial yang
awalnya oleh kaum Borjuis justru bisa dikuasai oleh kaum proletar. (Magnis
Franz, Suseno. 1992. Berfilsafat Dari Konteks. Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama. Hal.63). teori siklus menyatakan bahwa peristiwa sejarah tidak akan
mengalami akhir, melainkan akan terjadi semacam pengulangan, sehingga tidak
terdapat sesuatu yang baru. Tiap-tiap kejadian, peristiwa, dan fakta, tentu dan
pasti akan terjadi lagi seperti yang telah terjadi sebelumnya. Denga pemikiran
seperti ini, maka negeri dan kebudayaan , timbul dan tenggelam dalam urutan
ulangan yang sama. Laksana tanaman, negeri dan kebudayaan iotu tumbuh lagi
tanaman lain, berkembang, tua dan mati, dan seterusnya. (Purnomo,2009: 16).
Dalam aliran syclis atau siklus ada tiga aliran atau
konsepsi pengkajian sejarah yang berpengaruh dalam ilmu sejarah:
1.     
Aliran
pertama, yang memandang kejadian sejarah (peristiwa) sebagai ulangan (syclis)
dari kejadian terdahulu. Perulangan itu terjadi secara mekanis, merupakan
lingkaran ulang. Pencerminan dari pandangan pada ucapan: Sejarah berulang
(bahasa Prancis) “histoire seperete”. Jadi menurut pandangan ini, sejarah tidak
mempunyai tujuan dan tak ada perkembangan. Manusia di dalam sejarah tinggal
menunggu perulangan kejadian saja, kurang berikhtiar. Zaman yang akan datang
terjadi seperti telah dikodratkan, manusia tidak akan mampu mengubah kadar itu.
Peristiwa ynag terjadi karena sudah harus demikian.
2.     
Aliran
religius (ketuhanan); yang menafsirkan bahwasegala kejadian dalam sejarah
semata-mata karena kehendak Tuhan. Manusia hanyalah merupakan pemegang peranan
dari kehendak Tuhan. Manusia hanyalah merupakan pemegang peranan dari kehendak
Tuhan. Aliran ini terutama dalam kalangan agama Kristen, yang dinamakan aliran:
“Redemtive Philosopical viewpoint” pandang sejarah menurut kepercayaan atau
dogma” penebusan dosa (bahasa inggris: to redeem artinya menebus), menuju ke
arah meningkatkan nilai-nilai kemanusiaan.
3.     
Aliran
evolusi, yaitu aliran yang memandang seluruh kejadian dalam panggung sejarah
manusia adanya suatu garis yang menaik dan meningkat ke arah kemajuan dan
kesempurnaan. Gerak sejarah merupakan garis linear, garis lurus yang menuju ke
progress dan perfeksi. Karena itu aliran ini disebut “progressive philosophical
viewpoint of history”.
Timbulnya
aliran ini dimulai dengan munculnya pendapat-pendapat baru dalam berfikir di
zaman renaissance (abad pencerahan) setelah abad pertengahan yang diliputi
suasana kegelapan dengan cirri dominannya pengaruh gereja.
Ahli-ahli filsafat beralih dari dunia akhirat ke dunia
fana ini saja. Timbul kepercayaan diri sendiri dan menebal, manusia harus
menghargai dan memperuangkan dirinya sendiri. Dengan demikian sifat menyerah
pada nasib berkurang dan muncullah rasa percaya diri unutk memperkuat rasa
otonomi manusia. Karl Marx sebagai pendukung aliran ini melahirkan sifat
ekstrim dengan mengesampingkan Tuhan dan sepenuhnya bergantung pada hokum
ekonomi atau materi. (Tamburaka,2002: 54-55)
Dalam sumber lain, yaitu Prof. A. Daliman dalam bukunya
Pengantar filsafat sejarah menyebutkan Karl Marx irama atau pola sejarah itu
mengikuti pola garis lurus (linear). Proses sejarah yang mengikuti garis lurus
(linear) ini dalam pandangan Karl Marx berkembang melalui tiga tahap, yaitu
pertama adalah tahap primitive atau tahap antic, kedua tahap abad Pertengahan,
dan ketiga tahap borjuis-kapitalis.
Dalam pandangan karl marx bersifat progres/linier. Pemikiran ini sangat dipengaruhi
ileh hegel. Hegel memahami sejarah sebagai gerak ke arah rasionalitas dan
kebebasan yang makin besar. Disebutkan dalam manifesto komunis bahwa sejarah
umat manusia dulu dan kini adalah merupakan sejarah pertentangan kelas dimana
motor perubahan dan perkembangan masyarakat adalah pertentangan antar kelas.
Menurut marx yang menentukan jalannya sejarah bukan individu- individu
tertentu, melainkan kelas-kelas sosial yang masing-masing mamperjuangkan
kepentingan mereka. Kepentingan mereka bukan apa yang kebetulan diminati oleh
orang-orang tertentu, melainkan ditentukan secara obyektif oleh kedudukan kelas
masing-masing dalam proses produksi. Fase perkembangan sejarah masyarakat
menurut Marx dimulai dari mesyarakat komunal primitive, masyarakat feodal,
masyarakat yang sistemnya kapitalisme, masyarakat sosialis dan terakhir adalah
masyarakat komunis. Marx melihat bahwa dari lima tahap perkembangan sejarah
yang dihampiri lewat analisis ekonomi itu, ditemukan adanya dua factor kunci
yang mendasari segala proses didalamnya. Pertama adalah kekuatan produksi
(orang, alat, bahan baku, pengalaman, teknologi). Yang kedua adalah 
hubungan produksi (antar individu dengan individu juga antara individu dengan
alam). (Suseno,1977: 25-26)
.
Dari teori diatas, lebih tepat pada Karl Marx adalah penganut teori linear. Dalam hal ini teori linear sama dengan teori evolusi
dari teori siklis.
Penerapan Pemikiran Karl Marx dalam
Sejarah
Pemikiran
Karl Marx dalam dunia sejarah ialah materilasme historis, yang berarti semua gerak
sejarah dan semua peristiwa dalam sejarah di latar belakangi oleh motif
ekonomi. Hal ini berarti setiap peristiwa yang terjadi disebabkan karena faktor
ekonomi dari para pelaku sejarah.
Seperti
kedatangan Belanda ke Indonesia.Bangsa Belanda datang ke Indonesia adalah akibat
dari meletusnya perang delapan puluh tahun antara Belanda dan Spanyol
(1568-1648). Pada awalnya, perang antara Belanda dan Spanyol bersifat agama
karena Belanda mayoritas beragama kristen protestan sedangkan orang Spanyol
beragama kristen katolik. Perang tersebut kemudian menjadi perang ekonomi dan
politik. Raja philip II dari Spanyol memerintahkan kota Lisabon tertutup bagi
kapal Belanda pada tahun 1585 selain karena faktor tesebut juga karena adanya
petunjuk jalan ke Indonesia dari Jan Huygen Van Lischoten, mantan pelaut
Belanda yang bekerja pada Portugis dan pernah sampai di Indonesia.
   Tujuan
kedatangan Belanda ke Indonesia adalah untuk berdagang rempah-rempah. Setelah
berhasil menemukan daerah penghasil rempah-rempah dan keuntungan yang besar,
belanda berusaha untuk mengadakan monopoli perdagangan rempah-rempah dan
menjajah. Untuk melancarkan usahanya, belanda menempuh beberapa cara seperti
pembentukan VOC dan pembentukan pemerintahan kolonial Hindia-Belanda.
VOC
(Verenigde Oost-Indische Compagnie) didirikan pada tanggal 20 Maret 1602 adalah
perusahaan Belanda yang memiliki monopoli untuk aktifitas perdagangan di Asia.Disebut
Hindia Timur karena ada pula VWC yang merupakan perserikatan dagang Hindia
Barat.Perusahaan ini dianggap sebagai perusahaan pertama yang mengeluarkan
pembagiaan saham.Meskipun sebenarnya VOC merupakan sebuah badan dagang
saja,tetapi badan dagang ini istimewa karena di dukung oleh negara dan diberi
fasilitas-fasilitas sendiri yang istimewa.Misalkan VOC boleh memiliki tentara
dan boleh bernegosiasi dengan negara-negara lain.Bisa dikatakan VOC adalah
negara dalam negara.VOC terdiri 6 bagian (kamers),yang terdapat di
Amsterdam,Miiddelburg (untuk Zeeland), Enkhuizen, Delft, Hoom dan Rotterdam.
VOC telah diberikan hak
monopoli terhadap perdagangan dan aktivitas kolonial di wilayah tersebut oleh
Parlemen Belanda pada tahun 1602. Markasnya berada di Batavia, yang kini
bernama Jakarta.
Tujuan utama dari pembentukan VOC
adalah sebagai berikut :
1.                
Menguasai pelabuhan penting.
2.                
Menguasai kerajaan-kerajaan di
Indonesia.
3.                
Melaksanakan monopoli perdagangan di
Indonesia.
4.                
Mengatasi persaingan antara Belanda
dengan pedagang Eropa lainnya
Meskipun
tujuan VOC sudah dijelaskan seperti diatas, tetapi tujuan utama VOC adalah
mempertahankan monopolinya terhadap perdagangan rempah-rempah di Nusantara. Hal
ini dilakukan melalui penggunaan dan ancaman kekerasan terhadap penduduk di
kepulauan-kepulauan penghasil rempah-rempah, dan terhadap orang-orang
non-Belanda yang mencoba berdagang dengan para penduduk tersebut. Contohnya,
ketika penduduk Kepulauan Banda terus menjual biji pala kepada pedagang
Inggris, pasukan Belanda membunuh atau mendeportasi hampir seluruh populasi dan
kemudian mempopulasikan pulau-pulau tersebut dengan pembantu-pembantu atau
budak-budak yang bekerja di perkebunan pala. VOC menjadi terlibat dalam politik
internal Jawa pada masa ini, dan bertempur dalam beberapa peperangan yang
melibatkan pemimpin Mataram dan Banten.
Kemudian
mengenai Revolusi Perancis. Sebagian besar sejarawan berpendapat bahwa sebab
utama Revolusi Perancis adalah ketidakpuasan terhadap Ancien Régime. Lebih
khusus, para sejarawan juga menekankan adanya konflik kelas dari perspektif
Marxis; hal yang umum terjadi pada akhir abad ke-19. Perekonomian yang tidak
sehat, panen yang buruk, kenaikan harga pangan, dan sistem transportasi yang
tidak memadai adalah hal-hal yang memicu kebencian rakyat terhadap pemerintah.
Rentetan peristiwa yang mengarah ke revolusi dipicu oleh kebangkrutan
pemerintah karena sistem pajak yang buruk dan utang yang besar akibat
keterlibatan Perancis dalam berbagai perang besar. Upaya Perancis dalam
menantang Inggris – kekuatan militer utama di dunia pada saat itu – dalam
Perang Tujuh Tahun berakhir dengan bencana, menyebabkan hilangnya jajahan
Perancis di Amerika Utara dan hancurnya Angkatan Laut Perancis. Tentara
Perancis dibangun kembali dan kemudian berhasil menang dalam Perang Revolusi
Amerika, namun perang ini sangat mahal dan secara khusus tidak menghasilkan
keuntungan yang nyata bagi Perancis. Sistem keuangan Perancis terpuruk dan
kerajaan tidak mampu menangani utang negara yang besar. Karena dihadapkan pada
krisis keuangan ini, raja lalu memanggil Majelis Bangsawan pada tahun 1787,
pertama kalinya selama lebih dari satu abad.
Sementara
itu, keluarga kerajaan hidup nyaman di Versailles dan terkesan acuh tak acuh
terhadap krisis yang semakin meningkat. Meskipun secara teori pemerintahan Raja
Louis XVI berbentuk monarki absolut, namun dalam prakteknya ia sering ragu-ragu
dan akan mundur jika menghadapi oposisi yang kuat. Louis XVI memang berusaha
mengurangi pengeluaran pemerintah, namun lawannya di parlement berhasil menggagalkan
upayanya untuk memberlakukan reformasi yang lebih luas. Penentang kebijakan
Louis semakin banyak dan berupaya menjatuhkan kerajaan dengan berbagai cara,
misalnya dengan membagikan pamflet yang melaporkan informasi palsu dan
dilebih-lebihkan untuk mengkritik pemerintah dan aparatnya, yang semakin
memperkuat opini publik dalam melawan monarki.
Faktor
lainnya yang dianggap sebagai penyebab Revolusi Perancis adalah kebencian
terhadap pemerintah, yang muncul seiring dengan berkembangnya cita-cita
Pencerahan. Ini termasuk kebencian terhadap absolutisme kerajaan; kebencian
oleh masyarakat petani, buruh, dan kaum borjuis terhadap hak-hak istimewa yang
dimiliki oleh kaum bangsawan; kebencian terhadap Gereja Katolik atas
pengaruhnya dalam kebijakan publik dan di lembaga-lembaga negara; keinginan
untuk memperjuangkan kebebasan beragama; kebencian para pendeta perdesaan
miskin terhadap uskup aristokrat; keinginan untuk mewujudkan kesetaraan sosial,
politik, ekonomi, serta (khususnya saat Revolusi berlangsung) republikanisme;
kebencian terhadap Ratu Marie Antoinette, yang dituduh sebagai seorang pemboros
dan mata-mata Austria; serta kemarahan terhadap Raja karena memecat bendahara
keuangan Jacques Necker, salah satu orang yang dianggap sebagai wakil rakyat di
kerajaan.
Sumber :

Daliman,
Ahmad. 2012. Pengantar Filsafat Sejarah. Yogyakarta: Ombak
F. Budi Hardiman. 2004. Filsafat
Barat Modern
, Jakarta : Gramedia 
F. Magnis suseno. 1977
Ringkasan Sejarah Marxisme dan Komunisme, Jakarta :
Diktat STF Driyarkara,
Franz
Magnis-Suseno. 1992 Berfilsafat dari Konteks Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama
Hadiwijoyo, Harun. 2011. Sari Sejarah Filsafat Barat
2.
Yogyakarta: KANISIUS
Purnomo, Arif. 2009. Filsafat Sejarah. Semarang:
Unnes Press
Subagyo. 2011. Membangun kesadaran sejarah.
Semarang: widya karya.
Tamburaka,
Rustam E. 2002. Pengantar Ilmu Sejarah Teori Filsafat Sejarah Sejarah
Filsafat & Iptek.
Jakarta: PT Rineka Cipta

 

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *